Share

Bab 96

Penulis: Kak Han
last update Tanggal publikasi: 2026-10-13 15:52:04

Sementara itu, di lantai bawah, acara makan malam bersama relasi bisnis Pak Hendra berlangsung cukup ramai. Namun, pikiran Ela sama sekali tidak berada di ruang makan. Sejak Alena membawa nampan makan malam ke atas, perasaan Ela terus tidak tenang.

​Setelah menyelesaikan tugasnya merapikan piring di dapur, Ela memutuskan untuk naik ke lantai dua. Ia berniat memastikan apakah Dilan sudah menghabiskan makanannya dan meminum obat tepat waktu. Selain itu, ada rasa cemas yang tak bisa ia sembunyikan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 96

    Sementara itu, di lantai bawah, acara makan malam bersama relasi bisnis Pak Hendra berlangsung cukup ramai. Namun, pikiran Ela sama sekali tidak berada di ruang makan. Sejak Alena membawa nampan makan malam ke atas, perasaan Ela terus tidak tenang.​Setelah menyelesaikan tugasnya merapikan piring di dapur, Ela memutuskan untuk naik ke lantai dua. Ia berniat memastikan apakah Dilan sudah menghabiskan makanannya dan meminum obat tepat waktu. Selain itu, ada rasa cemas yang tak bisa ia sembunyikan jika membiarkan Alena berdua saja di dalam kamar bersama Dilan.​Langkah kaki Ela terhenti di depan kamar Dilan. Ia melihat daun pintu jati itu ternyata tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil beberapa sentimeter.​Cklek.​Saat Ela hendak mengetuk pintu, matanya melirik melalui celah tersebut. Seketika itu juga, langkahnya membeku. Nampan kecil yang dipegangnya hampir saja terlepas dari jemarinya.​Di dalam kamar yang diterangi lampu temaram, Ela menyaksikan Dilan sedang memeluk tubuh Alen

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 95

    Alena sebisa mungkin memasang raut wajah penuh penyesalan. Kepala cantiknya terus menunduk dalam-dalam, jemarinya memilin ujung gaunnya dengan cemas. Berkali-kali ia menghembuskan napas pelan seolah menahan beban bersalah yang teramat berat.​"Aku tahu... tindakan dan ucapanku kemarin bikin kamu marah besar, Dilan," ucap Alena dengan suara serak yang memelas. "Aku cuma terlalu emosi dan tidak bisa mengontrol diri. Sekali lagi, aku minta maaf ya? Aku benar-benar menyesal."​Dilan menatap wanita di hadapannya itu. Sejujurnya, Dilan sangat membenci kepalsuan dan kejahatan yang pernah dilakukan Alena. Namun, pada dasarnya Dilan bukanlah pria berhati batu yang kejam. Melihat Alena yang mendadak berubah menunduk dan mengakui kesalahannya seperti ini, emosi di dada Dilan pelan-pelan menyurut.​Dilan menghembuskan napas panjang, mengusap wajahnya sebentar. "Sudahlah, Alena. Aku sudah memaafkan kamu. Jangan dibahas lagi."​Alena perlahan mendongak, matanya berkaca-kaca menatap Dilan dengan cem

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 94

    Hari yang ditunggu-tunggu Alena pun akhirnya tiba. Sejak sore, suasana di rumah megah keluarga Dirgantara tampak lebih sibuk dari biasanya. Kedatangan beberapa relasi bisnis penting Tuan Hendra membuat para pekerja bergerak cepat menyiapkan segala hal di ruang makan utama.​Sebelum acara dimulai, Alena melancarkan strategi pertamanya. Ia meminta kedua orang tuanya datang lebih awal untuk menyampaikan permohonan maaf secara khusus kepada Tuan Hendra dan Nyonya Hendra atas insiden salah paham tempo hari. Dengan tutur kata yang tertata rapi dan penuh kesantunan, orang tua Alena berhasil melunakkan suasana. Tuan Hendra dan Nyonya Hendra yang merasa sungkan dengan keluarga besar Alena pun menyambut permohonan maaf itu dengan hangat, menganggap semua persoalan kemarin hanyalah dinamika anak muda.“Om, Tante, maafkan sikap Alena kemarin. Alena sadar sudah kelewat batas. Tapi, semua itu karena Alena terlalu mencintai Dilan. Maafkan Alena Tante, Om. Alena janji tidak akan mengulangi lagi,” uj

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 93

    Setelah pulang dari rumah Dilan, Alena mondar-mandir dengan langkah menghentak hentam di kamarnya. Wajah cantiknya masih berkerut kusut, memancarkan amarah yang belum sepenuhnya reda. Ia tidak terima dipermalukan begitu saja di depan Tuan dan Nyonya Hendra, apalagi harus kalah pamor dari seorang pembantu bernama Ela.​Harga dirinya sebagai wanita dari keluarga terpandang benar-benar diinjak-injak.​"Ini nggak bisa dibiarkan!” seru Alena pelan, menggigit kuku jarinya yang berhias manikur mewah.​Alena tahu persis, jika ia terus mengandalkan cara-cara kasar atau mengadu pada orang tua Dilan, ia justru akan semakin dijauhi oleh pria itu. Dilan terlampau keras kepala dan tidak bisa ditekan dengan ancaman. Selama Tiara masih ada di luar sana, dan selama Dilan masih dilindungi oleh sikap membangkangnya, Alena tidak akan pernah bisa mendapatkan hati sang pewaris Dirgantara Group itu. Jadi, dia harus mengubah strategi.​Sambil mendudukkan diri kembali di sofa empuk, Alena merenung cukup lama

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 92

    Pintu kamar Dilan terdorong pelan. Pak Hendra dan Nyonya Hendra melangkah masuk, mengekor tepat di belakang Alena yang masih memasang raut wajah muram.​Di dalam kamar, suasana justru terasa sangat tenang. Dilan sudah mengenakan kemeja kain santainya yang dibiarkan terbuka tiga kancing teratas. Ia duduk santai di tepi ranjang, sementara Ela berdiri di sampingnya dengan telaten merekatkan ujung isolasi medis pada kain kasa perban di dada Dilan. Tidak ada kepanikan, tidak ada tanda-tanda kecangguhan.​Melihat kedatangan kedua orang tuanya bersama Alena, Dilan melirik tipis lalu menyunggingkan senyum samar.​"Alena ngadu apa ke Mama dan Papa sampai ramai-ramai datang ke kamar Dilan begini?" tanya Dilan santai, suaranya terdengar datar tanpa beban sama sekali.​Ela pun tetap melanjutkan pekerjaannya dengan tenang. Setelah merapikan perban Dilan, gadis itu dengan cekatan mengancingkan kemeja Dilan satu per satu, seolah keberadaan tiga orang di ambang pintu itu tak menggoyahkan fokusnya.​M

  • Nyonya, Suamimu Bukan Pria Lemah!   Bab 91

    ​Sambil menghentakkan kakinya keras-keras, Alena berlari turun menuju ruang keluarga. Wajah cantiknya ditekuk habis-habisan, mata diselimuti air mata buatan, dan napasnya dibikin terengah-engah seolah-olah baru saja mengalami hal yang sangat mengerikan.​Di ruang keluarga yang luas itu, Pak Hendra dan Nyonya Hendra sedang duduk santai sambil menikmati cangkir teh hangat. Tak jauh dari mereka, Olivia, adik kandung Dilan yang masih duduk di bangku SMA, sedang bersandar santai di sofa empuk sambil memegang tabletnya.​"Tante... Om..." panggil Alena dengan suara gemetar yang dibuat-buat, langsung menghampiri Nyonya Hendra dan merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.​Nyonya Hendra yang kaget langsung meletakkan cangkir tehnya. "Astaga, Alena! Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis seperti ini?"​"Dilan, Tante..." adu Alena sambil mengusap sudut matanya dengan saputangan. "Dilan benar-benar sudah keterlaluan!"​Pak Hendra melipat korannya dan mengerutkan kening. "Ada apa dengan Dilan, Ale

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status