LOGINVanya benar-benar tidak bisa menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini, apalagi semua perlakuan hangat dan juga pembelaan yang dilakukan Kevin semuanya adalah hal asing untuknya. Dia bahkan sudah lupa bagaimana rasanya dibela dan diperhatikan oleh orang lain setelah masuk ke kediaman Dirgantara.
Kemudian, Vanya melihat ke arah Febiola yang mana saat ini wajahnya terlihat kesal, tatapannya penuh amarah memandang punggung Kevin yang kian menjauh.
“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan,” ucap Lesmana menenangkan Febiola dan merangkul istrinya itu.
Febiola lalu menarik napas panjang kemudian tatapannya beralih ke arah Vanya. “Aku tidak akan menerima penghinaan seperti itu kalau anak harammu ini tidak membuat masalah!”
Rasanya baru saja Vanya mendapatkan perlindungan, tetapi setelah pemilik kekuatan itu pergi dia kembali merasa ditekan oleh tatapan tajam dan sinis dari Febiola. Sungguh ironis memang.
“Kita temui Keluarga Baskara saja, kebetulan kita butuh dukungannya juga.” Lesmana kemudian mengajak Febiola untuk segera pergi dari tempat itu.
Febiola mengangguk, tetapi sebelum pergi Febiola berkata dengan penuh penekanan pada Vanya. “Ingat tujuanmu datang ke tempat ini untuk apa. Dan juga … pastikan jangan membuat masalah lagi!”
Vanya hanya mengangguk lemah lalu memandang kedua orang tuanya menjauh meninggalkannya seorang diri.
Beberapa kali Vanya menghela napas, kemudian dia menepi dan mengambil secangkir minuman dari baki pelayan. Lalu, mata Vanya menangkap sosok Kevin yang berdiri dari kejauhan tapi cukup jelas dilihat dari tempatnya berdiri.
Kevin yang sedang berbicara dengan salah satu kepala keluarga yang hadir terlihat sangat berwibawa, gerakan tubuhnya yang dirasa sangat sempurna membuat Vanya lagi-lagi terpesona dengan sosok itu.
Mata Vanya tak henti mengikuti kemana arah pria itu.
Yang membuatnya heran adalah reaksi Kevin saat berinteraksi dengan beberapa nona muda dari keluarga-keluarga mereka saat dikenalkan. Pria itu tampak tidak terlalu antusias dan biasa saja, hanya melihatnya sekilas dan kembali bicara dengan tetua keluarganya.
“Apa dia tidak tertarik dengan wanita-wanita cantik itu?” gumam Vanya pelan.
Tiba-tiba, Kevin memutar tubuhnya ke arah Vanya. Pandangannya bertemu dengan Vanya yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. Seketika, Vanya buru-buru mengalihkan tatapan, sementara jantungnya berdebar tak karuan.
“Ya Tuhan … bagaimana ini? Apa aku akan mendapatkan masalah lagi?” gumamnya. Sebelumnya, sudah berapa kali dia hampir ketahuan oleh pria itu saat sedang memperhatikannya diam-diam dari kejauhan, tapi kali ini tertangkap basah.
Merasa jantungnya berdebar tak karuan dan butuh menenangkan diri, Vanya memutuskan untuk keluar ruangan itu menuju ke arah belakang, dimana ada sebuah taman terbuka yang masih terlihat hijau dan nampak terang walau langit sudah gelap.
“Ah … di sini jauh lebih menenangkan,” gumamnya pada diri sendiri. Walaupun cukup membuatnya tenang sesaat, tetapi jelas ada tugas yang pastinya sangat mustahil untuknya.
Vanya kembali menerawang dan sibuk dengan pikirannya sendiri, tetapi tiba-tiba sesuatu menyentuh kakinya. Vanya terlonjak kecil, lalu mendapati seekor kucing yang menggesekkan tubuhnya dengan manja ke kakinya. Bibirnya melengkung tipis. “Kamu mengagetkanku saja.”
Ia lalu berjongkok, mengelus bulu lembut kucing itu sambil menghela napas panjang. “Hai manis,” sapanya.
Binatang itu hanya mengeong sebentar lalu menjulurkan lehernya, jelas sedang merasa senang dengan sentuhan yang diberikan oleh Vanya.
Vanya kembali tersenyum, lalu dia berkata kembali, “Maukah kamu mendengarkan ceritaku?”
Kucing itu tetap diam.
Vanya paham dia hanya seperti cerita dengan angin, hanya saja dia tetap ingin mengeluarkan sedikit yang menjadi tekanan dalam dirinya.
Kembali dia menarik napas panjang. “Manis, menurutmu, apa … pangeran setampan dan sempurna itu mau dengan aku?” tanyanya lirih, seolah-olah kucing itu bisa mengerti.
Kucing itu hanya menatapnya dengan mata bulatnya lalu mengeong pelan.
“Meong~.”Vanya terkekeh getir, untuk kali pertama binatang kecil ini memberinya respons. “Ah, ternyata kamu juga tahu, kalau itu pasti tidak mungkin, ya.”
Matanya kembali menerawang menatap lurus ke depan. “Pulang nanti, aku tidak tahu hukuman seperti apa yang akan aku terima, menurutmu … apa aku masih bisa bertahan di keluargaku?”
Kembali kucing itu tak memberikan respons. Vanya mulai merasakan matanya mulai berembun, lalu segera dia mengerjapkannya dan menepuk pelan pipinya. “Ah, maaf aku sedikit terbawa suasana. Dia lalu kembali tersenyum dan mengelus kepala kucing itu, membuatnya kembali mengeong beberapa kali.
“Apa kamu mau menghiburku?” Vanya berkata dengan santai lalu tiba-tiba sebuah ide terbesit di kepalanya.
“Uhhm … bagaimana kalau kamu benar-benar membantuku untuk membuatku lebih kuat sedikit?” Vanya berkata dengan menyipitkan matanya.
“Kalau aku anggap dunia ini seperti negeri dongeng, dan andaikan kamu adalah Tuan Kevin, pangeran Averland dari kota Cavendra yang sedang dikutuk jadi kucing, lalu aku … penyelamatmu, menurutmu apa kamu akan menikahiku?”
“Meong~”
Vanya tertawa kecil. “Ah, tak kusangka kamu benar-benar meresponsku.” kucing itu kembali mengeong.
“Baiklah kalau begitu,” ucapnya lagi, “hei, pangeran tampan, bagaimana kalau kamu pilih aku jadi istrimu? Aku jamin hidupmu bisa lebih sukses lagi setelah ini.” ucapnya sambil bercanda, mengerling ke arah si kucing.
Namun saat kucing itu diam tak merespons lagi, Vanya cemberut. “Huh, apa memang sebenarnya tidak mungkin? Bagaimana kalau aku serius kali ini?”
Vanya lalu berdiri perlahan, menatap kucing itu dengan wajah sungguh-sungguh. Suaranya tegas, meski hatinya bergetar. “Tuan Kevin Wicaksana, menikahlah denganku. Percayalah dari semua wanita itu, hanya aku yang pantas untukmu karena aku akan menjadi istri yang paling baik di dunia ini.”
Hening sesaat, lalu—
“Nona Dirgantara.”
Suara berat itu tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Vanya menegang seketika, darahnya serasa berhenti mengalir. Dengan kaku ia menoleh, matanya terbelalak tak percaya melihat sosok yang berdiri hanya beberapa langkah darinya.
“… apa kamu sedang melamarku sekarang?”
Tenggorokan Vanya seketika mendadak kering. Sorot mata yang sulit diterjemahkan sedang menatap ke arahnya dengan cukup dalam dan suaranya terdengar dengan sangat jelas, menohok, dan tak memberi ruang untuk lari.
“T-tuan Kevin ….”
“Ibu … aku merindukanmu .…”Suaranya nyaris tak terdengar. Bukan ratapan, bukan pula tangisan. Hanya bisikan lirih yang seolah tertinggal di udara, lalu mengendap di ruang penyulingan yang sunyi.Aroma samar seolah menyusup ke dalam napasnya. Bukan aroma nyata, melainkan kenangan. Wangi yang dulu sering mengisi rumah kecilnya. Wangi yang membuatnya merasa aman.Vanya menunduk, matanya berkaca-kaca. Ia tidak menyadari kapan napasnya mulai terasa berat. Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh punggungnya.Hangat. Tenang.Kevin tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berdiri di belakang Vanya, satu lengannya melingkar pelan, menarik tubuh istrinya ke dalam dekapan yang mantap namun lembut. Tidak terlalu erat, tapi cukup untuk memberi tahu bahwa ia ada di sana.Vanya membiarkan dirinya bersandar. Untuk sesaat, semua beban di dadanya seolah menemukan tempat untuk diletakkan.Tidak ada kata-kata. Tidak ada tatapan berlebihan. Hanya momen singkat yang terjadi begitu alami, seolah mereka berdua sudah l
Sementara itu, Hani sedang bersandar di dada Kendrick, menikmati pemandangan kota dari balik kaca mobil yang melaju tenang. Senyumnya mengembang, kali ini tanpa perlu dipaksakan.Kata-kata Kendrick masih terngiang jelas di kepalanya.“Aku akan menyuruh orang untuk membuat keadaan ini berbalik.”Kalimat sederhana itu terdengar seperti jaminan. Bagi Hani, itu berarti satu hal, posisinya belum runtuh. Bahkan, mungkin justru sedang menguat.Ia melirik Kendrick yang masih sibuk dengan ponselnya. Jari pria itu bergerak cepat, suaranya rendah dan singkat saat memberi instruksi. Pemandangan itu membuat dada Hani terasa ringan.“Tuan,” ucapnya pelan, nadanya dibuat rapuh. “Aku hanya melakukan tugasku … tapi semua orang seolah ingin menghancurkanku.”Kendrick menghentikan gerakannya, menoleh sebentar. Tatapannya dingin, namun mantap. “Aku sudah bilang. Kau tidak perlu khawatir.”Hani menunduk, bulu matanya bergetar halus. “Aku hanya ingin keadilan sedikit saja.”Kendrick menghela napas pendek.
Sejak panggilan itu berakhir, Kevin masih, menatap layar ponsel yang sudah gelap dengan wajah yang tidak bisa ditebak. Rahangnya terlihat sedikit mengeras, sorot matanya datar seperti biasa, tapi Vanya yang sejak tadi memperhatikannya tahu, pria itu sedang menahan sesuatu.Alih-alih merasa canggung, Vanya justru tersenyum spontan.Kevin menangkapnya dari sudut mata. Ia menoleh, menatap Vanya dengan kening sedikit berkerut. “Kau senyum-senyum begitu kenapa?”Vanya mengangkat bahu ringan, senyumnya tidak juga memudar. “Terima kasih. Aku sangat menyukainya.”Kevin semakin mengerutkan kening. “Apanya yang kau suka?”Jawaban itu meluncur begitu saja, cepat, tanpa sempat dipikirkan panjang. “Cemburumu itu.”Untuk pertama kalinya pagi itu, ekspresi Kevin benar-benar berubah.Matanya membelalak sesaat sebelum ia segera menarik kembali kendali wajahnya. “Kau jangan asal bicara,” ucapnya cepat. “Siapa bilang aku cemburu? Sama Erwin lagi.”Nada suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu yang tid
Vanya memindahkan kursinya hingga dia akhirnya duduk di samping Kevin, bukan lagi berhadapan seperti sebelumnya. Keputusan yang diambilnya tanpa banyak berpikir itu ternyata membawa perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Jarak mereka kini jauh lebih dekat, bahu hampir bersentuhan, dan setiap gerakan kecil Kevin terasa lebih nyata.“Kau sudah mulai berani ternyata,” gumam Kevin pelan sambil menyunggingkan bibirnya singkat. “Sama suami sendiri tidak masalah, kan?” Vanya menjawab santai.Kemudian, Vanya mengambil secangkir minuman hangatnya, menyeruput pelan sambil menikmati suasana. Kevin terlihat santai, mengunyah makanannya dengan gerakan tenang, seolah pagi romantis ini adalah hal yang biasa baginya. Padahal bagi Vanya, setiap detik terasa istimewa.Belum sempat ia membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, ponsel Kevin yang tergeletak di atas meja bergetar.Kevin melirik sekilas ke layar, alisnya sedikit terangkat. “Nenek.”Vanya menahan senyum. Entah kenapa, hanya mendengar satu kata it
Hani menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena tidak percaya. Kalimat yang baru saja ia dengar barusan terlalu tidak masuk akal untuk diterima begitu saja.“Tidak mungkin,” ucapnya tegas. “Kau pasti salah orang.”Di seberang sana, suara itu terdengar lelah, tapi sama sekali tidak ragu. “Tidak ada kesalahan, Hani. Aku melihat namamu tercantum jelas dan resmi, langsung dikeluarkan oleh Direktur Human Capital.”Hani mendengus kecil. Ini lelucon yang buruk. Sangat buruk. Ia baru saja mengambil cuti, liburan singkat yang seharusnya menyenangkan. Mana mungkin perusahaan memecatnya tanpa pemberitahuan resmi, tanpa pemanggilan, tanpa klarifikasi.“Apa alasannya?” tanyanya cepat. “Aku tidak pernah mendapat surat peringatan. Rekam jejakku bersih.”Hening beberapa detik sebelum suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih pelan. “Kau melakukan hal yang seharusnya tidak kau lakukan, Hani.”Napas Hani tertahan.“Apa maksudmu?”“Kau
Darat terasa lebih stabil ketika kaki Vanya akhirnya menyentuh tanah. Angin pagi masih berembus lembut, membawa aroma laut dan bunga yang bercampur, membuat dadanya terasa ringan, seolah sebagian dirinya masih tertinggal di udara tadi. Kevin melepaskan helmnya lebih dulu, lalu membantu Vanya membuka perlengkapannya. Gerakannya tenang, terlatih, sama sekali tidak tergesa. Setelah semuanya selesai, ia melirik jam tangannya sekilas. “Dua puluh dua menit,” ucapnya datar. “Lumayan, setelah lama tidak melakukannya.” Vanya menoleh cepat. Matanya masih berbinar, pipinya sedikit memerah karena udara dingin dan sisa adrenalin. “Dua puluh dua menit,” ulangnya pelan, lalu tersenyum lebar. “Itu dua puluh dua menit yang membuatku sangat bahagia.” Kevin terdiam. Vanya melanjutkan, seolah belum sadar efek ucapannya. “Aku sangat menyukai dua puluh dua menitmu ini. Ini bagian terindah selama ini. Lamaran di udara, aku menyukainya, walau badanku sedikit gemetar.” Ia terkekeh kecil, mencoba mencairk







