Share

Bab 7

Author: SanASya
last update publish date: 2025-12-17 17:48:28

Pintu kamar Bella terbuka tanpa suara, seorang pria tinggi dengan pakaian acak-acakan penuh darah muncul dibaliknya. Pencahayaan minim tidak membuatnya sulit melihat keseluruhan ruangan itu.

'Ini tidak seperti rumah Walikota,' pikirnya.

Rumah walikota yang berada di pusat kota tentu sangat besar dan luas. Sedangkan rumah ini sangat sederhana, lingkungannya juga sepi, tidak seperti keramaian di tengah kota.

Kakinya melangkah keluar kamar, di sofa panjang ada seseorang yang tidur dengan selimut d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 85 Membantu Chiara.

    Disaat semua orang tenggelam dalam alur cerita, Bella justru merasa terganggu dengan gerak halus seseorang disampingnya. Beberapa saat setelah keduanya diam, Luca terdengar sesekali menghela napas pelan. Meskipun pelan dan ruang studio dipenuhi suara menggema dari film. Tetap saja cukup membuat Bella teralihkan dan melirik ke arahnya. Dibawah cahaya redup, ia sempat melihat raut wajah Luca yang berbeda. Tidak santai seperti biasanya, melainkan tampak sulit, seolah sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat. Alis Bella mengerut. "Kau kenapa?" bisiknya, tak mampu menahan rasa penasaran. Luca menggeleng pelan. Namun ekspresinya tidak berubah, justru semakin terlihat seperti menahan sesuatu yang sulit diungkapkan. Entah kenapa, melihat ketenangan pria itu terusik, membuat Bella ikut merasa tegang. Perubahan emosinya turut dirasakan Luca, akhirnya ia mengungkapkan apa yang sedang dipikirkan. "Aku baru ingat sesuatu," suaranya rendah. "Dan aku cukup khawatir dengan Nona Chiara." Mende

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 84 Menolak Hadiah.

    Di tengah suasana bioskop yang redup, film sudah berjalan cukup lama. Cahaya dari layar sesekali memantul di wajah para penonton yang tenggelam dalam cerita.Bella yang sedang fokus menonton tiba-tiba merasakan seseorang duduk di kursi di sampingnya. Refleks, ia menoleh. Matanya langsung bertemu dengan sosok yang dikenalnya.Luca, dan di sebelahnya Matteo yang tersenyum santai.Matteo sedikit mengangkat tangan, menyapa pelan agar tidak mengganggu penonton lain. "Selamat siang, Bella.""Selamat siang," Bella membalas dengan suara pelan, menjaga sopan santunnya di tengah suasana bioskop.Ia sempat melirik Luca yang belum berkata apa-apa. Luca menatap layar sejenak, lalu menoleh sedikit ke arah Bella."Kau suka menonton film seperti ini?" tanyanya dengan suara rendah.Bella menjawab seperlunya. "Semua film yang tayang sebenarnya bagus, tapi kami lebih penasaran dengan yang ini."Luca tersenyum tipis. "Kalau kau suka... aku juga."Suaranya begitu pelan hingga nyaris seperti gumaman.Bella

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 83 Kunci Kemenangan.

    Di luar kamar penahanan, waktu tanpa terasa sudah lebih dari setengah jam sejak Luca, Matteo, dan Vito masuk ke dalam. Akan tetapi, pintu itu belum juga terbuka.Salah satu pengawal yang berdiri paling dekat dengan pintu mulai gelisah. Ia beberapa kali melirik ke arah daun pintu yang tertutup rapat."Sudah selama ini, kenapa Tuan Luca dan lainnya belum juga keluar?" gumamnya pelan.Pengawal disampingnya menoleh. "Aneh, tidak terdengar suara apa pun."Seorang pengawal di sisi lain melipat tangan di dada. "Ini kamar VVIP, tentu saja kedap suara."Pengawal lain menyahut, "justru karena itu, kita tidak tahu situasi apa yang sedang terjadi didalam. Tuan Luca hanya membawa Dokter Matteo dan Vito, aku khawatir situasi yang tidak diinginkan terjadi."Mereka semua terdiam sejenak, menajamkan pendengaran sampai batas fokus. Tetap saja tidak terdengar suara apapun, seolah-olah tidak terjadi apa pun di dalam sana.Padahal, yang berada di dalam adalah sekelompok orang berbahaya. Salah satu pengawa

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 82 Dua Pilihan.

    Keesokan harinya, suasana kapal pesiar terasa lebih hidup. Bella, Chiara, dan Adrian memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan menonton film.Mereka berjalan menuju bioskop di dalam kapal. Di depan pintu masuk, terpampang daftar film yang akan tayang hari itu. Ada tiga film berbeda dengan jam tayang yang sama.Ketiganya berdiri cukup lama di depan layar pilihan, membaca sinopsis singkat film yang akan ditampilkan."Yang ini kelihatannya seru," gumam Chiara sambil menunjuk salah satu judul."Yang itu juga tidak kalah menarik," balas Adrian, menimbang pilihan.Bella ditengah keduanya hanya tersenyum kecil, matanya berpindah dari satu judul ke judul lain. Akhirnya, setelah cukup lama berdiskusi, mereka sepakat memilih film bergenre action romance.Waktu pemutaran masih tersisa sekitar setengah jam. Mereka pun membeli popcorn ukuran sedang dengan berbagai rasa sesuai selera masing-masing, serta minuman untuk menemani selama menonton. Setelah itu, mereka duduk di kursi tunggu di d

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 81 Cepat mengambil tindakan.

    "Gannaro Homar! Katakan sejujurnya, apa tujuanmu bekerja sama dengan kelompok mafia Cross Broke?"Suara Chiara terdengar tegas dan penuh tekanan di dalam ruang interogasi.Itu sudah menjadi pertanyaan kesekian kalinya, namun Gannaro tetap diam. Ia hanya duduk santai di kursinya, seolah tidak terganggu sedikit pun. Chiara tidak menyerah."Sudah berapa lama Keluarga Homar bekerja sama dengan kelompok Cross Broke?"Tidak ada jawaban."Apa tujuanmu menculik Bella? Apa kau benar-benar ingin mengancam wali kota?"Gannaro masih diam. Tatapannya datar, bahkan sedikit meremehkan. Chiara mulai kehilangan kesabaran."Keberanianmu cukup besar juga," lanjutnya dengan nada tajam. "Apa Keluarga Homar merasa sudah cukup kuat sampai berani mengancam keluarga DeLuca? Kau bahkan berani menantang keluarga Lombardi dan keluarga Moretti?"Tetap tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyesakkan.Setelah berulang kali melontarkan pertanyaan tanpa hasil, Chiara akhirnya merasa lelah bukan hanya secara fisi

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 80 Istirahat Total

    Sesuai perintah Adrian, sebagai dokter pribadinya, Bella tidak diizinkan pergi jalan-jalan dulu. Ia diharuskan beristirahat total selama beberapa hari.Seusai makan siang, Ia duduk di tepi ranjang sambil memandang laut dari jendela dengan wajah sedikit murung. Mengingat mereka sudah membuat banyak rencana untuk dihabiskan selama di kapal dengan bersenang-senang, Ia merasa tidak rela harus melewatkan waktu bersenang-senangnya."Aku cukup bosan..." gumamnya pelan.Bella memandang Chiara yang ikut menemani dan duduk di sofa dengan menghabiskan waktu untuk bekerja. Chiara langsung menoleh."Aku tahu itu, biar aku hubungi Adrian dan bertanya apakah kamu boleh jalan-jalan sebentar."Chiara mengambil gagang telepon dan menghubungi nomor kamar Adrian. "Halo, Adrian. Bolehkah Bella pergi jalan-jalan sebentar?"'Aku akan memeriksanya terlebih dahulu.'Chiara menutup telepon dan mengatakan pesan Adrian ke Bella. Tak lama kemudian Adrian masuk ke kamar setelah mengetuk pintu.Melihat ekspresi Bel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status