LOGINBagi Lily, hidup adalah tentang bidikan yang presisi dan loyalitas tanpa batas pada negara. Namun, saat misi mengejar sindikat narkoba Blue Swan, sang Inspektur Muda dipaksa menanggalkan pistol Glock-19 miliknya. Dia harus bertransformasi menjadi Ibu Lilyana, seorang guru Bahasa Indonesia yang lembut di SMA Merpati Putih. Di balik kemewahan pilar-pilar sekolah elit itu, tersimpan busuknya konspirasi yang melibatkan para penguasa. Lily harus bermain cantik di bawah pengawasan ketat Adrian Pradipta, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum yang dingin dan penuh curiga, yang seolah mampu membaca setiap kebohongan di mata Lily. Namun, kejutan terbesar tidak datang dari misi itu sendiri. Di tengah kepungan musuh, Lily justru bertemu kembali dengan Julian. Pria yang seharusnya sudah mati lima tahun lalu. Pria yang dulu dia cintai kini berdiri di sisi kegelapan sebagai tangan kanan sang Mafia. Dia adalah pengkhianat, musuh, sekaligus hantu yang menghancurkan kewarasan Lily. Di antara desingan peluru dan aroma buku sastra, Lily terjebak dalam dilema mematikan. Apakah Julian benar-benar monster yang harus dia hancurkan? Ataukah ada alasan tragis di balik tinta merah yang menodai tangan pria itu? Dalam perang ini, merpati tak lagi putih. Dan setiap kata yang tertulis, bisa menjadi kalimat terakhir bagi nyawa mereka.
View MoreMonitor terus berkedip. Simbol angsa bersayap terpotong memenuhi layar selama beberapa detik sebelum seluruh sistem keamanan mati serempak. Gelap. Suara forklift berhenti, mesin truk yang tadi berdengung ikut mati. Seolah seseorang baru saja mencabut nyawa seluruh bangunan ini. Tidak ada yang berani bergerak. Lily melihat salah satu pria bersenjata menelan ludah dengan susah payah. Pria itu bukan takut pada polisi, bukan takut pada penggerebekkan. Tapi, takut pada sesuatu yang jauh lebih buruk. "Lily...," suara Julian terdengar lirih. "Tinggalkan tempat ini." Lily menggeleng. "Tidak sebelum kau menjelaskan apa yang terjadi." "Aku tidak punya waktu." "Maka buat waktunya." Emosi muncul di wajah Julian, rahangnya mengetat, kedua tangannya mengepal erat. Namun, itu bukanlah kemarahan, melainkan rasa frustasi. "Kau selalu keras kepala." Kalimat itu menghantam Lily lebih keras daripada yang seharusnya. Karena selama beberapa menit terakhir, pria di hadapannya masih terasa seperti
Gerimis tipis mulai membasahi jalan kawasan Gudang Timur, Lily mengemudikan motornya sangat pelan. Dia memarkirkan motornya lebih jauh dari kawasan target. Berjalan mengendap-endap layaknya bayangan. Lily mengaktifkan perangkat komunikasi dengan Adrian dan juga Samuel. Meski saluran keduanya berbeda. Begitu aktif, mereka langsung memberondong Lily dengan berbagai pertanyaan. Lily berdecak. "Aku berada di kawasan Gudang Timur SMA Merpati Putih. Kirimkan personel gabungan." "KAU GILA?!" Sang Kapten, juga Adrian berseru bersamaan, membuat Lily meringis. "Aku sangat waras saat ini. Aku tidak bisa menunggu. Akan kuberi tanda jika aku butuh bantuan, tolong siaga di dekat kawasan itu. Dan, jangan tanya apa pun!" BipLily memutus pembicaraan. Matanya yang tajam kembali mengamati.Gudang Timur berdiri di ujung kompleks, bangunan besar tanpa jendela, hanya pintu logam tebal dan beberapa lampu sorot.Dari kejauhan, Lily sudah melihat aktivitas. Beberapa truk parkir. Orang-orang berseragam
Krieeett—Bunyi pintu berkarat berdecit panjang, menggema di telinga Lily. Bau apek langsung menyerbu begitu celah terbuka. Dia mengibaskan tangan, terbatuk kecil saat debu berterbangan dan menggelitik tenggorokan.Tanpa ragu, dia menerobos masuk ke ruangan sempit dan pengap itu.Langkahnya terhenti sesaat ketika menemukan satu ruangan penuh barang bekas, tumpukan kardus, besi tua, dan kabel menjuntai seperti sarang. Di tengah kekacauan itu, seorang pria duduk membelakangi pintu, sepenuhnya tenggelam dalam layar komputernya.Tidak ada reaksi.Entah terlalu fokus, atau memang tidak sadar ada orang lain masuk.Lily menarik kursi terdekat, menggesernya kasar hingga berdecit di lantai, lalu duduk tepat di belakangnya.Masih tidak ada respons.Tanpa peringatan, Lily menendang kaki kursi pria itu.BRAKTubuh pria itu terantuk meja. Dia tersentak, menoleh cepat dengan wajah terkejut."Lu—!" tangannya terangkat menunjuk, tapi urung. Tatapannya berubah. Menciut. "Ngapain?" suaranya turun, nyar
Lily tidak kembali ke apartmen nya, dia juga tidak melaporkan posisi nya pada Samuel. Lily tahu protokol timnya, setiap jengkal rumahnya pasti telah dipasangi alat penyadap atau sensor panas untuk memastikan keselamatannya. Dia memacu mobilnya menuju kawasan industri di pinggiran kota, mematikan mesin di sebuah gedung parkir apartmen tua yang jarang terjamah. Sunyi. Hanya suara detak jam di dashboard yang menemaninya. Dia membuka laptop cadangan miliknya yang tidak terhubung pada server utama di markas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia memasukkan flashdisk perak pemberian Adrian. Begitu folder terbuka, terdapat deretan file dengan kode 'Blue-Red' terpampang di sana, memancarkan cahaya biru pucat yang menerangi wajah Lily.Isi flashdisk itu menyingkap tabir yang selama ini tertutup rapat. Seluruh skema operasi yang selama ini dijejalkan milik timnya hanyalah informasi palsu. Entah mereka memang mendapatkan informasi palsu, atau informasi itu sendiri telah dipalsukan. Sindik
Lily akhirnya sampai di SMA Merpati Putih. Dia mengamati bangunan itu sebelum memutuskan mendekat. Sejenak, dia tertegun menatap gerbang tinggi berwarna emas di depan sana. SMA Merpati Putih tidak terlihat seperti sekolah. Dari kejauhan, bangunan itu lebih menyerupai sebuah kompleks kedutaan besar
Pintu perpustakaan berderit, Lily segera menutup pintu di belakangnya, membiarkan kegelapan menyelimuti. Hanya ada cahaya bulan yang menelusup lewat celah jendela. Lily bergerak perlahan. Memindai. Ruangan ini cukup luas, dengan meja dan kursi yang tersedia di setiap sudut ruangan. "Andrez," p
Begitu selesai mengajar, Lily melajukan mobilnya segera menuju markas. Namun sebelum itu, dia singgah ke rumah yang telah disediakan sebagai properti penyamaran. Mengganti baju, dan membawa motor dinasnya. Sesampainya di markas, seluruh rekan timnya sudah menunggu, mereka menyambut Lily dengan sen
"Elang, di posisi.""Reptor, di posisi.""Rubicon, sudah di titik pantau.""Alpaca, siaga.""Specter siap di titik buta."Suara-suara itu masuk ke telinga Lily melalui earpiece. Ini adalah hari ke-28 pengintaian. Selama hampir sebulan, mereka hidup di antara bayang-bayang pelabuhan yang berbau sola
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.