LOGIN"Maaf... siapa ya, Dok? Saya... sama sekali tidak ingat," ucapku jujur setelah sempat memutar otak selama beberapa saat.Sang dokter muda itu tersenyum tipis, lalu mengamati lembaran rekam medis di tangannya. "Kayla Maharani?" Ia kembali mendongak menatapku dengan binar mata ramah. "Benar, ingatanku tidak salah. Kamu... adalah Kayla, sepupu Axel, kan?"Aku mengangkat kedua alis seraya berhitung dalam hati. Dari mana dokter ini tahu kalau aku sepupu Axel?"I-iya..." sahutku ragu.Pria berjas putih itu tersenyum makin lebar seraya menarik kursi dan duduk di samping brankarku. "Ternyata beneran kamu! Aku Tommy, teman kuliah Axel dulu di kampus."Aku masih bungkam, mengernyitkan dahi karena benar-benar samar dan tidak bisa mengingat sosok pria di hadapanku ini."Waktu kamu masih SMA dulu, kita pernah beberapa kali bertemu di rumah Axel. Aku juga pernah ikut mengantar Axel menjemputmu di sekolah," jelasnya mencoba memancing ingatanku."Tommy..." Aku berusaha melempar ingatanku jauh
"Xel, sorry... Gue..." Suaraku tercekat di tenggorokan, terasa amat berat untuk mengutarakan kenyataan yang sebenarnya.Beruntung, Pakde Arga dengan sigap mengambil alih ponsel dari tanganku dan berbicara langsung pada Axel."Axel... Semua ini salah Papa yang tidak bisa menjaga dan melindungi Kayla dengan baik," jelas Pakde Arga dengan raut wajah panik yang ditahan. Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, "Kayla memang sedang dirawat di rumah sakit saat ini. Tapi kondisinya stabil dan akan segera pulih. Kamu tidak perlu khawatir berlebihan dan fokuslah pada proses penyembuhanmu di sana, oke?""Papa... sebenarnya ada apa dengan Kayla?!" suara Axel terdengar kian tertekan dan menuntut kepastian dari balik telepon.Pakde Arga mengencangkan cengkeramannya pada ponsel, berusaha mengontrol intonasi suaranya. "Axel, percayalah pada Papa. Kayla pasti akan baik-baik saja dan Papa yang akan membereskan semua permasalahan di sini. Jadi... kembalilah jalani terapimu dengan tenang, oke
"Ma... Mama kenapa malah bilang lagi sama aku, sih..." bisikku sangat pelan, nyaris tak bersuara.Mama menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu menunduk balas berbisik dengan raut penuh rasa bersalah. "Mama keceplosan, Sayang. Maafkan Mama..."Aku meremas ujung sprei rumah sakit seraya memutar otak, mencari cara paling masuk akal untuk mengelabui ketajaman intuisi Axel.Aku perlahan merebahkan tubuh lebih rendah agar pendar latar belakang ruang perawatan rumah sakit yang dipenuhi peralatan medis tidak tertangkap kamera ponsel, sebelum akhirnya mengambil alih ponsel itu dari genggaman Mama."Hai, Sayang..." sapaku pada Axel di layar ponsel diiringi senyum lebar yang dipaksakan."Hai... Lo lagi ngapain aja? Gue telepon bolak-balik dari tadi kenapa nggak diangkat?""G-gue..." Kalimatku terhenti sejenak, bola mataku melirik cemas ke kiri dan kanan. "Gue sibuk, Xel. Tadi gue lagi fokus nyelesain sketsa desain. Lagipula... bukankah di Amerika tadi udah larut. Lo harusnya udah istirahat
"J-jadi... kami harus bagaimana, Dok?!" tanya Mama panik dengan raut kecemasan yang membayang jelas.Sementara itu, aku hanya sanggup membisu seraya meremas kain selimut rumah sakit yang kaku. Tidak... bayiku harus selamat! Apa yang harus kukatakan pada Axel jika sampai terjadi hal buruk pada janin ini?Mental dan emosi Axel yang baru stabil bisa-bisa kembali terganggu dan membanting proses pemulihannya di Amerika. Selama ini, semangat utamanya untuk berjuang menjalani fisioterapi berat adalah calon buah hati kami. Jika ia mendengar kehamilanku dalam bahaya, bukan tidak mungkin Axel akan nekat pulang dalam kondisi fisik yang justru makin memburuk."Untuk sementara waktu, saya menyarankan pasien untuk menjalani bedrest total. Selama beberapa hari ke depan Ibu Kayla harus dirawat intensif di rumah sakit, setelah kondisinya stabil baru diperbolehkan dilanjutkan bedrest di rumah," jelas sang dokter menenangkan."Baik, Dok!" sahut Mama lemas.Tepat saat dokter dan perawat melangkah k
"Lintang! Kamu—" Aku berusaha keras bangkit dari lantai granit yang dingin, tetapi rasa nyeri hebat yang melilit di perut bawahku memaksa tubuhku kembali terkulai tak berdaya.Bersama dengan itu, belasan karyawan yang berada di area kerja berbondong-bondong menghampiriku seraya melayangkan seruan protes tajam dan sinis pada Lintang."Lintang! Kenapa kamu tega melakukan itu?!""Astaga, Lintang jahat sekali!""Teganya mendorong wanita hamil yang juga saudaranya sendiri!"Lintang terdorong mundur beberapa langkah. Ia melambaikan kedua tangannya dengan raut wajah panik yang pucat pasi. "A-aku nggak sengaja! Aku sama sekali nggak berniat mendorongnya!"Seorang karyawan wanita bergegas berlutut dan menyangga tubuhku dari belakang. "Cepat panggil ambulans dan laporkan ke Pak Arga!"Mendengar instruksi itu, beberapa karyawan langsung membubarkan diri. Salah seorang berlari menuju meja kerjanya untuk menghubungi rumah sakit, sementara yang lain bergegas menuju ruang kerja direksi.Tak
"Tenang saja, Kak! Serahkan saja keselamatan Kayla padaku," celoteh Hani seraya merangkul pundakku, lalu mengusap pelan permukaan perutku. "Aku pasti akan menjaga calon keponakan dengan baik!"Axel tersenyum lega dengan kelopak mata yang berkaca-kaca menahan haru. Ia kemudian beralih menatap Pakde Arga yang berdiri tegak di sampingku. "Papa... tolong jaga dan awasi Kayla di kantor, ya? Jangan sampai dia diganggu oleh Lintang atau Bude Salma."Pakde Arga mengulas senyum lebar seraya mengangguk mantap. "Kamu tenang saja, Axel. Papa pasti akan menjaga istri dan calon anakmu dengan sebaik-baiknya. Fokuslah pada proses pengobatan dan kesembuhanmu di sana, ya?"Ia kemudian beralih menatap Beni yang bersiaga di belakang kursi roda Axel. "Beni, jika ada kendala apa pun di sana, segera hubungi saya.""Baik, Pak..." sahut Beni patuh sebelum akhirnya mendorong pelan kursi roda Axel memasuki koridor keberangkatan internasional.Sebulan kemudian..."Hai, Sayang. Lo sudah sampai di kantor?" t







