LOGINSuasana gedung ballroom megah berkonsep taman bunga di pusat kota mendadak begitu memukau. Dekorasinya dipenuhi dengan ribuan tangkai mawar putih dan melati segar yang menyebarkan aroma harum menenangkan. Hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup Dilan dan Tiara. Setelah melewati berbagai badai fitnah, tuduhan kejam dari Dita, hingga kelicikan Alena yang hampir merusak masa depan mereka, pernikahan impian itu akhirnya resmi digelar secara mewah dan penuh khidmat.Dilan tampak sangat gagah mengenakan beskap pengantin modern berwarna putih bersih dengan sulaman benang perak. Wajahnya yang tampan kini memancarkan rasa lega dan kebahagiaan yang sangat pekat. Di sampingnya, Tiara berdiri anggun menawan dalam balutan kebaya pengantin berwarna senada yang dihiasi payet indah. Riasan wajahnya yang natural menonjolkan kecantikan lugu dan manisnya. Sifat canggung Tiara sesekali muncul saat ia dengan manja dan sedikit ketakutan berbisik pada Dilan setiap kali ribuan lampu kilat kame
Acara makan siang yang penuh dengan kehangatan itu berlangsung santai tanpa kesan kaku sedikit pun. Pak Hendra beberapa kali melontarkan humor ringan seputar masa kecil Dilan yang membuat suasana meja makan makin cair. Sementara Nyonya Hendra tidak henti-hentinya menyendokkan lauk-pauk terbaik ke piring Tiara, memastikan gadis itu makan dengan melimpah."Kamu harus makan yang banyak, Tiara. Lihat tuh, pipimu agak tirusan dari terakhir kali Mama lihat," tutur Nyonya Hendra dengan raut perhatian yang begitu jujur.Tiara yang diperlakukan sangat manis hanya bisa tersenyum malu-malu seraya mengangguk sopan. "Terima kasih banyak, Tante... Ini lauknya sudah banyak banget.""Jangan panggil Tante lagi dong, Tiara," potong Olivia yang duduk di seberang meja seraya mengunyah potongan buah segar. "Kan Papa sama Mama udah sepakat, panggilnya Papa sama Mama saja. Biar terbiasa sebelum nanti masuk ke jenjang pernikahan."Mendengar kata pernikahan diucapkan secara gamblang di depan seluruh kelua
Dilan melingkarkan lengannya di bahu Tiara, membukakan pintu penumpang depan mobil sedan hitamnya dengan penuh perhatian. Tiara melangkah masuk sambil merapikan rok kremnya, lalu duduk manis dengan tas selempang yang dipangku rapi. Dilan mengitari kap mobil, masuk ke kursi kemudi, dan menyalakan mesin."Kita mau sarapan di mana, Kak?" tanya Tiara sambil melirik Dilan yang mulai menjalankan mobil perlahan keluar dari area pemukiman padat tersebut."Ada restoran keluarga langganan Papa yang suasananya tenang di daerah Selatan," jawab Dilan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan pagi yang mulai ramai. "Di sana tempatnya nyaman, makanannya enak, dan kita bisa ngobrol bebas tanpa terganggu."Tiara mengangguk pelan. Sifat manjanya perlahan muncul kembali begitu rasa gugupnya mulai berkurang. Tangannya terulur menjangkau lengan kiri Dilan yang sedang memegang kendali setir, memeluknya pelan."Kak Dilan... Tiara masih merasa deg-degan tahu," cicit Tiara polos. "Nanti pas ketemu Tante sa
Malam itu berakhir dengan kelegaan luar biasa di kediaman Dirgantara. Ketegangan yang membungkus rumah megah tersebut berbulan-bulan lamanya mendadak menguap, berganti dengan suasana tenang yang sudah sangat lama tak tercipta.Setelah menyuruh Ela dan Olivia beristirahat, Nyonya Hendra meminta Dilan untuk ikut sebentar ke ruang kerja Pak Hendra. Lampu gantung kristal di ruangan itu memancarkan cahaya hangat, menimpa meja kayu jati besar di mana Pak Hendra sudah duduk menunggu."Dilan, duduk dulu," ujar Pak Hendra pelan. Wajah tegasnya kini melunak, menyiratkan kelelahan fisik dan emosi pasca-drama besar bersama keluarga Alena.Dilan mengambil tempat di sofa kulit berhadapan dengan Papanya, sementara Nyonya Hendra duduk di samping suaminya."Ada apa lagi, Pa, Ma?" tanya Dilan tenang. Dita sudah disingkirkan, Alena sudah dihempaskan, dan restu untuk Tiara sudah ia genggam. Pikiran Dilan saat ini sebenarnya sudah melayang ke kos-kosan sederhana tempat Tiara tinggal.Pak Hendra berde
Setelah deru mesin mobil keluarga Alena menghilang sepenuhnya di balik gerbang tinggi, keheningan yang panjang mendadak melingkupi ruang tamu utama kediaman Dirgantara. Pak Hendra menyandarkan tubuhnya di busa sofa, menghembuskan napas berat seolah baru saja melepaskan beban sangat besar yang menghimpit dadanya selama bertahun-tahun.Nyonya Hendra memegangi dadanya yang masih berdebar kencang, menatap putra tunggalnya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bersalah bercampur penyesalan mendalam."Dilan..." panggil Nyonya Hendra dengan nada suara sangat pelan dan bergetar. "Mama sama Papa benar-benar minta maaf ya, Nak."Dilan menoleh, menatap ibunya dengan raut tenang tanpa ada sisa kemarahan di wajahnya. "Minta maaf untuk apa lagi, Ma?"Nyonya Hendra menggeleng pelan, air matanya menetes sedikit di sudut mata. "Mama hampir saja menjodohkan kamu dengan perempuan yang salah. Kalau bukan karena ketegasan kamu dan keberanian Oliv membongkar semuanya malam ini, Mama tidak bisa bayangkan
Wajah Ayah Alena yang tadinya merah padam oleh emosi mendadak berubah menjadi pias. Pengakuan Dilan dan ketegasan keluarga Dirgantara yang tidak goyah sedikit pun membuat posisinya terpojok. Rasa malu yang amat sangat mulai merayapi dadanya. Pria paruh baya itu menoleh patah-patah ke arah putrinya yang duduk menunduk kaku di samping sang ibu."Alena!" bentak Ayah Alena dengan suara tertahan namun sarat akan kemarahan yang meluap. "Jawab Papa sekarang! Apa benar kamu sendiri yang mengunci pintu kamar itu?! Apa benar tidak terjadi apa-apa di antara kalian?!"Ibu Alena yang juga mulai merasa ada yang tidak beres ikut mengguncang pelan lengan putrinya. "Alena, bicara yang jujur! Jangan bikin Papa dan Mama makin malu di depan keluarga Hendra!"Alena gemetar hebat. Seluruh keberanian dan skenario licik yang sudah disusunnya rapi di dalam kepala seolah menguap begitu saja di bawah tatapan tajam Dilan dan gertakan ayahnya sendiri. Bibirnya yang bergetar mencoba menyusun kebohongan baru, na







