Share

Bab 85

Author: Kak Han
last update publish date: 2026-10-07 22:15:52

"Baik Pak Dilan. akan segera saya laksanakan. saya permisi dulu," ucap Bimo sebelum melangkah pergi.

​Bimo mengangguk tegap, lalu memutar badannya dan bergegas keluar dari kamar VIP untuk segera menjalankan perintah darurat dari Dilan. Pintu kayu jati yang tebal berderit halus sebelum terkunci rapat kembali, menyisakan keheningan mencekam di dalam ruangan bernuansa putih itu.

​Di atas lantai marmer yang dingin, Ela masih bersimpuh. Air matanya terus menetes membasahi pipi, menatap ujung kaki D
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 85

    "Baik Pak Dilan. akan segera saya laksanakan. saya permisi dulu," ucap Bimo sebelum melangkah pergi. ​Bimo mengangguk tegap, lalu memutar badannya dan bergegas keluar dari kamar VIP untuk segera menjalankan perintah darurat dari Dilan. Pintu kayu jati yang tebal berderit halus sebelum terkunci rapat kembali, menyisakan keheningan mencekam di dalam ruangan bernuansa putih itu.​Di atas lantai marmer yang dingin, Ela masih bersimpuh. Air matanya terus menetes membasahi pipi, menatap ujung kaki Dilan dengan kepasrahan total.​Dilan bersandar pada tumpukan bantal empuk di kepala ranjang. Napasnya masih terengah-engah menahan kombinasi rasa nyeri pada bekas luka operasinya dan amarah yang membakar dada. Matanya menatap Ela dengan pandangan yang amat ketus, dingin, dan sarat akan kekecewaan.​"Kenapa kamu masih di sini, Ela?" tegur Dilan dengan suara bariton yang berat dan menusuk. "Semua kebohonganmu sudah terbongkar. Kamu sudah melapor pada Papaku, membuat Tiara dihina, dan pura-pura men

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 84

    Sementara itu,di balik pilar besar koridor dekat pintu samping, rupanya Ela berdiri mematung dengan napas tertahan. Pembantu muda itu merapatkan tubuhnya ke dinding, menetralkan suara jalannya agar tidak terikat oleh pendengaran siapa pun.​Ela tanpa sengaja mendengar setiap bait percakapan dingin wanita elegan itu di dalam mobilnya melalui kaca jendela yang sedikit terbuka. Suara Alena yang begitu beracun saat memerintahkan detektif swasta untuk melacak, mengintai, dan meremukkan hidup Tiara bergaung sangat jelas di telinga Ela.​Seketika itu juga, sekujur tubuh Ela gemetar hebat. Rasa dingin yang mencekam merayapi dari telapak kakinya hingga ke dada.“Ya Tuhan, wanita ini kejam sekali. Tiara dalam bahaya,” batin Ela dengan rasa cemas.​Sejak Dilan dipindahkan dari rumah sakit kembali ke kediaman utama, Ela ikut dipanggil kembali bekerja di rumah tersebut untuk melayani kebutuhan sang putra mahkota. Melihat kondisi Dilan yang sempat kritis pasca-kecelakaan tragis, disusul tekanan emo

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 83

    Rasa panas membakar menjalar hingga ke telinga Alena. Kata-kata Dilan yang begitu lugas, tajam, dan penuh dengan nada jijik rasanya bagaikan tamparan keras yang meremukkan harga dirinya sebagai putri tunggal keluarga terpandang. Selama hidupnya, tidak pernah ada satu pria pun yang berani menatapnya dengan pandangan sebenci itu, apalagi membongkar ambisi terselubungnya secara telanjang di depan calon mertuanya.​Jemarinya mengepal amat erat di balik gaunnya. Hatinya menjerit murka, ingin rasanya ia membalas makian Dilan dan membalikkan meja di ruang tamu yang megah itu.​Namun, Alena bukanlah wanita amatir yang gampang terpancing emosi hingga merusak panggung yang telah disusunnya dengan rapi.​Dengan kontrol emosi yang luar biasa, Alena menarik napas halus dan mengembuskannya perlahan. Dalam hitungan detik, raut wajahnya yang sempat pucat pasi berubah menjadi ekspresi terluka yang amat anggun. Matanya berkaca-kaca secara alami, menampilkan sosok wanita lembut, berkelas, dan penuh kep

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 82

    Hari demi hari berlalu di Rumah Sakit Medika Sejahtera. Berkat penanganan tim dokter spesialis terbaik dan perawatan intensif tanpa henti, kondisi fisik Dilan perlahan-lahan menunjukkan kemajuan pesat. Luka jahitan bekas operasi di dadanya mulai mengering, memar di wajahnya kian memudar, dan kekuatannya untuk berdiri serta melangkah telah kembali secara bertahap.​Hingga pada suatu pagi, tim dokter akhirnya menyatakan bahwa kondisi Dilan sudah cukup stabil untuk diperbolehkan pulang dan menjalani proses pemulihan di rumah.“Akhirnya kamu diperbolehkan pulang Nak. Nanti kita lanjut perawatan di rumah,” ujar Nyonya Hendra sambil mengelus rambut putranya.​Tuan Hendra dan Nyonya Hendra, tentu saja tidak main-main. Demi kenyamanan dan keselamatan putra tunggal mereka, kediaman megah keluarga Dirgantara telah disulap bagai ruang perawatan kelas atas. Mereka menyewa dua orang dokter spesialis serta beberapa perawat pribadi berpengalaman yang bersiap siaga dua puluh empat jam penuh untuk mem

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 81

    Sinar mentari sore yang samar-samar menyusut di balik deretan gedung tinggi Jakarta mengiringi langkah Tiara menyusuri gang sempit menuju rumah kosnya. Tubuhnya terasa begitu letih setelah seharian penuh berdiri, mengangkat tumpukan kardus berat, dan menghadapi tatapan sinis serta perlakuan tidak adil dari para senior di supermarket. Tumit kakinya berdenyut nyeri akibat lecet yang bergesekan dengan sepatu kerja, sementara jemarinya terasa kaku.​Namun, rasa lelah fisik itu sama sekali tidak sebanding dengan kekacauan yang berkecamuk di dalam dadanya.​Pikiran Tiara melayang jauh dari riuk pikuk pekerjaan. Setiap kali ia berusaha memfokuskan diri pada masa depannya, bayangan wajah Dilan selalu hadir menembus benaknya tanpa permisi. Ada kerinduan yang teramat sangat yang membelenggu hatinya, bersanding dengan rasa cemas yang terus membakar dada mengingat kondisi Dilan yang kritis pascaoperasi besar malam itu. Tiara ingin sekali berlari ke rumah sakit, menggenggam jemari pria itu, dan m

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 80

    Keesokkan harinya sinar matahari memantul hangat di atas lantai marmer kilap sebuah supermarket retail mewah di kawasan pusat bisnis Jakarta. Tiara berdiri tegap di balik meja peraga produk makanan impor premium dengan seragam kerja barunya, sebuah kemeja putih bersih yang pas di badan dipadu dengan celemek merah marun yang rapi. Rambut hitamnya diikat tinggi, menampilkan paras ayu dan kulit putih bersihnya yang begitu menyegarkan pandangan.​Di dalam dadanya, jantung Tiara berdebar kencang oleh campuran rasa gugup dan semangat yang membuncah. Ini adalah hari pertamanya bekerja setelah badai kebohongan, hinaan kejam dari keluarga Dilan, dan keputusasaan yang meremukkan jiwanya dua hari lalu. Bagi Tiara, pekerjaan ini adalah jalan tunggal untuk menegakkan kembali harga dirinya yang sempat terinjak-injak, melunasi utang kos kepada Ibu kos yang baik hati, dan membuktikan bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bantuan pria mana pun.​Namun, jika proses diterimanya Tiara di p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status