MasukKantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.
Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta yang sibuk dari ketinggian ini selalu membuatnya merasa seperti dewa. Tapi pagi ini, sang dewa merasa lehernya sedang dicekik. Semalaman ia nyaris tidak memejamkan mata.
Ia memutar kursi kulit mahalnya, duduk, dan menarik laci. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat lusuh yang terlihat sangat kontras dengan kemewahan mejanya. Amplop tipis itu terselip di surat masuk karyawan. Namanya ditulis dengan tinta pulpen yang mulai pudar, miring, dan berantakan. Hanya satu kata: Kukuh .
Bibir Adiwangsa melengkung sinis. Kebetulan yang sangat manis, batinnya. Ia baru saja pusing mencari cara agar OB itu tutup mulut dan mau dikendalikan, dan semesta tiba-tiba mengirimkan tali kekang ini tepat ke tangannya. Ia mengangkat gagang telepon. "Kirim cleaning service bernama Kukuh ke ruangan saya. Satu jam lagi." .
Satu jam adalah waktu penyiksaan psikologis yang panjang jika kau adalah orang kecil yang tak tahu apa-apa.
Di lantai dua belas, Kukuh mengepel koridor dengan tangan bergetar . Otaknya berisik oleh kepanikan. Lantai empat puluh tujuh? Apa salahku? Apakah aku mengepel kurang bersih? Apakah gajiku yang sudah dipotong ini akan dihilangkan sama sekali? . Selama empat belas bulan terakhir, hidupnya adalah neraka akibat tuduhan mata-mata yang tak pernah ia lakukan.
Sepuluh menit sebelum waktu yang ditentukan, Kukuh buru-buru mengembalikan ember keruhnya. Ia mencuci tangan berulang kali, berusaha membuat tangannya yang kasar terlihat pantas . Saat satpam lobi menempelkan kartu akses lift VIP dengan tatapan meremehkan, Kukuh hanya bisa menelan ludah .
Ting. Pintu lift terbuka.
Ruangan Adiwangsa menyambutnya dengan suhu pendingin yang terlalu dingin. Kukuh melangkah masuk dengan canggung, menunduk dalam-dalam. Berdiri di atas karpet Persia seharga miliaran rupiah dengan sepatu bot karetnya yang kusam membuatnya merasa seperti kuman.
"Duduklah," perintah Adiwangsa dingin. Wajah direktur itu tampak seperti seseorang yang menahan mual, tapi dipaksakan untuk terlihat profesional.
Kukuh duduk di tepi kursi kulit, punggungnya tegang. "Ada... yang bisa saya bantu, Tuan?".
Adiwangsa tidak repot-repot berbasa-basi. Tangan pria itu meraih amplop cokelat lusuh tadi dan menggesernya pelan ke hadapan Kukuh.
Mata Kukuh langsung membelalak. Ia mengenali tulisan miring berantakan itu. Itu tulisan tangan Bapaknya! Seseorang yang baru belajar memegang pulpen di usia tua.
Dengan tangan bergetar hebat, Kukuh membuka sobekan kertas dari buku tulis bergaris di dalamnya.
"Kuh, Bapak sakit. Sudah dua bulan. Dokter puskesmas bilang harus dirujuk ke rumah sakit kota, tapi Bapak tidak ada biaya. Kamu jangan khawatir, Bapak baik-baik saja. Tapi kalau kamu punya rezeki lebih dan bisa pulang..." .
"Ayahmu sakit?"
Suara Adiwangsa memecah keheningan. Kukuh mendongak cepat. Adiwangsa menatapnya lekat, bukan dengan tatapan iba, melainkan sorot mata predator yang siap menerkam .
"Aku bisa menanggung semua biaya rumah sakitnya. Semuanya. Kelas VVIP," lanjut Adiwangsa tenang. "Tapi ada syaratnya.".
Jantung Kukuh berdebar tak karuan. "Syarat... apa, Tuan?".
Adiwangsa memandang rendah pemuda di depannya. "Kamu harus menikahi Ratih. Putriku.".
Dunia Kukuh seakan ditarik dari pijakannya. Menikah? Dengan Ratih Puspa Aji Saka?! Wajah perempuan berkulit porselen dengan mata kelabu dingin yang selalu melewatinya di koridor tanpa pernah sudi menatapnya sekilas pun, mendadak terbayang di kepalanya .
"Tuan..." Suara Kukuh keluar bergetar, akal sehatnya menolak percaya. "Tuan pasti bercanda. Tidak mungkin OB seperti saya..." .
"Ya! Memang tidak masuk akal!" sela Adiwangsa cepat, emosinya sedikit bocor. Ia bangkit dan berjalan memunggungi Kukuh. Terlalu jijik melihat wajah bingung pemuda miskin itu.
"Aku terpaksa. Ini mutlak wasiat almarhum mertuaku. Jika kamu setuju, pernikahan ini akan dilangsungkan sangat tertutup. Tidak ada yang boleh tahu.".
Adiwangsa berbalik perlahan. Ia menggeser sebuah map tebal berisi kontrak ke dekat amplop cokelat milik ayah Kukuh yang terbuka . Sebuah jebakan sempurna.
"Pilihannya ada di tanganmu," desak Adiwangsa pelan namun mengancam. Matanya melirik ke arah surat Bapak Kasiman yang tergeletak mengenaskan. "Tapi sebelum kita bicara syarat... aku butuh jawabanmu sekarang. Kamu mau nyawa ayahmu selamat, atau tidak?".
"Mas, ayo duduk sini."Salah satu warga melambaikan tangan dari lingkaran. Pria paruh baya. Kaos lurik. Mulutnya masih penuh nasi. Senyumnya lebar. Ramah. Seperti mengundang tetangga ke acara hajatan biasa.Kukuh belum sempat menjawab. Karena dari belakang mereka, delapan tangan mencengkeram bahu mereka secara bersamaan. Delapan orang berpakaian hitam. Wajah tertutup kain. Tidak bicara. Hanya mendorong. Memaksa. Menyuruh duduk."Mas, duduk," bisik salah satu dari mereka di telinga Kukuh. Suaranya datar. Kosong. Tanpa emosi. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini sehingga tidak perlu lagi merasa apa-apa.Farhan memberontak. Bahunya ditarik ke belakang. Tangannya mencoba meraih lengan orang berpakaian hitam itu. "Kuh.....""Ikut," potong Kukuh. Suaranya rendah. Tegas. Tidak ada ruang untuk dibantah. Matanya menatap Farhan. Lalu Bella. Lalu Bangkit. "Kita duduk. Kita lihat. Kita nggak bisa melawan satu desa kalau ini jadi buruk."Farhan menelan ludah. Rahangnya mengera
"Kita harus bawa Sari keluar malam ini," ucap Kukuh sambil mengikat tali sepatunya. Gerakannya cepat. Tidak ada waktu yang terbuang."Kuh, ini udah jam enam sore," sahut Farhan dari tempat tidurnya. Tangannya masih memegang setengah potong roti yang sudah dingin. "Kita mau ke mana? Ke rumah neneknya?""Ke rumah neneknya. Kita jemput Sari. Kita bawa ke perbatasan. Kita—"Kukuh berhenti. Kepalanya menoleh ke arah jendela. Ke arah suara yang baru saja terdengar.Gamelan.Mengalun dari arah balai desa. Pelan. Dalam. Seperti air yang mengalir dari tempat yang sangat jauh. Dan di antara alunan gamelan itu, tawa warga bercampur dengan denting piring dan gelas."Itu suara apa?" tanya Bella dari meja sudut. Pulpen di tangannya berhenti bergerak. Kepalanya miring ke arah jendela."Gamelan," jawab Bangkit dari sudut kamar. Kamera sudah terangkat. Lensa terarah ke jendela. "Dari balai desa."Kukuh berdiri. Berjalan ke jendela. Menatap keluar.Lampu minyak menyala di sepanjang jalan utama desa. Be
"Umur saya udah lewat batas. Mereka bilang wadah harus di bawah dua puluh lima tahun. Dan saya udah dua puluh tujuh waktu itu," jelas nenek itu sambil menurunkan tangannya. Meletakkannya kembali di pangkuan. Jari-jarinya masih menyentuh bekas luka itu. "Jadi mereka berhenti. Dan mereka mengembalikan saya."Nenek itu menyentuh kain hitam yang menutupi mata kirinya. Jari-jarinya berhenti di tepi kain itu. Tidak menariknya. Hanya menyentuhnya. Seperti menyentuh sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirinya selama dua puluh tahun."Mereka mengembalikan saya dengan satu mata," ucap nenek itu. Suaranya tidak bergetar. Tidak pecah. Tidak menangis. Hanya datar. Kosong. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menangis sehingga air matanya sudah habis dan yang tersisa hanya kata-kata.Kukuh mengepalkan tangannya lebih keras. Buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Tapi wajahnya tetap tenang. Karena ia tahu bahwa menunjukkan amarah sekarang tidak akan membantu nenek ini. Tidak akan men
"Nek," panggil Kukuh dari pagar. Suaranya pelan. Tidak mau mengagetkan.Nenek itu tidak menoleh. Tidak bergerak. Hanya bibirnya yang bergerak."Masuk, Mas. Pintu nggak dikunci," sahut nenek itu tanpa mengalihkan tatapannya dari hutan. Suaranya kering. Seperti daun yang digesek angin.Kukuh mendorong pintu pagar. Berjalan melewati halaman kecil yang ditumbuhi kunyit dan jahe. Naik ke teras. Dan berdiri di depan nenek itu."Nek, saya Kukuh. Dokter magang di Puskesdes," ucap Kukuh sambil menarik kursi plastik dari sudut teras. Duduk. Jaraknya satu meter dari nenek itu."Iya. Aku tahu," balas nenek itu tanpa menatap Kukuh. Kepalanya sedikit bergerak. Seperti ranting kering yang tersenggol angin. "Kau yang kemarin ngomong sama Sari di pasar. Aku denger dari Mbak Sumi. Mbak Sumi denger dari Pak Darmo. Pak Darmo denger dari istrinya. Di desa ini, kabar jalan lebih cepet dari kaki."Kukuh tersenyum. Kecil. Tidak memaksakan percakapan. Hanya menunggu. Karena ia tahu bahwa ada beberapa orang ya
"Jamu kunyit asamnya berapa, Mbak?"Sari Wulan mengangkat wajahnya dari tumbukan jamu. Menatap pembeli yang baru saja bertanya. Pria paruh baya. Kaos lurik. Tangan kasar."Lima ribu, Pak.""Boleh tiga?""Boleh."Sari Wulan mengambil tiga botol jamu dari rak. Menyerahkannya pada pria itu. Menerima uang. Mengangguk. Dan kembali menumbuk kunyit di lesung batu. Pelan. Berirama. Seperti sesuatu yang sudah ia lakukan setiap hari selama dua puluh satu tahun.Kukuh berdiri di depan lapak itu. Tidak langsung bicara. Hanya berdiri. Menatap.Sari Wulan tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu yang mengerikan. Tidak ada lingkaran hitam di bawah matanya. Tidak ada gemetar di tangannya. Tidak ada kegelisahan di cara ia duduk atau berdiri atau menumbuk kunyit.Hanya ketenangan.Ketenangan yang berbeda. Bukan ketenangan seseorang yang tidak tahu. Bukan ketenangan seseorang yang tidak peduli. Ketenangan seseorang yang sudah tahu dan sudah memutuskan untuk tidak melawan."Mas dokte
"Kuh, kau lihat ini."Bella berdiri di depan lemari arsip Puskesdes. Pintu lemari terbuka. Tangannya memegang sebuah buku besar. Sampulnya sudah pudar. Jilidnya sudah longgar. Seperti buku yang sudah terlalu sering dibuka dan ditutup oleh terlalu banyak tangan selama terlalu banyak tahun.Kukuh berjalan mendekat. "Apa?""Buku catatan kelahiran." Bella menggeser buku itu ke meja. Membuka halaman pertama. "Aku lagi nyari data pasien lama. Dan aku nemu ini di rak paling belakang. Di belakang buku register yang kosong."Kukuh menatap buku itu. Menatap halaman yang terbuka. Dan mengernyit.Catatan kelahiran. Normal. Nama bayi. Tanggal lahir. Jenis kelamin. Berat badan. Nama ibu. Nama ayah. Semua standar. Semua biasa.Tapi ada satu kolom tambahan.Kolom yang tidak ada di catatan kelahiran mana pun yang pernah Kukuh lihat. Kolom yang tidak ada di buku kedokteran mana pun. Kolom yang tidak seharusnya ada di fasilitas kesehatan modern.Neptu."Apa itu?" tanya Kukuh. Meskipun ia sudah tahu. Mes
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura
Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka
Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha







