Share

Bab 5

Penulis: Tinta Emas
last update Tanggal publikasi: 2026-09-30 19:31:23

Ruangan Lily.....

Sosok dengan pucat itu sudah terbaring dengan infus ditangannya. Didalam sana, tampak pria paruh baya mondar mandir dengan tangan yang mengepal satu sama lainnya dengan tatapan yang tidak lepas dari sosok putrinya yang lemas.

Sedangkan di sudut kamar, tubuh tegap itu berdiri kaku seperti biasanya, tapi matanya tak lepas dari sosok mungil yang dibawanya ke rumah sakit dalam keadaan yang buruk.

Bau disinfektan di dalam sana, tidak menganggu kedua pria itu. Karena yang terpenting bagi mereka adalah kesadaran dari sosok yang masih terpejam rapat. Saat tangan itu mulai bergerak, keduanya langsung bereaksi.

"Elora....." Pria paruh baya itu langsung memegang tangan putrinya dengan gemetar.

"Putriku. Akhirnya kau membuka matamu. Ayah benar-benar khawatir. Kenapa kamu bisa pingsan? Apa kamu terlambat makan? Begadang? Ayah benar-benar cemas."

"Aku......" Saat Elora membuka bibirnya.

"Sayang!" Pintu terbuka paksa dengan langkah yang terburu-buru. Tangannya dengan cepat meraih tangan mungil Elora. "Sayang, aku minta maaf. Aku baru saja membaca pesan dari ayah. Aku langsung buru-buru menyetir dengan cepat kemari." Selain bicara hal yang manis, bibir itu juga mengecup punggung tangan Elora berkali-kali.

"Aku minta maaf. Aku pikir, kau sudah membaik. Tidak! Seharusnya aku datang dan berada disamping mu." Ujar Kendra dengan penyesalan.

Elora langsung menarik tangannya dengan pelan. "Aku haus...." Tenggorokannya terasa kering.

"Ini nak!" Dengan cepat ayahnya mengambilkan air.

"Om, aku benar-benar minta maaf. Sebelumnya aku menjemput keluarga ku untuk pernikahan kami nantinya."

Di sudut, Dominic tidak bergerak. Hanya matanya yang terus-menerus menatap monitor jantung Elora.

Ayah Elora menghela napas. "Ya, om mengerti. Semuanya khawatir, Elora kadang keras kepala. Putriku ini ingin mandiri sampai-sampai tidak menghubungi ayahnya kalau dia sakit."

"Bukan begitu....." Lirih Elora.

Tapi kau juga salah, kau sudah tau. Tapi kenapa tidak melakukan apapun?"

"Aku tau om. Aku salah. Aku benar-benar minta maaf." Ujar Kendra.

Tiba-tiba dering ponsel ayah Elora terdengar. Pria itu menatapnya. "Pasti penting. Ayah angkat saja..." Ujar Elora.

"Kau yang lebih utama saat ini." Jelas ayahnya.

"Aku tau, tapi aku lihat itu sudah puluhan kali." Pria paruh baya itu tersenyum sambil mengelus lembut rambut putrinya.

"Baiklah, sebentar ya. Ayah segera kembali."

Elora mengangguk dan tersenyum kecil.

"Jaga putriku!" Tatap Aven tajam pada Kendra.

Kendra mengangguk. "Sayang, kau ingin makan sesuatu? Aku bisa belikan." Bujuk Kendra terus menerus.

"Sayang......" Panggil Kendra.

"Kalau begitu pergilah! Belikan aku makanan." Ketus Elora.

"Kau ingin apa?" Tanya Kendra lembut.

"Terserah!" Jawaban itu membuat Kendra tersenyum. "Baiklah, aku akan segera kembali membawa makanan kesukaanmu."

Pintu langsung tertutup pelan.

Meninggalkan Elora dan Dominic. Pria itu masih berdiri di pojok ruangan, tegak.

"Masih butuh air?" Tanyanya dengan suara rendah dan serak.

Elora menggeleng, air matanya langsung jatuh. "Kakak dari mana saja?"

"Tidak kemana-mana, nona. Masih di sini." Jawabnya pelan.

"Kakak yang membawa ku ke rumah sakit?" Tanya Elora kembali.

"Iya. Itu tugasku." Dia melangkah maju satu langkah, tetap menjaga jarak.

"Aku menemukan nona di lantai yang dingin. Tolong... jangan lakukan hal seperti itu lagi."

Elora menatap Dominic lama. "Aku tadinya berpikir, mungkin aku sudah….."

“Nona terlalu berharga. Jangan berpikir seperti itu lagi.”

"Elora....." Ayah Elora kembali. Melangkah tergesa-gesa ke arah putrinya.

"Hei, kenapa menangis? Ada yang sakit?"

Elora menggeleng. "Tidak... Aku hanya pusing, ayah." Ujarnya sambil membalas pelukan ayahnya.

"Putriku, ayah akan panggilkan dokter ya." Tapi Elora menggeleng.

"Di sini saja... Ayah."

"Baiklah, putriku ingin bermanja-manja rupanya."

Tak lama, Elora sudah tertidur pulas. Aven menyelimuti tubuh putrinya dengan pelan. Mengelus kening itu dengan sayang.

"Om, aku....." Kendra baru datang dengan makanan ditangannya.

"Elora tidur? Aku....."

"Letakkan saja Kendra. Kenapa baru datang?"

"Terlalu ramai Om. Ini semua makanan kesukaan Elora. Aku ingin dia cepat sembuh." Jelas Kendra.

"Letakkan saja. Dia sudah tertidur. Ada apa?" Tanya Aven melihat wajah calon menantunya.

"Om, aku ada sedikit masalah. Apa aku bisa pergi sebentar?"

"Masalah apa? Putriku sedang sakit saat ini. Dia membutuhkanmu."

"Aku tau om, tapi....." Kendra menahan kata-katanya. Tatapannya beralih pada Dominic.

"Om, bisa kita bicara sebentar? Hanya kita."

"Dominic, jaga Elora!"

"Siap, Tuan." Jawab Dominic tegas.

"Alasan klasik....." Gumam Dominic pelan saat pintu tertutup. Dia menarik napas.

Tidak apa-apa. Dia bisa menjaga Elora dengan baik. Ditemani lampu yang tidak begitu terang. Sekarang benar-benar cuma mereka berdua.

Baru saja Dominic ingin mengecek selang infus, "Kak Dom....." Elora langsung duduk di pinggir ranjang dengan hati-hati, infus masih tertancap di tangannya.

Dominic langsung sigap mendekat tapi tidak menyentuh. "Nona, hati-hati. Nona masih lemas. Baring lagi ya."

Elora tertawa getir. "Kendra sudah pergi ya? Lagi?"

"Nona tidak perlu memikirkan itu sekarang. Yang utama kesehatan nona." Dominic berlutut satu lutut di samping ranjang, sejajar tapi tetap sopan. Jarak satu kepalan tangan.

"Nona tidak sendiri. Saya di sini. Menjaga." Dia meletakkan selimut yang sempat terlepas, merapikannya sampai ke dada Elora.

"Kak......"

"Istirahatlah, nona. Pejamkan mata."

Tapi sepasang manik Elora tak kunjung terpejam, beberapa kali matanya bergerak gelisah dengan mengigit bibirnya.

“A-ku…..” Kata-kata Elora terhenti saat merasakan tepukan pelan di lengannya yang tertutup oleh selimut.

Pandangan Elora langsung tertuju pada Dominic. Sepasang manik abu-abu itu menatap wajahnya dengan tangan yang berirama mengetuk lembut lengan nya seperti rangkaian irama.

“Tidurlah nona. Saya disini.” Manik yang tadinya gelisah itu perlahan menutup pelan dengan hembusan napas yang masih tak teratur.

“Tidak akan pergi.” Telinga Elora samar-samar mendengar nya.

"Janji?” Gumam Elora sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya.

"Janji seorang prajurit."

Elora akhirnya terpejam. Napasnya mulai teratur. Dominic tetap duduk. sesekali dia mengecek infus, merapikan selimut, dan memastikan pintu terkunci.

Tanpa diduga, dari luar, Aven mengintip dan melihat itu. Dia mengangguk pelan.

`Putriku dijaga dengan benar.`

Jam 2 pagi. Lampu tidur redup. Dominic tampak tertidur dengan posisi terduduk tak jauh dari Elora yang sedang terbaring.

Elora menggeliat. Napasnya cepat. Keringat dingin di kening.

"Jangan... jangan tinggalkan aku..." gumamnya. Gumaman itu membuat Dominic terusik.

"Jangan!' Teriakan itu berhasil membuat Dominic langsung bangun. Dia segera memeriksa suhu Elora. Angka itu langsung menunjukkan 38.9 derajat. Satu tangannya dengan cepat menekan tombol nurse dan mengambil waslap dingin.

"Nona. Nona Elora. Bangunlah!"

"Kak... dingin..." Lirih Elora. Dominic mengompres kening dan tengkuk Elora dengan waslap. Penuh kehati-hatian dan begitu lembut.

"Aku di sini. Tidak kemana-mana. Tarik napas pelan nona." Elora mengikuti instruksi Dominic.

"Tolong, periksa. Suhunya kembali panas!" Jelas Dominic pada perawat yang datang. Dominic membiarkan perawat yang mengambil alih, tapi tatapannya tidak beranjak dari Elora yang sedang diperiksa.

"Pasien sudah kembali tertidur. Jika ada masalah, tekan saja tombol nya." Dominic mengangguk.

Dominic menurunkan tangannya dengan pelan memeriksa kening yang terasa panas. Perlahan Dominic mundur tanpa suara untuk kembali ke tempat nya. Rasa kantuk kembali menyerang nya, dia tertidur kembali.

"Tidak!! Jangan pergi!! tolong..." Dominic kembali mendengar Elora merintih. Saat matanya terbuka, dia melihat tubuh Elora menegang dengan infus yang tertarik. Dominic sigap menahan tiang infus. Tangan satunya menepuk punggung Elora di atas selimut.

"Nona!"

Elora tersentak bangun, menangis. "Kak... tadi begitu gelap... banyak orang... dan aku--"

"Nona. Itu hanya mimpi. Nona aman. Saya di sini. Lihat saya." Tangan gemetar Elora langsung tenggelam dalam genggaman Dominic yang besar. "Minum dulu pelan-pelan nona." Elora belum menerima air itu, tapi aroma khas Dominic membuat nya lebih tenang. Perlahan, tangannya menerima gelas berisi air itu.

Saat napas Elora kembali teratur. Dominic meletakkan gelas kembali ke tempatnya. Dia melepaskan genggaman tangannya.

"Aku takut kak....."

"Itu efek demam, nona. Otak akan membuat cerita kalau panas. Sekarang lihatlah! Lampu menyala Nona tidak sendiri..... Pintu juga terkunci."

"Aku takut sendirian..."

"Nona tidak sendiri."

Tapi mata Elora bergerak kesana-kemari seolah memeriksa sekitar. Dominic diam, tapi dia memajukan kursinya untuk lebih dekat selangkah. "Sudah?" Elora mendengar suara Dominic lebih dekat, wajah dengan rahang tegas itu terlihat dekat dengan nya.

Elora mengangguk. Dia membaringkan tubuhnya kembali dengan pelan-pelan. Selimut itu digenggam erat seiring matanya kembali terpejam. "Kakak tidak akan pergi kan?" Tanya Elora kembali.

"Tidak akan." Elora kembali memejamkan matanya. Dominic menghela napas,. punggung berdiri tegak sempurna menatap Elora yang kembali tertidur. Lima menit.... Dominic berniat memejamkan matanya, tapi...

"Kak... aku tidak bisa tidur...." Cicit Elora dengan mata yang kembali terbuka.

"Apa, bisa kakak ceritakan sesuatu untukku?" Ingatan Dominic langsung tertuju pada Elora yang demam saat SMA. Dia memang menceritakan sesuatu pada Elora.

"Baiklah, sekarang saya bacakan laporan patroli. Dijamin cepat tidur." Mata Elora berkedip-kedip beberapa kali, cerita apa itu? Tapi dia memutuskan untuk mengangguk saja. Dengan suara datar dan monoton, Dominic membacakan jadwal jaga, nama petugas, rotasi shift yang entah itu benar atau karangan nya. Tak lama napas Elora teratur. Dia tertidur lagi. Dominic menghela napas panjang. Akhirnya....

Mentari mulai terbit dengan sinar yang masih malu-malu. am 6 pagi. Kelopak mata Elora mulai bergerak, matanya mulai terbuka sepenuhnya. Infus masih bertahan di tangannya. Dominic sudah duduk tegak sejak subuh.

"Kak..."

Dominic langsung menoleh. "Demamnya sudah turun. Masih pusing?"

Elora menggeleng.

Pintu terbuka. Aven masuk membawa bubur.

"Putri ayah sudah tersenyum. Lebih baik?"

"Iya, yah."

"Terima kasih sudah menjaga Elora, Dominic."

"Itu tugas saya, Tuan."

"Kau bisa istirahat. Aku temani dia."

"Siap, Tuan." Dominic memberi hormat kecil lalu keluar.

Dokter datang. "Demam turun. Tapi tekanan masih rendah. Menginap semalam lagi ya."

Aven mengangguk. "Ayah menghubungi Dominic, tapi dia tidak mengangkat nya."

"Mungkin di jalan, yah."

Tak lama Dominic kembali dengan setelan rapi dan tak lupa membawa kantong kertas.

"Akhirnya kau datang. Jaga putriku ya."

"Siap, Tuan. Saya jaga Nona Elora."

Aven pergi.

"Sudah sarapan, nona?"

"Belum. Bagaimana dengan kakak?"

Dominic tidak menjawab, dia langsung mengeluarkan kotak. "Oatmeal dengan beri. Seperti yang nona suka saat sakit."

Mata Elora berbinar. "Ini... rasanya seperti buatan Ibu." Matanya berkaca.

"Pelan-pelan, nona."

"Kakak masih ingat?"

"Hmm. Ingat."

"Obatnya." Dominic menyodorkan piring kecil.

Elora manyun. "Pahit! Tidak mau."

"Elora." Suaranya datar.

"Tapi itu benar-benar pahit....." Dominic diam. Dia ingat dulu di SMA juga begitu.

"Baik." Dominic mengambil beberapa obat dan menumbuk obat, campur air madu. Duduk di kursi.

"Buka mulut." Hembusan napas Dominic menyapa pipi Elora. Sepasang mata yang biasanya waspada itu sekarang mengendur. Elora membuka mulutnya. Satu sendok masuk. Elora meringis.

"Minum airnya." Dominic menyodorkan gelas dengan cepat.

"Ugh masih pahit." Dominic mengambil tisu, menyeka sudut bibir Elora dengan cepat.

Elora terpaku saat merasakan kulit keningnya yang membara seketika seperti disiram es saat telapak tangan besar yang dingin menempel di sana. Sentuhan itu membuat napas hangat tercekat di tenggorokan Elora dengan rasa obat yang masih belum sepenuhnya hilang.

Bukannya menepis. Kepala Elora semakin terasa pusing, saat keningnya tertekan lebih dalam ke telapak tangan yang besar itu. "Sudah lebih turun....." Dominic mengangkat telapak tangannya dari sana. Bibir Elora akhirnya bisa bergerak kembali dan bicara. "Iya, terimakasih.... Kak." Elora langsung memalingkan wajahnya dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya seolah-olah ingin menyembunyikan detak jantung yang berdetak kencang.

“Kak….”

“Apa?”

“Aku ingin ke keluar. Menghirup udara segar, aku sudah lebih baik. Boleh ya?” Dominic diam, tapi tak lama mengangguk membuat Elora tersenyum manis.

“Tunggu sebentar, kakak segera kembali.” Elora mengangguk, dia sedang berada di taman rumah sakit. Dimana udara segar berkumpul dan membuat Elora merasa lebih baik. Matanya menatap aktivitas orang-orang dengan para kupu-kupu yang sesekali berterbangan mencari madu. Hingga pandangannya terkunci pada sosok yang dikenalnya.

“Kendra….. Ken!” Tapi panggilan itu surut seketika saat melihat sosok yang didorong oleh Kendra dengan kursi roda.

“Bella?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nona Muda, Tuan Dominic Akan Menjagamu    Sebuah Tragedi

    Sorotan lampu studio pemotretan menyala terang, menciptakan bayangan tajam di balik tirai latar belakang yang elegan. Di tengah ruangan, Bella tengah berpose dengan anggun di depan kamera. Bibirnya tersenyum lebar seiring dengan kilatan kamera yang mengambil gambar dari posenya.Namun, di balik senyum memukau yang ia lemparkan ke arah fotografer, tersimpan sesuatu yang membara pada sosok yang tak jauh dari posisinya. Elora....Elora berdiri di sudut ruangan dengan tenang, memegang clipboard dan pita pengukur, mengawasi jalannya pemotretan untuk memastikan karya terbaiknya tampil sempurna. Bella tidak menyukai ketenangan itu dan Elora yang kembali bekerja. 'Rencana akan dimulai Elora. Kita lihat, bagaimana kau menghadapi nya. Akan aku pastikan reputasi mu hancur di hadapan semuanya.'Sesi pemotretan jeda selama sepuluh menit. Bella memanfaatkan waktu ini untuk melancarkan aksinya. Ia berjalan ke dekat area ganti tempat gaun mahakarya rancangan Elora berikutnya diletakkan sebuah gaun s

  • Nona Muda, Tuan Dominic Akan Menjagamu    Sesi Pemotretan

    "Aaaaa!" Bibir Elora mengeluarkan rasa keterkejutan saat kegelapan disertai sosok dengan tubuh keras mendekati nya."Ini aku...." Suara itu terdengar lembut di telinga nya, seiring dengan lampu yang kembali menyala. Dominic, dia yang datang dan menahan lengan Elora dengan lembut. Dominic bisa melihat bagaimana dada Elora naik turun karena keterkejutannya."Dominic, kau... Ka-u mengejutkan ku." Ujar Elora yang kembali merapikan barang-barangnya.Dominic membiarkan jarak diantara mereka dan memperhatikan Elora yang sedang berberes itu, dia mengenakan kemeja gelap dengan lengan yang dilipat hingga siku. Sebuah tas kecil berisi barang-barang milik Elora berada di tangannya tanpa sepengatahuan Elora yang sibuk dengan barang dan map lainnya."Sudah selesai?" Elora mengangguk sambil menyerahkan map yang dibawanya."Untuk hari ini, iya. Besok aku harus kembali untuk uji busana. Aku penasaran kenapa lampu mati." "Ada sedikit perbaikan di depan. Bukankah itu pekerja yang kau minta?" "Ya amp

  • Nona Muda, Tuan Dominic Akan Menjagamu    Desas desus yang kembali

    Kepala Elora bergerak pelan, menatap Bella yang ada didepannya. Wajahnya terlihat tenang tanpa senyuman. "Kalau begitu, seharusnya tidak bekerja dulu. Bukan begitu?" "Tentunya kau lebih tau kondisi mu. Aku hanya melakukan pekerjaan ku. Untuk rancangan ini, aku memilih dengan mempertimbangkan karakter visualmu, pengalamanmu di depan kamera, serta kebutuhan kampanye." Jawaban Elora begitu lugas sehingga Bella tidak menemukan celah untuk menyudutkannya. Elora hanya membicarakan pekerjaan. Dan reaksinya tidak seperti yang diharapkan Bella. "Kalau ada bagian yang menurutmu kurang sesuai, kita bisa mendiskusikannya setelah sesi uji busana," lanjut Elora. "Aku terbuka terhadap masukan, selama perubahan yang diajukan tetap mendukung konsep keseluruhan." Bella mengangkat wajah. Ini pertemuan pertama mereka setelah kejadian itu. Perempuan itu bahkan tidak terlihat tertarik untuk membicarakan apa yang pernah terjadi di antara mereka, maupun reaksi dari apa yang dikatakannya. Entah menga

  • Nona Muda, Tuan Dominic Akan Menjagamu    Pertemuan Tak Terelakkan

    Alunan musik mengalun indah, seolah memberikan nyanyian penenang untuk jiwa dari sosok yang sibuk dengan pensil dan kertas di depannya. Sambil mendengarkan lagu, elora kembali mengambil selembar kertas baru, dan menuliskan beberapa gagasan untuk konsep pemotretan. Ini adalah langkah yang seharusnya, dia tidak boleh membiarkan masa lalunya membelenggu dirinya dan kreatifitas nya.Begitu juga dengan luka pribadi nya, tidak menyurutkan kepercayaan diri nya maupun mempengaruhi kepribadiannya. ********** Dua hari kemudian, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan gedung Maison Étoile. Bella Laurent turun dengan penampilan yang nyaris sempurna. Kacamata hitam berbingkai besar menutupi sebagian wajahnya, sementara gaun berpotongan elegan yang dikenakannya memperlihatkan citra seorang perempuan yang terbiasa menjadi pusat perhatian. Dua asistennya berjalan di belakang, masing-masing membawa tas dan beberapa dokumen. Sejak namanya melejit sebagai aktris, Bella telah menjadi salah sa

  • Nona Muda, Tuan Dominic Akan Menjagamu    Keputusan Tak Terduga

    Bella.... Nama itu, seketika membuat jari Elora membeku. Dia membaca sampai selesai isi email itu, sebuah kerjasama dengan Bella sebagai modelnya. "Elora?" panggil Adrian yang seketika menyadarkan nya. Adrian mengamati wajah Elora dengan hati-hati. "Aku tahu hubungan kalian memiliki tidaklah sederhana. Kalau kau merasa keberatan, aku bisa membicarakan kemungkinan lain dengan pihak manajemen." Elora tidak langsung menjawab. Jemarinya menyentuh tepi mouse di depannya . Ia membaca kembali uraian proyek, konsep koleksi, serta jadwal yang terlampir. Ini bukan sekadar pemotretan biasa. Bella akan menjadi wajah utama kampanye, sementara Elora diminta merancang sejumlah busana khusus yang akan dikenakannya dalam pemotretan editorial dan acara promosi. Sebuah kesempatan besar bagi semuanya dan juga bagi dirinya. "Apa Bella sudah menyetujui kerja sama ini?" tanya Elora akhirnya. "Belum sepenuhnya. Pihak manajemennya yang mengajukan namamu sebagai desainer utama. Mereka secara khusus

  • Nona Muda, Tuan Dominic Akan Menjagamu    Tidak Peduli

    "Kalau begitu, biarkan mereka menunggu." Dominic, yang duduk di dekat jendela, perlahan mengalihkan pandangannya kepada Elora. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak di wajah perempuan itu. Maupun rasa sesak ataupun gemetar di tubuhnya. Elora berdiri, merapikan ujung blusnya, lalu mengambil map berisi sketsa. "Nona Elora, apakah Anda tidak ingin menggunakan pintu belakang?" tanya staf itu ragu-ragu. "Kami bisa mengatur agar Anda tidak perlu berhadapan dengan mereka." Elora menggeleng. "Aku tidak melakukan kesalahan apa pun sampai harus bersembunyi dari orang lain." Ia kemudian menoleh kepada Dominic. "Ayo. Aku ingin memeriksa ruang pamer sebelum rapat dimulai." Dominic bangkit tanpa ban

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status