LOGINUntuk menyembunyikan kepanikan yang makin meluap, aku segera merangkul erat lengan Hani, lalu menyeretnya kembali melangkah menyusuri lorong gedung."Gue dapat info itu sekilas dari Axel. Tapi... belum pasti juga, sih. Takutnya Axel cuma asal ngomong," kelitku cepat seraya terus melangkah.Melihat raut wajah Hani yang perlahan melunak, sepertinya dia sudah termakan oleh kebohonganku."Apa jangan-jangan... alasan itu yang membuat Kak Rayan enggan menyatakan perasaannya ke gue?" tanyanya dengan kening berkerut dalam dan bibir mengerucut lesu.Deg!Kenapa tiba-tiba timbul rasa tak enak hati di dalam dadaku? Aku bisa merasakan betapa Hani benar-benar menaruh harapan besar pada Kak Rayan. Jangan sampai perasaan sahabatku ini hanya berakhir sebagai cinta bertepuk sebelah tangan.Tapi... kenapa Kak Rayan bersikap seolah menarik diri?Saat kami menginap di villa bulan lalu, Kak Rayan terlihat begitu hangat dan akrab saat bersama Hani. Jika dia memang menyukai Hani, bukankah rentang waktu satu
"Lo beli mobil baru?!" tanya Hani histeris dengan mata berbinar-binar gembira.Aku hanya menaikkan kedua alis seraya menyunggingkan senyum lebar penuh kebanggaan.Dengan tergopoh-gopoh, Hani meraih tasnya dari gantungan motor Kak Rayan. "Kak... aku ikut Kayla saja ya sampai ke area parkiran!"Tanpa menunggu persetujuan atau balasan dari Kak Rayan, Hani langsung membuka pintu dan menyelonong masuk ke dalam mobil baruku."Eh... kok lo main tinggalin Kak Rayan gitu aja, sih?" protesku seraya menyenggol pelan bahunya."Gue pengin mencicipi naik mobil baru lo," sahutnya sok polos seraya memamerkan cengiran.Aku sempat membeku sesaat, melempar tatapan bersalah pada Kak Rayan yang tampak masih sedikit syok dengan tingkah impulsif Hani."Kak... aku bawa Hani duluan ke parkiran bawah, ya?" pamitku dari balik jendela.Kak Rayan hanya mengangguk seraya mengulas senyum tipis yang maklum. "Emm... iya, nggak apa-apa. Hati-hati, Kay."Aku menaikkan kembali kaca jendela mobil, lalu perlahan menginjak
Aku hanya menoleh tipis dari balik pundakku. "Gue tunggu..." tantangku seraya menyunggingkan senyum miring sebelum akhirnya melangkah pergi begitu saja untuk mengabaikannya."Huuft! Tiada hari tanpa mengancam!" gumamku seraya membawa cangkir teh hangat itu dengan hati-hati.Entah terbuat dari apa hati Lintang dan mamanya itu. Setiap saat selalu saja ada waktu untuk merundungku. Aku sungguh heran, apa mereka tidak lelah jika hidupnya selalu dipenuhi rasa dengki padaku?Aku mendorong pelan pintu ruangan kerja Axel, lalu meletakkan cangkir teh porselen itu di atas mejanya tanpa bersuara."Kenapa wajah lo ditekuk begitu?" tanyanya seraya mengamati raut mukaku.Aku spontan meraba wajahku sendiri. "Emang kelihatan banget?""Kelihatan jelas!" Axel menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, lalu memutar posisinya menghadapku. "Diganggu Lintang lagi?"Aku mengangguk pelan seraya mengerucutkan bibir kesal."Biasanya lo selalu cuek dan nggak memedulikannya. Kenapa sekarang malah terpancing
Aku hanya cengengesan, lalu membalas mengecup bibirnya terlebih dahulu. Namun, Axel justru membeku kaku dengan mata membulat sempurna menatapku.Ia segera menegakkan kembali posisi duduknya, lalu dengan cepat menggeser tuas persneling mobil."Lo kenapa mendadak buru-buru begitu?" tanyaku dengan kening berkerut dalam."Pengin cepat-cepat sampai di apartemen," sahutnya seraya mengendalikan kemudi dan melaju keluar dari pelataran kantor KUA."Memangnya ada apa?"Ia memiringkan tubuhnya ke arahku sejenak seraya tetap memfokuskan pandangan ke jalan raya. "Pengin cepat-cepat 'makan' lo."Aku mendadak terkekeh mendengar alasannya. Sialan. Aku pikir ada urusan mendesak apa, rupanya pria ini hanya tak sanggup lagi menahan hasratnya.Satu bulan masa pernikahan kami berlalu begitu cepat. Hari-hari yang kulalui bersama Axel selalu diliputi kebahagiaan, meski sesekali tetap diusik oleh keberadaan Lintang di kantor.Pyar!Seperti yang terjadi hari ini. Aku yang sedang membawa secangkir teh hangat u
"Ihh... Apa-apaan sih lo..." Aku mendorong pelan dada tegap Axel seraya tersipu malu. Wajahku rasanya sudah memerah berona bagai buah ceri yang matang.Axel terkekeh kecil. Ia kemudian menangkup sebelah pipiku hangat, menatapku dengan binar mata yang berkilau begitu cerah."Gue serius, Kay... gue benar-benar pengin kita segera punya anak," bisiknya lembut seraya mengusap belahan bibirku menggunakan ibu jarinya. "Seorang anak perempuan yang lucu.""Kenapa harus perempuan? Bukankah... biasanya pria lebih mendambakan anak laki-laki?"Axel menggeleng pelan. "Gue pengin punya anak perempuan yang pemberani seperti lo. Nggak takut gelap, nggak gentar pada siapa pun, dan selalu tegak berdiri menghadapi cemoohan orang."Gue sebenarnya nggak sekuat itu, Axel. Terkadang... gue merasa ingin menyerah dan melangkah jauh ninggalin lo, bisikku nelangsa di dalam hati.Namun, kepahitan itu hanya membeku di dalam batin. Pada akhirnya, aku tetap memaksa menyunggingkan senyum seraya melingkarkan kedua len
Aku dan Axel saling bertukar pandang dengan binar mata yang berkilau bahagia. Axel mengambil cincin bermodel sederhana, lalu menyematkannya di jari manisku. Logam mulia berwarna putih itu terikat begitu manis di jariku, dihiasi deretan berlian kecil yang memantulkan pendar berkilau di sepanjang lekukannya."Lo suka modelnya?" tanya Axel seraya menggenggam jemariku erat.Aku mengangguk cepat dengan senyum lebar yang tak sanggup kusembunyikan. Entah kapan Axel sempat membelinya, tapi aku sangat menyukai desain cincin yang simpel dan elegan ini—sangat mencerminkan gayaku yang santai.Prok! Prok! Prok!Seisi ruangan akad bertepuk tangan meriah diiringi gelak tawa dan ucapan penuh rasa syukur."Sekarang, giliran pengantin wanita yang menyematkan cincin di jari pengantin pria," pinta sang penghulu ramah.Aku meraih cincin pria di dalam kotak beludru merah, lalu perlahan menyematkannya di jari manis Axel—disambut riuh tepuk tangan dari keluarga yang menyaksikan."Akhirnya... kalian resmi me







