MasukKeheningan kembali menyelimuti ruangan. Bukan keheningan yang menenangkan, melainkan keheningan yang mencekam—seolah dinding-dinding tua di sekelilingnya ikut mengawasi setiap hembusan napas yang keluar dari paru-paru Kania.
Pelukan Rivan masih erat menyelimuti tubuhnya. Sama kuatnya seperti sebelumnya, terapi ada perbedaan mendasar yang membuat hati Kania bergetar. Kali ini, dia tak lagi berusaha melepaskan diri.Dan itulah bahaya terbesarnya.Dermaga itu tampak nyaris mati, terbungkus sunyi yang mencekam. Hanya ada beberapa lampu redup yang berkedip di antara kabut tipis dan sisa hujan malam yang belum benar-benar reda. Di depan mereka, laut hitam membentang luas, bergelombang pelan seolah sedang menyembunyikan rahasia yang jauh lebih gelap di bawah permukaannya. Kania berdiri diam beberapa langkah di belakang Rivan. Ia masih berusaha mengatur napasnya—bukan karena lelah berlari, melainkan karena sisa-sisa ciuman tadi yang masih membekas di bibirnya. Dan kenyataan bahwa ia membalasnya tanpa ragu adalah hal yang paling mengusik batinnya saat ini. Di ujung dermaga, Rivan tampak sedang berbicara dengan seorang pria tua bertubuh kurus dengan jas hujan lusuh. Percakapan mereka singkat dan efisien. Pria itu menyerahkan sebuah kunci sebelum menghilang ke dalam kegelapan tanpa banyak tanya. Rahasia, pelarian, identitas palsu—segala hal yang dulunya terdengar seperti mim
Hujan masih turun membasahi bumi saat mereka akhirnya berhasil keluar dari rumah tua itu. Malam terasa semakin dingin, menusuk hingga ke tulang, namun tubuh Kania masih menyimpan sisa-sisa panas dari dekapan Rivan beberapa saat lalu. Sebuah kehangatan yang seharusnya ia benci, namun justru kini ia rindukan secara tidak sadar. Rivan menggenggam tangan Kania dengan sangat erat, seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya di dunia ini. Mereka bergerak cepat menembus barisan pohon pinus yang menjulang gelap. Langkah Rivan panjang dan pasti; ia tampak sudah menghafal setiap inci jalur pelarian ini jauh sebelum bahaya benar-benar datang mengetuk pintu. “Kita mau ke mana?” tanya Kania pelan, napasnya sedikit terengah mencoba mengimbangi langkah lebar Rivan. “Ke dermaga,” sahut Rivan tanpa menoleh. “Lalu?” “Kita akan menghilang sebelum mereka sempat menutup s
Suara tembakan masih terus menggema, memantul di antara dinding-dinding rumah tua itu dengan gema yang membuatnya terdengar lebih dekat dan mengancam dari yang sebenarnya. Kania berjongkok di balik meja kayu yang sudah setengah hancur. Napasnya memburu, tak beraturan, sementara jari-jarinya mencengkeram pistol dengan kekuatan yang membuat buku-buku jarinya memutih. Namun, ada satu hal yang berbeda kali ini—ia tidak lumpuh oleh rasa takut. Dulu, suara sekecil apa pun sudah cukup untuk membuatnya jatuh dalam kepanikan. Sekarang? Tubuhnya justru siaga, indranya menajam, dan fokusnya terkunci. Perubahan insting yang begitu drastis ini membuat Kania merasa ngeri pada dirinya sendiri. Ia mulai terbiasa dengan aroma mesiu dan bahaya. “Di belakangku, Kania.” Suara rendah Rivan membelah kekacauan. Pria itu berdiri hanya beberapa langkah di depannya, membalas tembakan dengan gerakan cepat dan presisi ya
Kania mencengkeram pistol di tangannya dengan kuat. Dingin logam yang tadinya terasa asing, kini mulai terasa menyatu dengan telapak tangannya. Napasnya memang belum sepenuhnya stabil, namun tubuhnya tidak lagi membeku seperti dulu. Ia tidak lagi menjadi mangsa yang hanya bisa gemetar saat bahaya mendekat. Rivan menyadari perubahan itu. Tatapannya turun sekilas ke arah tangan Kania yang kokoh memegang senjata, sebelum kembali menatap ke luar jendela. Di kejauhan, sorot lampu kendaraan membelah kegelapan hutan, bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi. “Mereka terlalu cepat menemukannya,” gumam Rivan pelan, rahangnya mengeras. Kania menoleh dengan waspada. “Abian?” “Kalau hanya Abian, dia tidak akan datang dengan kebisingan sebanyak itu.” Rivan memeriksa magasin senjatanya dengan gerakan efisien. “Ini serangan gabungan.” Jantung Kania berdegup kencang. “Interpol dan Abian..
Rivan menatapnya dalam diam selama beberapa detik sebelum tangannya turun ke pinggang Kania. Sentuhannya tidak kasar, namun penuh penekanan kepemilikan yang mutlak. “Kau lelah,” ucap Rivan. Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan yang tepat sasaran. Kania mengangguk kecil, kepalanya terasa berat. “Aku lelah berpikir. Lelah menebak-nebak.” “Kalau begitu berhenti berpikir. Biarkan aku yang melakukannya untukmu.” “Mudah bagimu bicara begitu.” Rivan tersenyum tipis. “Karena aku sudah memutuskan tujuan kita sejak lama.” “Kau tidak pernah merasa ragu sedikit pun?” tanya Kania. “Dalam hal memilikimu?” Rivan menggeleng perlahan, matanya menatap Kania seolah ia adalah satu-satunya objek yang ada di dunia ini. “Tidak pernah sekalipun.” Kalimat itu seharusnya terdengar salah dan mengerikan. Namun di titik ini, Kania me
Suasana di antara mereka bergeser. Menjadi lebih berat, lebih intim, dan jauh lebih berbahaya. Rivan mengangkat tangannya, menyentuh sisi leher Kania. Sentuhan itu lembut, namun terasa seperti borgol yang tak kasat mata. “Kau marah padaku,” bisik Rivan. “Aku sangat marah.” “Tapi kau tidak pergi.” Kania membenci kenyataan itu. Ia membenci dirinya sendiri karena masih berdiri di sana, tak mampu melangkah menjauh dari pria yang telah merusak hidupnya. “Kau yang membuatku menjadi seperti ini,” suara Kania melemah, hampir menyerah. “Tidak,” Rivan mendekat hingga napas mereka bersatu. “Aku hanya menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya saat kau berhenti berpura-pura menjadi lemah.” Napas Kania tercekat. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram ku







