Share

158. Kau mau?

Author: Raisaa
last update Last Updated: 2026-01-15 12:00:35

Ivanka terdiam, sementara Jester tampak ragu sejenak. Ada sesuatu di nada Elyse yang membuatnya sulit membantah bukan karena perintah, melainkan karena jarak halus yang tiba-tiba tercipta.

"Kau benar-benar perhatian, Elyse." Ucap Ivanka seolah memuji namun dari wajahnya seperti biasa hanya ada ejekan.

“Baiklah,” kata Jester akhirnya. “Kalau begitu, jaga dirimu.”

Elyse mengangguk singkat. Ia tidak menunggu jawaban lebih lanjut. Dengan langkah pelan namun mantap, ia berjalan menjauh, meninggalkan dua orang itu di belakangnya.

Ia tidak menoleh lagi. Karena jika ia melakukannya, ia takut tak bisa mempertahankan ketenangan yang susah payah ia bangun.

Kereta kuda melaj

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   158. Kau mau?

    Ivanka terdiam, sementara Jester tampak ragu sejenak. Ada sesuatu di nada Elyse yang membuatnya sulit membantah bukan karena perintah, melainkan karena jarak halus yang tiba-tiba tercipta."Kau benar-benar perhatian, Elyse." Ucap Ivanka seolah memuji namun dari wajahnya seperti biasa hanya ada ejekan.“Baiklah,” kata Jester akhirnya. “Kalau begitu, jaga dirimu.”Elyse mengangguk singkat. Ia tidak menunggu jawaban lebih lanjut. Dengan langkah pelan namun mantap, ia berjalan menjauh, meninggalkan dua orang itu di belakangnya.Ia tidak menoleh lagi. Karena jika ia melakukannya, ia takut tak bisa mempertahankan ketenangan yang susah payah ia bangun.Kereta kuda melaj

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   157. Mood Swing

    Saat mereka kembali, Elyse sudah tertidur.Dyall tidak berniat membangunkannya. Ia menggendong Elyse dengan hati-hati, seolah takut gerakan sekecil apa pun bisa mengusik tidurnya. Ia membaringkan wanita itu di ranjang, mengecup keningnya dengan lembut, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuh Elyse dengan rapi.Tidurnya begitu tenang.Dyall menatapnya sesaat lebih lama, lalu berbalik pergi.Ketika ia tiba kembali di istana, pemandangan yang menyambutnya jauh dari kata tenang. Puluhan lampion tergeletak di aula, sebagian sudah kusut dan padam. Leon berdiri di tengah-tengah mereka, wajahnya kelelahan, bersama para prajurit dan Edwin yang tampak sama letihnya.Dyall melangkah mendekat. “Sudah ketemu?”

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   156. Lampion

    “Itu hanya alasan,” kata Dyall akhirnya, suaranya tenang namun tegas. “Aku tidak pergi ke sana.”Elyse tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh. Entah kenapa, ia tidak peduli pada penjelasan apa pun. Rasa kesal itu sudah terlanjur mengendap, diam, berat, dan menekan dada. Ia hanya ingin berbaring, menutup mata, dan membiarkan dunia berjalan tanpa melibatkannya.Dyall menghela napas pelan, menatap punggung Elyse yang kaku. Setelah beberapa detik hening, ia menunduk sedikit, lalu berkata dengan nada yang terdengar hampir santai, seolah mengusulkan sesuatu yang sederhana.“Kalau begitu… mau jalan-jalan sebentar?”Elyse membuka mata. Ia menoleh, menatap Dyall yang kini tersenyum tipis, senyum yang tidak memaksa, tidak juga menghakimi.

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   155. Tidak ingin menjadi pion lagi

    Elyse tidak perlu tahu apa sebenarnya rencana itu.Sejak awal, ia sudah mengerti satu hal dengan sangat jelas dalam permainan ini, dirinya dan keluarganya hanya disiapkan sebagai kambing hitam. Orang-orang seperti Ivanka dan Jester selalu membutuhkan seseorang untuk diseret ke garis depan, seseorang yang bisa dikorbankan saat semuanya berjalan tidak sesuai rencana.Dan orang itu adalah dirinya.Elyse melangkah keluar dari balik pilar hanya setelah ia benar-benar yakin dua sosok itu telah menghilang dari koridor. Lorong batu yang tadi terasa mencekik kini terasa hampa, dingin, dan sunyi. Ia berdiri di sana beberapa detik lebih lama, seolah memastikan bahwa kakinya masih sanggup melangkah.Kemudian, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   154. Rencana cadangan

    Elyse terdiam.Ditunda.Ia mengedip, mencerna kata itu. Perasaannya tidak kacau justru sebaliknya. Ada kelegaan yang perlahan menyusup ke dadanya.“Begitu ya…” ucapnya lirih.Countess mengangguk. “Tidak perlu terburu-buru. Kau bisa beristirahat dulu.”Viona menatap Elyse sedikit ragu. “Aku harap ini tidak membuatmu tidak nyaman.”Elyse menggeleng. “Tidak. Aku senang untuk kalian.”Dan kali ini, ia tidak berbohong.Elyse menurunkan pandangannya, tangannya kembali menyentuh perutnya dengan lembut. Ia belum tahu apa yang akan terjadi ke

  • Nyonya Elyse, Yang Mulia Kaisar Menginginkanmu!   153. Wanita yang sama yang menjadi istrinya

    Sejak hari itu, dunia Dyall runtuh, lalu dibangun kembali dengan cara yang kejam.Ia bukan lagi sekadar pangeran terbuang yang hidup di istana mati, bangunan busuk yang lebih mirip gudang terlantar daripada kediaman bangsawan kekaisaran. Untuk pertama kalinya, Dyall dibawa menghadap lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari potret dan cerita lelaki dengan rambut hitam pekat dan mata merah darah, persis seperti dirinya sendiri.Kaisar.Ayah kandungnya.Dyall berdiri diam, punggungnya lurus, wajahnya tanpa ekspresi. Ia telah belajar sejak kecil bahwa menunjukkan emosi di istana hanya akan mengundang penderitaan.Di sisi lain, kakeknya Duke Harold berdiri dengan punggung tegak, amarahnya tak disembunyikan sedikit pun.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status