LOGINMendengar ucapan Kevin, wanita itu sangat terkejut. “A-apa? A-aku tidak mungkin mendorongnya!”
Menyadari kalau hal ini akan jauh lebih rumit, Amira berusaha untuk tenang dan menjelaskan. “Tuan Kevin, Nona Winda Bastian sudah mengatakan hal yang sebenarnya, jelas-jelas semua orang dia melihat kalau Nona Dirgantara yang berniat mendorong pelayan untuk mencelakai saya jadi—”
“Maksudmu, kau ingin mengatakan kalau mataku bermasalah begitu?” potong Kevin dengan suara yang cukup dingin.
Tatapan yang cukup mematikan dari Kevin dan juga pernyataannya barusan membuat Amira mematung dan suasana di ruangan itu berubah menjadi menegangkan.
Kevin lalu mendengus, kemudian menatap ke arah Vanya, hanya saja tatapan itu berubah menjadi sedikit lebih lembut. “Katakan, apa kamu mendorong pelayan itu?”
Vanya tersentak saat ditanya Kevin, lalu setelah terdiam sesaat karena keterkejutan itu, dia menggeleng pelan dan berkata dengan suara lemah, “Tidak ….”
Saat Vanya mengatakan hal demikian, Winda, wanita tadi terlihat melotot ke arahnya dan wajahnya memerah karena bercampur marah dan sedikit gugup. “P-pembohong!! Kamu mau memperkeruh keadaan di depan Tuan Kevin, ya! Jelas-jelas aku dan beberapa temanku melihatmu melakukannya, mereka bisa menjadi saksi dan–”
“Siapa saksinya?” potong Kevin dengan suara dingin.
“A-apa?” Winda berkata dengan terbata.
“Kamu bilang ada saksi yang melihat Nona Dirgantara mendorong pelayan. Aku ingin mendengar kesaksiannya secara langsung.” Kevin berkata dengan suara tenang.
Jelas hal ini membuat Winda menjadi panik, tetapi dia berusaha untuk terlihat santai. Dia lalu menoleh ke arah teman-temannya yang berdiri tidak jauh darinya. “Nona Anita Mahadewa,” panggilnya, “kamu tadi lihat dia melakukannya, kan?”
Hanya saja, wanita bernama Anita itu menjadi terkejut dan gemetar saat mata Kevin melihatnya dengan pandangan tajam, jelas kalau mengatakan kebohongan sama saja mencari masalah pada diri sendiri.
Anita lalu menggeleng pelan.
Winda terkejut, tidak mau berlama-lama lalu melihat ke arah wanita lainnya. “Nona Selvi Wijaya, Nona Rena Ganendra?” ucapnya lagi sengaja menyebutkan nama keluarganya agar bisa memberikan dukungan padanya.
Hanya saja, keduanya pun sama, mereka hanya menggeleng dan mata mereka sedikit memancarkan rasa khawatir kalau misal ikut terlibat ke dalam masalah ini, apalagi secara terang-terangan Winda menyebutkan nama keluarga mereka di hadapan Kevin.
Mendapatkan respons demikian, dia sadar kalau saat Kevin sudah masuk dalam masalah ini, maka semua orang tidak akan berani ikut campur! Apalagi, yang dikatakannya adalah bualan yang bisa membuat keluarga mereka terseret nantinya. Tubuh WInda menjadi gemetar, matanya sekilas melihat ke arah Amira, tapi Amira hanya melengos.
Kevin lalu mendengus dingin dan berkata, “Mengaku ada saksi, tapi nyatanya hanya pengakuan sendiri. Ini benar-benar konyol.”
Ucapan Kevin membuatnya makin terpojok, jelas tidak ada satu pun yang berada di pihaknya saat ini.
Belum sempat dia menjawab apapun, Kevin berseru lantang, “Petugas keamanan! Seret dia keluar dari tempat ini!”
Hal ini tidak membuat mereka yang ada di sana terkejut, seseorang yang sudah membuat Kevin marah pasti akan diusir.
Winda terlihat ketakutan apalagi saat seorang petugas keamanan itu menarik lengannya. Saat itu, Kevin kembali berkata, “Dan … pastikan aku tidak melihatnya beserta keluarganya lagi di Kota Cavendra ini.”
Suasana di dalam ruangan mendadak mencekam. Vanya tidak menyangka kalau ternyata Kevin benar-benar sangat kejam seperti rumor yang beredar, tak hanya mengusir wanita itu keluar dari pesta ini, dia juga menambahkan perintah yang cukup semua orang paham bahwa Winda dari keluarga Bastian, jelas harus angkat kaki dari kota ini. Tidak hanya itu, keluarganya juga ikut menanggung akibat karenanya.
Winda terkejut. “Tuan! Tuan Kevin maafkan saya, saya benar-benar khilaf, maafkan saya! Maafkan saya. Saya ….”
Suara teriakan itu terdengar sayup-sayup menjauh, hanya saja, Vanya benar-benar mematung, dia terdiam, tidak menyangka kalau nasib wanita itu benar-benar selesai, malang sekali dia, tapi … dia juga diam-diam bersyukur, bukan dirinya di posisi wanita itu … andai saja saat itu Kevin tidak menyadarinya, bisa jadi dia yang diusir dan membuat masalah untuk keluarga Dirgantara.
Tiba-tiba terdengar suara halus mengetuk gendang telinganya, “Lega?”
Vanya menoleh, Kevin berbicara padanya. Dia tercenung sesaat, apalagi saat ini, tubuhnya ada dalam dekapan Kevin, pria itu merangkulnya dan membuatnya merasa nyaman dan aman. Dia tidak menyadari sejak kapan Kevin melakukannya, dia hanya fokus pada kejadian tadi. Hal ini jelas membuatnya segera mundur. Dia menjadi gugup, apalagi saat mata mereka bertemu.
“Tuan Kevin, untuk yang tadi terima–”
“Astaga Vanya!” suara Febiola langsung memotong ucapan Vanya, kali ini ibu tirinya menghampirinya, kemudian Febiola langsung membungkukkan tubuhnya di depan Kevin. “Tuan Kevin terima kasih, terima kasih sudah membantunya.”
Kevin hanya diam melihat Fabiola yang sedikit berlebihan.
“Maafkan karena Vanya sudah membuat pesta anda terganggu. Dia memang sering membuat masalah entah itu di rumah maupun di luar, tapi … tidak disangka kali ini sampai harus merepotkan Tuan Kevin untuk membantu kami.” Ucapan Febiola membuat Vanya terkejut. Bibirnya sedikit mengerucut mendengar pernyataan ibu tirinya itu.
Hal ini tentu tak luput dari perhatian Kevin yang memperhatikan mereka dalam diam.
Setelah Febiola mengatakan hal itu, Lesmana menepuk singkat pundak Vanya, dan berkata, “Vanya, ucapkan terima kasih pada Tuan Kevin karena sudah membantumu.”
Suara Lesmana terdengar lembut, berbeda dari yang tadi. Sudah tidak heran bagi Vanya dengan perlakuan yang dia terima dari ayahnya ini. Dia juga cukup tahu diri, walau tanpa disuruh dia jelas akan berterima kasih pada Kevin.
Vanya langsung membungkukkan badannya di depan Kevin. “Terima kasih, Tuan Kevin.”
Selesai Vanya berkata demikian, Kevin lalu memberikan responsnya. “Apa menyenangkan membebankan kesalahan pada orang yang tidak salah dan malah membuatnya makin terlihat buruk di depan orang lain?”
Pernyataan itu menyentak ketiganya, membuat mereka mendongak menatap Kevin yang ekspresinya mendadak menggelap.
Lesmana menjawab cepat, “Saya—”
“Aku bicara padamu Nyonya Dirgantara,” potong Kevin cepat sebelum Lesmana melanjutkan kalimatnya. Hal ini membuat Febiola terkejut. Dia mengepalkan tangan karena merasa direndahkan oleh pemuda yang berdiri di depannya.
Namun, Febiola harus tetap tenang. “M-maksud Anda, Tuan Kevin?”
Kevin lalu mendengus dan berkata dengan tatapan beralih pada Lesmana, “Jaga istrimu dengan baik, Tuan Dirgantara. Membiarkannya bersikap liar seperti tadi, hanya akan membawa bencana untuk keluargamu.”
Setelah mengatakan hal itu, Kevin menatap Vanya sesaat sebelum akhirnya berbalik pergi meninggalkan mereka.
Di tempatnya, Vanya terbengong. Apa … pria itu baru saja membelanya?
Sekujur tubuhnya terasa hangat, lalu seketika jantungnya berdebar kencang, refleks Vanya memegang dadanya.
Perasaan hangat apa ini?
Mendengar jawaban Kevin barusan membuat suasana hening sejenak, kemudian Walikota terkekeh ringan menanggapi dan berkata, “Kita semua tidak pernah meragukan kualitas keluarga Wicaksana. The K punya standar yang sangat jelas. Saya yakin tahun ini akan menjadi salah satu yang terbaik.”Hal ini kembali membuat suasana mencair. Makan malam itu tetap berlanjut. Namun, setelah percakapan singkat antara Vanya dan Febiola sebelumnya, suasana tidak lagi selembut awalnya. Senyum-senyum masih terpasang, tetapi ada lapisan tipis ketegangan yang tak bisa disembunyikan.Lesmana yang duduk tidak jauh dari Febiola akhirnya angkat bicara, nadanya tenang dan ambigu.“Dalam penyelenggaraan acara sebesar itu,” katanya sambil menyilangkan jari di atas meja, “yang terpenting adalah koordinasi dan pengalaman. Terkadang semangat saja tidak cukup.”Kalimat itu terdengar umum. Namun beberapa pasang mata mengerti arah yang dituju. Febiola tersenyum tipis, seolah ucapan itu hanyalah opini profesional.Kevin hanya
Suara Vanya nyaris tak terdengar. Namun cukup untuk membuat Kevin sedikit memiringkan kepala. Ia mengikuti arah tatapan istrinya.“Ah, maaf,” gumam Kevin pelan, suaranya nyaris hanya untuk Vanya. “Aku lupa memberitahumu. Keluarga yang menangani acara ini enam tahun terakhir dan tentu saja keluarga Dirgantara termasuk di dalamnya.”Jari Vanya tanpa sadar mencengkeram lengan jas Kevin lebih erat. Ia baru menyadari betapa sengajanya pria itu menyebutkan informasi tadi seolah-olah terlambat.“Kau sengaja,” gumamnya pelan, setengah menuduh, setengah gugup.Kevin tidak langsung menjawab. Sudut bibirnya hanya terangkat tipis, alih-alih membantah, ia justru melepaskan lengan yang dicengkeram Vanya dan dengan gerakan yang jauh lebih tegas, menyelipkan jari-jarinya di sela jemari wanita itu. Genggamannya hangat. Mantap.Vanya kembali berpikir, kalau enam tahun belakangan, artinya termasuk 4 keluarga besar, kalau dipikir lagi acara itu adalah acara yang sukses lalu gagal, kemudian sukses lagi da
“Bukan undangan biasa maksudnya?” tanya Vanya, masih berdiri di samping tempat tidur dengan wajah yang jelas belum sepenuhnya mencerna informasi itu.Kevin berdiri sambil merapikan pakaiannya. “Seharusnya ini sedikit akan membahas terkait acara nanti.”Mata Vanya langsung membulat. “Acara fashion itu?”Kevin mengangguk ringan.“Kenapa mendadak sekali?” Vanya hampir setengah berbisik, setengah protes.Kevin menggaruk alisnya, kebiasaan kecil yang jarang ia tunjukkan di depan orang lain. “Sepertinya aku lupa.”Vanya benar-benar terdiam kali ini.Lupa?Dalam bayangannya, Kevin adalah sosok yang selalu satu langkah lebih dulu. Terorganisir. Terkendali. Hampir tak pernah keliru.“Aku pikir besok,” lanjut Kevin tenang. “Untung saja Nico mengingatkanku.”“Memangnya jam berapa acaranya?” tanya Vanya dengan nada hati-hati, seolah masih berharap jawabannya tidak separah yang ia pikirkan.“Jam tujuh malam ini.”Vanya mengerjap.“Jam tujuh… malam ini?” Ternyata benar dia memang tidak salah mendeng
Empat tahun lalu.Saat itu Vanya masih mengenakan seragam sekolah menengahnya. Ia masih berusia tujuh belas tahun, usia di mana seharusnya ia memikirkan ujian akhir dan cita-cita. Namun, hari itu menjadi akhir dari semuanya.Acara besar keluarga Dirgantara, sebuah pagelaran yang seharusnya menaikkan nama mereka gagal total. Sorotan media berubah menjadi cibiran. Para tamu meninggalkan aula dengan wajah kecewa. Ayahnya pulang dengan amarah yang tak tertahankan.Dan entah bagaimana, kesalahan itu jatuh padanya.Padahal Vanya hanya menjadi kurir kecil. Ia hanya sering dimintai oleh Ibu dan saudara tirinya mengantar beberapa bahan ke vendor dekorasi. Ia tidak tahu-menahu tentang keputusan teknis, tentang koordinasi yang kacau, tentang anggaran yang membengkak. Tetapi saat kegagalan itu meledak, seseorang harus disalahkan. Dan orang itu adalah dirinya.“Kau pembawa sial!” Dira menudingnya dengan mata merah. “Kalau bukan karena kau salah mengantar bahan itu—”“Aku tidak terlambat .…” suara
Pagi itu mereka sarapan di lounge eksklusif lantai teratas hotel, khusus tamu President Suite. Restorannya terpisah dari area umum, dengan dinding kaca tinggi yang memperlihatkan garis pantai Mareva yang tenang. Udara pagi terasa bersih, dan aroma kopi premium mengambang tipis di ruangan.Di salah satu meja dekat jendela, Kakek dan Nenek Kevin sudah duduk lebih dulu.“Nenek cerah sekali hari ini,” sapa Vanya begitu mendekat.Nenek itu tersenyum lebar, matanya yang sudah dipenuhi garis usia tetap bersinar hangat. “Ya tentu dong!” jawabnya ringan. “Liburan singkat seperti ini membuatku merasa sepuluh tahun lebih muda.”Kakek Kevin terkekeh pelan, melipat koran paginya. “Jangan percaya. Dia bilang begitu setiap kali dapat kamar bagus.”Nenek memukul ringan lengan suaminya. Lalu menoleh lagi pada Vanya. “Kata kakekmu, kau dan Kevin tidak ikut menghadiri acara pernikahannya si Arven Wicaksana minggu depan?”Vanya mengangguk lembut. “Iya, Nek. Jadwal kami cukup padat.”Vanya lalu tersenyum
Kevin masih memeluknya ketika Vanya akhirnya sedikit menjauh, menatap wajah pria itu dengan mata berbinar.“Bukankah kau bilang aku hanya sebentar di Mareva?” tanyanya pelan. “Aku hanya menyerahkan sampel saja. Besok aku juga sudah pulang ke Cavendra.”“Ah, apa kau tidak merindukanku?” Kevin berkata dengan nada menggoda.Vanya tersenyum. “Mana mungkin.” Wajahnya lalu merona merah.Kevin tersenyum tipis membuat sudut matanya ikut melembut.“Jadi, kau senang atau tidak aku di sini sekarang?” tanya Kevin lagi.“Tentu saja!” seru Vanya.“Tapi … apa kau benar-benar langsung dari Valmeria ke sini? Artinya Kakek juga ada di sini, kan?” tanya Vanya lagi.Kevin lalu tersenyum. “Ya, tentu saja, mana mungkin aku tinggal di sini dan kakek kusuruh melanjutkan perjalanan sendiri.”“Kau ini ada-ada saja.”“Sebenarnya aku memang mau langsung pulang, karena ada beberapa yang perlu diselesaikan di Cavendra, tapi rencana berubah.”Vanya mengernyit.“Nenek ada di sini,” lanjut Kevin santai. “Dan sejak beb







