Share

Bab 17

Penulis: Millanova
last update Tanggal publikasi: 2026-04-12 19:37:01

"Kuh! Keluar kamu! Bantu aku turunkan barang sekarang juga!"

Bentakan serak dan kasar milik Pak Rustam itu memecah keheningan Kamis pagi yang masih berselimut kabut tipis.

Di dalam sebuah ruangan sempit berukuran dua kali tiga meter di sudut belakang garasi, Kukuh menghentikan sapu lidinya. Ruangan itu sebenarnya sama sekali tidak layak disebut sebagai kamar tidur. Itu adalah bekas gudang penyimpanan barang rongsokan yang lembap, beratap bocor, dan selalu berbau apek. Satu-satunya perabotan di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 28

    "Sini, Pak Supri! Sebelah sini!"Kukuh melambaikan tangannya tinggi-tinggi memecah keramaian. Di bawah terik matahari menjelang siang yang mulai menyengat kulit, sebuah motor bebek keluaran lama berwarna hitam melaju pelan membelah jalanan aspal. Asap knalpotnya mengepul tipis, berbaur dengan debu jalanan di mulut gang Pasar Loak yang sudah padat oleh lautan manusia dan deretan lapak pedagang.Mendengar panggilan itu, Pak Supri yang mengenakan jaket kulit sintetis kusam dan helm separuh wajah langsung menoleh. Raut wajah sopir tua itu yang tadinya tampak kusut dan kurang tidur sedikit mencerah. Ia segera menepikan motornya mendekati tempat Kukuh berdiri."Ayo naik, Kuh! Kita parkir di sana saja," seru Pak Supri sambil menunjuk ke arah lahan parkir berdebu yang terletak tepat di samping pos penjagaan keamanan pasar.Kukuh mengangguk dan langsung melompat ke jok belakang motor yang bergetar hebat itu. Hanya butuh waktu satu menit bagi mereka untuk sampai di area parkir. Sambil turun dar

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 27

    Setelah perutnya terasa sedikit lebih lega dan dorongan mualnya mereda, Kukuh menegakkan tubuh. Ia menarik napas dalam-dalam, menetralkan kembali detak jantungnya. Wajahnya yang sempat memucat kini kembali tenang sedatar papan. Ia merapikan kerah jaketnya, lalu melangkah kembali menuju gerobak bubur untuk menyelesaikan urusannya. Pantang baginya pergi sebelum membayar apa yang sudah ia pesan.Tukang bubur itu sedang sibuk mengaduk panci besarnya ketika Kukuh mendekat. Melihat mangkok Kukuh di atas meja yang masih penuh dan nyaris tak tersentuh, pergerakan tangan pedagang itu terhenti. Sorot matanya langsung menajam, memancarkan aura tidak suka bercampur sedikit rasa waswas."Berapa, Pak, buburnya?" tanya Kukuh santai, sambil merogoh saku celananya."Lima belas ribu, Mas," jawab pedagang itu dengan nada sedikit kaku. Ia menatap lekat-lekat wajah Kukuh. "Kenapa, Mas? Kok buburnya nggak dihabiskan? Baru dimakan dua sendok itu."Kukuh menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan. Ia sudah m

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 26

    Di meja sebelahnya, tepat di atas mangkok seorang bapak yang sedang makan dengan sangat lahap, bertengger sebuah sosok yang membuat darah Kukuh berdesir. Sosok itu berbadan sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dengan rambut putih yang sangat jarang dan acak-acakan. Matanya merah menyala, melotot lebar seolah-olah bola matanya akan keluar dari kelopaknya. Tangannya yang pucat memegang tepi meja, dan mengerikannya... tangan itu hanya memiliki tiga jari yang panjang dan runcing.Makhluk itu menunduk di atas mangkok si bapak, mulutnya menganga lebar. Dari sela-sela gigi tajamnya, menetes air liur kental berwarna keruh yang terus-menerus jatuh bercampur ke dalam bubur yang sedang dimakan bapak tersebut.Kukuh tersentak kaget. Dengan refleks ia menoleh cepat ke arah kiri.Kosong.Sosok mengerikan itu mendadak hilang tanpa jejak. Yang ada di sana hanyalah si bapak yang masih mengunyah buburnya dengan nikmat.Bulu kuduk Kukuh langsung meremang. Ia menelan ludah, lalu kembali menghada

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 25

    "Mang... Mang! Kusirnya noleh ke arah kita, Mang!" bisik Kukuh dengan suara tertahan, tangannya mencengkeram erat lengan jaket Mang Oha.Mang Oha yang tadinya masih tidak percaya, kini ikut panik melihat wajah Kukuh yang sepucat kertas. "Yang bener lu, Kuh? Malem apa sih ini?"Kukuh menelan ludah, matanya masih tak berani berkedip menatap jalanan. "Malam Jumat ya ini, Mang...""Anjirrr lu, Kuh! Jangan nakut-nakutin gue lu, yang bener aja! Ini cuma kita berdua doang ini di mari malem ini," tegas Mang Oha. Suaranya bergetar hebat, dan ia buru-buru menundukkan pandangannya, tak berani sedikit pun menoleh ke arah jalan raya yang gelap.Setelah menoleh sejenak ke arah warung tenda tersebut dengan kilauan merah dari balik capingnya, kuda hitam itu kembali menunduk. Bunyi krincing lonceng dan ketukan tapal kuda kembali terdengar perlahan. Delman misterius itu pun nampaknya melanjutkan perjalanannya, menembus rintik gerimis hingga sosoknya pelan-pelan memudar tertelan kabut tipis.Kukuh akhirn

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 24

    Angin malam berhembus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kukuh merapatkan jaket kebesarannya saat ia akhirnya sampai di warung kecil milik Mang Oha yang berada di pinggir jalan raya yang mulai lengang."Mang, kopi jahe kayak biasanya!" seru Kukuh sambil duduk lesehan bersandar ke tembok.Mang Oha yang sedang mengelap gelas menoleh. "Tumben lu malem-malem kesini, Kuh?""Iya nih, Mang. Pengen cari wangsit di mari. Sumpek di kosan," canda Kukuh sambil terkekeh pelan, mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya."Eh, lu tau nggak berita kemaren, Kuh?" tanya Mang Oha setengah berbisik, matanya melirik ke arah jalanan yang sepi."Berita apaan emang, Mang?""Itu, ada orang kaya ngumumin sayembara. Siapa pun yang nemuin cincin perak beserta batu akiknya bakal dikasih imbalan gede banget. Ratusan juta katanya!" ucap Mang Oha antusias.Mata Kukuh langsung berbinar mendengarnya. "Masak sih, Mang? Berapa emang duitnya? Wah, kali aja aku ketiban durian runtuh kan nemu tuh cincin. Ntar aku bagi

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 23

    Kedua bapak-bapak yang beberapa menit lalu memiting leher Kukuh dengan beringas itu kini merangkak maju bagaikan anjing yang ketakutan. Bahu mereka bergetar hebat. Dengan tangan yang gemetar dan keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipis, mereka menundukkan kepala, bersiap mendaratkan bibir mereka ke ujung sepatu kusam Kukuh.Melihat pemandangan itu, dahi Kukuh langsung berkerut dalam. Alisnya bertaut. Perasaan sungkan dan risi seketika menyergap dadanya. Bagaimanapun juga, ia hanyalah pemuda desa yang terbiasa hidup sederhana. Melihat dua pria yang usianya sebaya dengan bapak angkatnya bersujud menyembah kakinya adalah sesuatu yang sangat berlebihan dan tidak nyaman untuk dilihat.Sebelum hidung atau bibir kedua preman amatir itu sempat menyentuh debu di ujung sepatunya, Kukuh buru-buru menarik kakinya mundur satu langkah panjang. Tangannya terangkat, memberikan isyarat menolak."Tidak usah," ucap Kukuh dengan nada datar namun tegas, memecah ketegangan di gang sempit i

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status