LOGINGrisel menoleh perlahan ke arah Bibi Margaret. Wanita itu menatapnya dengan senyum yang tidak ramah dan dagunya sedikit terangkat, seolah menantang. Seluruh ruangan kembali hening bahkan bunyi dentingan sendok berhenti. Semua orang di meja makan menunggu jawaban Grisel dengan sorot mata yang berbeda-beda, sebagian ingin melihat wajah malunya dan yang lain hanya ingin menonton. Grisel meletakkan serbet di pangkuannya dengan tenang. Ia mengingat pesan Nyonya Agler yakni jangan melawan dengan cara rendahan seperti mereka. “Keluarga saya punya beberapa usaha kecil, Bibi Margaret,” jawabnya sopan, suaranya stabil. “Tentu saja, tidak sebesar keluarga Agler. Akan tetapi, cukup untuk membuat saya tahu bagaimana cara menghormati orang lain di meja makan.” Bibi Margaret menaikkan sebelah alisnya. Senyumnya melebar, tapi matanya menyipit. “Oh, jadi kau mengakui keluargamu bukan siapa-siapa? Bagus. Setidaknya kau tahu diri.” Beberapa bibi menutup mulut mereka dengan serbet, menahan tawa.
Nyonya Agler bangkit, tetapi sebelum melangkah keluar, ia menoleh sebentar ke arah Grisel yang masih duduk dengan cangkir teh setengah kosong di tangannya.“Satu hal lagi, Grisel.” Suaranya lembut namun penuh penegasan. “Aku yang memintamu menikahi Erland. Jadi apapun yang terjadi malam ini, ingatlah kau berada di sini atas pilihanku. Bukan karena kebetulan dan belas kasihan.”Grisel menegakkan punggungnya. Kata-kata itu memberinya kekuatan. “Terima kasih, Ibu. Aku akan mengingatnya.”Nyonya Agler mengangguk, lalu berbalik menuju pintu. Grisel mengikuti dari belakang. Saat mereka melangkah ke koridor, beberapa pelayan menunduk hormat, sementara dari ujung koridor terdengar samar suara tawa dan denting gelas dari arah ruang makan.“Mereka sudah berkumpul,” ucap Nyonya Agler tanpa mengubah ekspresinya.“Jangan biarkan mereka melihat kegugupanmu. Keluarga Agler punya kebiasaan buruk, mereka bisa mencium ketakutan seperti anjing pemburu.”Grisel menelan ludah. “Aku akan berusaha.”Mereka t
Tawa kecil sempat pecah di antara para pengawal ketika rekan mereka yang berani bertingkah konyol itu tersipu malu. Namun, Kepala Pelayan Will hanya menggeleng pelan, menyembunyikan senyum tipis di balik sikap profesionalnya. "Kalian semua, harap kembali ke pos masing-masing. Jangan membuat Nona muda menunggu terlalu lama di halaman," tegur Kepala Pelayan Will dengan nada ramah namun tetap berwibawa. Para pengawal segera menunduk hormat dan kembali ke barisan mereka. Grisel melangkah pelan mengikuti Kepala Pelayan Will melewati jalan setapak dari batu alam yang diapit hamparan rumput hijau. Angin lembut membawa aroma mawar dari taman yang membentang di sisi kanan. Grisel menarik napas dalam-dalam. Udara di sini terasa berbeda dan terasa lebih berat, seolah setiap tarikan napas mengandung sejarah panjang dan rahasia yang tak terucap. "Nyonya Agler telah menunggu di ruang teh," ujar Kepala Pelayan Will pelan. "Beliau ingin menyambut Anda secara pribadi sebelum makan malam resmi ber
Sepanjang perjalanan Kepala Pelayan Will tak henti-hentinya menceritakan masa kecil Tuan Muda mereka yakni Erland Agler dan juga prestasi gemilangnya sebelum terjadinya insiden kecelakaan yang melumpuhkan kedua kaki Tirani perusahaan Agler tersebut. Grisel yang mendengarkan cerita Kepala Pelayan Will cukup antusias mendengarkan. Ternyata, dibalik wajah dingin Erland yang sekarang berstatus menjadi kepala keluarga baru Agler. Pria itu dulunya adalah putra surga yang cukup mulia dan membuat iri banyak orang. Terlebih Erland berasal dari keluarga yang sangat kaya di ibu kota. Namun, nasib buruk tidak ada yang tahu. Kedua kaki pewaris keluarga kaya raya itu lumpuh akibat kecelakaan. “Apakah perjalanan masih jauh?” tanya Grisel kepada Kepala pelayan Will sambil sesekali melirik pemandangan di luar jendela. Kepala pelayan Will tersenyum ramah, “Sebentar lagi kita akan sampai. Nona akan segera melihat kemegahan keluarga Agler.” Ungkapnya membuat Grisel bersenandung menandakan bahwa ia m
Sudah dua hari sejak menghilangnya Grisel di danau Villa pernikahan yang disiapkan keluarga Erline. Namun, sampai saat ini keluarga Erline tidak mengetahui pasti keadaan Grisel. Apakah gadis itu hidup dan mati masih dalam kabut abu-abu. Di sisi lain, Nadya yang dikatakan Nona muda asli keluarga Erline segera mendapat simpati beberapa keluarga kaya. Meskipun wajah Nadya tidak secantik Grisel, pada dasarnya ada beberapa orang yang masih mengaguminya. Rasa kagum dan juga iba muncul karena Nyonya Erline menceritakan masa kecil Nadya yang sangat sulit. Ia juga tidak pernah menyangka bahwa bayinya ditukar di rumah sakit. Sampai saat ini Tuan Edward, suaminya masih menyelidiki peristiwa masa lalu yang cukup merugikan banyak pihak. Sementara itu, Sion yang awalnya sangat senang mengetahui bahwa Nadya adalah adik kandungnya, entah kenapa kini kehilangan minat dan rasa antusiasme nya. Sion merasa bahwa pola pikir Nadya terlalu kampungan dan tidak seperti Grisel. Meskipun ia dan Grisel seri
Grisel melompat dari tempat tidurnya yang membuat Erland memandangnya dengan penuh tanda tanya. “Apa yang kau lakukan?” Erland bertanya kepada Grisel yang sekarang berdiri di ujung ranjang sambil melirik ke kana dan ke kiri mencegah kecanggungan. Selama dua puluh tahun hidupnya, ini adalah kali pertamanya ia tidur tengah seorang pria yang berstatus resmi sebagai suaminya. Meskipun Grisel sangat yakin jika Erland tidak melakukan hal yang aneh kepadanya. Sebagai gadis yang jujur tentu saja dia merasa malu. Grisel tak mampu menjawab pertanyaan Erland memilih untuk menundukkan kepalanya. Erland menghela napas melihat gadis di depannya menundukkan kepala seperti burung puyuh. Ia pikir gadis ini sangat tangguh, dilihat dari seberapa kerasnya ia melarikan diri dari pernikahan dengan Tuan Matthew itu. Melihat rasa canggung dan malu Grisel, Erland perlahan duduk dan menarik kursi rodanya mendekat. Grisel dengan inisiatif bergerak menuju Erland. “Aku…” Ia berkata dengan gugup, Erlan







