Home / Romansa / OBSESI sang Berondong HYPER / KR 20. Pelaku Sebenarnya

Share

KR 20. Pelaku Sebenarnya

Author: Ziya_Khan21
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-21 13:00:52

"Penemuan?" Kania mengulangi. Ada keraguan di sana. Ia mencoba menggali ingatan lain dari balik kepenatan dan trauma. Malam itu... malam yang terbakar itu... Rivan pernah mengatakan sesuatu pada ayahnya sebelum ia meninggalkan Kania. "...kalau kamu tidak tidur selamanya hari ini, kamu akan membuatku menghabiskan sisa hidupku di balik terali besi." Dan sebuah kotak kecil berhias ukiran lentera di dekat brankas tersembunyi di gudang. Isinya sebuah foto dirinya yang kecil, dengan tulisan d
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (6)
goodnovel comment avatar
Bunda Ernii
siapa sih dalang sesungguhnya..
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
ini Rivan teroris apa gimana sih
goodnovel comment avatar
dindaalestari1310
pelaku sesungguhnya adalah ayah Kania sendiri ternyata.. apa yg terjadi sama Kania?
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 75. Saat Ketakutan Itu Nyata

    Rivan tidak langsung menjawab. Tangannya terus bergerak mengusap punggung Kania perlahan, seolah sedang mencoba menenangkan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri pun takut untuk hadapi. “Kalau kau tinggal…” suaranya terdengar rendah dan hati-hati, seolah takut kalimat ini akan mengubah segalanya, “…apa itu terdengar buruk bagimu?” Degup. Kania memejamkan mata sebentar. Karena itulah masalahnya. Dulu, jawabannya pasti ‘iya’. Dulu, dia pasti akan lari sejauh mungkin. Tapi sekarang? Dia tidak yakin lagi. Dan ketidakyakinan itulah yang justru lebih menakutkan daripada apa pun yang pernah dia rasakan. “Aku tidak mau kehilangan diriku sendiri,” bisiknya pelan, mengucapkan ketakutan terbesarnya. Mendengar itu, tatapan Rivan langsung berubah—menjadi lebih lembut, lebih manusiawi, lebih mengerti. Dan untuk pertama kalinya, Kania bisa melihat dengan jelas bahwa dia benar-benar memahami apa yang a

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 74. Memilih Tinggal

    Degup keras menghantam dada pria itu. Karena kata-kata itu, gerakan itu, bukan sekadar kedekatan fisik lagi. Itu adalah pilihan. Kania memilih untuk tinggal. Kania memilih untuk ada di sini bersamanya. Dan mungkin tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih memabukkan, lebih berharga, dari itu bagi seseorang seperti Rivan. Tangannya langsung mengerat pelan di pinggang wanita itu—terasa posesif, ya, tapi di balik itu semua ada rasa syukur yang begitu besar. “Kau benar-benar akan membuatku semakin egois,” bisiknya rendah tepat di dekat telinga Kania, suaranya terdengar penuh kasih. “Bukannya kau memang sudah egois sejak dulu?” Rivan tertawa kecil lagi, suaranya terdengar lembut di telinga Kania. “Sekarang lebih parah. Sekarang aku tidak mau berbagi kau dengan siapa pun, bahkan dengan dunia sekalipun.” Tanpa s

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 73. Tak ingin Berakhir

    Rivan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kania dalam diam yang terasa begitu panjang, begitu dalam sampai wanita itu bisa melihat dengan jelas bagaimana kalimat yang baru saja diucapkannya tadi benar-benar menghancurkan sisa-sisa pertahanan yang masih tersisa di dalam diri pria itu.“Aku mulai berharap semua ini tidak pernah berakhir.”Kalimat itu masih menggantung di udara, terasa begitu nyata, begitu berat. Dan bagi seseorang seperti Rivan, kalimat itu terdengar lebih memabukkan daripada pengakuan cinta apa pun yang pernah ada.Tatapannya turun perlahan ke bibir Kania, sebelum kembali naik menatap mata wanita itu—gelap, penuh dengan perasaan yang terlalu besar untuk disembunyikan.“Kau tidak tahu apa yang baru saja kau lakukan padaku,” bisiknya serak.Napas Kania ikut berubah pelan. “Riv—”Namun sebelum sempat melanjutkan kata-katanya, Rivan sudah lebih dulu menarik tubuhnya semakin dekat, lalu menyandarkan dahinya pada dahi Kania. Seolah dengan begitu, dia bisa menenangkan d

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 72. Ingin Bersamamu

    Tangannya perlahan naik lagi menyentuh pelipis Rivan, tempat bekas luka kecil itu kini sudah berhenti berdarah, hanya menyisakan jejak merah yang samar. “Kau harus lebih hati-hati mulai sekarang,” bisik Kania. “Jangan sembarangan mempertaruhkan nyawamu lagi.” Rivan tertawa kecil, rendah dan lembut. “Kau terdengar persis seperti orang yang mencintaiku.” Degup keras menghantam dada Kania. Sunyi. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak langsung menyangkal. Tidak langsung membantah. Tidak langsung marah atau mengalihkan pembicaraan seperti biasanya. Karena semakin lama, kebohongan itu terasa semakin melelahkan, semakin tidak berguna. Melihat reaksinya, tatapan Rivan langsung berubah—menjadi lebih gelap, lebih intens, lebih penuh harapan yang hampir meluap. “Kania,” suaranya turun rendah, nyaris serak. “Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan padaku?”

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 71. Makin Dekat

    Tatapan mereka masih saling bertautan, terlalu lama, terlalu dalam. Kesunyian di dalam kabin itu terasa semakin sempit, semakin penuh oleh perasaan yang kini tak bisa lagi disembunyikan, tak bisa lagi disebut sekadar obsesi sepihak. Kania bisa melihatnya dengan jelas di mata Rivan—pria itu benar-benar terguncang oleh pengakuannya tadi. Bukan karena rasa menang, bukan karena egonya terpuaskan, tapi karena akhirnya, setelah bertahun-tahun mengejar, setelah bertahun-tahun menghancurkan segalanya demi satu orang, dia mendengar Kania berkata dia takut kehilangannya. Dan itu jauh lebih berharga daripada segala kekuasaan, kekayaan, atau apa pun yang pernah dia miliki. “Kau tidak boleh menatapku seperti itu,” bisik Kania pelan, suaranya terdengar lemah. “Seperti bagaimana?” jawab Rivan, nadanya serak dan rendah. “Seolah… aku ini sesuatu yang terlalu penting buatmu.” Degup. Senyum kecil terbit di bibir Rivan—senyum yang lelah, tapi begitu hangat, begitu tulus. “Karena memang begitu. Ka

  • OBSESI sang Berondong HYPER    KR 70. Akhirnya Jujur

    Kania tidak bisa memejamkan mata semenjak sambungan telepon itu terputus. Pikirannya terlalu penuh, terlalu berisik, terus terbayang wajah Rivan di detik terakhir—pelipisnya berdarah, napasnya memburu, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh rasa memiliki begitu melihat wajahnya muncul di layar ponsel orang lain. Bahkan di tengah bahaya, bahkan saat sedang terluka, hal pertama yang ada di pikiran pria itu tetaplah dirinya. Dan kesadaran itu membuat dada Kania terasa sesak, campur aduk antara rasa takut, rasa khawatir, dan sesuatu yang lain yang mulai sulit dia sangkal. Dia berdiri di depan jendela kabin, memeluk tubuhnya sendiri, menatap lautan gelap yang terasa semakin dingin menjelang dini hari. Sudah hampir tiga jam berlalu, tapi belum ada kabar, belum ada pesan, dan setiap detik yang berlalu terasa begitu lama, begitu berat. “Brengsek…” gumamnya pelan pada diri sendiri. Dia sadar betul dia sudah terlalu jauh masuk ke dalam dunia ini, terlalu jauh masuk ke dalam hidup Rivan. K

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status