Share

Bab 6

Author: SanASya
last update publish date: 2025-12-17 17:47:55

Bella bergegas berdiri dan masuk ke kamar kerja yang akan dia tempati malam ini. Ini adalah kamar kecil dengan singgel bed dan meja kerja, tersimpan juga benda-benda yang ia butuhkan untuk mengajar murid TK. Bahan-bahan yang ia butuhkan untuk prakarya setengah jadi sudah siap dan tangan ramping Bella segera bekerja.

Adrian mengikuti dibelakangnya dan masuk, "Mau aku bantu buat?"

Bella berkata tanpa menoleh, "Kau bisa?"

"Nona DeLuca, apa kamu meremahkan kemampuanku?"

"Tentu saja tidak, tapi kamu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 218

    "Jika lain kali kamu tidak sengaja bertemu dengannya lagi, kamu harus segera menjauh. Dia adalah perempuan yang sangat licik," ujar Shin memberikan peringatan tegas begitu mereka sudah berada di dalam perjalanan pulang.Bella menaikkan salah satu alisnya, menatap Shin dari kursi samping. "Bukankah dia adalah teman seperjuanganmu dulu? Kenapa aku harus menjauhinya? Dan... seberapa licik sebenarnya dia... dan kamu, Shin?"Shin mendadak terdiam dan tidak menjawab. Bella tahu pasti ada sebuah cerita di antara mereka berdua di masa lalu. Pikirannya melayang pada cerita masa kecil Shin yang pernah ia dengar. Mungkin kejadian itu terjadi setelah dirinya diculik dari desa dulu.Setelah pertanyaan itu, keduanya mendadak menjadi diam dan hening di dalam mobil. Suasana di antara mereka berubah total menjadi canggung, sangat berbeda dengan atmosfer hangat saat mereka berangkat berbelanja tadi. Bella sengaja tidak bertanya lagi atau mendesak siapa sebenarnya perempuan itu. Baginya, akan percuma te

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 217 Bertemu kenalan lama.

    Tempat yang diputuskan untuk membeli segala kebutuhan adalah sebuah mal yang cukup besar di daerah tersebut. Keduanya langsung melangkah memasuki swalayan di dalam mal yang menjual berbagai sayuran dan daging segar. Shin dan Bella segera berbelanja dan fokus memilih bahan-bahan yang dibutuhkan, tanpa menyadari adanya seseorang yang mengenali mereka dari kejauhan.Saat tiba di kasir, Bella segera mengeluarkan semua belanjaan dari keranjang untuk dihitung. Namun, ketika Bella hendak membuka dompet untuk membayar, Shin sudah menyodorkan kartu kreditnya ke petugas kasir."Jangan. Jumlah belanjaan ini tidak seberapa," ujar Shin, menahan tangan Bella.Bella kembali menutup dompetnya lalu menjawab dengan nada tenang, "Kau melakukannya dengan baik."Setelah selesai, mereka berjalan beriringan menuju area parkir. Namun, sebelum mereka sempat mencapai mobil, sebuah suara perempuan tiba-tiba memanggil dari arah belakang."Shin."Panggilan singkat itu seketika membuat langkah kaki keduanya terhen

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 216

    Sesampainya mereka di depan rumah Bella, Adrian berpamitan untuk kembali ke rumah kecilnya terlebih dahulu demi membersihkan diri setelah seharian bekerja di rumah sakit. Begitu masuk ke dalam rumah, Chiara pun segera meminjam pakaian santai milik Bella dan langsung menggunakan kamar mandi untuk menyegarkan badan.Sementara itu, Shin tampak duduk dengan santai di sofa ruang tamu. Bella datang membawakannya secangkir kopi hitam hangat tanpa gula. Keduanya kemudian mulai berbicara dengan mengecilkan volume suara mereka."Apakah kau merasa keberatan dengan kehadiran kedua temanku, Shin?" tanya Bella sembari duduk di sampingnya.Shin menyeruput kopi hitamnya sedikit, lalu menyandarkan punggungnya dengan gaya dominan yang biasa ia tunjukkan. "Tentu saja tidak. Kedua temanmu itu tidak mengganggu sama sekali, meskipun harus kuakui bahwa mereka masih sangat waspada terhadapku."Bella mendengus tipis. "Jelas saja mereka waspada. Tanpa perlu kau membeberkan identitas aslimu pun, kedua temanku i

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 215 Rencana pesta.

    Chiara mengernyitkan dahi. Ia sebenarnya masih ingin memprotes dan mengatakan bahwa kehadiran Shin bukannya membawa kebahagiaan untuk Bella, melainkan justru mendatangkan rentetan masalah. Namun, kata-kata itu akhirnya ia telan kembali. Ia tidak ingin terkesan terlalu mengekang jalan hidup sahabatnya sendiri. Sebagai seorang sahabat, Chiara hanya ingin Bella selalu bahagia dan baik-baik saja."Baiklah, kali ini saya terima janji Anda. Saya harap tidak ada yang salah dengan diri Anda, Tuan Luca," ujar Chiara akhirnya.Shin tersenyum tipis melihat kewaspadaan Chiara yang begitu tinggi. Beruntung bagi pria itu karena saat ini Chiara belum mengetahui identitas rahasianya. Tampaknya, Bella memang masih menutup rapat kenyataan tersebut. Shin sendiri sangat paham bahwa tidak akan mudah bagi Bella untuk membeberkan kepada orang lain bahwa pria di dekatnya adalah seorang bos besar mafia. Ada terlalu banyak pertimbangan rumit yang harus dipikirkan oleh gadis itu.Adrian menyipitkan matanya, men

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 214 Sahabat yang protektif.

    Beberapa hari kemudian berlalu. Hubungan Bella dan Shin berjalan seperti biasa, hanya saja kini ada beberapa momen intim yang mulai mewarnai kebersamaan mereka.Saat jam pulang sekolah tiba, ponsel Bella bergetar. Sebuah pesan dari Shin mengabarkan bahwa pria itu sudah menunggunya di depan gerbang sekolah TK. Malam ini, keduanya memang berencana untuk makan siang dan makan malam bersama di luar. Ekspresi wajah Bella saat membalas pesan itu tampak biasa saja, namun tangannya bergerak jauh lebih cepat dari biasanya saat membereskan barang-barang di atas meja."Sampai jumpa, Miss Clara," pamit Bella kepada rekan sesama gurunya."Sampai jumpa juga, Miss Bella. Hati-hati di jalan," balas Miss Clara ramah.Begitu melangkah keluar gedung, Bella langsung bisa melihat sosok Shin yang sedang bersandar santai di bawah pohon yang cukup rindang. Pria itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. Bella mempercepat langkah kakinya, namun panggilan nyaring dari arah belakang mendadak membuat seluruh t

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 213

    Di sebuah tempat yang cukup tersembunyi dengan penerangan yang minim, ruangan yang terhitung luas itu mendadak terasa sempit. Lebih dari lima puluh orang berkumpul di sana untuk mendiskusikan sesuatu. Suara mereka terdengar pelan, menandakan bahwa pembicaraan ini sangat serius dan rahasia. Meski berada dalam cahaya yang remang-remang, guratan kemarahan tetap terlihat jelas di wajah pria-pria berbadan kekar dan garang yang mendominasi ruangan tersebut."Sialan! Ini semua gara-gara Shin Vitali! Kenapa dia harus menghancurkan kelompok kita?" umpat Pria A dengan mengepalkan tangan. "Kalau memang ingin menghukum, dia tidak perlu sampai meratakan markas kita!""Kita sudah seperti tikus got sekarang, hanya bisa bersembunyi di tempat terpencil dan sempit seperti ini," timpal Pria B dengan nada frustrasi. "Setiap kali keluar, kita harus ekstra hati-hati agar tidak berpapasan dengan kelompok lain. Apakah kita akan terus hidup seperti ini?""Kita harus memikirkan cara untuk membalas dendam," sah

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 116 Tidak ada hubungan.

    Steve melihat interaksi Bella dan Luca yang tampak cukup dekat. Ia pun mulai merasa penasaran akan hubungan keduanya. Bahkan, senyum Bella saat berbicara dengan Luca terasa berbeda dibandingkan saat berbicara dengannya. Entah kenapa, perasaan cemburu itu muncul begitu saja, membuatnya tanpa sadar m

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 115 Bertemu lagi.

    Bella hendak mendekati Luca, tetapi ia ingat bahwa dirinya sedang bekerja. Ia kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan. Ponsel Luca berdenting dua kali.Bella: Kamu sudah pulang? Bukankah seharusnya kamu pulang lusa? Bella: Apa yang kamu lakukan di sini?Luca meliriknya sekilas, lalu tersenyum

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 111 Kesimpulan yang mustahil.

    Saat sedang asyik makan, Chiara tidak sengaja menumpahkan minumannya ke pakaiannya. Ia menghela napas, lalu berkata pada Bella, “Bisakah aku pinjam bajumu?”Bella mengangguk. “Ambil saja di lemari kamarku.”Chiara berdiri dan masuk ke kamar Bella. Saat sedang mengganti pakaian, tatapannya tertuju p

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 103 Kepastian.

    Begitu masuk, Bella langsung menuju dapur. Ia membuatkan kopi untuk Luca, lalu mulai memasak satu menu tambahan untuk makan mereka. Ini sudah menjadi semacam kebiasaan—makanan wajib yang selalu Luca minta setiap kali datang membawakan makanan, dan mereka akan memakannya bersama.Aroma kopi hangat d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status