FAZER LOGINMelihat kenyataan pahit yang menghantam tepat di depan matanya, napas Susi memburu hebat. Otaknya yang dipenuhi keserakahan bergerak liar menolak untuk menerima kekalahan begitu saja. Penyesalan karena telah membuang mutiara demi sekerikil batu mendadak berubah menjadi rasa nekat yang tak terkendali. Susi mencengkeram lengan Dita dengan sangat kuat, menatap anaknya dengan mata membelalak penuh ambisi yang membakar."Dita! Dengarkan Ibu!!" bisik Susi setengah histeris, suaranya gemetar oleh kepanikan yang memuncak. "Kamu harus bertindak sekarang! Jangan diam saja seperti orang bodoh! Kamu itu istri sahnya Dilan! Kamu menantunya pemilik Dirgantara Group!"Dita menyapu air mata yang nyaris menetes di pipinya, menatap ibunya dengan raut wajah kacau dan bimbang. "Tapi, Bu... kita baru saja menandatangani surat gugatan cerai tadi pagi. Dilan sudah memberikan uang dua miliar itu dan berkasnya sudah dibawa oleh pengawalnya...""Masa bodoh dengan surat itu!" potong Susi garang, meremas bahu
Saat tiba di meja utama, gadis cantik yang melangkah di samping sang Mama mendadak menghentikan langkahnya. Dengan wajah berseri-seri dan penuh rasa rindu yang membuncah, gadis itu merentangkan kedua tangannya lalu berlari kecil memeluk Dilan dengan amat erat."Kak Dilan!" serunya riang tanpa peduli pada pandangan ratusan pasang mata di ruangan itu.Dilan tertawa renyah, membalas pelukan hangat gadis muda itu seraya mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Olivia... kamu makin tinggi saja. Gimana studimu di Paris?""Lancar dong, Kak! Aku kangen banget sama Kakak!" sahut Olivia manja, melepaskan pelukannya lalu merangkul lengan tegap sang kakak dengan senyum terkembang lebar.Di meja tengah, pemandangan itu menyambar dada Dita dan Susi bagai petir di siang bolong. Mata Dita membelalak sempurna, jemarinya meremas kain gaun mewahnya hingga kusut. Rasa panas, bingung, dan keheranan yang teramat sangat berkecamuk hebat di dalam benaknya."Mas Andre..." bisik Dita dengan sua
Andre melangkah masuk bersama Dita dan Susi. Sebagai seorang manajer cabang, Andre ditempatkan di area meja tengah. Namun, baru saja mereka bertiga hendak menarik kursi, mata Susi yang tajam dan selalu liar memandang sekeliling mendadak membeku."Loh... Dita, coba kamu lihat ke depan!" bisik Susi setengah histeris, menyenggol lengan anaknya kasar. "Itu si gembel Dilan, kan?! Kenapa dia bisa duduk di sana?!"Dita dan Andre refleks mengalihkan pandangan ke arah meja paling depan, meja khusus jajaran direksi utama dan jajaran pimpinan tertinggi perusahaan pusat. Di sana, Dilan duduk tegap dengan sangat tenang. Dia tampak berbincang santai dengan beberapa direktur senior yang membungkuk sopan padanya. Dita melotot sempurna, matanya seolah ingin melompat keluar. Rasa panas dan tidak terima seketika membakar dadanya. "Iya Bu, benar! Itu Dilan! Kok dia bisa duduk di meja paling depan bersama para petinggi perusahaan?! Mas Andre saja yang manajer cuma duduk di meja tengah!" kejut Dita t
Di lain tempat, Andre masih berdiri membeku dengan peluh dingin yang membasahi dahi serta lehernya, usai mendapat teguran keras dari Bimo. Tubuhnya gemetar hebat, menyadari betapa tipisnya batas antara kariernya yang hancur dan keselamatan posisinya saat ini.Dita dan Susi yang berdiri di samping Andre saling berpandangan dengan raut wajah penuh kebingungan. Mereka sama sekali tidak paham mengapa pria bernama Bimo itu sanggup membuat seorang manajer sekelas Kevin bertekuk lutut dan ketakutan setengah mati.Dengan gaya angkuh yang masih tersisa, Susi melangkah mendekati Andre seraya mengibaskan tangannya santai."Nak Andre, kamu kok kelihatan takut sekali sih sama pria tadi?" tanya Susi dengan suara melengkingnya yang menyebalkan. "Memangnya pria bernama Bimo itu siapa, sih? Paling cuma kepala satpam atau pengawas gedung ini, kan? Kenapa kamu sampai tunduk begitu di depannya?"Dita ikut menyahut dengan nada manja seraya memegangi lengan Kevin. "Iya, Mas. Lagipula kenapa pria itu
Dua cangkir susu hangat yang masih mengeluarkan asap tipis serta beberapa tangkup roti tawar beroles selai cokelat kini tersaji di atas meja makan. Tiara dan Ela duduk berhadapan. Suasana sempat hening sejenak, hanya terdengar denting halus sendok yang bergesekan dengan cangkir porselen.Tiara yang masih merasa canggung luar biasa akibat insiden gigitan serangga konyol tadi, berusaha keras mengalihkan jalan pikiran Ela. Ia melayangkan tatapan matanya ke sekeliling ruangan, mencari topik pembicaraan apa saja agar perhatian Ela tidak tertuju lagi pada lehernya."Oh ya, Mbak Ela… gimana keadaan kamu?” tanya Tiara mengalihkan pembicaraan.“Sudah lebih baik Non,” jawab Ela sambil.memakan rotinya.“Syukurlah. Sepertinya besok kita perlu belanja bahan makanan lagi ya?" tanya Tiara terburu-buru, memasang raut wajah seolah-olah topik itu sangat penting. "Stok buah dan sayuran di kulkas sepertinya sudah mulai berkurang sedikit. Kalau kamu ada waktu, nanti..”Drrrttt… drrrttt….Belum sempat
Sementara itu, di dalam apartemen yang tenang dan sejuk, aroma harum roti yang sedang dipanggang samar-samar menyeruak ke udara. Suasana pagi yang damai melingkupi sudut dapur bernuansa modern tersebut.Ela sedang berada di dapur. Meski tubuhnya masih masa pemulihan, Dengan cekatan, wanita itu menuangkan air hangat ke dalam dua cangkir, lalu melarutkan bubuk susu hingga aroma manis yang menenangkan menguar tebal. Di sampingnya, beberapa lembar roti tawar sudah tertata rapi di atas piring, siap untuk diolesi selai.Tidak lama kemudian, pintu kamar utama terbuka perlahan. Tiara melangkah keluar dengan rambut panjangnya yang masih basah usai keramas, terbungkus handuk kecil berwarna krem. Wajah polosnya tampak begitu segar dan merona alami, meski pancaran matanya menyiratkan sedikit rasa lelah yang amat manis.”Loh Mbk Ela, ngapain memasak? Kan masih sakit..." seru Tiara seraya mendekati Ela "Nggak apa apa Non Tiara," balas Ela ramah, memutar badannya sembari menyunggingkan senyum







