Mag-log in"Apaan sih lo!" Aku refleks mendorong dada tegap Axel dengan gemas. Namun, bukannya melepas, pria itu justru menyeringai tipis sembari makin mempererat rengkuhan lengannya di tubuhku.
Tak lama kemudian, langkah kaki Inez terdengar mendekati kami sembari membawa selembar handuk kering yang masih terlipat."Kalian berdua kalau nempel begini udah mirip kue lapis aja ya," sindirnya sinis, meski pada akhirnya disusul oleh senyum ramah yang tampak sangat dipaksakan."Nih,Ibu James mengulurkan tangannya yang kurus dan gemetar ke arahku, gerakannya begitu lemas dan patah-patah. "Nak... Kemarilah..." bisiknya parau, sepasang matanya yang cekung menatapku penuh pendar harapan.Tubuhku membeku kaku di atas lantai keramik. Jantungku berdegup gila, dihantam badai kebingungan yang teramat sangat. Ya Tuhan, apa-apaan semua ini? Kenapa takdir membawaku ke dalam pusaran kegilaan yang membingungkan ini?James menoleh padaku. Tidak ada sedikit pun riak rasa bersalah di wajah tampannya yang dingin. "Kayla... Kemarilah. Sapa Ibu," perintahnya tenang.Sialan si James! Kenapa pria gila ini sengaja mengunciku dalam situasi serba salah begini?! jerit batinku murka. Kalau aku terang-terangan menolak dan membongkar kebohongannya sekarang, kasihan wanita tua yang sedang kritis itu... tapi kalau aku menuruti sandiwaranya, aku bakal semakin terperangkap jauh dalam permainannya!"Nak... Kemarilah..." panggil sang ibu sekali lagi, suaranya makin nyaris tak terdengar.Terjepi
"Kamu mau berpikir berapa lama lagi, huh?" meluncur gertakan rendah dari bibir James, penuh tekanan yang menghujam tajam. "Sebentar lagi, wartawan-wartawan itu akan makin mendekati mobil ini."Aku terperanjat hebat. Mataku refleks melempar pandangan ke luar jendela, mengawasi gerak-gerik dua pria berjaket gelap di balik pilar parkiran. Kilatan kilat kamera meletup berulang kali di kegelapan sore. Dadaku berpacu gila, rasanya mau meledak tatkala bayangan tubuh para pemburu berita itu benar-benar melakukan pergerakan mendekati posisi mobil ini.Sialan! Sepertinya aku benar-benar tidak punya pilihan lagi selain menuruti gilanya pria ini! batinku menjerit frustrasi.Dengan jemari yang gemetar hebat, aku akhirnya menuruti perintah James. Kutekan tombol start-engine, membuat deru mesin mobil meraung halus. Aku menoleh pada James, melemparkan tatapan sinis penuh kebencian."Ke mana tujuan kita?!" tembakku ketus.James menyeringai penuh kemenangan. Tanpa mengalihkan pandangan dariku, tangann
James tertawa singkat, melayangkan tatapan menggoda yang membuat bulu kudukku meremang. "Mobil kamu? Kamu tidak salah?"Dahiku mengernyit dalam, meradang menatap pria di sampingku dengan amarah yang memuncak. "Kamu tidak usah main-main, James! Ini memang mobilku. Cepat keluar dari sini sebelum aku panggil keamanan!"Namun, bukannya melangkah pergi atau memperlihatkan raut panik, James justru menyandarkan punggungnya santai, menyilangkan kedua tangannya di dada. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, sarat akan teka-teki yang sengaja ingin memojokkanku. "Apa kamu sudah memastikan... kalau ini benar-benar mobil kamu?"Kalimat dingin itu meluncur begitu tenang, bertolak belakang dengan gemuruh yang mendadak menghantam dadaku. Kenapa dia begitu percaya diri? batinku mulai bergolak penuh kebingungan. Pikiranku mendadak kacau. Memang benar mobil yang kukuasai beberapa hari terakhir ini adalah mobil sewaan yang disiapkan Axel untukku, sebuah sedan hitam dengan interior kelabu kusam yang
Tidak banyak wanita yang bicara dengannya? Lantas kenapa James tadi banyak sekali bicara denganku?Berbagai pertanyaan berkelebat cepat di dalam kepalaku. Namun, sedetik kemudian aku menggelengkan kepala pelan, berusaha menepis segala prasangka aneh yang mulai merayap di benakku. Ah, paling-pula model ini cuma melebih-lebihkan atau sekadar melemparkan godaan konyol."Kedekatanku dan James tadi murni karena terdesak situasi," balasku santai sembari terus membereskan sisa gulungan kain di atas meja kerja. "Aku hanya bersikap profesional sebagai seorang perancang busana, dan James kebetulan adalah modelku."Wanita pirang itu terkekeh renyah. Ia melompat turun dari tepi meja, lalu berdiri tepat di hadapanku sambil meniup gelembung permen karetnya hingga pecah. "Kau tidak paham, ya? Tidak ada satu pun desainer yang pernah berani menyentuh kulitnya secara langsung sebelumnya. Dan kau... baru hari pertama sudah bisa sedekat itu dengannya?"Apa maksud ucapan wanita ini sebenarnya? batinku me
Cengkeraman dingin di pergelangan tanganku membuat darahku serasa berhenti mengalir. Refleks, aku menjatuhkan pita ukur dan menyentakkan tanganku ke belakang dengan napas memburu, spontan terdorong mundur dua langkah."M-maaf... aku tidak bermaksud melakukan itu," cicitku panik, berusaha menetralkan raut wajahku yang memucat.James tidak langsung menjawab. Ia bergemiring di tempatnya, menatapku lurus-lurus dengan ekspresi datar yang begitu sulit diartikan. Detik berikutnya, sebelum aku sempat mengambil jarak lebih jauh, tangannya yang kekar berhembus cepat menyambar pergelangan tanganku kembali, lalu secara spontan menariknya hingga telapak tanganku menempel pas di atas kulit perutnya yang tegap dan bidang."Ah!" pekikku kaget dengan mata membulat sempurna.Sensasi hangat dan keras dari otot perutnya langsung menyengat telapak tanganku, membuatku tersentak bagai tersengat listrik."Lanjutkan saja pekerjaanmu," cetus James dingin.Aku sempat membeku selama beberapa detik seolah terhi
"Kamu sudah lama menjadi desainer?" James membuka percakapan dengan nada yang terdengar sok akrab di telingaku. "Baru saja, kok," jawabku dingin tanpa sedikit pun mengalihkan fokus jemariku yang sibuk merapikan lipatan kerah di lehernya."Orang Asia?" tanyanya lagi, tak menyerah.Gerakan tanganku terhenti sejenak. Aku mendongak, menatap paras bertulang tegas itu dengan dahi berkerut heran sebelum menanggapi singkat, "Iya.""Pantas saja cantik," sahutnya santai, menyelipkan cengiran tipis yang terasa begitu menggelikan di mataku.Deg!Darahku serasa mendidih. Refleks, aku melangkah mundur dua pijakan menjauhi posisinya, melempar jarak yang cukup aman. Pembicaraan pria asing ini sudah jelas-jelas menyeberangi batas profesionalitas dan menjurus ke arah yang sama sekali tidak benar."Aku sudah punya suami dan baru saja melahirkan seorang bayi," tegasku penuh nada peringatan. Tidak ada celah, sekecil apa pun, yang akan kubiarkan terbuka untuk pria ini.Namun, bukannya merasa bersalah atau







