Share

Bab 72

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-09-30 17:40:40

Lutut Tiara terasa begitu lemas, tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya yang terguncang hebat.

Ancaman kejam dan tatapan penuh kebencian dari Mama Dilan bagai hantaman palu besar yang meremukkan seluruh pertahanannya. Tiara terhuyung mundur, bersandar lemas pada dinding koridor rumah sakit yang dingin dengan napas memburu dan air mata yang mengucur deras membasahi pipinya yang pucat pasi.

​Namun, sebelum Tiara sempat membuka suara untuk membela diri dari tuduhan keji itu, riuh derak langkah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 90

    ​Sejak percakapan jujur di ambang pintu waktu itu, sikap Ela berubah makin terbuka. Dia tak lagi canggung menunjukkan perhatian ekstra kepada Dilan. Dari mulai memotongkan buah menjadi potongan kecil hingga menyuapi Dilan, memastikan suhu air mandi, hingga mengusap keringat di dahi Dilan saat bekas luka operasinya mendadak nyeri. Semua dilakukan Ela dengan telaten.​Dilan sendiri sering merasa tidak enak dan canggung. Dia tahu betul bagaimana perasaan Ela padanya. Namun, Dilan juga manusia biasa. Di saat tubuhnya masih lemah, terisolasi di kamar, dan jauh dari Tiara, kehangatan serta perhatian tulus dari Ela perlahan meruntuhkan tembok pertahanannya. Ada saat-saat di mana Dilan larut dan menikmati perhatian itu, walau di dalam benaknya bayangan Tiara tak pernah benar-benar hilang.​Siang itu, udara kamar terasa agak hangat. Ela sedang membantu Dilan merapikan perban di dadanya.​"Pak Dilan," panggil Ela pelan seraya memegang gulungan kasa steril. "Perbannya harus diganti sekarang ya.

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 89

    Dilan menerima mangkuk bubur yang disodorkan Ela. Sebelum menyuap makanan itu, ia menyempatkan diri menatap wajah pembantu mudanya itu cukup lama. Ada rasa penasaran yang mendalam di benak Dilan saat melihat ketulusan yang dipancarkan dari mata Ela.​"Ela," panggil Dilan lagi, menghentikan gerakan tangan Ela yang sedang menyiapkan gelas air putih.​Ela menoleh. "Iya, Pak Dilan? Ada yang kurang?"​Dilan menggeleng pelan. Lalu dia menanyakan sesuatu pada pelayannya itu. "Aku cuma mau tanya satu hal. Kenapa kamu begitu mengutamakan kesalamatanku? Bahkan waktu itu kamu nekat pasang badan menahan pisau anak buah Anton?” ​Dilan meletakkan sendoknya kembali ke mangkuk. Dan sebelum Ela menjawab, Dilan kembali menambahkan sebuah pertanyaan."Aku ini punya banyak pengawal dan bawahan. Tapi sejujurnya, jarang sekali ada yang setulus kamu. Apalagi kamu sempat dibayar Papaku untuk jadi mata-mata. Tapi kenapa kamu malah melindungiku sampai terluka parah?"​Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 88

    Keesokan harinya, Tiara melangkah memasuki kantor manajemen supermarket dengan seragam kerja barunya yang jauh lebih rapi dan elegan. Kartu identitas bertuliskan Asisten Supervisor Operasional terkalung manis di lehernya.“Aku harus yakin pada kemampuanku. Nggak perlu mikirin omongan negatif dari orang!” seru Tiara menyemangati dirinya sendiri.​Jujur saja, di dalam hatinya Tiara masih merasa seperti bermimpi. Semua ini terasa begitu mendadak dan tidak masuk akal. Namun, setiap kali ia mengingat cermin kamar kosnya dan nasihat hangat dari Ibu kos semalam, Tiara menguatkan hatinya.Dan tiba tiba, bayangan Dilan terlintas dalam benak Tiara. Mungkin jika hubungan mereka masih baik, Dilan akan sangat bangga dengan pencapaian Tiara saat itu. Tanpa sedikitpun Tiara sadari, jika pencapaiannya saat itu 100 persen atas perintah Dilan.​Saat berjalan menyusuri koridor lantai dua, pikiran Tiara mulai fokus dengan tanggung jawab barunya. Seketika dia hapus bayangan Dilan. Di sana, tatapan mata da

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 87

    Sepanjang jalan pulang menyusuri gang sempit menuju rumah kosnya, pikiran Tiara terus berputar. Langkah kakinya terasa begitu berat, bukan lagi karena lelah menahan sakit di tumitnya, melainkan karena beban teka-teki yang menghimpit dadanya. Rasanya baru tadi pagi ia berdiri di depan rak pameran sebagai SPG biasa, diteriaki oleh penyelia, dan dituduh mencuri oleh wanita kaya bernama Alena. Namun hanya dalam hitungan jam, hidupnya seolah diputarbalikkan secara tidak masuk akal.​Bagaimana mungkin seorang SPG baru yang kuliahnya terputus di tengah jalan tiba-tiba diangkat menjadi Asisten Supervisor? Tiara menggeleng pelan seraya meremas tali tasnya. Rasa curiga dan cemas itu terus menggerogoti hatinya.​Setibanya di bangunan kos bercat hijau tua, Tiara mendapati Ibu kos sedang duduk bersantai di teras depan sambil memotong sayuran untuk makan malam.​"Eh, Tiara sudah pulang!" sapa Ibu kos dengan wajah berseri-seri begitu melihat Tiara melangkah masuk lewat gerbang. "Gimana hari pertamam

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 86

    Berikut adalah perbaikan cerita dengan menambahkan lebih banyak percakapan singkat, gaya bahasa yang lebih alami, santai, dan tidak kaku:​Di ruang manajemen supermarket, suasana mendadak tegang. Sisca sudah memegang bolpen, siap menandatangani surat pemecatan Tiara. Di sudut ruangan, Alena bersedekap sambil tersenyum sinis.​Tapi sebelum kertas itu ditandatangani, pintu mendadak didorong keras. Manajer Umum masuk dengan wajah panik dan napas terengah-engah.​"Tunggu! Jangan ditandatangani dulu!" seru Pak Manajer Umum cepat.​Sisca tertegun. "Lho, kenapa, Pak? Anak ini jelas-jelas sudah bikin masalah sama pelanggan VVIP."​"Buka CCTV dulu sekarang! Jangan asal main pecag!" potong Pak Manajer tegas.​Petugas keamanan langsung memutar rekaman dari beberapa sudut kamera. Di layar monitor berukuran besar, semuanya terlihat jelas. Alena dengan sengaja menjatuhkan kotak cokelat mahal itu, lalu melempar dompetnya sendiri ke dekat kaki Tiara.​Muka Alena langsung merah padam.​"I-ini apa-apaa

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 85

    "Baik Pak Dilan. akan segera saya laksanakan. saya permisi dulu," ucap Bimo sebelum melangkah pergi. ​Bimo mengangguk tegap, lalu memutar badannya dan bergegas keluar dari kamar VIP untuk segera menjalankan perintah darurat dari Dilan. Pintu kayu jati yang tebal berderit halus sebelum terkunci rapat kembali, menyisakan keheningan mencekam di dalam ruangan bernuansa putih itu.​Di atas lantai marmer yang dingin, Ela masih bersimpuh. Air matanya terus menetes membasahi pipi, menatap ujung kaki Dilan dengan kepasrahan total.​Dilan bersandar pada tumpukan bantal empuk di kepala ranjang. Napasnya masih terengah-engah menahan kombinasi rasa nyeri pada bekas luka operasinya dan amarah yang membakar dada. Matanya menatap Ela dengan pandangan yang amat ketus, dingin, dan sarat akan kekecewaan.​"Kenapa kamu masih di sini, Ela?" tegur Dilan dengan suara bariton yang berat dan menusuk. "Semua kebohonganmu sudah terbongkar. Kamu sudah melapor pada Papaku, membuat Tiara dihina, dan pura-pura men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status