MasukGiovanni terdiam sesaat. Pria paruh baya itu merasa alasan tersebut sama sekali tidak sesuai dengan karakter putrinya. Seingat Giovanni, Bella tidak pernah mempermasalahkan barang-barang berharga miliknya, bahkan ketika tidak sengaja dirusak oleh para pelayan rumah. Meskipun pelayan yang melakukan kesalahan bersikeras untuk ganti rugi, Bella selalu memaafkan dan menganggapnya angin lalu.Menyadari tatapan sang ayah yang menyiratkan rasa tidak percaya, Bella buru-buru menimpali dengan nada yang dibuat bersungut-sungut. "Ayah tahu sendiri, kan, betapa aku menjaga mobil pemberian Ayah itu? Aku bahkan belum sampai sepuluh kali memakainya, tapi sekarang malah lecet. Terlebih lagi, Rico bersikap seolah tidak terjadi apa-apa dan tidak pernah mengakui kesalahannya. Itu membuatku sangat kesal dan ingin menghukumnya dengan mengeluarkannya!"Melihat wajah putrinya yang cemberut dengan bibir yang mengerucut, pertahanan Giovanni runtuh. Pria itu tidak bisa menahan tawa kecilnya."Sudah, sudah. Kam
Rencana Bella yang ingin mengeluarkan Rico dari tim pengawal secara alami ternyata langsung diketahui oleh Giovanni DeLuca. Begitu mobil Bella tiba di halaman kediaman DeLuca, kepala pelayan sudah berdiri menunggu di dekat pintu masuk utama."Selamat sore, Nona Bella. Tuan Besar meminta Anda untuk segera menemuinya di ruang kerja," ucap kepala pelayan itu dengan sikap sopan.Bella mengangguk pelan. "Baik, terima kasih. Saya akan langsung ke sana."Langkah kaki Bella membawanya menuju ruang kerja sang ayah. Ia bertanya-tanya apa yang ingin dibicarakan ayahnya sampai menyuruh kepala pelayan menunggunya pulang. Tidak lama ia sampai.Di dalam ruangan bernuansa kayu tersebut, Giovanni duduk di kursi roda menghadap meja besar. Pria paruh baya itu tampak serius membaca tumpukan laporan pemerintahan, yang sengaja ia minta dari wakilnya, Sergio, untuk dibawa ke rumah.Bella yang melihat pemandangan itu hanya bisa menghela nafas lelah. Padahal, ia sudah berkali-kali memperingatkan ayahnya untuk
- Kota Whitesand, Posko Kesehatan Pusat.Di sisi lain, suasana di posko kesehatan kota Whitesand terasa jauh lebih hangat. Bella, Adrian, Chiara, beserta beberapa rekan mereka sedang mengunjungi orang-orang yang terluka. Kedatangan mereka bertujuan untuk membantu para perawat medis, sekaligus menghibur beberapa warga yang masih mengalami trauma atau duka mendalam akibat penyerangan tempo hari.Tujuan utama Bella hari ini adalah posko khusus yang menampung anak-anak korban luka dan trauma. Saat pertama kali melangkah masuk, Bella melihat anak-anak itu tampak begitu ketakutan dan ragu-ragu untuk mendekat. Melihat binar cemas di mata polos mereka, Bella merasa sangat bersalah di dalam lubuk hatinya. Ia bertekad untuk membantu anak-anak ini kembali ceria seperti sediakala dan melupakan semua kejadian mengerikan yang dipicu oleh para penjahat Blackstone itu.Setelah menghabiskan waktu untuk menghibur dan membagikan mainan, Bella merasa cukup puas dengan hasilnya. Anak-anak tersebut setidak
- Kota Blackstone, Ruang Pertemuan Pemimpin Kelompok.Ruang rapat yang luas itu seketika diubah menjadi arena jagal. Lima petarung bertubuh raksasa langsung mengepung Shin dari berbagai arah, bergerak serentak dengan insting membunuh yang kuat.Petarung pertama, yang berada paling dekat, meluncurkan pukulan kanan yang sangat cepat ke arah pelipis Shin. Namun, dengan ketenangannya, Shin tidak mundur. Ia justru melangkah maju lalu memiringkan sedikit kepalanya. Tinju itu berdesing melewati telinganya.Tanpa membuang momentum, Shin menangkap pergelangan tangan lawan tersebut, memutarnya dengan sekali sentakan, lalu memanfaatkan membantingnya melewati bahunya sendiri.Brakkk!Tubuh besar itu menghantam meja rapat kayu oak hingga hancur berkeping-keping. Sebelum pria itu sempat bangkit, Shin menghentakkan tumit sepatunya ke leher belakang lawan, memutus kesadarannya seketika. Satu tumbang.Di saat yang sama, petarung kedua dan ketiga maju bersamaan dari kedua sisi, mencoba mengunci pergera
Melihat arah pembicaraan dan kesalahan yang ia tuduhkan mulai berbalik menjadi bumerang bagi faksi lain, Tuan Marco tidak bisa lagi menahan diri. Ia tiba-tiba berdiri dari kursinya, menggebrak meja, lalu mendengus dingin."Humph! Shin bisa bicara seringan itu tentu saja karena dia sama sekali tidak mengkhawatirkan nasib bisnisnya!" seru Marco, suaranya menggema penuh kedengkian. "Dia sudah bergerak di belakang kita untuk membantu Wali Kota DeLuca. Tentu saja, akan ada imbalan besar yang nantinya ia dapatkan secara eksklusif!"Shin tidak terpancing. Ia hanya melirik Marco sekilas dengan tatapan meremehkan, lalu menyandarkan punggungnya kembali sembari berujar, "tentu saja, harus ada imbalan yang setimpal untuk setiap kerja sama di dunia ini. Namun, tuduhan Tuan Marco terhadapku sangatlah tidak berdasar. Menurut kalian semua yang ada di ruangan ini... apakah Wali Kota DeLuca adalah tipe orang yang mudah diajak bekerja sama oleh seorang mafia?"Pertanyaan retoris Shin melemparkan kehenin
Shin yang duduk bersandar di kursi kebesarannya sama sekali tidak terkejut. Ia sudah menduga sejak awal bahwa pria tua seperti Marco ini pasti akan mengendus pergerakannya cepat atau lambat. Alih-alih menunjukkan riak ketakutan atau kepanikan karena rahasianya telah terbongkar di depan publik, Shin justru menarik sudut bibirnya dan melepaskan sebuah tawa kecil.Heh...Tawa itu singkat, dan tidak keras. Namun, nada yang terkandung di dalamnya membawa kengerian dan teror yang pekat. Seketika itu juga, suhu di dalam ruang pertemuan terasa turun drastis. Tekanan aura sarat kekejaman yang biasa ditunjukkan oleh pemimpin tertinggi Red Line itu menguar hebat, menyelimuti setiap sudut ruangan hingga membuat para pemimpin kelompok di bawahnya merinding ketakutan.Bahkan, empat pemimpin dari kelompok terbesar yang duduk sejajar dengan Shin pun mulai menegang dan menaruh waspada. Mereka saling pandang dengan tatapan penuh selidik, mereka tidak tahu konspirasi atau rencana mengerikan apa lagi yan
Shin menyadari kegugupan perempuan dalam pelukannya, ia tersenyum tipis. Jari-jarinya yang dingin menyingkirkan helai rambut di pipi Bella, memperjelas wajah cantiknya yang perlahan merona.Bella segera memalingkan wajahnya yang malu ditatap terlalu intens oleh pria itu. Ia berusaha mendorongnya da
Lampu gudang mendadak mati, kegelapan membuat anak-anak yang sedang ketakutan, serempak menjerit dan menangis. Pandangan tidak terlalu jelas, hanya beberapa titik cahaya samar dari lubang kain penutup jendela.Pemadaman listrik ini tidak biasa. Anggota Morsani langsung bersiaga dan memegang senjata
Tanpa menunggu penjelasan Adrian, walikota DeLuca bersama wakilnya, Deputi Sergio dan Komandan Lombardi pergi ke sekolah TK tempat Bella mengajar. Satu unit pasukan khusus penjaga walikota, berisi 20 anggota, mengiringi mobil walikota didepan dan dibelakang. Segera kelompok itu sampai di San Felice
Roda mobil menjejak tanah basah, suara deburan ombak terdengar di kejauhan, angin malam membawa aroma laut, suasana didekat pelabuhan pinggiran kota Whitesand sangat sepi. Dibalik tumpukan puluhan kontainer terdapat gudang luas yang dulunya digunakan tempat penyimpanan barang yang kini terbengkalai







