Home / Mafia / Nona Incaran Ketua Mafia / Bab 47 Mengajak bermain.

Share

Bab 47 Mengajak bermain.

Author: SanASya
last update publish date: 2026-02-01 19:19:29

Bella tertegun sesaat ketika melihat Luca keluar dari halaman vila nomor tujuh. Pria itu mengenakan pakaian santai khas pantai, kemeja tipis berwarna netral dengan lengan digulung santai, celana pendek, dan sandal. Di sampingnya berjalan pria yang sama seperti kemarin, Matteo, dengan aura yang jauh lebih ceria.

Tatapan Bella dan Luca sempat bertemu beberapa detik. Cukup lama untuk membuat Bella sadar dirinya sedang diperhatikan. Ia segera tersenyum lembut dan menyapa lebih dulu.

"Selamat pagi,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 164 Balasan yang mematikan.

    Sementara itu, keadaan di kota Whitesand pascapenyerangan siang tadi tampak begitu memprihatinkan. Entah berapa banyak kerugian material yang harus ditanggung oleh pemerintah dan warga setempat, karena jejak-jejak kerusakan parah terlihat jelas membentang di sepanjang jalan utama pusat kota."Hmph! Giovanni DeLuca memang pantas mendapatkan semua ini! Dia terlalu sombong hingga berani mengusik hewan buas yang sedang tertidur nyaman. Sekarang lihat, apa yang bisa dia lakukan untuk mengembalikan kedamaian kota ini? Tunggu saja sampai masyarakat mengamuk dan melengserkannya secara paksa dari jabatan Wali Kota!"Seorang pria paruh baya terus mengomel tanpa henti di sepanjang jalan menuju kediaman pribadinya. Dari balik kaca jendela mobil yang melaju, matanya menatap tajam kondisi pusat kota yang masih porak-poranda. Di beberapa titik, kepulan asap hitam masih terlihat membubung ke langit, sisa-sisa kebakaran yang disengaja oleh kelompok penyerang tersebut.Di sebelahnya, seorang pria paruh

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 163 Kesal padanya.

    Shin menghentikan langkahnya untuk menyapa kedua pria di hadapan mereka. "Kakek, Paman Silvestri."Kakek Ruggero mengangguk singkat, suaranya yang berat bergaung pelan. "Kau sudah pulang."Sementara itu, pria paruh baya yang dipanggil Paman Silvestri menyahut dengan nada suara yang terdengar ramah. "Shin, lama tidak bertemu. Kudengar kau sedang sangat sibuk dengan bisnis-bisnismu belakangan ini."Shin merespons dengan ekspresi wajah yang serius, mempertahankan wibawa profesionalnya seperti biasa. "Begitulah. Bisnis sedang berkembang pesat, jadi aku jarang memiliki waktu untuk pulang ke rumah."Paman Silvestri menghela nafas dan mengeluh, "Matteo juga sama, dia sedang sibuk di laboratorium sampai belum pulang sebulan ini. Entah apa yang sedang dia teliti."Kakek Ruggero membalas, "anak muda memang lebih banyak punya ide dan rencana, itu lebih baik daripada dia menganggur dan tidak melakukan apa-apa."Setelah percakapan singkat itu, keheningan melanda sesaat ketika perhatian Kakek Rugge

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 162 Dua sosok asing.

    Setelah seluruh urusan negosiasi selesai, Bella kembali meminta Shin untuk membukakan kunci pintu ruangannya. Namun, Shin tampaknya masih merasa enggan untuk membiarkannya pergi begitu saja.Pria itu bahkan melayangkan pertanyaan dengan nada menggoda, "apakah kau sama sekali tidak merindukanku? Kau bahkan belum memberikan satu pelukan pun sebagai tanda kerinduan."Bella memutar bola matanya dengan malas. Dengan tanpa beban, ia menjawab, "Aku sama sekali tidak merindukanmu, Shin. Lagipula, bukankah ini adalah perkenalan awal kita?"Mendengar jawaban itu, Shin langsung tahu bahwa Bella masih sangat mempermasalahkan kebohongan yang telah ia lakukan. Pria itu menyadari bahwa perempuan di hadapannya ini agak pendendam. Dibohongi selama hampir setengah tahun tentu saja membuat Bella merasa dirugikan, meskipun pada kenyataannya ia tidak kehilangan apa pun selama ini.Bukannya menjauh, Shin justru segera menghampiri Bella yang masih berdiri di depan meja kerja besar tersebut. Sebelum Bella se

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 161 Oknum-oknum mencurigakan.

    Setelah panggilan dari Paman Sergio berakhir, Bella tidak memiliki waktu lagi untuk ragu. Keputusannya sudah bulat untuk meminta bantuan Shin demi menyelamatkan kota Whitesand.“Karena aku meminta bantuanmu, apa yang kau inginkan sebagai balasannya?” Bella bertanya dengan nada yang sudah kembali tenang, sepasang matanya menatap Shin dengan keseriusan.“Imbalan, ya...,” Shin tersenyum tipis, binar matanya mengunci tatapan Bella. “Kau pasti tahu apa yang kuinginkan.”Bella tidak langsung mengerti pada awalnya. Namun, sedetik kemudian, sebuah pemikiran mengerikan melintas di benaknya, membuat napasnya tertahan.“Kau...,” Bella tidak mampu melanjutkan ucapannya. Dalam benaknya, ia berharap apa yang tengah ia duga adalah sebuah kekeliruan.Shin mengangkat satu alisnya, menikmati perubahan ekspresi wanita di hadapannya. “Ya, Bella. Aku tahu kau adalah wanita yang cerdas. Selain menjadi penguasa di kota ini, menurutmu... untuk apa aku mulai melebarkan sayap bisnisku ke kota Whitesand?”Tanga

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 160 Menghadapi kelompok penyerang.

    Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bella menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan tersebut. "Halo, Paman Sergio?"Baru saja sapaan itu keluar dari bibirnya, suara panik Paman Sergio di seberang sana langsung memotong dan menyampaikan inti masalah tanpa basa-basi. "Bella, keadaan memburuk! Kelompok penyerang itu kembali berulah. Kali ini, sasaran mereka bukan lagi pinggiran kota, melainkan toko-toko dan pusat bisnis masyarakat di jantung kota Whitesand!"Napas Bella tercekat mendengar penuturan sang Wakil Walikota.Paman Sergio terus berbicara dengan nada tergesa-gesa, menggambarkan situasi mengerikan yang sedang terjadi. Kerusakan di pusat kota sangat parah. Dalam waktu singkat, korban berjatuhan begitu banyak. Para penyerang bertindak brutal tanpa pandang bulu, melukai siapa saja yang mereka temui di jalanan."Untungnya, pasukan keamanan segera bertindak," lanjut Paman Sergio, napasnya terdengar memburu.Kali ini Chiara yang memegang kendali penuh di lapangan. Dia tidak la

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 159 Firasat Buruk.

    Di balik segala kecurigaannya, Bella menyadari satu kenyataan, saat ini ia tidak boleh bersikap keras kepala dan menolak bantuan pria itu. Jika Shin sudah berani berucap demikian, artinya pria itu memang memiliki kuasa dan cara pasti untuk menarik mundur pasukan penyerang dari kota Whitesand.Perlahan, sebuah senyuman licik muncul di wajah cantik Bella. Ia membalas tatapan Shin, mengabaikan pesona besar yang sengaja dipancarkan pria itu untuk mengintimidasinya."Sepertinya kau benar-benar ingin aku manfaatkan," ujar Bella, nadanya kini beralih menjadi sebuah tantangan yang berani.Ia melangkah satu kali ke depan, mengikis jarak yang sempat ia buat. "Perlu kuingatkan sejak awal bahwa aku memiliki sifat yang serakah. Aku tidak tahu apakah kau benar-benar sanggup memenuhi seluruh keinginanku."Mendengar riak keserakahan yang sengaja ditunjukkan Bella, Shin justru tampak semakin tertarik. Binar di matanya berkilat puas, ia menyukai keberanian yang kembali menyelimuti wanita di hadapannya.

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 61 Kamera cctv.

    Hari sudah mencapai malam, langit diluar mulai gelap. Senja di sore hari sangat indah, pemandangan matahari terbenam memukau banyak penumpang yang sedang menikmati makan malam atau waktu santai di kapal. Lampu-lampu kapal mulai menyala satu per satu. Tiba-tiba, suara lembut resepsionis perempuan m

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 60 Pelacak di jam tangan.

    Bella memperhatikan satu per satu anggota Cross Broke yang keluar dari kamar. Dengan tenang ia menghitung dalam hati, selain Maggio dan asistennya, ada empat belas orang dan jika ditotal ada enam belas anak buahnya. Bella sempat mengira Maggio akan membiarkan kedua tangannya tetap bebas. Namun duga

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 59 Menendang Batu Besar.

    Satu-satunya kamar suite di kapal pesiar memang berbeda. Ruang tamu yang menyatu dengan balkon pribadi, dua sofa biru empuk menghadap meja kaca rendah, satu sofa panjang hitam, ranjang besar berukuran king size, meja makan bulat dengan empat kursi, lemari pakaian besar, kamar mandi dengan bathtub d

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 58 Alat pelacak.

    Setelah berhasil membawa Bella pergi dari toilet tanpa menimbulkan kecurigaan besar, Maggio segera memberi perintah melalui alat komunikasi kecil di telinganya."Bawa dia ke kamarku. Hati-hati jangan sampai ada yang melihat," ucapnya dengan nada rendah dan tegas.Di seberangnya, asistennya yang ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status