LOGIN
"Ini kegilaan."
Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik-detik terakhir sebelum mati!".
Di seberang meja, Bambang sang pengacara senior keluarga hanya bergeming. Wajahnya sedatar beton, sama sekali tidak terpengaruh oleh amukan nyonya besar itu.
"Menikahkan Ratih..." Dian menggumamkan nama putri semata wayangnya dengan rahang mengeras. Dalam hatinya, rasa jijik bergejolak hebat. Bagaimana mungkin putrinya yang mengalir darah bangsawan Rajah Wangi murni harus disandingkan dengan sampah? "Dengan OB itu?! Seorang cleaning service rendahan yang bahkan statusnya masih bergelung di sel penahanan kantor kita sendiri?!".
Di sudut ruangan, Adiwangsa duduk kaku. Sebagai menantu yang selama dua dekade selalu piawai menjilat dan membaca arah angin di keluarga ini, kini ia tersudut oleh badai yang tak ia lihat kedatangannya . Keringat dingin merembes di kerahnya. Jika pernikahan ini terjadi, statusnya di mata sosial akan hancur lebur.
Jauh dari ketegangan menjijikkan itu, Ratih mematung menghadap jendela, membelakangi keluarganya. Tatapannya sedingin es, lurus menembus kaca, mengunci hamparan taman yang dipangkas rapi. Dalam diamnya, pikiran Ratih berputar cepat bak superkomputer. Ia belum beringsut sesentimeter pun sejak Bambang selesai membacakan wasiat sinting tersebut.
"Namanya Kukuh," kata Bambang akhirnya memecah senyap, membalik satu halaman dokumen wasiat dengan tenang. "Delapan belas tahun. Berasal dari sebuah desa miskin di Jawa Tengah. Terdaftar sebagai cleaning service di kantor pusat sejak empat belas bulan lalu.".
"Aku tahu persis siapa kecoa itu!" potong Dian tajam, matanya menyala. "Semua orang tahu. Dia bocah yang selamat dari insiden penembakan di lift setahun lalu!".
"Benar," jawab Bambang.
"Yang keluar hidup-hidup padahal tertembak tembus!".
"Benar.".
"Dan yang kemudian dijebloskan ke kerja paksa oleh tim keamanan kita sendiri karena dicurigai sebagai mata-mata!" Dian menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan napas memburu . Ia menatap Bambang seakan ingin menelan pria itu hidup-hidup. "Lalu sekarang... Ayah ingin menjadikannya menantu di keluarga Aji Saka?!".
Bambang membenarkan letak kacamatanya dengan gerakan mekanis. "Mendiang Tuan Cokro secara spesifik menyebut ini sebagai hutang nyawa yang harus dibayar lunas.".
"Hutang nyawa..." Dian tertawa hambar. Suaranya memancarkan keterkejutan seorang pemain catur yang baru sadar papannya telah ditendang terbalik. "Jadi selama setahun ini Ayah diam saja, membiarkan OB itu jadi tahanan, lalu melempar bom ini tepat setelah dia masuk liang lahat?!".
Adiwangsa berdeham, tak tahan lagi melihat kerajaan bisnisnya terancam. Ia mencondongkan tubuhnya. "Pasti ada celah hukum, Pak Bambang? Apa pun itu. Kita bisa menyogok hakim, memalsukan tanda tangan...".
Bambang menggeser halaman terakhir dokumen itu ke tengah meja. Tepat di bawah cahaya lampu kristal. "Jika pernikahan tidak dilangsungkan dalam waktu tiga puluh hari sejak hari ini, seluruh aset perusahaan, properti, dan saham pengendali mutlak jatuh ke tangan pemuda bernama Kukuh itu." .
Bambang menatap mata Adiwangsa dan Dian bergantian. "Dan jika pernikahan ini dipaksakan lalu berujung cerai dari pihak keluarga Aji Saka... konsekuensi yang sama berlaku.".
Adiwangsa memejamkan mata kuat-kuat, seolah baru saja ditampar. "Berapa total valuasinya?".
"Cukup untuk menghidupi tujuh keturunan Aji Saka tanpa perlu bekerja," jawab Bambang datar. "Dan cukup untuk meluluhlantakkan kalian dalam seminggu jika triliunan rupiah itu jatuh ke tangan yang salah.".
Ruangan itu mendadak senyap. Hening yang mematikan. Bahkan napas pun terasa berat ditarik. Menyerahkan seluruh kerajaan Aji Saka pada seorang OB? Itu lebih buruk daripada kiamat!
Ratih akhirnya berbalik.
Wajahnya yang mewarisi garis aristokrat keluarga ini tetap tenang, nyaris tak terbaca. Namun, di balik mata kelabunya yang angkuh, sebuah keputusan kejam baru saja dikunci. Menikah dengan anjing liar jauh lebih baik daripada kehilangan tahta, batin Ratih dingin.
"Lakukan," ucapnya memecah kesunyian.
Dian tersentak, seolah telinganya mengkhianatinya. "Ratih ".
"Lakukan wasiat itu." Ratih melangkah elegan mendekati meja, menarik dokumen yang sedari tadi dihindari keluarganya seolah itu barang bernajis. Matanya menyapu deretan klausa di sana. "Tapi aku punya syarat.".
"Pernikahan ini sangat privat. Tidak ada rilis publik, tidak ada resepsi, tidak ada satu pun dokumentasi." Ratih melempar dokumen itu kembali ke meja dengan jijik . "Di luar pagar rumah ini, statusku tetap lajang. Dan selama di dalam gedung perusahaan...".
Ia menjeda kalimatnya. Sorot matanya menajam, membayangkan pemuda rendahan itu harus sadar diri akan posisinya.
"Anak itu tetap bekerja seperti biasa. Pakai seragam birunya yang kumal, pakai kartu pegawainya, dan lapor ke atasannya. Satu-satunya yang berubah adalah status tahanannya dicabut hari ini juga.".
Dian baru saja membuka mulut untuk memprotes, tidak terima putrinya harus terikat dengan gembel.
"Ibu tidak punya opsi lain." Ratih memotong telak, suaranya final dan berkuasa. "Kita tidak punya pilihan. Jadi berhenti membuang waktu bersikap seolah kita punya.".
"Dokter, apakah saya benar-benar mampu melawan orang-orang ini sendirian nanti?" tanya Kukuh. Suaranya memecah keheningan ruang isolasi IGD, matanya tak lepas dari lengan pasien yang baru saja dibalut pasta herbal.Dokter Harsha yang sedang membersihkan alat medisnya seketika menghentikan gerakannya. Pria sepuh itu menoleh, menatap Kukuh dengan raut wajah yang sangat serius."Tidak mungkin kamu mampu, Kuh," jawab Dokter Harsha tegas, suaranya berat dan mengunci ruangan. "Orang-orang yang bisa memanipulasi alam dan melukai Kyai Putih di saat rembulan masih terang benderang seperti ini bukanlah kroco sembarangan. Kekuatan mereka jelas berada jauh di atasmu saat ini."Kukuh menelan ludah. "Lalu saya harus bagaimana, Dok? Membiarkan mereka menghancurkan pasak alam itu?""Tentu saja tidak," potong Dokter Harsha cepat. la meletakkan nampan medisnya ke atas meja dan menepuk bahu Kukuh. "Nanti, saya sendiri yang akan menemanimu ke Gunung Lawu. Kita akan berangkat berdua saat malam bulan mati
"Kita harus bagi tugas malam ini juga, Mas Kukuh," ucap Dokter Adhi sambil menyambar kunci mobilnya dari atas meja sterilisasi. "Waktu kita tidak banyak. Pasien ini bisa mati membusuk sebelum fajar kalau kita tidak segera meracik pasta itu.""Saya setuju, Dokter Adhi," sahut Kukuh cepat. "Tolong bagikan tugasnya. Kita tidak boleh membuang satu detik pun.""Dengar baik-baik," sela Dokter Harsha dengan suara baritonnya yang menggelegar. "Dhi, kau pergi ke pelabuhan pelelangan ikan. Cari tulang ikan pari yang utuh. Kau harus mendapatkan bagian ekornya, karena di situlah letak konsentrasi energi penawarnya. Dan kau, Kuh, cari getah pohon pule dan kelapa hijau.""Getah pule? Di tengah kota begini, Dok?" tanya Kukuh dengan dahi berkerut."Kau anak desa yang mewarisi kepekaan alam, Kuh. Kau pasti bisa merasakannya. Biasanya di area pemakaman tua atau pinggiran kota yang masih asri, pohon itu masih tumbuh liar," jawab Dokter Harsha tegas. "Bawa semuanya kembali ke sini secepat mungkin!""Baik
"Saya berangkat sekarang, Dok! Saya harus ke Gunung Lawu malam ini juga!" seru Kukuh. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, bersiap melangkah keluar dari ruang isolasi IGD."Jangan gegabah, Kuh! Berhenti di situ!" bentak Dokter Harsha.Suara bariton Sang Dewa Medis itu menggelegar keras, memotong langkah Kukuh seketika. Hawa wibawa dari pria sepuh itu memaksa Kukuh menghentikan langkahnya di ambang pintu.Kukuh menoleh. Wajahnya tegang, menahan gejolak energi di dadanya. "Tapi Dok, kita tidak punya waktu! Kalau mereka berhasil membunuh Kyai Putih, wabah Kala Kresna ini akan menyebar ke seluruh kota! Kita tidak bisa diam saja!""Lalu kau mau apa? Melawan mereka sendirian dengan amarah buta lagi?" Dokter Harsha melangkah maju, menatap tajam ke mata muridnya. "Gunakan akal sehatmu, Kukuh! Coba kau lihat ke luar jendela sana. Malam ini rembulan masih sangat cerah, bukan?"Kukuh mengernyitkan dahi, melirik sekilas ke arah jendela IGD. "Benar, Dok. Bulan masih bersinar terang. Lalu kenapa?""Ky
"Jadi, saya tidak punya pilihan lain?" Kukuh menatap tajam ke arah Dokter Harsha, suaranya memecah ketegangan di laboratorium Lantai 41. "Jika saya membunuh Kyai Putih demi menyempurnakan Rajah Getih, jutaan nyawa melayang. Tapi jika tidak, Klan Sasmita yang akan membantai keluarga saya. Ini jalan buntu, Dok."Dokter Harsha menghela napas panjang, melepaskan kacamata pelindungnya. "Ini bukan sekadar pilihan, Kuh. Ini adalah kutukan takdirmu. Mengorbankan satu nyawa suci untuk melepaskan Pagebluk Kala Kresna, itu sama saja dengan..."TIIIT... TIIIT... TIIIT!Sebuah bunyi alarm nyaring memotong ucapan sang Dewa Medis. Pager darurat medis berwarna merah di atas meja kerja Dokter Harsha berkedip liar."Panggilan kode hitam dari IGD," gumam Dokter Harsha. Wajah keriputnya mendadak tegang."Kode hitam? Apa maksudnya itu, Dok?" tanya Kukuh, alisnya bertaut."Sangat jarang mereka menekan tombol ini jika bukan karena anomali yang tidak bisa diatasi alat medis modern. Biasanya melibatkan ilmu h
"Kopi Dokter sudah mulai dingin," tegur Kukuh dengan nada sopan namun memecah keheningan. Ia meletakkan setumpuk kertas HVS yang penuh dengan coretan tinta di atas meja aluminium yang sedingin es."Otak saya sedang panas, jadi kopi dingin justru lebih pas, Kuh," balas Dokter Harsha tanpa menoleh. Pria berjas putih panjang itu masih menunduk, sebelah matanya fokus mengintip ke dalam lensa mikroskop elektron, sementara tangannya dengan lincah memutar tombol kalibrasi. Ruangan laboratorium rahasia di Lantai 41 itu terasa sangat sunyi, hanya diisi oleh dengung mesin penyaring udara dan bunyi bip pelan dari monitor medis.Kukuh menarik sebuah kursi besi dan duduk berseberangan dengan meja kerja sang dokter. "Saya sudah berhasil memecahkan teka-teki dari buku kertas merang yang saya beli di angkot waktu itu, Dok."Mendengar itu, pergerakan tangan Dokter Harsha langsung terhenti. Ia menegakkan punggungnya, melepas kacamata pelindung, dan menatap Kukuh dengan sorot mata yang mendadak tajam. R
"Halo, Pak Wahyu. Ini Kukuh.""T-Tuan Kukuh! Selamat pagi, Tuan! Astaga, sebuah kehormatan Anda menelepon saya langsung. Ada perintah apa yang bisa saya kerjakan untuk Anda hari ini?" Suara Manajer Operasional PT Sumber Wangi itu terdengar bergetar dan sedikit terengah-engah di seberang telepon, seolah ia langsung berdiri tegap saat melihat nama Kukuh di layar ponselnya."Saya butuh bantuan dari jalur perusahaan," ucap Kukuh tenang, sambil berjalan menyusuri trotoar sibuk ibukota menuju gedung menjulang Perpustakaan Nasional. "Saya harus masuk ke Ruang Arsip Terbatas di Perpusnas siang ini. Tapi, birokrasi mereka terlalu kaku untuk mahasiswa biasa. Saya ingin Anda menggunakan nama PT Sumber Wangi sebagai dalih riset pengembangan bahan baku kosmetik tradisional untuk memberikan saya akses VIP ke sana.""S-siap, Tuan Kukuh! Saya akan hubungi direktur humas kementerian sekarang juga. Kebetulan perusahaan kita baru saja menyumbang dana CSR besar-besaran untuk pelestarian budaya. Akses And
Malam perjamuan penuh kesombongan itu akhirnya usai. Di kamar sempitnya yang berbau apek di dekat garasi, Kukuh berbaring menatap langit-langit yang lembap. Pikirannya kembali pada momen penyerahan hadiah untuk Eyang Putri tadi.Ada satu hal ganjil yang menyita perhatian Kukuh. Dengan kepekaan dara
Malam itu, ruang perjamuan keluarga Aji Saka bermandikan cahaya lampu kristal. Udara pekat oleh feromon magis dari parfum-parfum mahal milik klan Rajah Wangi . Malam ini adalah pesta besar. Mereka bersorak-sorai merayakan kematian Prabu Anom yang mereka yakini berhasil dipatahkan oleh kesaktian Eya
Jam digital di dasbor mobil mewah itu menunjukkan pukul sebelas tiga puluh malam. Di kursi penumpang, Kukuh duduk tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh hawa menyeramkan di luar sana.Mobil itu berguncang membelah jalan berbatu yang sempit. Hutan pinus di kanan kiri mereka berdiri rapat, mengha
Tujuh hari berlalu di kediaman Aji Saka, dan setiap detiknya terasa seperti menahan napas di dalam air keruh.Bagi penghuni rumah mewah ini, Kukuh hanyalah bayangan berseragam biru lusuh yang bertugas menyapu daun dan membersihkan sampah. Namun di balik kebisuan itu, Kukuh harus mati-matian berpura







