Share

OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat
OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat
Author: Millanova

Bab 1

Author: Millanova
last update publish date: 2026-04-08 22:57:34

"Ini kegilaan."

Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik-detik terakhir sebelum mati!".

Di seberang meja, Bambang sang pengacara senior keluarga hanya bergeming. Wajahnya sedatar beton, sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan nyonya besar itu.

"Menikahkan Ratih..." Dian menggumamkan nama putri semata wayangnya dengan rahang mengeras. Dalam hatinya, rasa jijik bergejolak hebat. Bagaimana mungkin putrinya yang mengalir darah bangsawan Rajah Wangi murni harus disandingkan dengan sampah? "Dengan OB itu?! Seorang cleaning service rendahan yang bahkan statusnya masih bergelung di sel penahanan kantor kita sendiri?!".

Di sudut ruangan, Adiwangsa duduk kaku. Sebagai menantu yang selama dua dekade selalu piawai menjilat dan membaca arah angin di keluarga ini, kini ia tersudut oleh badai yang tak ia lihat kedatangannya . Keringat dingin merembes di kerahnya. Jika pernikahan ini terjadi, statusnya di mata sosial akan hancur lebur.

Jauh dari ketegangan menjijikkan itu, Ratih mematung menghadap jendela, membelakangi keluarganya. Tatapannya sedingin es, lurus menembus kaca, mengunci hamparan taman yang dipangkas rapi. Dalam diamnya, pikiran Ratih berputar cepat bak superkomputer. Ia belum beringsut sesentimeter pun sejak Bambang selesai membacakan wasiat sinting tersebut.

"Namanya Kukuh," kata Bambang akhirnya memecah senyap, membalik satu halaman dokumen wasiat dengan tenang. "Delapan belas tahun. Berasal dari sebuah desa miskin di Jawa Tengah. Terdaftar sebagai cleaning service di kantor pusat sejak empat belas bulan lalu.".

"Aku tahu persis siapa kecoa itu!" potong Dian tajam, matanya menyala. "Semua orang tahu. Dia bocah yang selamat dari insiden penembakan di lift setahun lalu!".

"Benar," jawab Bambang.

"Yang keluar hidup-hidup padahal tertembak tembus!".

"Benar.".

"Dan yang kemudian dijebloskan ke kerja paksa oleh tim keamanan kita sendiri karena dicurigai sebagai mata-mata!" Dian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan napas memburu . Ia menatap Bambang seakan ingin menelan pria itu hidup-hidup. "Lalu sekarang... Ayah ingin menjadikannya menantu di keluarga Aji Saka?!".

Bambang membenarkan letak kacamatanya dengan gerakan mekanis. "Mendiang Tuan Cokro secara spesifik menyebut ini sebagai hutang nyawa yang harus dibayar lunas.".

"Hutang nyawa..." Dian tertawa hambar. Suaranya memancarkan keterkejutan seorang pemain catur yang baru sadar papannya telah ditendang terbalik. "Jadi selama setahun ini Ayah diam saja, membiarkan OB itu jadi tahanan, lalu melempar bom ini tepat setelah dia masuk liang lahat?!".

Adiwangsa berdeham, tak tahan lagi melihat kerajaan bisnisnya terancam. Ia mencondongkan tubuhnya. "Pasti ada celah hukum, Pak Bambang? Apa pun itu. Kita bisa menyogok hakim, memalsukan tanda tangan...".

Bambang menggeser halaman terakhir dokumen itu ke tengah meja. Tepat di bawah cahaya lampu kristal. "Jika pernikahan tidak dilangsungkan dalam waktu tiga puluh hari sejak hari ini, seluruh aset perusahaan, properti, dan saham pengendali mutlak jatuh ke tangan pemuda bernama Kukuh itu." .

Bambang menatap mata Adiwangsa dan Dian bergantian. "Dan jika pernikahan ini dipaksakan lalu berujung cerai dari pihak keluarga Aji Saka... konsekuensi yang sama berlaku.".

Adiwangsa memejamkan mata kuat-kuat, seolah baru saja ditampar. "Berapa total valuasinya?".

"Cukup untuk menghidupi tujuh keturunan Aji Saka tanpa perlu bekerja," jawab Bambang datar. "Dan cukup untuk meluluhlantakkan kalian dalam seminggu jika triliunan rupiah itu jatuh ke tangan yang salah.".

Ruangan itu mendadak senyap. Hening yang mematikan. Bahkan napas pun terasa berat ditarik. Menyerahkan seluruh kerajaan Aji Saka pada seorang OB? Itu lebih buruk daripada kiamat!

Ratih akhirnya berbalik.

Wajahnya yang mewarisi garis aristokrat keluarga ini tetap tenang, nyaris tak terbaca. Namun, di balik mata kelabunya yang angkuh, sebuah keputusan kejam baru saja dikunci. Menikah dengan anjing liar jauh lebih baik daripada kehilangan tahta, batin Ratih dingin.

"Lakukan," ucapnya memecah kesunyian.

Dian tersentak, seolah telinganya mengkhianatinya. "Ratih ".

"Lakukan wasiat itu." Ratih melangkah elegan mendekati meja, menarik dokumen yang sedari tadi dihindari keluarganya seolah itu barang bernajis. Matanya menyapu deretan klausa di sana. "Tapi aku punya syarat.".

"Pernikahan ini sangat privat. Tidak ada rilis publik, tidak ada resepsi, tidak ada satu pun dokumentasi." Ratih melempar dokumen itu kembali ke meja dengan jijik . "Di luar pagar rumah ini, statusku tetap lajang. Dan selama di dalam gedung perusahaan...".

Ia menjeda kalimatnya. Sorot matanya menajam, membayangkan pemuda rendahan itu harus sadar diri akan posisinya.

"Anak itu tetap bekerja seperti biasa. Pakai seragam birunya yang kumal, pakai kartu pegawainya, dan lapor ke atasannya. Satu-satunya yang berubah adalah status tahanannya dicabut hari ini juga.".

Dian baru saja membuka mulut untuk memprotes, tidak terima putrinya harus terikat dengan gembel.

"Ibu tidak punya opsi lain." Ratih memotong telak, suaranya final dan berkuasa. "Kita tidak punya pilihan. Jadi berhenti membuang waktu bersikap seolah kita punya.".

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 543

    Kukuh tidak bergerak. Matanya masih terkunci pada sosok kecil yang minum dari dada Sari. Pada cakar-cakar yang mencengkeram kemben robek. Pada perut yang masih menganga dan cairan hitam yang masih menetes ke tanah.Dan di kepalanya, satu pikiran berputar. Pelan. Berat. Tidak bisa dihentikan.Ritual ini bukan paksaan. Bukan penculikan. Bukan kejahatan yang dilakukan oleh segelintir orang terhadap satu korban. Ini kesepakatan. Dua ratus warga. Tujuh generasi. Empat belas nyawa yang sudah dibayar dan empat belas kali panen yang sudah dinikmati. Mereka tahu. Mereka memilih. Dan mereka akan melakukan ini lagi. Sepuluh tahun dari sekarang. Dan sepuluh tahun setelahnya.Kukuh menatap warga yang masih bersujud. Dahi mereka di tanah. Tangan terentang. Bibir bergerak mengucapkan doa yang sama. Dan di mata mereka yang terpejam, tidak ada penyesalan. Tidak ada keraguan. Hanya rasa syukur.Percuma. Kalau aku berdiri sekarang dan berteriak bahwa ini salah, bahwa empat belas wanita sudah mati untuk

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 542

    "Kita tunggu sampai mereka bubar. Sampai desa ini tidur. Dan baru kita....."KRAAAKKK.Suara itu memotong kalimat Kukuh di udara. Bukan suara gamelan. Bukan suara tawa. Bukan suara piring yang jatuh ke tanah.Suara daging yang robek.Dari perut Sari.Kemben batik bermotif gunung itu terbelah dari dalam. Bukan terbuka. Terbelah. Seperti kain yang tidak kuat lagi menahan sesuatu di baliknya. Dan dari celah robekan itu, cairan hitam mengalir. Kental. Lambat. Menetes ke tanah dengan bunyi yang seharusnya tidak terdengar tapi terdengar. Jelas. Di antara semua keheningan yang tiba-tiba menelan halaman balai desa.Dan dari balik robekan itu, tangan kecil muncul.Jari-jarinya kurus. Pucat. Terlalu panjang untuk tangan bayi. Dan di ujung setiap jari, cakar. Hitam. Tajam. Melengkung seperti sabit kecil. Cakar itu mencengkeram tepi robekan. Menarik. Meregangkan kulit yang sudah terlalu tipis untuk menahan apa pun.Bella muntah.Tidak menahan. Tidak memalingkan wajah. Tubuhnya membungkuk dan isi

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 541

    "Yo iki seng di enteni!" teriak salah satu warga dari lingkaran. Pria tua. Suaranya pecah oleh kegembiraan. Tangannya terangkat. Air matanya mengalir. "Subure lemah deso iki kanggo sepuluh tahun maneh!"Warga lain menyambut. Berseru. Bertepuk tangan. Memukul-mukul tanah dengan telapak tangan mereka. Seperti sedang berterima kasih pada tanah yang sudah terlalu lama memberi dan kini akhirnya meminta imbalan.Farhan menatap perut Sari yang membesar. Mulutnya terbuka. Tangannya mencengkeram tikar di bawahnya. Jari-jarinya menekan terlalu keras. "Kuh... itu... itu nggak mungkin...""Diam," potong Kukuh. Suaranya rendah. Tajam. Matanya tidak berkedip. Menatap perut Sari. Menatap kain kemben yang semakin menegang. Menatap sesuatu di balik kain itu yang bergerak dan menekan dan meregang.Dan kemudian kemben itu terbuka.Bukan ditarik. Bukan disobek. Terbuka sendiri. Kain itu terlepas dari tubuh Sari seperti kulit yang mengelupas dari buah yang terlalu matang. Dan di balik kain itu, perut Sari

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 540

    "Mas, ayo duduk sini."Salah satu warga melambaikan tangan dari lingkaran. Pria paruh baya. Kaos lurik. Mulutnya masih penuh nasi. Senyumnya lebar. Ramah. Seperti mengundang tetangga ke acara hajatan biasa.Kukuh belum sempat menjawab. Karena dari belakang mereka, delapan tangan mencengkeram bahu mereka secara bersamaan. Delapan orang berpakaian hitam. Wajah tertutup kain. Tidak bicara. Hanya mendorong. Memaksa. Menyuruh duduk."Mas, duduk," bisik salah satu dari mereka di telinga Kukuh. Suaranya datar. Kosong. Tanpa emosi. Seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan ini sehingga tidak perlu lagi merasa apa-apa.Farhan memberontak. Bahunya ditarik ke belakang. Tangannya mencoba meraih lengan orang berpakaian hitam itu. "Kuh.....""Ikut," potong Kukuh. Suaranya rendah. Tegas. Tidak ada ruang untuk dibantah. Matanya menatap Farhan. Lalu Bella. Lalu Bangkit. "Kita duduk. Kita lihat. Kita nggak bisa melawan satu desa kalau ini jadi buruk."Farhan menelan ludah. Rahangnya mengera

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 539

    "Kita harus bawa Sari keluar malam ini," ucap Kukuh sambil mengikat tali sepatunya. Gerakannya cepat. Tidak ada waktu yang terbuang."Kuh, ini udah jam enam sore," sahut Farhan dari tempat tidurnya. Tangannya masih memegang setengah potong roti yang sudah dingin. "Kita mau ke mana? Ke rumah neneknya?""Ke rumah neneknya. Kita jemput Sari. Kita bawa ke perbatasan. Kita—"Kukuh berhenti. Kepalanya menoleh ke arah jendela. Ke arah suara yang baru saja terdengar.Gamelan.Mengalun dari arah balai desa. Pelan. Dalam. Seperti air yang mengalir dari tempat yang sangat jauh. Dan di antara alunan gamelan itu, tawa warga bercampur dengan denting piring dan gelas."Itu suara apa?" tanya Bella dari meja sudut. Pulpen di tangannya berhenti bergerak. Kepalanya miring ke arah jendela."Gamelan," jawab Bangkit dari sudut kamar. Kamera sudah terangkat. Lensa terarah ke jendela. "Dari balai desa."Kukuh berdiri. Berjalan ke jendela. Menatap keluar.Lampu minyak menyala di sepanjang jalan utama desa. Be

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 538

    "Umur saya udah lewat batas. Mereka bilang wadah harus di bawah dua puluh lima tahun. Dan saya udah dua puluh tujuh waktu itu," jelas nenek itu sambil menurunkan tangannya. Meletakkannya kembali di pangkuan. Jari-jarinya masih menyentuh bekas luka itu. "Jadi mereka berhenti. Dan mereka mengembalikan saya."Nenek itu menyentuh kain hitam yang menutupi mata kirinya. Jari-jarinya berhenti di tepi kain itu. Tidak menariknya. Hanya menyentuhnya. Seperti menyentuh sesuatu yang sudah menjadi bagian dari dirinya selama dua puluh tahun."Mereka mengembalikan saya dengan satu mata," ucap nenek itu. Suaranya tidak bergetar. Tidak pecah. Tidak menangis. Hanya datar. Kosong. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama menangis sehingga air matanya sudah habis dan yang tersisa hanya kata-kata.Kukuh mengepalkan tangannya lebih keras. Buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras. Tapi wajahnya tetap tenang. Karena ia tahu bahwa menunjukkan amarah sekarang tidak akan membantu nenek ini. Tidak akan men

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 7

    Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 6

    Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 5

    Siang itu, dapur utama kediaman keluarga Aji Saka terasa seperti perut neraka. Uap tebal beradu dengan aroma bumbu yang ditumis dalam suhu tinggi, membuat hawa menjadi sangat lembap dan lengket di kulit.Di tengah kekacauan sibuk itu, Kukuh dipaksa bekerja bagaikan kuli kasar. Ia harus memanggul ka

  • OB - Sang Pewaris Rajah Terkuat   Bab 4

    Kres. Kres.Mata gunting rumput itu terus mengunyah dahan tanaman soka. Punggung Kukuh basah oleh keringat . Kontrak gila yang ia tandatangani kemarin kini menjadi kenyataan yang pahit. Di atas kertas triliunan rupiah itu ia adalah suami sang pewaris tahta, namun di atas rumput halaman ini, ia hany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status