Masuk"Bagaimana keputusanmu?"
Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.
Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya berperang hebat. Di satu sisi, membayang wajah angkuh Ratih yang tak pernah sudi menatapnya. Di sisi lain, selembar surat lusuh dari bapaknya meremas dadanya dengan keras.
Bapaknya tidak pernah mengeluh. Surat berantakan ini adalah tanda bahwa pria tua itu sudah benar-benar kehabisan jalan.
"Saya mau, Tuan."
Persetujuan itu akhirnya lolos dari bibir Kukuh .
Adiwangsa mengangguk tipis. Dalam hatinya, ia bersorak lega, namun wajahnya tetap dijaga sedatar mungkin. Dasar orang miskin, disodori biaya pengobatan saja langsung menurut bak anjing peliharaan, batin Adiwangsa meremehkan.
"Besok. Jam sembilan pagi di ruang rapat lantai empat puluh tujuh," perintah Adiwangsa mutlak. "Jangan terlambat. Ada dokumen yang harus kamu pelajari sebelum sandiwara ini dimulai."
Malam itu, Jakarta diguyur hujan lebat. Kukuh duduk memeluk lutut di atas kasur tipis dalam kamar kontrakan kumuhnya . Temboknya berjamur dan atapnya bocor. Di tengah suara deru knalpot motor dan televisi tetangga, mata Kukuh menolak terpejam . Ia sadar, besok pagi, ia akan menjual masa mudanya entah dengan harga berapa.
Keesokan paginya, ruang rapat lantai empat puluh tujuh terasa jauh lebih mengintimidasi. Adiwangsa duduk angkuh di ujung meja. Di sebelahnya, Bambang sang pengacara sudah menyiapkan setumpuk dokumen. Sementara Kukuh duduk kaku di kursi paling ujung, bersiaga layaknya tawanan .
"Saya akan bacakan aturan utamanya. Dengar baik-baik," kata Bambang tanpa basa-basi, suaranya monoton.
"Pertama. Selama pernikahan, kamu akan tinggal di rumah utama keluarga Aji Saka. Tapi ingat, kamu tetaplah pembantu. Kamu tetap bekerja sebagai cleaning service di rumah itu. Tugas dan seragammu tidak berubah.".
Kukuh menelan ludah. Tetap jadi pembantu. Bedanya, sekarang aku jadi babu di rumah istriku sendiri..
"Kedua," lanjut Bambang, menatap Kukuh tajam. "Kamu dan Nona Ratih tidak akan tidur sekamar. Tidak ada hubungan layaknya suami istri. Dilarang keras menyentuh Nona Ratih dalam bentuk apa pun!" .
Kukuh mengangguk pelan. Mulutnya terasa kering.
"Ketiga. Pernikahan ini rahasia mutlak. Di lingkungan kantor atau di depan tamu rumah, kamu tidak akan pernah diakui sebagai suami.".
Bambang menggantung kalimatnya sejenak. Sorot mata pengacara itu mendadak berubah sedikit gelap.
"Keempat. Dan ini yang paling penting... Kamu dilarang keras ikut campur, bertanya, atau menyelidiki hal-hal aneh di dalam rumah Aji Saka." Bambang mengetuk meja dengan jarinya. "Entah itu suara aneh, bau aneh, atau ritual gaib apa pun. Tutup mata dan telingamu. Risiko kamu tanggung sendiri." .
Udara di ruang rapat itu mendadak terasa beku. Kukuh melirik Adiwangsa, mencari tahu apakah pengacara ini sedang bercanda menakut-nakutinya. Tapi wajah Adiwangsa keras seperti batu.
"Tanda tangan di halaman terakhir," ucap Bambang, menyodorkan pena mahal. "Begitu namamu ada di sana, ayahmu akan langsung dipindahkan ke rumah sakit terbaik hari ini juga." .
Pena hitam itu terasa sangat berat di tangan Kukuh. Tanpa nama belakang yang hebat, tanpa gelar sarjana, nama 'Kukuh' terlihat sangat menyedihkan di atas kertas bernilai triliunan rupiah itu .
Dengan napas tertahan, Kukuh menggoreskan namanya. Ia tidak sadar bahwa ia baru saja menyerahkan jiwanya ke dalam rumah yang penuh dengan monster berwujud manusia .
Untuk pembaca saya, update akan OFF hingga tanggal 17 dan akan di update lagi di tanggal 18 Terimakasih.
Jumat pagi menjelang akhir pekan, kediaman utama Keluarga Cokro sudah sibuk sejak matahari baru saja terbit. Arisan Keluarga Besar yang diadakan setiap dua tahun sekali ini bukanlah sekadar ajang silaturahmi, melainkan medan pamer kekayaan dan unjuk gigi bagi seluruh cabang silsilah keluarga konglomerat tersebut.Berbagai mobil mewah mulai berbaris memasuki pelataran rumah. Para kerabat jauh, paman, bibi, hingga sepupu-sepupu Ratih yang menetap di luar kota mulai berdatangan untuk menginap.Kukuh, yang menyadari posisinya di mata keluarga besar, memilih mengenakan kemeja rapi yang sederhana. Ia berdiri di dekat pilar garasi bersama Pak Supri, membantu mengarahkan barang bawaan para tamu agar tidak menghalangi jalan.Tak lama kemudian, sebuah sportscar Eropa berwarna merah menyala dengan suara mesin yang memekakkan telinga memasuki pelataran. Pintu mobil terbuka ke atas. Dari kursi penumpang, turunlah Clarissa sepupu Ratih dari cabang keluarga kedua yang terkenal paling suka mencari pe
Malam harinya, setelah hiruk-pikuk aktivitas siang yang melelahkan, Kukuh menepati janjinya kepada Pak Supri. Berbekal pakaian kasualnya yang sederhana, Kukuh menemani sopir paruh baya itu menyusuri keramaian Pasar Loak.Lampu-lampu bohlam kuning yang temaram menerangi deretan lapak yang digelar di atas terpal plastik. Udara malam dipenuhi oleh aroma debu, karat, dan suara musik dangdut dari radio usang para pedagang. Pak Supri tampak sangat antusias, matanya berbinar-binar saat ia berjongkok di salah satu lapak untuk menawar sebuah radio kayu antik peninggalan era 80-an."Kuh, kamu lihat-lihat saja dulu di sekitar sini. Bapak mau adu tawar sama pedagang ini, kayaknya radionya masih bisa bunyi!" seru Pak Supri tanpa menoleh, terlalu fokus pada barang buruannya."Siap, Pak. Saya muter di dekat-dekat sini saja," balas Kukuh santai.Kukuh melangkah pelan meninggalkan Pak Supri. Tangannya masuk ke dalam saku jaket. Di tengah tumpukan barang rongsokan dan barang antik palsu yang membanjiri
"Cokro sialaaann...!" umpat Aryo dengan suara parau. Tinjunya menghantam lantai karpet dengan keras, tidak memedulikan sisa darah di sudut bibirnya. "Dari mana dapatnya dia pelindung sehebat itu?! Bahkan seluruh harta kekayaan Keluarga Cokro tidak akan pernah cukup untuk menyewa dan menundukkan orang semacam ini!"Ratna yang masih berdiri gemetar di dekat meja kerjanya menautkan alis. Wajah cantiknya memancarkan kebingungan yang amat sangat."Maksudnya gimana, Pak Aryo?" tanya Ratna ragu-ragu. Selama ini, ia mengira urusan gaib hanya sekadar tentang membayar dukun mahal untuk menyingkirkan saingan bisnis. Ia tidak paham seberapa dalam jurang yang sedang mereka tatap saat ini.Aryo menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang masih terasa perih akibat organ dalamnya yang sempat bergejolak. Ia menatap Ratna dengan pandangan yang sangat kelam."Nona Ratna, dengarkan saya baik-baik," ucap Aryo dengan nada berat dan serius. "Keluarga Ratih ternyata sudah memiliki tameng pelindung paling m
Sementara itu, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk pusat perbelanjaan tempat Ratih berada, suasana di dalam ruang kerja pribadi kediaman Ratna mendadak berubah menjadi mencekam.Di dalam ruangan yang tertutup rapat itu, Aryo Lembu Sasmita sedang duduk bersila di atas karpet Persia, mencoba mempertahankan koneksi gaib dari sisa teluh yang ia tanamkan pada serpihan kaca lampu studio. Namun, tepat pada detik ketika Kukuh mengusap luka di lengan Ratih dan menghancurkan energi kotor tersebut, sebuah benturan tenaga tak kasatmata melesat menembus jarak dan ruang.Benturan itu tidak bisa dihindari maupun ditangkis.“Huweekkk...! Huweekkkkk...!”Mata Aryo mendadak terbelalak lebar. Tubuh pria paruh baya itu terlempar ke depan, jatuh berlutut dengan keras. Dari mulutnya, menyembur darah kental berwarna merah kehitaman yang berbau sangat busuk campuran antara anyir darah dan aroma kembang kamboja yang layu. Darah itu menodai karpet mahal di bawahnya.Walaupun serangan jarak jauhnya kepada Rati
"Mas, Mas, minggir, Mas! Biarkan kami lewat!" ucap salah satu petugas medis dengan nada panik dan terburu-buru. Ia setengah mendorong bahu Kukuh agar menjauh dari Ratih.Tanpa perlawanan, Kukuh melangkah mundur dengan mulus. Begitu petugas medis itu berlutut di depan Ratih, Kukuh sudah memanfaatkan kekacauan kru dan penonton untuk bergeser perlahan. Bagaikan bayangan yang menyatu dengan kegelapan, ia kembali membaur dengan kerumunan orang-orang di pinggir area syuting, berdiri diam mengamati dari jarak aman.Petugas medis itu seorang pria muda yang tampaknya berasal dari unit gawat darurat RS Lohitajaya langsung membuka kotak P3K-nya dengan cepat. Tangannya sudah siap dengan perban, alkohol, dan obat antiseptik."Maaf, Nona. Biar saya bersihkan lukanya. Tahan sedikit ya," ucap petugas itu sambil meraih lengan kiri Ratih yang masih berlumuran noda darah.Namun, begitu ia menyeka darah tersebut dengan kasa steril, pergerakan tangannya mendadak terhenti. Matanya melebar, menatap lekat-le
Dua jam telah berlalu sejak Long SUV hitam itu melintasi batas dua dunia yang hanya disadari oleh Kukuh. Perjalanan terasa seperti terjebak dalam lorong waktu yang melingkar tanpa henti. Di luar kaca jendela, pemandangan sama sekali tidak berubah; hanya ada deretan batang pohon raksasa yang berkele
Setelah merayap pelan meninggalkan titik pertemuan dengan pria misterius berjaket kulit tadi, ketegangan di dalam mobil sedikit mereda meski rasa waspada tetap menggantung di udara. Sekitar lima ratus meter kemudian, sorot lampu kota dari Long SUV hitam itu menabrak sebuah pemandangan yang menandak
Ketegangan yang menyelimuti taman belakang itu belum sepenuhnya reda ketika suara hak sandal perlahan berketuk di lantai teras marmer.Ratih baru saja berjalan melewati pintu kaca pembatas taman. Ia mengenakan gaun tidur sutra selutut yang membalut sempurna tubuhnya yang terbentuk bak gitar Spanyol
Adiwangsa tersentak dari kursinya hingga cangkir keramik di atas meja beradu nyaring dengan kaca. Ia melompat, mengabaikan toples pelet yang terguling dan isinya berhamburan ke lantai marmer. Langkahnya serabutan, berusaha memblokir jalan Kukuh dengan tubuhnya yang mulai gemetar."Jangan pergi, Kuh







