FAZER LOGINSelamat membaca dan semoga suka, MyRe. Yuk, dukung novel kita dengan cara vote gems, hadiah, ulasan manis, dan komentar di pee bab-nya yah. Oh iya, yuk beri ulasan manis di kolom review novel kita ini, MyRe, supaya bintang novel kita menyala. 🔥(つ≧▽≦)つ Apapun bentuk dukungan kalian untuk novel kita ini, CaCi akan sangat menghargainya. Love buat MyRe semua. Jaga kesehatan dan tetap semangat buat kita semua!! IG:@deasta18
"Tu-tutup telinga Nyonya, jangan dengarkan apa yang Tuan Tua katakan," panik Sean, menatap cemas pada Anya. Sejujurnya Sean juga tak tahu di mana Malik dan ke mana pria itu berada. Dia juga tidak bisa menyangkal ucapan Renggalan. Hanya saja, dia pun tak bisa membenarkan. Intinya Sean ikut bimbang. Andini adalah mantan Malik, yang Sean tahu juga sebagai cinta pertama Malik. Namun, bukan semua ini belum jelas? Jadi Sean harus memastikan jika Anya tidak terpengaruh oleh ucapan Renggalan. "Tu-Tuan Malik hanya mencintai anda dan Tuan Malik tidak mungkin seperti yang Tuan Tua katakan," ucap Sean lagi. Sekalipun dia ragu dan bimbang—terpengaruh oleh ucapan Renggalan, tetapi Anya tidak boleh begitu. Anya berdiri, menatap Renggalan dan Sean secara bergantian. Keningnya mengerut dan tatapannya tampak seperti orang bingung. "Apa yang tidak mungkin? Malik itu seperti kegelapan, penuh kejahatan dan kebiadapan. Dia bukan manusia, dia iblis." Renggalan berkata rendah, menatap Anya dan Sean
"Jika kau tidak tahu cara bersikap, silahkan keluar dari ruangan ini," dingin Malik. Nadanya terdengar tenang tetapi semua orang di ruangan itu tahu kalau Malik sedang marah. "Malik!" geram Renggalan, tersinggung karena Malik terkesan mempermalukannya dengan cara mengusirnya dari sini. Namun, mengingat sesuatu, Renggalan menahan emosi, "menurutku rak ada dari sikapku yang salah, Malik. Sekretaris baruku ini memang jalang bodoh," ucap Renggalan sambil melirik ke arah Malik. "Semua orang tahu jika sikapmu keterlaluan," dingin Malik. "Hahahaha …." Renggalan tiba-tiba tertawa, "aku tahu Andini ini mantan kekasihmu, Nak" ujarnya santai sambil diam-diam melirik ke arah Anya. Smirk tipis muncul di bibirnya saat mendapati ekspresi kaget yang timbul di wajah Anya. 'Andini mantannya Mas Malik yang Nenek ceritakan itu yah? Pantas nggak asing namanya.' batin Anya, memperlihatkan ekspresi wajah kaget, 'pantas saja Mas Malik kepancing. Orang yang ditindas sama si Kakek bau tanah ini mantan teri
Bug' Sedangkan Anya, setelah Malik menghadap padanya, mendadak dia mengubah rencana. Seharusnya dia menabrak Malik untuk melihat apakah dia lembut atau tidak. Namun, dia malah melompat ke arah pria itu. Malik lambung menangkap tubuh Anya ketika perempuan itu melompat ke arahnya. Bak tupai! Pada akhirnya Anya mendarat di gendongan Malik. Mata Anya melebar, wajahnya kaku, dan jantungnya berdebar kencang. 'Kok jadi gini sih?' batin Anya, sudah panik dan gugup setengah mati. Apalagi ketika dia terikat kalau tadi dia meneriaki Malik dengan nana 'Malik Kundang. Fix, setelah ini Anya jadi lemper! 'Otak Bangke memang! Tadi dia nyuruh aku manggil 'Malik Kundang ke Mas Malik. Sekarang dia nyuruh aku lompat ke Mas Malik. Sumpah! Musuhku otakku sendiri. Benci banget!' batin Anya, semakin risau karena Malik menatapnya sangat tajam. "Anya Shi--" Cup' Sebelum Malik menyelesaikan ucapannya, Anya dengan cepat mencium bibir Malik. Lagi-lagi dia mengikuti kata otaknya! "A-angin, Mas," gugup
"Lancang!" Malik menatap marah pada Regal, tangannya mengepal kuat dan tatapannya melotot dan tampak memerah karena amarah. Regal terlonjak kaget perihal suara meja yang digebrak oleh Malik. Namun, dia jauh lebih kaget—jantungnya rasanya ingin minggat dari raga, saking takutnya dia pada suara dan emosi kakaknya yang sedang meluap-luap. "Kak, aku me-mengatakan begitu supaya Anya tidak salah paham padamu," ucap Regal cepat. Tatapan Malik masih tajam—dari sorotnya dia seolah ingin membunuh Regal, akan tetapi menurut Regal tatapan kakaknya sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya, "obsesi itu tidak baik dan penyakit. Selain itu … Tante Arumika meninggal karena seseorang yang tidak bisa mengendalikan rasa sukanya. Anya punya trauma dengan ya-yang namanya obsesi. Oleh karena itu aku mengatakan pada Anya kalau Kakak menikahinya karena Kakak ingin melindungi Anya dari keluarganya yang jahat. Itu lebih baik dari obsesi, Kak. Karena … setidaknya di mata Anya Kakak adalah pahlawan," jelas
Kalau dia tidak kerja, bagaiman jika Malik semakin marah padanya? Pada akhirnya Anya memutuskan untuk bekerja. Dia segera keluar dari kamar mandi lalu masuk ke walk in closet. Anya memilih pakaian formal karena dia ingin bekerja. Selesai berpakaian, Anya bergegas keluar dari kamar. Sebelum berangkat, Anya memutuskan untuk ke lantai dua, menemui Regal. Malik pasti sudah meninggalkannya, jadi Anya ingin meminta Regal mengantarnya ke kantor—lebih tepatnya mengantar Anya hingga ke ruangan Malik. "Cepat rapikan kamarmu!" Langkah Anya berhenti saat mendengar suara Malik yang marah. A-apa pria itu ada di sini? *** "Regal Lucian Edelsteen!" Suara dingin mengalun di sebuah kamar yang tampak sunyi dan tenang. Malik duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut, menatap seorang pemuda yang masih berbaring di atas ranjang—masih tertidur pulas. Namun, setelah Malik memanggil nama pemuda itu, seketika empunya langsung duduk. Sekalipun matanya tampak berat untuk di buka. "A-apa?
"Cih, pantas saja kau sangat penurut, ternyata kau berencana membuatku lengah dengan sikap penurutmu. Benar?" geram Malik, menatap tajam dan membunuh ke arah Anya yang ada di bawah tubuhnya. Anya menggelengkan kepala secara kaku sambil menatap cemas pada Malik. "A-aku memang waktu itu sempat meminta tolong padanya ka-karena a-aku takut pada Mas Malik," cicit Anya, penuh kepenakan di akhir kalimat—menatap risau pada suaminya, "aku juga mengaku sempat ingin kabur dari Mas Malik karena aku takut!! Mas Malik cuma obsesi menjadikanku istri kan." Rahang Malik mengatup kuat, menatap tajam dan penuh amarah pada Anya. Satu tangannya mencengkeram kuat pipi Anya, "obsesi? Aku obsesi padamu, Hah?" Anya tak bersuara, diam karena takut. Pria ini terlihat sangat marah, Anya takut jadi pelampiasan kemarahan. Orang yang terobsesi pada sesuatu, maka orang itu melibatkan kegilaan di dalamnya. Mamanya meninggal di tangan perempuan yang punya obsesi. Anya takut dia sama seperti mamanya! "Yah, bena







