ログインMata tajam Rusdi perlahan melembut. Dia melihat ketakutan yang jelas di wajah Vivian. Rahangnya yang tadi mengeras kini kembali santai. Rusdi menarik napas panjang dan melepaskan pegangan tangannya dari jemari Vivian dengan sentuhan yang lembut."Bukan apa-apa, Vi," kata Rusdi dengan suara yang sangat tenang. "Ini cuma urusan laki-laki. Kamu tidak perlu memikirkan hal yang berat seperti itu."Vivian masih menatap Rusdi dengan pandangan curiga. Dada Vivian yang padat berbalut gaun tipis itu naik turun dengan cepat karena dia masih gugup. Angin sore meniup gaun rumahnya, membuat kain sutra tipis itu menempel rapat dan mencetak lekuk tubuhnya yang montok. Rusdi menelan ludah melihat pemandangan indah di depannya, tapi dia tahu harus mengendalikan situasi sekarang."Tapi tatapan matamu tadi mengerikan sekali, Rus. Kamu seperti orang yang ingin membunuh," bisik Vivian sambil meremas ujung gaunnya.Rusdi tersenyum tipis. Dia memajukan wajahnya sedikit, mendekat ke telinga Vivian."Aku cuma
Vivian menatap mata Rusdi dengan tatapan tidak percaya. Jantungnya berdegup sangat kencang karena rasa takut yang tiba-tiba muncul."Maksudmu apa, Rus? Utang darah apa?" tanya Vivian dengan suara gemetar. "Siapa kamu sebenarnya? Tidak mungkin seorang kuli taman punya tatapan setajam itu."Rusdi diam sebentar. Dia mengisap rokoknya dalam-dalam sampai ujungnya menyala merah di kegelapan paviliun. Dia membuang asapnya ke samping lalu kembali menatap Vivian."Jangan banyak tanya, Vi," bisik Rusdi pelan. "Ada hal-hal yang lebih baik tetap terkunci di kepalaku. Kamu tidak perlu membebani otak cantikmu dengan urusanku.""Tapi aku berhak tahu, Rus. Kamu baru saja menyentuhku. Kamu bilang akan melindungiku dari suamiku sendiri," desak Vivian.Rusdi tersenyum tipis. Dia mengusap rambut Vivian yang berantakan dengan tangannya yang kasar."Yang perlu kamu tahu cuma satu hal," kata Rusdi meyakinkan. "Selama aku masih bernapas, Adrian tidak akan bisa menyakitimu lagi. Sekarang, tenanglah. Tidurlah
"Diam, Vi. Jangan teriak terlalu keras. Nanti Adrian dengar dari atas," bisik Rusdi memperingatkan, tapi pinggulnya mulai bergerak lambat dan dalam.Setiap gerakan Rusdi membuat Vivian kelimpungan. Irama lambat itu tidak bertahan lama. Insting liar Rusdi mengambil alih. Gerakannya perlahan menjadi sangat cepat, kuat, dan sama sekali tidak kenal ampun. Ranjang paviliun itu berderit makin menggila. Suara kayu beradu dengan lantai semen menciptakan musik liar di tengah malam."Rus... nghh... pelan sedikit... ahhh! Napasku habis..." rintih Vivian tersengal sengal. Wajahnya terlempar ke kanan dan kiri. Mulutnya terbuka meraup udara, tapi yang keluar hanya desahan panjang tanpa henti. "Ahhh! Terlalu dalam, Rus... ohhh!""Kamu yang minta ini, Nyonya. Tahan," jawab Rusdi singkat dengan suara seraknya.Keringat bercucuran deras dari dahi Rusdi, menetes jatuh mengenai dada putih Vivian yang terus berguncang hebat akibat hantaman demi hantaman. Visual wanita
Rusdi menahan tubuh besarnya di atas Vivian. Tangannya yang kasar dan kapalan mencengkeram kedua pergelangan tangan Vivian, lalu menekannya kuat ke sisi bantal. Kasur kayu di bawah mereka berderit pelan karena beban yang tiba tiba bertambah.Vivian terengah hebat. Wajahnya memerah padam sampai ke leher. Rambutnya yang wangi mawar kini berantakan, menempel di dahi dan pipinya yang basah oleh peluh. Dia menatap dada bidang Rusdi yang penuh otot, lalu perlahan menurunkan pandangannya ke bawah. Matanya membulat sempurna, napasnya seakan berhenti di tenggorokan."Rus..." bibir Vivian bergetar hebat. "Aku ... aku tidak yakin. Itu..."Rusdi tersenyum miring. Bukan senyum sopan yang biasa dia tunjukkan saat menyapu daun kering di halaman depan. Ini senyum seorang pemburu yang sudah mengunci mangsa empuk di depan matanya."Tidak yakin apa? Kamu sudah sering menikmatinya." Suara Rusdi rendah, berat, dan menggema di dalam paviliun yang sempit itu. "Tadi kamu yang menangis minta tolong padaku. Ka
"Kamu... Rusdi... kamu pemilikku," rintih Vivian dengan suara yang nyaris habis.Rusdi tidak menunggu instruksi kedua. Dia mencengkeram pinggul lebar Vivian dengan tangannya yang kasar dan besar. Tenaganya tidak main-main, membuat Vivian sedikit terangkat dari kasur tipis itu. Tanpa banyak bicara, Rusdi memosisikan tubuh Vivian di tepi ranjang kayu yang sudah mulai berderit tidak keruan."Kalau begitu, biarkan pemilikmu ini memeriksa hartanya sampai ke dalam," bisik Rusdi serak.Rusdi berlutut di lantai semen yang dingin. Dia membuka lebar paha putih Vivian yang licin. Pemandangan di depannya benar-benar merusak akal sehat. Vivian yang biasanya angkuh di rumah besar, sekarang gemetaran dengan kaki terbuka lebar di depan seorang kuli.Rusdi tidak memulainya dengan lembut. Dia langsung membenamkan wajahnya di sana."Ahhh! Rus... apa yang kamu lakukan? Ohhh!" Vivian tersentak, kepalanya mendongak ke belakang sampai urat lehernya terlihat jelas.Rusdi mulai menyesap bagian paling sensitif
Krieeek!Tempat tidur itu berbunyi sangat nyaring saat menerima beban mereka. Vivian langsung memegang lengan Rusdi dengan panik."Tempat tidurnya tidak akan patah, kan?" tanya Vivian khawatir."Paling cuma bunyi sedikit. Anggap saja musik pengiring," jawab Rusdi santai.Rusdi berlutut di depan Vivian. Dia meraih kaki Vivian dan melepaskan sandal mahalnya satu per satu. Dia memijat telapak kaki Vivian yang putih dengan jempolnya yang besar dan kasar."Geli, Rus!" Vivian tertawa kecil sambil mencoba menarik kakinya."Diam. Nyonya tadi lari-lari, pasti capek," perintah Rusdi tegas.Vivian terdiam. Dia merasa aneh. Di rumah besar sana, dia adalah nyonya yang suka memerintah. Tapi di paviliun ini, dia merasa seperti gadis kecil yang harus tunduk pada kata-kata Rusdi.Rusdi berdiri dan menatap daster sutra merah yang dipakai Vivian. Daster itu sangat tipis. Karena Vivian berkeringat, kain sutra itu menempel di badannya, mencetak jelas bentuk dadanya yang besar dan pinggulnya yang lebar."A
Rusdi semakin bersemangat. Dia tidak peduli wajahnya basah kuyup. Lidahnya terus menekan dan menggesek celana dalam Hana yang sudah transparan saking basahnya. Rusdi menghisap kain itu dengan suara sloop yang cukup keras, berusaha menyedot setiap tetes cairan manis yang merembes keluar.Hana mencen
Rusdi mengangguk hormat kepada Nyonya Vivian yang melenggang pergi, lalu segera membereskan sikat dan embernya dengan gerakan cepat. Begitu sosok seksi majikannya itu menghilang di balik pintu kaca menuju kamar utama, Rusdi langsung menghela napas panjang. Bahunya merosot lemas.'Hampir saja,' bati
Rusdi berjalan menuruni anak tangga dengan langkah ringan. Dia merasa seperti kancil yang baru saja lolos dari lubang buaya. Senyum tipis mengembang di wajahnya karena kebohongannya tentang Non Adisty ternyata sangat ampuh untuk menakut-nakuti Nyonya Vivian.'Hebat kamu Rus,' puji Rusdi pada diriny
"Soal yang semalam itu ...." Hana menggigit bibir bawahnya, wajahnya makin merah padam. "Hana mau bilang makasih lagi. Tadi pagi Hana belum sempet bilang bener-bener karena takut.""Makasih buat apa?" tanya Rusdi pura-pura tidak tahu, padahal hatinya sudah berdebar."Makasih udah bikin Hana ngerasa