Share

Bab 2

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-08 22:57:53

Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.

Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta yang sibuk dari ketinggian ini selalu membuatnya merasa seperti dewa. Tapi pagi ini, sang dewa merasa lehernya sedang dicekik. Semalaman ia nyaris tidak memejamkan mata.

Ia memutar kursi kulit mahalnya, duduk, dan menarik laci. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat lusuh yang terlihat sangat kontras dengan kemewahan mejanya. Amplop tipis itu terselip di surat masuk karyawan. Namanya ditulis dengan tinta pulpen yang mulai pudar, miring, dan berantakan. Hanya satu kata: Kukuh .

Bibir Adiwangsa melengkung sinis. Kebetulan yang sangat manis, batinnya. Ia baru saja pusing mencari cara agar OB itu tutup mulut dan mau dikendalikan, dan semesta tiba-tiba mengirimkan tali kekang ini tepat ke tangannya. Ia mengangkat gagang telepon. "Kirim cleaning service bernama Kukuh ke ruangan saya. Satu jam lagi." .

Satu jam adalah waktu penyiksaan psikologis yang panjang jika kau adalah orang kecil yang tak tahu apa-apa.

Di lantai dua belas, Kukuh mengepel koridor dengan tangan bergetar . Otaknya berisik oleh kepanikan. Lantai empat puluh tujuh? Apa salahku? Apakah aku mengepel kurang bersih? Apakah gajiku yang sudah dipotong ini akan dihilangkan sama sekali? . Selama empat belas bulan terakhir, hidupnya adalah neraka akibat tuduhan mata-mata yang tak pernah ia lakukan.

Sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan, Kukuh buru-buru mengembalikan ember keruhnya. Ia mencuci tangan berulang kali, berusaha membuat tangannya yang kasar terlihat pantas . Saat satpam lobi menempelkan kartu akses lift VIP dengan tatapan meremehkan, Kukuh hanya bisa menelan ludah .

Ting. Pintu lift terbuka.

Ruangan Adiwangsa menyambutnya dengan suhu pendingin yang terlalu dingin. Kukuh melangkah masuk dengan canggung, menunduk dalam-dalam. Berdiri di atas karpet Persia seharga miliaran rupiah dengan sepatu bot karetnya yang kusam membuatnya merasa seperti kuman.

"Duduklah," perintah Adiwangsa dingin. Wajah direktur itu tampak seperti seseorang yang menahan mual, tapi dipaksakan untuk terlihat profesional.

Kukuh duduk di tepi kursi kulit, punggungnya tegang. "Ada... yang bisa saya bantu, Tuan?".

Adiwangsa tidak repot-repot berbasa-basi. Tangan pria itu meraih amplop cokelat lusuh tadi dan menggesernya pelan ke hadapan Kukuh.

Mata Kukuh langsung membelalak. Ia mengenali tulisan miring berantakan itu. Itu tulisan tangan Bapaknya! Seseorang yang baru belajar memegang pulpen di usia tua.

Dengan tangan bergetar hebat, Kukuh membuka sobekan kertas dari buku tulis bergaris di dalamnya.

"Kuh, Bapak sakit. Sudah dua bulan. Dokter puskesmas bilang harus dirujuk ke rumah sakit kota, tapi Bapak tidak ada biaya. Kamu jangan khawatir, Bapak baik-baik saja. Tapi kalau kamu punya rezeki lebih dan bisa pulang..." .

"Ayahmu sakit?"

Suara Adiwangsa memecah keheningan. Kukuh mendongak cepat. Adiwangsa menatapnya lekat, bukan dengan tatapan iba, melainkan sorot mata predator yang siap menerkam .

"Aku bisa menanggung semua biaya rumah sakitnya. Semuanya. Kelas VVIP," lanjut Adiwangsa tenang. "Tapi ada syaratnya.".

Jantung Kukuh berdebar tak karuan. "Syarat... apa, Tuan?".

Adiwangsa memandang rendah pemuda di depannya. "Kamu harus menikahi Ratih. Putriku.".

Dunia Kukuh seakan ditarik dari pijakannya. Menikah? Dengan Ratih Puspa Aji Saka?! Wajah perempuan berkulit porselen dengan mata kelabu dingin yang selalu melewatinya di koridor tanpa pernah sudi menatapnya sekilas pun, mendadak terbayang di kepalanya .

"Tuan..." Suara Kukuh keluar bergetar, akal sehatnya menolak percaya. "Tuan pasti bercanda. Tidak mungkin OB seperti saya..." .

"Ya! Memang tidak masuk akal!" sela Adiwangsa cepat, emosinya sedikit bocor. Ia bangkit dan berjalan memunggungi Kukuh. Terlalu jijik melihat wajah bingung pemuda miskin itu.

"Aku terpaksa. Ini mutlak wasiat almarhum mertuaku. Jika kamu setuju, pernikahan ini akan dilangsungkan sangat tertutup. Tidak ada yang boleh tahu.".

Adiwangsa berbalik perlahan. Ia menggeser sebuah map tebal berisi kontrak ke dekat amplop cokelat milik ayah Kukuh yang terbuka . Sebuah jebakan sempurna.

"Pilihannya ada di tanganmu," desak Adiwangsa pelan namun mengancam. Matanya melirik ke arah surat Bapak Kasiman yang tergeletak mengenaskan. "Tapi sebelum kita bicara syarat... aku butuh jawabanmu sekarang. Kamu mau nyawa ayahmu selamat, atau tidak?".

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 10

    Malam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eyang Putri mereka! .Di tengah gelimang harta para bangsawan itu, Kukuh berdiri di sudut. Ia memakai seragam pelayan hitam putih, memegang nampan perak berisi gelas kotor . Di atas kertas ia adalah suami Ratih, tapi di ruangan ini ia tak lebih dari babu yang membersihkan sisa makanan .Handoko menenggak anggurnya dengan dada membusung. Mengingat kejadian tadi siang, darah arogannya mendidih. Ia sengaja mengeraskan suara agar seisi ruangan mendengarnya."Tante Dian!" panggil Handoko licik, menunjuk lurus ke arah Kukuh. "Aku benar-benar mual! Bagaimana bisa perempuan sekelas Ratih bersanding dengan gembel ini?! Ini penghinaan kasta, Tante!" .Ruangan mendadak senyap. Semua bangsawan menatap pemu

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 9

    Sisa-sisa abu keemasan dari tubuh Prabu Anom telah lenyap ditelan udara malam, namun energi suci yang ditinggalkannya masih menggetarkan ruangan itu. Hawa busuk yang selama puluhan tahun mencekik bangunan itu telah lenyap tak berbekas.Ujang, penjaga gaib yang kesaktiannya sangat ditakuti, kini beringsut maju. Ia meraih ujung sepatu bot karet Kukuh yang kumal dan menundukkan dahinya hingga mencium lantai kayu! ."Tuan Muda," isak Ujang, suaranya bergetar oleh kesetiaan mutlak. "Sesuai titah terakhir Gusti Prabu, raga dan nyawa hamba kini adalah tameng Anda. Izinkan hamba mengikuti Anda ke ibu kota!".Kukuh buru-buru menarik kakinya. Perutnya mulas. Sepanjang hidupnya ia hanya diinjak-injak, tiba-tiba disembah oleh ahli ilmu gaib membuatnya merinding ."Berdiri, Pak Ujang!" perintah Kukuh sambil memegang bahu pria tua itu. "Bapak tidak usah ikut ke Jakarta. Saya di sana cuma kuli bersih-bersih. Kalau tiba-tiba punya pengawal, identitas saya terbongkar!" .Ujang menggeleng keras, rahang

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 8

    Air mata pria tua itu mengalir membasahi wajah keriputnya. Ia terisak penuh haru, melepaskan penderitaan tak terbayangkan yang telah menyiksanya selama puluhan tahun .Di depan ranjang, Kukuh masih bersujud kaku, terus memainkan perannya sebagai pemuda desa yang panik . Sementara itu, Supri mematung seperti orang bodoh. Mulut sopir tua itu terbuka lebar. Logikanya benar-benar hancur lebur!Bagaimana mungkin?! Darah seorang OB rendahan bisa menghancurkan kutukan tingkat tinggi keluarga Aji Saka?! Siapa sebenarnya anak ini?! batin Supri menjerit histeris .Hanya dalam hitungan menit, keajaiban gaib terjadi. Bau busuk daging mati yang selama ini mencekik ruangan itu lenyap tak berbekas! Sebagai gantinya, udara dipenuhi aroma tanah basah dan semerbak bunga kantil murni yang sangat menenangkan—ini adalah wujud dari Rajah Wangi yang sesungguhnya."Bangunlah... kalian berdua," ucap pria tua itu dengan suara jernih dan berwibawa. "Duduklah. Biar mata tuaku ini melihat siapa pahlawan yang diki

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, menghalangi cahaya bulan hingga semuanya tampak segelap tinta. Hawa dingin yang sangat tidak wajar merembes masuk ke dalam kabin.Kukuh menoleh ke arah Supri. Wajah sopir tua itu tegang dan pucat pasi. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih . Supri berkeringat dingin, ketakutan setengah mati!"Pak Supri," panggil Kukuh memecah keheningan. "Bapak tidak takut masuk ke hutan ini sendirian?" ."Takut itu cuma buat orang yang masih punya pilihan, Le," jawab Supri parau. "Di keluarga Aji Saka, ada hal-hal gaib yang jauh lebih mengerikan daripada mati di tengah hutan!" .Tepat saat jam berganti menjadi tengah malam, kabut putih setebal kapas turun menggulung jalanan . Di balik kab

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura-pura menjadi manusia lemah. Ia harus menyembunyikan fakta bahwa setiap kali duri tanaman mengoyak tangannya, luka itu akan menutup rapat tanpa bekas dalam hitungan detik .Kamis sore itu, langit Jakarta mulai berubah jingga pekat. Kukuh baru saja menyandarkan sapunya ketika Supri, sopir senior keluarga, berlari menghampirinya dengan napas memburu. Wajah pria tua itu pucat pasi.Ia menyodorkan layar ponsel yang menampilkan sebuah titik lokasi di peta. "Kuh, temani aku sekarang. Kita harus antar barang ke titik ini," bisik Supri tegang . Lokasinya berada di pelosok hutan pedalaman Jawa Barat, sangat jauh dari peradaban.Kukuh mengernyit bingung. "Boleh saya keluar gerbang, Pak? Di kontrak say

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul karung beras puluhan kilo, mengupas berkeranjang-keranjang bawang, dan mengepel lantai marmer hingga mengilap. Tidak ada yang peduli bahwa di atas kertas, pemuda itu adalah suami sah sang pewaris tahta. Di ruangan ini, ia adalah kasta terendah.Semua pekerjaannya diawasi ketat oleh Pak Rustam, kepala juru masak bertubuh gempal yang sombongnya selangit.Dasar gembel bau selokan, maki Rustam dalam hati. Beraninya sampah dari kantor pusat masuk ke dapur eklsklusifku! Akan kubuat dia cacat supaya tahu diri! ."Heh, Bocah Miskin! Matamu buta?!" bentak Rustam parau, suaranya nyaris mengalahkan desis minyak panas. "Air di kuali raksasa itu sudah mendidih! Angkat sekarang! Nyonya Dian benci teh yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status