Mag-log inRivan tidak langsung menjawab. Tangannya terus bergerak mengusap punggung Kania perlahan, seolah sedang mencoba menenangkan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri pun takut untuk hadapi. “Kalau kau tinggal…” suaranya terdengar rendah dan hati-hati, seolah takut kalimat ini akan mengubah segalanya, “…apa itu terdengar buruk bagimu?” Degup. Kania memejamkan mata sebentar. Karena itulah masalahnya. Dulu, jawabannya pasti ‘iya’. Dulu, dia pasti akan lari sejauh mungkin. Tapi sekarang? Dia tidak yakin lagi. Dan ketidakyakinan itulah yang justru lebih menakutkan daripada apa pun yang pernah dia rasakan. “Aku tidak mau kehilangan diriku sendiri,” bisiknya pelan, mengucapkan ketakutan terbesarnya. Mendengar itu, tatapan Rivan langsung berubah—menjadi lebih lembut, lebih manusiawi, lebih mengerti. Dan untuk pertama kalinya, Kania bisa melihat dengan jelas bahwa dia benar-benar memahami apa yang a
Degup keras menghantam dada pria itu. Karena kata-kata itu, gerakan itu, bukan sekadar kedekatan fisik lagi. Itu adalah pilihan. Kania memilih untuk tinggal. Kania memilih untuk ada di sini bersamanya. Dan mungkin tidak ada hal lain di dunia ini yang lebih memabukkan, lebih berharga, dari itu bagi seseorang seperti Rivan. Tangannya langsung mengerat pelan di pinggang wanita itu—terasa posesif, ya, tapi di balik itu semua ada rasa syukur yang begitu besar. “Kau benar-benar akan membuatku semakin egois,” bisiknya rendah tepat di dekat telinga Kania, suaranya terdengar penuh kasih. “Bukannya kau memang sudah egois sejak dulu?” Rivan tertawa kecil lagi, suaranya terdengar lembut di telinga Kania. “Sekarang lebih parah. Sekarang aku tidak mau berbagi kau dengan siapa pun, bahkan dengan dunia sekalipun.” Tanpa s
Rivan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Kania dalam diam yang terasa begitu panjang, begitu dalam sampai wanita itu bisa melihat dengan jelas bagaimana kalimat yang baru saja diucapkannya tadi benar-benar menghancurkan sisa-sisa pertahanan yang masih tersisa di dalam diri pria itu.“Aku mulai berharap semua ini tidak pernah berakhir.”Kalimat itu masih menggantung di udara, terasa begitu nyata, begitu berat. Dan bagi seseorang seperti Rivan, kalimat itu terdengar lebih memabukkan daripada pengakuan cinta apa pun yang pernah ada.Tatapannya turun perlahan ke bibir Kania, sebelum kembali naik menatap mata wanita itu—gelap, penuh dengan perasaan yang terlalu besar untuk disembunyikan.“Kau tidak tahu apa yang baru saja kau lakukan padaku,” bisiknya serak.Napas Kania ikut berubah pelan. “Riv—”Namun sebelum sempat melanjutkan kata-katanya, Rivan sudah lebih dulu menarik tubuhnya semakin dekat, lalu menyandarkan dahinya pada dahi Kania. Seolah dengan begitu, dia bisa menenangkan d
Tangannya perlahan naik lagi menyentuh pelipis Rivan, tempat bekas luka kecil itu kini sudah berhenti berdarah, hanya menyisakan jejak merah yang samar. “Kau harus lebih hati-hati mulai sekarang,” bisik Kania. “Jangan sembarangan mempertaruhkan nyawamu lagi.” Rivan tertawa kecil, rendah dan lembut. “Kau terdengar persis seperti orang yang mencintaiku.” Degup keras menghantam dada Kania. Sunyi. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak langsung menyangkal. Tidak langsung membantah. Tidak langsung marah atau mengalihkan pembicaraan seperti biasanya. Karena semakin lama, kebohongan itu terasa semakin melelahkan, semakin tidak berguna. Melihat reaksinya, tatapan Rivan langsung berubah—menjadi lebih gelap, lebih intens, lebih penuh harapan yang hampir meluap. “Kania,” suaranya turun rendah, nyaris serak. “Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan padaku?”
Tatapan mereka masih saling bertautan, terlalu lama, terlalu dalam. Kesunyian di dalam kabin itu terasa semakin sempit, semakin penuh oleh perasaan yang kini tak bisa lagi disembunyikan, tak bisa lagi disebut sekadar obsesi sepihak. Kania bisa melihatnya dengan jelas di mata Rivan—pria itu benar-benar terguncang oleh pengakuannya tadi. Bukan karena rasa menang, bukan karena egonya terpuaskan, tapi karena akhirnya, setelah bertahun-tahun mengejar, setelah bertahun-tahun menghancurkan segalanya demi satu orang, dia mendengar Kania berkata dia takut kehilangannya. Dan itu jauh lebih berharga daripada segala kekuasaan, kekayaan, atau apa pun yang pernah dia miliki. “Kau tidak boleh menatapku seperti itu,” bisik Kania pelan, suaranya terdengar lemah. “Seperti bagaimana?” jawab Rivan, nadanya serak dan rendah. “Seolah… aku ini sesuatu yang terlalu penting buatmu.” Degup. Senyum kecil terbit di bibir Rivan—senyum yang lelah, tapi begitu hangat, begitu tulus. “Karena memang begitu. Ka
Kania tidak bisa memejamkan mata semenjak sambungan telepon itu terputus. Pikirannya terlalu penuh, terlalu berisik, terus terbayang wajah Rivan di detik terakhir—pelipisnya berdarah, napasnya memburu, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh rasa memiliki begitu melihat wajahnya muncul di layar ponsel orang lain. Bahkan di tengah bahaya, bahkan saat sedang terluka, hal pertama yang ada di pikiran pria itu tetaplah dirinya. Dan kesadaran itu membuat dada Kania terasa sesak, campur aduk antara rasa takut, rasa khawatir, dan sesuatu yang lain yang mulai sulit dia sangkal. Dia berdiri di depan jendela kabin, memeluk tubuhnya sendiri, menatap lautan gelap yang terasa semakin dingin menjelang dini hari. Sudah hampir tiga jam berlalu, tapi belum ada kabar, belum ada pesan, dan setiap detik yang berlalu terasa begitu lama, begitu berat. “Brengsek…” gumamnya pelan pada diri sendiri. Dia sadar betul dia sudah terlalu jauh masuk ke dalam dunia ini, terlalu jauh masuk ke dalam hidup Rivan. K







