Accueil / Romansa / OBSESI TUAN STERLING / Bab 2: Malam Pertama di Neraka

Share

Bab 2: Malam Pertama di Neraka

Auteur: Sena
last update Dernière mise à jour: 2025-11-22 21:11:25

Mobil Kaelan, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam pekat, meluncur mulus, membelah malam yang sunyi. Di dalamnya, Vera duduk tegak, gaun pengantinnya yang mewah terasa seperti beton yang mengeras. Ia tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak ciuman mendominasi Kaelan di altar, tetapi pikirannya berpacu, memproses setiap ancaman dan setiap janji yang telah ia buat pada dirinya sendiri.

Kaelan duduk di sebelahnya, tenang dan santai. Bangunan batu gelap itu menembus malam di atas bukit. Lampu sorot kuat menyelimutinya, membuatnya tampak seperti benteng... penjara yang terasa mahal. Bukan rumah. Ini adalah markas kekuasaan yang terasa dingin dan mengintimidasi.

Saat mobil berhenti, Kaelan tidak menunggu. Dia keluar, dan hampir menarik Vera keluar dari mobil. Tangannya langsung mencengkram lengan atas Vera. Cengkraman itu dingin,kuat,dan mutlak. Tidak menyakiti, tetapi sangat tegas.

"Selamat datang, Nyonya Sterling. Ini adalah wilayahku. Tidak ada yang datang atau pergi tanpa izinku," bisik Kaelan di telinganya, suaranya mengandung janji sekaligus ancaman.

Vera hanya mengangguk kecil, menolak memberinya reaksi emosional. Ia mencermati detailnya: pintu masuk dari kayu tebal, lantai marmer hitam yang memantulkan bayangan mereka, dan keheningan yang menyesakkan, yang hanya dimiliki oleh tempat-tempat di mana kekuasaan absolut bersemayam.

Di lantai atas, Kaelan membuka pintu kamar utama. Di sana, Vera melihat kunci tebal tergantung di slot logam di pintu... sebuah detail yang memastikan ini adalah sangkar termahal di dunia.

Kamar utama itu sangat besar, dipenuhi perabotan kayu gelap dan kulit yang didominasi warna monokrom. Jendela besar menghadap ke kota yang tampak kecil dari ketinggian ini. Itu adalah kamar seorang raja, tempat di mana perintah ditaati, bukan dipertanyakan.

Vera segera bergerak menjauhi Kaelan, meletakkan jarak fisik di antara mereka.

"Sekarang, Tuan Sterling," kata Vera, suaranya tenang dan profesional, seolah-olah mereka baru saja mengakhiri negoisasi merger. "Karena kita sekarang 'menikah', saya harap kita bisa menetapkan aturan dasar. Saya adalah mitra Anda di hadapan hukum, bukan mainan Anda."

"Mitra? Aku suka kata itu. Tapi kau lupa,Vera. Dalam kemitraan ini, hanya ada satu CEO. Dan itu aku. Aturan dasarnya sederhana: Kau tidur denganku. Kau bangun denganku. Dan kau tidak pernah berbohong padaku."ucap Kaelan.

"Tidak berbohong?" tanya Vera tersenyum sarkastik. "Saya kira itu akan sulit. Kita berdua adalah ahli strategi, terutama aku. Berbohong dan menyembunyikan kartu adalah inti dari permainan ini,bukan?"

"Itu berlaku di ruang rapat. Di sini, di kamar ini, aku ingin kejujuran. Terutama kejujuran tentang apa yang kau inginkan dariku." Kaelan melangkah mendekat, auranya memancarkan panas. "Kau membenciku, itu jujur. Tapi kau juga merasakan daya tarik ini. Jujurlah tentang hal itu."

Vera menelan ludah. Itu adalah serangan yang jitu, langsung ke titik lemah perasaannya yang ia sembunyikan saat pernikahan. Dia harus segera mengalihkan fokus.

"Daya tarik itu hanya reaksi biologis, Kaelan. Tidak lebih penting daripada bau makanan yang saya cium saat lapar. Mari kita bahas hal yang penting. Klausul 'kerja' saya. Saya butuh akses ke kantor saya.

Kaelan tertawa pelan, suaranya serak dan lucu."Wanita yang baru menikah, bukannya meminta ciuman, malah meminta password kantor. Kau benar-benar wanita yang unik, Vera."

Vera menatap malas Kaelan, "Saya harus memastikan aset yang Anda curi tetap bernilai, bukan? Atau apakah Anda ingin saya menjadi istri yang cengeng dan tidak produktif, yang hanya bisa Anda pamerkan? Itu pasti akan merusak citra Anda sebagai pria yang mendapatkan wanita 'berduri' seperti saya."

Duri. Kata itu muncul, dan Kaelan meresponsnya.

"Aku suka dirimu. Aku akan memberimu akses ke kantormu. Tapi ingat ini: Setiap kontak, setiap panggilan, akan kuawasi. Dan jika aku menemukan satu pun pengkhianatan, aku akan menghancurkamu. Perlahan."

Dia melangkah mendekat, tangannya meraih pinggang Vera, menariknya hingga tubuh mereka menempel.

"Kau adalah milikku malam ini, Vera. Mari kita lihat seberapa tangguh dirimu di bawah kendaliku."

Kaelan tidak menunggu jawaban Vera. Cengkramannya di pinggang Vera menguat, dan dia menggunakan tangan satunya untuk menyentuh veil pengantin Vera yang tersemat rapi. Tindakannya sangat lambat dan disengaja, dan benar-benar didominasi inioleh kekuasaan.

"Kau terlalu banyak bicara tentang kontrak, Vera," desis Kaelan, matanya terpaku pada matanya. "Malam ini, kita akan melewati semua klausul. Kita hanya akan membahas bahasa yang universal."

Vera merasakan napasnya tertahan. Ia benci betapa efektifnya kehadiran fisik Kaelan mengikis ketenangan yang ia bangun susah payah. Ini adalah bahaya nyata.

"Pelepasan pakaian ini adalah hak milikku, sebagai suamimu," lanjut Kaelan. Dia melepaskan jepitan veil itu, dan kain tipis itu melayang jatuh ke lantai marmer dengan suara lembut.... suara kekalahan simbolis pertama Vera.

Kaelan lalu bergerak ke ritsleting gaun Vera. Jari-jarinya yang dingin menyentuh kulit punggungnya yang hangat, menciptakan sengatan listrik yang melintasi tulang punggung Vera. Ini adalah momen paling berbahaya dari kesemsem itu:daya tarik murni,tak terhindarkan bercampur dengan ketakutan.

"Kau menegang, Duri. Jangan takut. Aku tidak akan mematahkanmu. Aku hanya akan menguasaimu," bisik Kaelan.

Vera menggunakan seluruh kekuatan mentalnya untuk menghentikan reaksi fisiknya. Ia memutar kepalanya, menatap tajam ke mata Kaelan.

"Jangan menyentuh saya dengan berfikir Anda mendapatkan persetujuan. Anda mendapatkan istri politik. Hanya itu. Saya mungkin menikah dengan Anda, Kaelan, tetapi saya tidak tunduk. Tubuh ini tidak tercantum dalam kontrak."

Perkataan Vera menghantam Kaelan dengan keras, memicu kemarahan yang cepat dan berbahaya di matanya. Kaelan membencinya karena Vera berani menolak apa yang secara hukum dan obsesi adalah miliknya.

Namun, alih-alih memaksa, Kaelan tiba-tiba tertawa... tawa rendah yang kering dan bernada pengakuan. Dia menarik tangannya dari ritsleting.

"Menarik. Kau benar-benar ingin aku mengejarmu, bukan? Aku suka permainannya. Aku akan memberimu waktu, Vera. Waktu mencerna kenyataan: di bentengku ini,kau takkan pernah aman."

Dia mengambil gaun pengantin Vera yang mahal, merobeknya... satu tarikan yang cepat dan brutal ... dan melemparkannya ke lantai.

"Ganti dengan sesuatu yang lebih nyaman. Dan ingat, kau tidur di kamar ini. Bersamaku. Itu adalah klausul yang tidak bisa kau batalkan."

Kaelan berbalik dan berjalan mandi marmer, pintunya tertutup dengan bunyi klik yang keras.

Vera menggunakan momen singkat itu dengan efesien. Dia tidak buang waktu menangisi gaunnya. Dia bergerak cepat menuju jas Kaelan yang teronggok di sofa. Dia tahu pria seperti Kaelan selalu membawa setidaknya satu hal yang bersifat liabilitas... sesuatu yang membuatnya kuat sekaligus rentan.

Tangannya menyelipkan ke saku dalam jas Kaelan. Dia menemukan dompet kulit tipis dan cepat mengambil kartu kunci (atau chip tertentu) yang tampak tidak mencolok. Itu adalah hal yang kecil, tetapi Vera yakin itu adalah kunci cadangan menuju sesuatu yang penting. Dia menyembunyikannya di lapisan gaun pengantinnya yang robek, berharap Kaelan tidak akan menyadari kehilangannya.

Dia kemudian bergegas mengganti pakaiannya dengan robe sutra yang disediakan.... pilihan yang ironis untuk tawanan.

Ketika Kaelan keluar dari kamar mandi, dia sudah menggunakan bathrobe hitam, rambutnya basah. Dia melihat Vera.

"Pilihan pakaian yang bagus. Meskipun aku lebih suka gaun yang tadi. Lebih mudah dilepas." ucap Kaelan.

Vera berjalan menuju ranjang besar. Ranjang itu terasa lebih seperti kapal perang daripada tempat tidur. Dia mengambil posisi di sisi terjauh.

"Selamat malam, Tuan Sterling. Nikmati kemenangan Anda hari ini. Karena besok, hitungan mundurnya akan dimulai."

Kaelan tersenyum gelap, seringainya memamerkan kegembiraan atas ancaman Vera. Dia melangkah ke ranjang, sisi ranjang tenggelam saat dia berbaring.

"Aku tidak sabar menunggu, My Beautiful Thorn. Karena setiap hari yang kau habiskan di sisiku, adalah hari dimana dirimu semakin menjadi milikku." ucap Kaelan.

Dia mematikan lampu samping. Kegelapan total menyelimuti ruangan, hanya menyisakan siluet Kaelan yang besar di sampingnya.

Vera berbaring kaku, merasakan panas tubuh Kaelan yang begitu dekat. Perang. Malam ini adalah tembakan pertamanya.

"Selamat malam, Nyonya Sterling."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 61: Ikan di Malam Hari

    Suasana kamar mandi yang dipenuhi uap panas kini tertinggal di belakang saat Kaelan melangkah keluar dengan langkah mantap. Ia menggendong Vera dalam dekapan protektif, seolah istrinya adalah harta karun paling rapuh sekaligus paling berharga di dunia. Tubuh Vera terasa begitu ringan dan lemas, kepalanya bersandar pasrah di bahu kokoh Kaelan yang masih menyisakan sedikit kelembapan dan aroma sabun maskulin yang pekat. Kaelan tidak membiarkan satu pun udara dingin menyentuh kulit istrinya; ia membungkus Vera dengan jubah handuk putih berbahan katun Mesir yang tebal dan lembut sebelum meletakkannya dengan presisi luar biasa di atas ranjang berukuran king-size.Vera hanya bisa memejamkan mata, merasakan kasur beludru itu menyambut tubuhnya yang letih setelah badai gairah dan emosi tadi. Namun, Kaelan belum selesai dengan tugasnya sebagai "penjaga". Dengan ketelatenan yang kontras dengan citra diktatornya, pria itu mengambil pengering rambut berlapis krom. Suara hairdryer yang menderu ren

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 60: Panasnya Tubuhmu,Baby

    Setelah makan malam yang singkat namun penuh tekanan bagi Kaelan, pria itu langsung beranjak menuju kamar mandi tanpa kata, masih dengan wajah cemberut yang samar. Begitu suara gemericik air mulai terdengar dari balik pintu, Vera berdiri dengan tenang. Ia melepaskan pakaian tidurnya satu per satu; kain sutra putih itu jatuh dengan lembut, membentuk gundukan di atas lantai.Tanpa sehelai benang pun, Vera menggeser pintu kaca kamar mandi yang sudah beruap. Ia melangkah masuk, membiarkan uap hangat menyambut kulitnya yang sensitif. Di bawah kucuran air, tubuh atletis Kaelan terlihat begitu memukau. Kaelan berdiri membelakanginya, kedua tangannya terangkat memijat rambutnya yang basah—sebuah gerakan maskulin yang menonjolkan otot-otot lengan dan punggungnya yang kokoh."Ahh..."Suara helaan napas Kaelan terdengar berat, beradu dengan suara air yang menghantam lantai. Vera berdiri mematung beberapa langkah di belakangnya, matanya menyisir setiap inci tubuh suaminya yang basah, menikmati pe

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 59: Munculnya Ibu Tiri

    Beberapa hari setelah pemeriksaan di klinik Julian, suasana hati Vera terasa sedikit lebih ringan. Meskipun gengsinya masih setinggi langit, ia tidak lagi sekeras dulu setiap kali Kaelan datang ke apartemennya. Siang itu, Vera sedang bersantai di sofa dengan mengenakan daster sutra premium berwarna champagne yang jatuh dengan indah di lekuk tubuhnya, dipadukan dengan cardigan tipis yang menambah kesan mewah namun nyaman.Suara bel pintu yang tiba-tiba terdengar cukup mengejutkannya. Vera mengintip melalui peephole. Di sana berdiri seorang wanita paruh baya dengan pakaian bermerek yang sangat mencolok, perhiasan emas yang terlalu berat, dan ekspresi wajah yang kaku.Vera membuka pintu perlahan. "Ya? Mencari siapa?"Wanita itu tidak menjawab salam. Ia memindai penampilan Vera dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Apa kamu istrinya Kaelan?" tanya wanita itu dengan suara angkuh.Vera sedikit mengernyit, namun tetap menjaga martabatnya sebagai Nyonya Sterling. "Iy

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 58 : Detak Jantung Baru

    Selesai makan, kesadaran Vera kembali sepenuhnya. Ia mencoba mendorong dada Kaelan, berusaha turun dari pangkuan hangat suaminya yang terasa terlalu posesif."Sudah selesai makan. Sekarang, lepaskan aku. Kau harus pulang, Kaelan," desis Vera dengan sisa-sisa ketegasan yang ia miliki.Kaelan tidak menjawab. Ia justru mempererat pelukannya dan berdiri dengan santai, menggendong Vera seolah wanita itu seringan kapas. Alih-alih membawanya ke pintu keluar, Kaelan justru melangkah lebar menuju kamar mandi utama."Kaelan! Turunkan aku! Kau mau apa?!" Vera berteriak kecil, jemarinya yang lentur memukul-mukul bahu Kaelan yang keras seperti batu."Sikat gigi dulu, Sayang. Setelah itu tidur lagi," sahut Kaelan tenang. Ia mendudukkan Vera di atas meja wastafel marmer, tepat di depan cermin besar yang memantulkan wajah Vera yang sudah cemberut maksimal.Kaelan mengurung tubuh Vera dengan kedua tangan yang bertumpu pada pinggiran wastafel, mengunci pergerakannya. Ia merogoh laci dan mengeluarkan du

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 57: Makan Malam

    Vera duduk di sofa kulit yang luas di ruangan Kaelan dengan bibir yang sudah mengerucut maksimal. Rencananya untuk meledakkan amarah dan memberikan surat cerai seketika gagal total. Begitu ia masuk tadi, Kaelan hanya sempat mengecup keningnya kilat dan memintanya menunggu karena klien penting sudah tiba untuk rapat mendadak."Satu jam, Vera. Tunggu aku di sini," ujar Kaelan tadi dengan nada yang tidak bisa dibantah.Namun, satu jam berubah menjadi dua jam, lalu tiga jam. Vera berulang kali menghela napas panjang. Ia meluruskan kakinya di atas sofa, memijat pergelangan kakinya yang mulai terasa kaku dan membengkak akibat pengaruh kehamilan dan sepatu hak tinggi yang ia kenakan sejak pagi. Selama menunggu, seorang pelayan masuk membawakan nampan berisi makan siang mewah dan potongan buah-buah segar yang sangat berair. Vera tahu ini pasti perintah Kaelan; tidak mungkin staf biasa berani masuk ke ruangan sang CEO tanpa instruksi khusus.Setelah perutnya kenyang, rasa kantuk yang menjadi m

  • OBSESI TUAN STERLING   Bab 56: Rasa Rindu

    Empat hari telah berlalu sejak Vera memutuskan untuk menempati apartemen barunya. Bagi Vera, ini adalah kemerdekaan, namun kemerdekaan itu ternyata datang dengan rasa lelah yang luar biasa. Hormon kehamilannya mulai bekerja lebih aktif; mual di pagi hari dan rasa lapar yang datang tiba-tiba membuat tubuhnya kehilangan energi lebih cepat.Sore itu, setelah menyelesaikan rentetan rapat di V-Alliance, Vera memutuskan untuk mampir ke salon langganannya. Ia butuh relaksasi."Tolong lakukan perawatan tubuh yang paling ringan saja," ucap Vera pada petugas salon sambil merebahkan diri. "Dan pastikan semua produknya berbahan organik. Saya sedang hamil, jadi saya harus sangat berhati-hati."Dua jam kemudian, Vera keluar dari salon dengan kulit yang bercahaya dan rambut yang tertata blow-out sempurna. Namun, rasa kantuk yang berat tetap menggelayuti matanya. Begitu sampai di apartemen, ia bahkan tidak sanggup lagi melangkah menuju kamar tidur. Ia melempar tas desainer seharga ratusan juta itu ke

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status