Share

Bab 3

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-08 22:58:12

"Bagaimana keputusanmu?"

Suara Adiwangsa memecah keheningan ruang direktur yang dingin . Di matanya, pemuda berseragam biru muda di depannya ini tak lebih dari seekor semut yang kebetulan sedang ia butuhkan.

Kukuh menunduk menatap pantulan wajahnya sendiri di meja kayu yang mengilap. Pikirannya berperang hebat. Di satu sisi, membayang wajah angkuh Ratih yang tak pernah sudi menatapnya. Di sisi lain, selembar surat lusuh dari bapaknya meremas dadanya dengan keras.

Bapaknya tidak pernah mengeluh. Surat berantakan ini adalah tanda bahwa pria tua itu sudah benar-benar kehabisan jalan.

"Saya mau, Tuan."

Persetujuan itu akhirnya lolos dari bibir Kukuh .

Adiwangsa mengangguk tipis. Dalam hatinya, ia bersorak lega, namun wajahnya tetap dijaga sedatar mungkin. Dasar orang miskin, disodori biaya pengobatan saja langsung menurut bak anjing peliharaan, batin Adiwangsa meremehkan.

"Besok. Jam sembilan pagi di ruang rapat lantai empat puluh tujuh," perintah Adiwangsa mutlak. "Jangan terlambat. Ada dokumen yang harus kamu pelajari sebelum sandiwara ini dimulai."

Malam itu, Jakarta diguyur hujan lebat. Kukuh duduk memeluk lutut di atas kasur tipis dalam kamar kontrakan kumuhnya . Temboknya berjamur dan atapnya bocor. Di tengah suara deru knalpot motor dan televisi tetangga, mata Kukuh menolak terpejam . Ia sadar, besok pagi, ia akan menjual masa mudanya entah dengan harga berapa.

Keesokan paginya, ruang rapat lantai empat puluh tujuh terasa jauh lebih mengintimidasi. Adiwangsa duduk angkuh di ujung meja. Di sebelahnya, Bambang sang pengacara sudah menyiapkan setumpuk dokumen. Sementara Kukuh duduk kaku di kursi paling ujung, bersiaga layaknya tawanan .

"Saya akan bacakan aturan utamanya. Dengar baik-baik," kata Bambang tanpa basa-basi, suaranya monoton.

"Pertama. Selama pernikahan, kamu akan tinggal di rumah utama keluarga Aji Saka. Tapi ingat, kamu tetaplah pembantu. Kamu tetap bekerja sebagai cleaning service di rumah itu. Tugas dan seragammu tidak berubah.".

Kukuh menelan ludah. Tetap jadi pembantu. Bedanya, sekarang aku jadi babu di rumah istriku sendiri..

"Kedua," lanjut Bambang, menatap Kukuh tajam. "Kamu dan Nona Ratih tidak akan tidur sekamar. Tidak ada hubungan layaknya suami istri. Dilarang keras menyentuh Nona Ratih dalam bentuk apa pun!" .

Kukuh mengangguk pelan. Mulutnya terasa kering.

"Ketiga. Pernikahan ini rahasia mutlak. Di lingkungan kantor atau di depan tamu rumah, kamu tidak akan pernah diakui sebagai suami.".

Bambang menggantung kalimatnya sejenak. Sorot mata pengacara itu mendadak berubah sedikit gelap.

"Keempat. Dan ini yang paling penting... Kamu dilarang keras ikut campur, bertanya, atau menyelidiki hal-hal aneh di dalam rumah Aji Saka." Bambang mengetuk meja dengan jarinya. "Entah itu suara aneh, bau aneh, atau ritual gaib apa pun. Tutup mata dan telingamu. Risiko kamu tanggung sendiri." .

Udara di ruang rapat itu mendadak terasa beku. Kukuh melirik Adiwangsa, mencari tahu apakah pengacara ini sedang bercanda menakut-nakutinya. Tapi wajah Adiwangsa keras seperti batu.

"Tanda tangan di halaman terakhir," ucap Bambang, menyodorkan pena mahal. "Begitu namamu ada di sana, ayahmu akan langsung dipindahkan ke rumah sakit terbaik hari ini juga." .

Pena hitam itu terasa sangat berat di tangan Kukuh. Tanpa nama belakang yang hebat, tanpa gelar sarjana, nama 'Kukuh' terlihat sangat menyedihkan di atas kertas bernilai triliunan rupiah itu .

Dengan napas tertahan, Kukuh menggoreskan namanya. Ia tidak sadar bahwa ia baru saja menyerahkan jiwanya ke dalam rumah yang penuh dengan monster berwujud manusia .

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 134

    Mendapat cemoohan dari Widya dan Sadewa, Kukuh sama sekali tidak terpancing emosi. Wajahnya tetap tenang, menganggap obrolan ini tak lebih dari sekadar angin lalu."Tapi kan walaupun harganya tidak seberapa, yang penting fungsinya cocok dan bisa menambah kecantikan Ratih," balas Kukuh dengan nada yang sangat rasional. "Barang yang bagus tidak selalu harus diukur dari deretan angka nol di label harganya."Widya memutar bola matanya malas, menghela napas panjang seakan sedang berbicara dengan anak kecil yang tidak mengerti dunia nyata."Ya, mau gimana lagi. Memang sulit bicara dengan orang dari kelas kayak kamu, Kuh," balas Widya dengan nada merendahkan yang tak lagi ditutup-tutupi. "Kan kalau kamu belikan Ratih perhiasan yang lumayan harganya, itu bisa menambah value Ratih di mata orang lain selain mengandalkan kecantikannya saja. Dan lagi, Ratih jadi terhindar dari ejekan teman-teman sosialita kalau dia menggunakan perhiasan mewah. Di lingkungan kami, penampilan adalah segalanya."Kuk

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 133

    Mendengar estimasi harga yang diucapkan Robert, Ratih sama sekali tidak bergeming. Wajah cantiknya tetap tenang, seolah angka tujuh ratus miliar itu hanyalah nominal biasa baginya."Saya rasa, kalung ini tidak akan pernah saya jual, Pak Robert," ucap Ratih dengan senyum simpul yang sopan namun final."Saya sangat memahami keputusan Nona. Pusaka sejati memang selayaknya dijaga, bukan diperjualbelikan," balas Robert penuh pengertian. Pria paruh baya itu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama eksklusif berwarna emas hitam."Namun, jika Nona berkenan, ini adalah kartu nama pribadi saya," ucap Robert seraya menyerahkan kartu itu dengan kedua tangannya langsung kepada Ratih, benar-benar mengabaikan eksistensi Widya dan Sadewa yang masih berdiri mematung layaknya patung bernapas di sebelahnya. "Mungkin di lain waktu Nona berubah pikiran, atau Nona membutuhkan jasa kurasi untuk koleksi pribadi Nona yang lain, silakan langsung menghubungi saya kapan pun."Ratih menerima kart

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 132

    (Sepertinya pria ini benar-benar tahu seberapa berharganya benda ini. Pantas saja dia bisa menduduki posisi sebagai ketua appraiser di pameran bertaraf internasional ini,) batin Ratih. Ia memandangi Robert dengan tatapan menilai, mengakui kejelian mata pria paruh baya tersebut."Bolehkah, Nona? Saya mohon, izinkan saya melihatnya walau hanya sebentar saja," pinta Robert dengan nada yang lebih mendesak. Ia bahkan mengabaikan keberadaan cincin berlian kuning yang masih terpasang di jari manis Ratih."Baiklah," ucap Ratih santai. Dengan gerakan anggun, ia mengulurkan tangan kirinya agar pria itu bisa melihat lilitan logam putih tersebut lebih jelas.Robert sedikit mencondongkan tubuhnya. Begitu matanya menangkap detail ukiran mikroskopis dan pendaran aura magis yang memancar dari kalung emas putih itu, matanya langsung terbelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka, dan napasnya tertahan."Begitu sempurna... Indah sekali..." gumam Robert pelan, nyaris seperti orang yang sedang terhipnotis. "

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 131

    Mendengar sindiran tajam dari Widya dan Sadewa, ekspresi Ratih sama sekali tidak berubah. Gadis bermata abu-abu itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman elegan yang justru membuat ejekan mereka terasa tak berarti."Aku bisa beli sendiri kok, Wid," balas Ratih dengan nada tenang yang mematikan. "Lagipula, aku juga sudah diberikan kalung yang jauh lebih berharga daripada kebanyakan perhiasan yang ada di pameran ini."Sambil berkata demikian, Ratih mengangkat sedikit lengan kirinya. Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah kalung emas putih berdesain kuno yang sengaja ia lilitkan agar berfungsi sebagai gelang. Itu adalah pusaka pelindung dari Eyang Bayu Manik Waja yang diberikan oleh Kukuh kepadanya beberapa waktu lalu.Sadewa memicingkan matanya, menatap lilitan logam putih di tangan Ratih dengan kening berkerut. Setelah mengamatinya selama beberapa detik, tawa meremehkan lolos dari bibir pria itu."Itu... kok kayak kalung mainan ya, Tih?" cibir Sadewa tanpa basa-basi, matanya meman

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 130

    "Ayuk, Tih, kita lihat pameran kalung di sebelah sana," ajak Widya dengan antusias, tangannya menunjuk ke arah deretan etalase bercahaya di bagian tengah aula."Boleh, ayuk, Wid. Siapa tahu ada yang bagus dan cocok," balas Ratih.Sebelum melangkah pergi, Ratih menoleh ke arah Kukuh yang masih berdiri santai mengamati sekeliling. "Kuh, aku mau lihat-lihat di sebelah sana dulu, ya. Kamu terserah mau lihat-lihat di mana pun, keliling saja dulu.""Oke, siap," balas Kukuh dengan senyum simpul. Ia memang lebih suka berkeliling sendiri mencari barang antik atau batuan yang memancarkan aura khusus, daripada harus terjebak di tengah obrolan sosialita. Kukuh pun melangkah ke arah deretan jam tangan dan pusaka, berpisah arah dengan Ratih.Akhirnya, Ratih, Widya, dan Sadewa berjalan menuju area pameran perhiasan kalung high-end."Ehhh, Tih! Ini bagus banget kalungnya!" seru Widya begitu matanya tertuju pada sebuah manekin berlapis beludru hitam. "Lihat deh, liontinnya pakai sapphire warna biru be

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 129

    Setelah membelah kemacetan Jakarta yang terik selama satu setengah jam, mobil MPV mewah yang dikemudikan Pak Supri akhirnya perlahan memperlambat lajunya. Mobil itu memasuki jalur khusus dan berhenti tepat di depan lobi mewah yang menjadi pintu masuk VIP pameran perhiasan mewah di JIExpo Kemayoran."Sudah sampai, Non," ucap Pak Supri seraya memutar kemudi dan menghentikan mobil dengan halus.Ratih membetulkan posisi tas tangannya, lalu menoleh ke arah Kukuh yang duduk di depan. "Ayo, Kuh, turun. Nanti di dalam aku mau lihat-lihat sendiri dulu. Kamu nggak perlu terus-terusan mengikutiku, nggak apa-apa. Kamu juga bisa bebas melihat-lihat perhiasan yang dipamerkan di sana.""Oke, Tih," jawab Kukuh santai.Mereka berdua melangkah turun dari mobil, meninggalkan Pak Supri yang langsung memarkirkan kendaraan. Kukuh berjalan di samping Ratih, penampilannya yang hanya mengenakan kemeja hitam polos dan celana chinos krem terlihat sangat kasual dan kontras di antara para tamu VIP lain yang datan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status