Share

Bab 2

Penulis: SanASya
last update Tanggal publikasi: 2025-10-13 20:34:11

"Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.

Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.

Dan di sanalah ia melihatnya.

"Hhh... hhh..."

Seorang pria bersandar di dinding, duduk separuh terkulai. Nafasnya berat dan terputus-putus, dada naik turun tak teratur. Dari jauh saja sudah terlihat betapa lemahnya tubuh itu, seperti hanya bergantung pada dinding untuk tetap tegak.

Yakin itu manusia, Bella memberanikan diri lebih dekat dengan cahaya senter kini menyinari tubuhnya. Seketika darahnya membeku.

Kemeja putih di balik jas hitam pria itu sudah berwarna merah gelap, penuh noda darah yang masih basah di beberapa bagian. Perut dan sisi tubuhnya tampak paling parah, menandakan pendarahan hebat. Ada bekas sobekan kasar, entah karena pisau atau peluru.

"Hhh...!" Hampir saja jeritan lolos dari bibirnya. Bella buru-buru menutup mulut dengan satu tangannya. Lututnya melemas, ia mundur dua langkah, tapi matanya tetap terpaku pada sosok itu.

Pria itu… masih hidup. Nafasnya masih terdengar meski lemah, suara erangan lirih keluar di sela-sela bibirnya yang pucat.

Bella menggigit bibirnya, rasa takut menekan dadanya. Namun pada saat yang sama ada rasa iba yang menahan langkahnya untuk kabur.

"Ya Tuhan… Apa yang harus kulakukan?" Bisiknya gemetar, mata melebar penuh ketidakpercayaan.

Ia berdiri dengan lutut gemetar, cahaya senter ikut bergetar di tangannya, memantulkan bayangan pria itu ke dinding yang dingin.

"Aku harus cari bantuan."

Untuk sesaat ia memalingkan pandangan dari pria itu, menoleh ke sekeliling gang sempit.

Gelap. Sepi.

Matanya menyapu setiap sudut, tong sampah berderet, dinding bata lembap, genangan air tipis yang memantulkan cahaya ponselnya. Tidak ada siapa-siapa. Tapi justru itulah yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Sebuah pemikiran baru muncul.

"Apa… orang yang melukai dia masih di sini?" Bisiknya pelan, justru ini yang ia khawatirkan saat akan menolong pria ini.

Memikirkan masih ada pelaku yang mengintai, tengkuknya dingin dan bulu kuduk berdiri. Bayangan apa pun yang bergerak terasa mencurigakan. Ia menoleh cepat ke arah belakang, lalu ke ujung gang lain yang tertutup tembok. Jalan buntu. Tidak ada tanda-tanda orang lewat disekitar. Bahkan bagian atas tak lepas dari pencariannya.

Tangannya yang bebas menggenggam erat tas selempangnya, seakan benda kecil itu bisa melindunginya. Sepertinya tidak ada orang lain selain dirinya disini.

Bella ragu ditempat. Hatinya berteriak agar segera lari, kembali ke jalan utama, berpura-pura tidak pernah melihat apa pun. Tapi matanya kembali menatap pria yang bersandar di dinding, tubuhnya yang terluka, darah masih mengalir pelan dari sisi perut.

Napasnya tercekat, ia jadi gelisah. "Kalau aku pergi begitu saja… dia bisa mati di sini."

Perasaan dan pikirannya terombang-ambing antara takut dan iba. Rasanya lebih aman jika ia segera berlari ke jalan utama dan menghubungi polisi. Tapi...

"Polisi akan datang terlambat, aku tidak tahu apakah pria ini akan tetap bernafas sampai mereka datang."

Luka di tubuh pria itu jelas bukan luka biasa, tubuhnya semakin lemah. Ia memiliki keraguan kalau mencoba menolongnya, mungkin justru dirinya yang akan terjebak masalah besar.

Bella menarik napas dalam, meneguhkan hati untuk pergi. Kakinya bergerak selangkah ke belakang, siap meninggalkan gang itu. Namun...

"...Ah."

Sebuah desahan lirih membuat langkahnya terhenti. Bella menoleh cepat tatapannya jatuh pada mata pria itu yang terbuka, samar-samar hanya separuh, menatapnya seakan dari jauh. Tatapan yang sayu, lemah, dan ada sedikit harapan, seolah memohon tanpa suara.

Waktu terasa melambat. Cahaya ponselnya menangkap sekilas sorot mata gelap itu sebelum kembali tertutup perlahan.

"Tidak mungkin… Aku meninggalkannya begitu saja." Bisik Bella, dadanya terasa sesak.

Jantungnya berdetak makin kencang. Ia tahu, jika ia benar-benar meninggalkan pria ini, belum tentu dia bisa bertahan sampai bantuan datang. Rasanya seperti membiarkan seseorang sekarat di depan matanya.

Tangannya gemetar, "apa yang harus aku lakukan…?" Gumamnya mencari jawaban pada diri sendiri.

Ia berdiri kaku, rasa takut dan iba bercampur, membuatnya sulit berpikir jernih. Hingga detik semakin berlalu membuatnya mengambil keputusan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 79 Interogasi.

    Karena Adrian dan Chiara terus menatapnya tanpa mengalihkan pandangan, Bella akhirnya menyerah. Ia meletakkan garpu dan pisau di atas piring, lalu menarik napas pelan sebelum mulai menceritakan apa yang terjadi.Dengan singkat, Bella menjelaskan kejadian yang dialaminya, mulai dari saat ia jatuh ke laut, bagaimana Luca menolongnya, lalu membawanya ke pulau kecil, hingga bagaimana pria itu membantu merawatnya ketika ia mengalami hipotermia ringan di malam hari.Namun Bella dengan sengaja tidak menceritakan beberapa adegan yang menurutnya cukup memalukan. Ia yakin Chiara dan Adrian akan panik jika mendengarnya, meskipun sebenarnya tidak terjadi sesuatu yang tidak pantas.Hal-hal seperti itu tidak perlu diceritakan. Yang terpenting, mereka tahu bahwa kondisinya baik-baik saja."Begitulah ceritanya," kata Bella akhirnya. "Dia sudah banyak membantuku. Tidak mungkin aku menolak permintaannya untuk menjadi temanku."Setelah itu ruangan menjadi hening. Chiara dan Adrian hanya diam mendengarka

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 78 Tidak berhenti mengejarnya.

    Setelah mendapatkan nomor telepon Luca dari Rico, Bella langsung menyimpan nomor itu dan mengirim pesan.Bella: Halo, selamat siang.Tidak butuh waktu lama sampai balasan muncul.Luca: Ya, Bella.Bella tidak heran Luca langsung mengenalinya. Namun entah mengapa balasan singkat itu terasa sedikit dingin.Pikiran itu segera ia tepis. Ia kembali mengetik.Bella: Maaf aku meminta nomor pribadimu dari Rico. Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk makanan yang kamu kirimkan.Beberapa detik kemudian balasan datang lagi.Luca: Ya, sama-sama. Itu layanan khusus untukmu.Bella akhirnya merasa tenang setelah mengetahui bahwa makanan itu memang benar dikirim oleh Luca.Namun setelah itu ia malah bingung harus menulis apa lagi. Ia sudah mengucapkan terima kasih dan memastikan soal makanan tersebut. Akhirnya Bella kembali mengetik.Bella: Sekali lagi terima kasih. Kalau begitu nomor kamu akan aku hapus.Bella membaca ulang pesannya sebelum mengirimkannya. Entah kenapa ada rasa canggung setelah men

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 77 Nomor Handphone.

    Klinik di kapal pesiar itu cukup luas dan tertata rapi. Beberapa alat medis modern tersusun di sepanjang dinding, lengkap dengan tempat tidur pasien, lemari obat, serta lampu pemeriksaan yang terang menggantung di atas meja medis.Begitu mereka sampai di sana, Adrian dan Matteo langsung mengambil alih pemeriksaan."Kau duduk di sini," kata Adrian kepada Bella sambil menunjuk salah satu tempat tidur pemeriksaan.Bella menurut tanpa banyak protes. Ia duduk dengan tenang di tepi ranjang, sementara Chiara berdiri di dekatnya dengan wajah yang masih dipenuhi kekhawatiran.Luina yang sebelumnya menemani mereka sudah disuruh pergi oleh Chiara untuk menyiapkan beberapa keperluan Bella. Ia diminta menyiapkan pakaian bersih untuk mandi, sekaligus membeli bubur dari restoran kapal. Luina khawatir Nona mudanya belum sempat sarapan sejak pagi.Di sisi lain ruangan, Matteo membawa Luca ke bagian yang lebih sepi.Ia mulai memeriksa beberapa bagian tubuh Luca dengan cepat namun tetap teliti, mulai da

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 76 Kembali ke kapal.

    Chiara perlahan melepaskan pelukannya, matanya langsung memindai Bella dari atas hingga ke bawah.Ia memperhatikan dari atas sampai bawah, memastikan sahabatnya benar-benar baik-baik saja.Secara keseluruhan Bella memang terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka sama sekali.Namun Chiara menyadari wajah Bella tampak sedikit pucat.Dengan cepat ia mengangkat tangannya dan meraba pipi serta dahi Bella."Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. "Kenapa wajahmu pucat?"Adrian yang berdiri di samping mereka juga mendekat. Mengamati wajah Bella dengan singkat, ekspresinya serius."Apa terjadi sesuatu padamu semalam?" tanyanya.Di sisi lain, Matteo menoleh ke arah Luca. Dari sorot matanya seolah mempertanyakan 'apa yang sudah kau lakukan pada gadis ini?'Luca hanya meliriknya sekilas. Ekspresinya tetap tenang tanpa memberikan tanggapan apa pun. Bella buru-buru menjawab pertanyaan mereka."Aku tidak apa-apa," katanya menenangkan. "Semalam ombaknya sangat deras dan aku hampir tenggelam."Ia menole

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 75 Lambaian tangan.

    "Aku akan memberimu kompensasi saat kita kembali nanti."Setelah mengatakan itu, Luca kembali melanjutkan langkahnya menyusuri bibir pantai.Bella yang mendengarnya langsung mempercepat langkah hingga kembali berjalan sejajar dengannya. Ia menoleh dengan wajah penuh rasa ingin tahu."Kompensasi apa?" tanyanya penasaran.Luca menjawab dengan nada tenang, seolah hal itu sudah ia pikirkan sejak lama."Kamu adalah tamu VIP di resort kami. Mengalami kejadian seperti ini..." ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "aku sebagai pemilik tentu harus memberi ganti rugi. Setidaknya biaya perawatan dan mungkin sebuah hadiah agar kau tidak mengalami trauma."Bella segera menggeleng dan membantahnya."Kau tidak perlu melakukan itu," katanya cepat. "Kejadian ini tidak ada hubungannya denganmu. Gannaro dan Maggio memang berencana menculikku agar ayahku memenuhi permintaan mereka."Ia menatap ke depan, suaranya sedikit melembut. "Jadi tidak perlu ada kompensasi. Justru kau yang sudah menyelamatkanku

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 74 SOS.

    Bella kemudian teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Luca, lalu menunjuk ke sudut gua tempat beberapa pakaian dijemur di atas ranting yang disusun sederhana."Terima kasih untuk pakaian yang kau pinjamkan padaku," katanya pelan. "Aku sebenarnya berniat mencucinya dulu sebelum mengembalikannya padamu, tapi kau..."Kata-katanya tiba-tiba terhenti ketika pandangannya jatuh pada bahu Luca yang masih telanjang.Pria itu langsung memahami maksud Bella. Tanpa berkata apa-apa, Luca berdiri, mengambil kemejanya yang tadi ia lepaskan, lalu mengenakannya kembali. Gerakannya begitu tenang dan tanpa ragu.Di belakangnya, Bella yang memperhatikan langsung memalingkan wajah dengan pipi yang memerah. Ia merasa canggung melihat Luca begitu saja mengenakan kembali pakaian yang sebelumnya sempat ia pakai.Dengan suara sedikit ragu, Bella akhirnya bertanya, "Kamu... apa tidak apa-apa memakai kemeja itu lagi?"Luca selesai mengancingkan kemejanya, lalu berbalik menghadap Bella. Ia menemukan gadis itu memal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status