ANMELDENKata melepaskan jatuh berat di ruangan itu.
Dyall menghela napas perlahan. Ia mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh dagu Elyse dengan lembut gerakan kecil yang jarang ia tunjukkan di hadapan siapa pun.
“Kau terlalu baik,” katanya rendah. “Dan dunia tidak pernah ramah pada orang seperti itu.”
Elyse tersenyum kecil. “Mungkin,” jawabnya. “Tapi setidaknya… aku akan hidup tanpa menyesali pilihanku sendiri.”
Dyall menatapnya beberapa detik lebih lama, lalu menurunkan tangannya. “Baik,” katanya akhirnya. “Pergilah.”
Ia menoleh sedikit, suaranya berubah kembali menjadi suara Kaisar. “Namun ingat satu hal,” lanjutnya dingin. “Jika mereka
Ivanka menarik napas. Ada keraguan di matanya, tapi ia mengangguk juga.“Mungkin justru itu yang kubutuhkan sekarang,” katanya jujur. “Aku tidak tahu harus bagaimana. Jester jelas marah besar. Kau melihat sendiri wajahnya tadi. Aku belum pernah melihatnya semurka itu.”Elyse menyandarkan punggungnya ke kursi. Nada suaranya tetap tenang, hampir datar, tapi setiap kata yang keluar terasa terukur.“Kau menghindari satu pertanyaan paling penting,” katanya. “Bukan soal Jester. Bukan soal keluarga Levric.” Ia menatap Ivanka lurus-lurus. “Kau sendiri. Kau ingin bertemu dengan Yang Mulia Kaisar atau tidak?”Ivanka terdiam sesaat, lalu menjawab tanpa ragu, terlalu cepat, bahkan. “Aku ingin,” katanya. “Aku&helli
Suasana di dalam rumah kaca itu berubah perlahan, nyaris tanpa suara, namun dampaknya terasa jelas. Udara yang semula sejuk dan ringan kini terasa menekan, seolah setiap tarikan napas membawa beban yang tak terlihat. Cahaya matahari yang menembus kaca justru membuat bayangan di wajah mereka semakin tegas tak ada lagi kehangatan, yang tersisa hanya ketegangan.Elyse melirik Jester. Ia menangkap perubahan itu dalam sekejap. Wajah pria itu yang biasanya tenang dan terkontrol mendadak mengeras, senyum tipis yang tadi sempat muncul menghilang tanpa sisa. Rahangnya mengatup, sorot matanya meredup, seperti seseorang yang baru saja dipaksa menelan kenyataan pahit.“Jadi…” Jester akhirnya membuka suara. Nadanya terdengar tertahan, terlalu tenang untuk sebuah pertanyaan yang jelas mengguncangnya. “Kau dan Kaisar akan makan malam berdua saja?”
Ivanka pergi tanpa menoleh kembali, meninggalkan udara yang terasa lebih dingin dari sebelumnya. Elyse tidak lagi memedulikannya. Ancaman Ivanka hanyalah suara bising yang penting sekarang adalah apa yang tersembunyi di balik tumpukan kertas ini.Elyse menarik dokumen yang tadi disinggung Ivanka, membukanya perlahan. Matanya menyapu baris demi baris dengan cermat. Di sana tergambar jelas dua kubu besar yang selama ini menjadi fondasi rapuh kekaisaran.Faksi kaisar.Isinya adalah mereka yang secara terang-terangan mendukung Dyall, keluarga lama yang tidak terlalu menonjol namanya, namun setia. Ujung tombaknya adalah keluarga Eoghan, keluarga ibu kandung Dyall. Mereka tidak banyak bicara, tidak banyak bergerak, tetapi berdiri tepat di belakang takhta.Dan yang kedua faksi lama.
“Apa—?”Elyse tertegun. Matanya membesar, napasnya tersendat, seolah pikirannya butuh waktu lebih lama untuk mengejar makna kalimat itu. Wajahnya memerah seketika, campuran kaget, malu, dan sesuatu yang tidak ingin ia akui terlalu cepat.Dyall mengamati reaksinya dengan tenang, nyaris terhibur, namun sorot matanya tetap serius. Bukan lelucon, bukan godaan kosong.Elyse menelan ludah, jantungnya berdegup terlalu cepat. “Yang Mulia…” suaranya terdengar sedikit goyah, “itu… pertanyaan yang terlalu mendadak.”Dyall menyunggingkan senyum tipis. “Aku hanya ingin tahu,” jawabnya ringan, meski nadanya menyimpan niat yang jelas. “Di dunia seperti ini, masa depan sering kali harus dipikirkan lebih awal.&rdq
Orang spesial itu terus berputar di kepala Elyse, seperti bayangan yang menolak menghilang bahkan ketika mata terpejam. Nama itu, atau ketiadaannya cukup mengganggu lebih dari yang ingin ia akui. Selama beratus tahun kekaisaran berdiri, satu hal tak pernah berubah: keluarga Levric selalu menjadi pilar kedua setelah keluarga kekaisaran. Tidak tertulis, namun mutlak. Diakui, ditaati, dan diwariskan dari generasi ke generasi.Ia tahu sejarah itu terlalu baik.Biasanya, ratu akan dipilih dari keluarga Levric. Dan jika tidak, maka wanita yang terpilih akan dipilihkan, diberi dukungan, dijaga, dan dibentuk oleh keluarga Levric. Seperti Ivanka. Seperti yang sedang dipersiapkan dengan telaten dan penuh perhitungan. Bahkan pemilihan kandidat ratu yang tampak adil itu, pada akhirnya selalu bermuara ke satu nama besar yang sama.
Ia mendekat kembali ke meja, jaraknya kini cukup dekat. “Itu bukan perilaku orang awam. Itu bukan naluri keberuntungan.”Elyse mengangguk pelan, seperti sedang mencerna pelajaran penting. “Jadi Anda mencurigai bahwa lady itu memiliki informasi lebih dulu?”“Bukan mencurigai,” Nyonya Levric membetulkan. “Aku yakin.”Senyum tipis muncul di bibirnya. Bukan senyum ramah, melainkan senyum seseorang yang menikmati teka-teki.“Dan aku ingin tahu,” lanjutnya, “apakah ia hanya pion yang cerdas… atau tangan yang menggerakkan papan.”Elyse menunduk sedikit, jemarinya menyentuh tepi dokumen dengan ringan. “Jika ia cukup berani melakukan itu,” katan







