LOGINBagi Lily, hidup adalah tentang bidikan yang presisi dan loyalitas tanpa batas pada negara. Namun, saat misi mengejar sindikat narkoba Blue Swan, sang Inspektur Muda dipaksa menanggalkan pistol Glock-19 miliknya. Dia harus bertransformasi menjadi Ibu Lilyana, seorang guru Bahasa Indonesia yang lembut di SMA Merpati Putih. Di balik kemewahan pilar-pilar sekolah elit itu, tersimpan busuknya konspirasi yang melibatkan para penguasa. Lily harus bermain cantik di bawah pengawasan ketat Adrian Pradipta, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang dingin dan penuh curiga, yang seolah mampu membaca setiap kebohongan di mata Lily. Namun, kejutan terbesar tidak datang dari misi itu sendiri. Di tengah kepungan musuh, Lily justru bertemu kembali dengan Julian. Pria yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu. Pria yang dulu dia cintai kini berdiri di sisi kegelapan sebagai tangan kanan sang Mafia. Dia adalah pengkhianat, musuh, sekaligus hantu yang menghancurkan kewarasan Lily. Di antara desingan peluru dan aroma buku sastra, Lily terjebak dalam dilema mematikan. Apakah Julian benar-benar monster yang harus dia hancurkan? Ataukah ada alasan tragis di balik tinta merah yang menodai tangan pria itu? Dalam perang ini, merpati tak lagi putih. Dan setiap kata yang tertulis, bisa menjadi kalimat terakhir bagi nyawa mereka.
View More"Elang, di posisi."
"Reptor, di posisi." "Rubicon, sudah di titik pantau." "Alpaca, siaga." "Specter siap di titik buta." Suara-suara itu masuk ke telinga Lily melalui earpiece. Ini adalah hari ke-28 pengintaian. Selama hampir sebulan, mereka hidup di antara bayang-bayang pelabuhan yang berbau solar dan garam, menunggu hantu bernama Blue Swan muncul ke permukaan. Namun, dermaga itu tetap sunyi, hanya suara ombak yang menghantam beton. "Semua fokus," suara Samuel, sang Kapten, terdengar berat dan penuh tekanan. "Target utama kita adalah titik transaksi. Jangan gegabah, jangan bergerak tanpa komando. Satu langkah salah, operasi ini tamat. Paham?" "Paham, Sir!" jawaban serentak itu terdengar seperti janji setia. Lily, yang menggunakan kode Specter, menyandarkan tubuhnya di balik tumpukan kontainer. Dia mengenakan jaket hoodie kumal, menyatu dengan hiruk-pikuk buruh pelabuhan. "Monkey keluar. Dia bergerak ke utara," bisik suara di earpiece. Specter, yang saat itu sedang berpura-pura mengunyah popcorn untuk menutupi gerakan mulutnya saat berbicara, langsung menegakkan tubuh. "Specter meluncur," balasnya singkat. Dia menyambar sebuah sepeda listrik yang terparkir sembarang, dan mengayuhnya dengan tenang namun cepat. Dia membuntuti sebuah mobil sedan hitam yang baru saja menjemput sang target. Mobil itu berhenti di sebuah sudut sepi, beberapa ratus meter dari dermaga utama. Roda sepeda Lily berhenti mendadak. Di sana, di bawah lampu jalan yang berkedip, targetnya menemui seseorang. Lily tertegun. Sosok itu .... postur tubuhnya, cara dia berdiri dengan tangan di saku, sangat mirip dengan seseorang yang seharusnya sudah menjadi debu lima tahun lalu. Pikirannya kosong sejenak, terseret ke dalam lubang hitam masa lalu, sebelum suara klason menyentaknya kembali ke kenyataan. Fokus, Lily. Jangan biarkan hantu mengacaukanmu. Batinnya. Lily menaikkan tudung hoodie dan maskernya. Dia memacu sepedanya, sengaja kehilangan keseimbangan tepat di samping mobil target. Brukk Dia terjatuh, tubuhnya meluncur hingga separuh masuk ke kolong mobil. "Hei! Cari mati kau?" seorang pria berjas keluar dengan kasar. Lily tidak menjawab. Dengan gerakan kilat yang tersembunyi, tangannya menempelkan sebuah alat pelacak magnetik sebesar koin ke bagian dalam sasis mobil. "Maaf...," gumam Lily dengan suara yang dibuat serak sambil merangkak bangun. Pria itu menatapnya tajam selama beberapa detik. Tatapan yang dingin, seolah sedang memindai apakah Lily adalah ancaman atau hanya gelandangan sial. "Lain kali pakai matamu!" bentaknya sebelum kembali masuk ke mobil. Mobil itu melaju pergi. Tak lama kemudian, sebuah van putih tanpa jendela berhenti di hadapan Lily. Pintu gesernya terbuka, Reptor menariknya masuk ke dalam. "Pelacak terpasang," lapor Lily, matanya masih menatap lampu belakang mobil target yang menjauh. "Mereka menuju dermaga sektor empat. Jalur laut." "Klasik," sahut Reptor sambil menyiapkan senapan serbu cadangan. "Jalur laut adalah pintu gerbang tanpa penjaga jika kau tahu cara menyuap orang yang tepat." Mereka turun di area pergudangan sektor empat, mengendap-endap. Di sana, di dermaga privat, sebuah kapal cepat sudah menunggu. Lily melihat sang target berbisik pada seorang pria paruh baya yang tampak seperti pejabat pelabuhan. Sebuah koper berpindah tangan. "Begitu koper itu dibuka, kita serbu," perintah Reptor via radio. "Hati-hati, tim bantuan masih dua menit lagi," sahut Samuel dari markas. Tapi waktu tidak menunggu. Kapal itu mulai menghidupkan mesin. "Sekarang! Serbu!" teriak Reptor. Kekacauan pecah dalam sekejap. Suara tembakan dan teriakan memenuhi udara. Para pengedar kocar-kacir, namun beberapa orang berpakaian hitam tetap berdiri tegak, membentuk barikade pelindung. Mereka bukan pengedar biasa. "Minggir!" Lily menerjang seorang pria bertubuh kekar. Pria itu berdarah Tiongkok, dengan bekas luka memanjang di pelipisnya. Saat Lily mencoba mengunci lengannya, pria itu melakukan counter-move yang sangat teknis. Tubuh Lily dibanting ke atas beton dengan kekuatan yang menghancurkan napas. Lily meringis, berguling, dan kembali menyerang. Saat itulah dia melihatnya, tato di punggung tangan pria itu. Medusa. Organisasi tentara bayaran paling mematikan di Asia Tenggara. Mereka dikenal bengis, tidak peduli siapa, asalkan dibayar dengan layak, tugas apa pun, akan mereka lakukan. Pria itu menghantamkan pipa besi ke arah Lily. Lily menghindar, namun ujung pipa itu sempat mengenai bahunya. Dia tersungkur, sebelum dia bisa bangkit, sebuah granat asap meledak di antara mereka. Saat asap menipis, dermaga itu sudah kosong. Kapal cepat itu sudah membelah lautan, membawa Blue Swan menjauh. Operasi ke-28 mereka kembali menjadi kegagalan yang pahit. •••••••••••••••• Markas Besar Satuan Khusus Narkotika Tempat itu terlihat sibuk, orang-orang berlalu lalang dengan telpon di telinga, berkas-berkas menumpuk di atas meja. Samuel, sang Kapten, memijat pelipisnya seolah-olah bisa menekan rasa pening yang berdenyut di sana. Samuel mengumpulkan timnya di ruang rapat utama. Laporan intelijen baru saja masuk," ujar Samuel tanpa menoleh. "Blue Swan bukan diproduksi di gudang kumuh. Mereka memproduksinya di tempat yang paling tidak mungkin kita geledah. SMA Merpati Putih." Lily yang baru saja datang dengan wajah babak belur dan tangan yang dibebat perban langsung duduk di samping Samuel. Dia bertumpang kaki di atas meja tanpa merasa berdosa. "Turunkan kakimu!" Perintah Samuel. Lily mengendikkan bahu. Tidak peduli. Tapi, tetap menurunkan kakinya. "Aku tidak rela melepasmu ke kandang serigala. Tapi, aku harus melakukannya." Samuel menatap Lily dalam-dalam, dia menunduk, lalu melempar sebuah berkas. "Kau adalah satu-satunya orang di satuan ini yang memiliki gelar sarjana Sastra dan latar belakang pendidikan yang cukup untuk menyamar sebagai guru tanpa memicu kecurigaan yayasan elit itu." Lily langsung menyambarnya, mencermati berkas tersebut dengan seksama. Matanya berkilat, perasaan marah mulai menggelegak, dia meremat berkas tersebut, mencoba untuk mengendalikan diri. "Ini berbahaya," ujar Samuel lagi. "Salah langkah sedikit saja, bukan hanya kau yang tamat, tapi seluruh unit ini akan dibubarkan oleh tangan-tangan di istana yang melindungi tempat itu. Kau siap, Lily?" •••••••••••••••••••••••• Cermin di toilet selalu punya cara untuk memperlihatkan kebenaran yang pahit. Pencahayaan ruangan yang temaram memberikan rona keabu-abuan pada wajah siapa pun yang berdiri di depannya. Pagi ini, wajah itu adalah milik Lily. Lily Carla begitu nama aslinya, meski di lapangan dia lebih dikenal dengan kode "Specter", dia menatap pantulannya dengan dahi berkerut. Rambut hitam legam yang biasa diikat agar tidak mengganggu saat dia bekerja, kini terurai lembut, mengenakan blus berbahan sifon warna krem yang sengaja dipilih untuk memberikan kesan rapuh, dipadukan dengan rok bahan di bawah lutut. Dia meraba pinggangnya. Kosong. Perasaannya hampa. Selama lima tahun terakhir, Glock-19 adalah bagian dari tubuhnya, yang menemaninya ke mana pun dia pergi. Kehilangan beban dingin di pinggang membuatnya merasa telanjang di tengah medan perang. Sebagai gantinya, dia membawa sebuah tas kulit tua berisi kamus besar Bahasa Indonesia dan setumpuk silabus yang dia susun dalam semalam. "Lily, kau mendengarku?" Suara berat sang Kapten bergema di earpiece nanoteknologi yang tertanam di balik telinga Lily. "Ya, aku mendengarmu, Kapten," bisik Lily sambil merapikan kerah blusnya. "Ingat, target kita bukan pengedar recehan di pinggir jalan. Ini adalah 'Blue Swan'. Narkotika sintetis jenis baru yang sanggup menghancurkan saraf remaja hanya dalam tiga kali pakai. Laporan intelijen menyebutkan bahwa produksinya ada di dalam SMA Merpati Putih. Mereka menggunakan kedok sekolah elit untuk mengaburkan jalur logistik." Lily menarik napas panjang. "Sekolah elit, murid-murid jenius, dan yayasan yang punya koneksi sampai ke istana presiden. Benar-benar tempat persembunyian yang sempurna." "Persis. Itulah kenapa kau di sana. Jadilah Ibu Lilyana, guru honorer yang butuh uang, yang pemalu, dan yang tidak tahu apa-apa tentang dunia hitam. Jangan tunjukkan postur taktismu. Jangan menatap orang seperti ingin menembak kepalanya." Lily tersenyum tipis. Dia mengambil kacamata berbingkai tipis dari wastafel dan mengenakannya. "Infiltrasi dimulai," gumam Lily. Dia melangkah keluar dari toilet. Di luar, sebuah mobil sedan tahun 2010 yang catnya sudah sedikit mengelupas menantinya. Mobil itu adalah properti penyamaran. Di kursi penumpang, terdapat sebuah map cokelat berisi kontrak kerja dari Yayasan Merpati Putih. Saat dia menghidupkan mesin, matanya melirik pada sebuah foto di dashboard yang dia sembunyikan di balik kartu parkir. Foto seseorang yang dinyatakan tewas 5 tahun lalu saat bertugas. Lily memandangi foto itu dengan dada berdenyut. Meski sudah 5 tahun, tapi rasanya masih seperti kemarin. Dia menyentuh foto itu dengan tangan gemetar. "Akan kupastikan mereka membayar perbutannya," bisiknya sebelum menginjak pedal gas, membelah kemacetan Jakarta. Menuju tempat yang akan memberikannya kebeneran sesungguhnya.Gerimis tipis mulai membasahi jalan kawasan Gudang Timur, Lily mengemudikan motornya sangat pelan. Dia memarkirkan motornya lebih jauh dari kawasan target. Berjalan mengendap-endap layaknya bayangan. Lily mengaktifkan perangkat komunikasi dengan Adrian dan juga Samuel. Meski saluran keduanya berbeda. Begitu aktif, mereka langsung memberondong Lily dengan berbagai pertanyaan. Lily berdecak. "Aku berada di kawasan Gudang Timur SMA Merpati Putih. Kirimkan personel gabungan." "KAU GILA?!" Sang Kapten, juga Adrian berseru bersamaan, membuat Lily meringis. "Aku sangat waras saat ini. Aku tidak bisa menunggu. Akan kuberi tanda jika aku butuh bantuan, tolong siaga di dekat kawasan itu. Dan, jangan tanya apa pun!" BipLily memutus pembicaraan. Matanya yang tajam kembali mengamati.Gudang Timur berdiri di ujung kompleks, bangunan besar tanpa jendela, hanya pintu logam tebal dan beberapa lampu sorot.Dari kejauhan, Lily sudah melihat aktivitas. Beberapa truk parkir. Orang-orang berseragam
Krieeett—Bunyi pintu berkarat berdecit panjang, menggema di telinga Lily. Bau apek langsung menyerbu begitu celah terbuka. Dia mengibaskan tangan, terbatuk kecil saat debu berterbangan dan menggelitik tenggorokan.Tanpa ragu, dia menerobos masuk ke ruangan sempit dan pengap itu.Langkahnya terhenti sesaat ketika menemukan satu ruangan penuh barang bekas, tumpukan kardus, besi tua, dan kabel menjuntai seperti sarang. Di tengah kekacauan itu, seorang pria duduk membelakangi pintu, sepenuhnya tenggelam dalam layar komputernya.Tidak ada reaksi.Entah terlalu fokus, atau memang tidak sadar ada orang lain masuk.Lily menarik kursi terdekat, menggesernya kasar hingga berdecit di lantai, lalu duduk tepat di belakangnya.Masih tidak ada respons.Tanpa peringatan, Lily menendang kaki kursi pria itu.BRAKTubuh pria itu terantuk meja. Dia tersentak, menoleh cepat dengan wajah terkejut."Lu—!" tangannya terangkat menunjuk, tapi urung. Tatapannya berubah. Menciut. "Ngapain?" suaranya turun, nyar
Lily tidak kembali ke apartmen nya, dia juga tidak melaporkan posisi nya pada Samuel. Lily tahu protokol timnya, setiap jengkal rumahnya pasti telah dipasangi alat penyadap atau sensor panas untuk memastikan keselamatannya. Dia memacu mobilnya menuju kawasan industri di pinggiran kota, mematikan mesin di sebuah gedung parkir apartmen tua yang jarang terjamah. Sunyi. Hanya suara detak jam di dashboard yang menemaninya. Dia membuka laptop cadangan miliknya yang tidak terhubung pada server utama di markas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memasukkan flashdisk perak pemberian Adrian. Begitu folder terbuka, terdapat deretan file dengan kode 'Blue-Red' terpampang di sana, memancarkan cahaya biru pucat yang menerangi wajah Lily.Isi flashdisk itu menyingkap tabir yang selama ini tertutup rapat. Seluruh skema operasi yang selama ini dijejalkan milik timnya hanyalah informasi palsu. Entah mereka memang mendapatkan informasi palsu, atau informasi itu sendiri telah dipalsukan. Sindik
Pagi itu, langit di atas Jakarta begitu cerah, kontras dengan suasana hati Lily yang pekat. Dia berdiri di depan pintu kayu mahoni yang bertuliskan 'Ketua Yayasan'. Di balik seragam gurunya yang rapi, tiga microchip tertempel di jam tangannya dan satu kamera mikro menyamar sebagai bros perak di dadanya. "Masuklah, Ibu Lilyana. Beliau sudah menunggu." Suara penjaga di depan pintu menyentak lamunan Lily. Dia merapikan baju sejenak, menghembuskan napas panjang, lalu mendorong pintu itu. Aroma mawar langsung menyambutnya. Ruangan itu luas, dengan jendela besar yang menghadap taman. Di balik meja kaca yang elegan, Elena duduk dengan anggun. Setelan blezer kremnya memancarkan otoritas sekaligus kemewahan yang tenang. "Ah, Ibu Lilyana. Silahkan duduk." Elena tersenyum. Senyum itu sempurna. Namun, di mata Lily itu adalah senyum predator yang sedang memamerkan wilayahnya."Terima kasih, Bu Elena. Suatu kehormatan bagi saya." Lily duduk, memastikan bros nya menghadap tepat pada meja kerja
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.