LOGINUcapan itu menghantam dada Kania bagai pukulan palu raksasa. Ia mundur selangkah demi selangkah, kepalanya terus menggeleng tak percaya.
"Tidak... tidak mungkin... ayahku tidak akan melakukan hal jahat seperti itu...""Namun itulah kenyataan yang tak bisa kau tolak."Rivan kembali mendekat dan meletakkan kedua tangannya di atas bahu Kania. Ia tak memaksanya diam, namun sentuhan itu terasa seperti rantai yang tak terlihat. <Bunyi ledakan ban itu masih terngiang jelas di telinga Kania, seperti gema yang tak mau hilang. Namun, mobil mereka kini sudah melaju jauh, meninggalkan kekacauan di belakang. Satu per satu, lampu kendaraan yang mengejar mereka menghilang, tertelan oleh kegelapan malam yang pekat. Sunyi kembali merajai kabin mobil. Namun, sunyi kali ini terasa berbeda—lebih berat, lebih berisi. Kania masih menggenggam pistol itu. Jemarinya kaku, belum sepenuhnya bisa rileks. Ia menunduk, menatap benda logam dingin yang baru saja ia gunakan untuk mencelakai orang lain. Ia menatapnya cukup lama, mencoba mencari sisa-sisa dirinya yang dulu di sana. "Aku benar-benar melakukannya..." bisik Kania. Suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin. Rivan melirik sekilas, ekspresinya tetap datar namun matanya mengawasi setiap perubahan raut wajah wanita di sampingnya. "Ya." Jawaban singkat itu menghanta
Mobil melesat membelah jalanan dengan lebih agresif. Deru mesinnya meraung, seolah mencerminkan ketegangan yang memuncak di dalam kabin. Cahaya lampu kendaraan di belakang mereka tak lagi berupa titik samar di kejauhan; kini cahaya itu berpendar terang, menyilaukan mata dari kaca spion. Mereka masih diburu. Kania tidak lagi menoleh ke belakang. Bukan karena ia tak acuh, melainkan karena ia sudah tahu persis apa yang ada di sana. Bahaya itu nyata, dan ia lelah terus-menerus merasa takut. Tangannya masih berada dalam genggaman Rivan, dan untuk pertama kalinya, ia sama sekali tidak terpikir untuk melepaskannya. "Ada dua kendaraan di belakang kita," ucap Rivan datar. Pandangannya lurus ke depan, fokus sepenuhnya pada jalanan yang berkelok. Kania mengangguk kecil, mencoba mengatur napasnya. "Interpol?" "Satu." "Yang satu lagi?" Rivan tersenyum tipis,
Keheningan yang menyelimuti lorong itu tidak benar-benar membawa ketenangan. Ia seolah hanya sedang menunggu—menanti saat yang tepat untuk kembali meledak. Langkah kaki Abian telah lama menghilang ditelan kegelapan, namun jejak kehadirannya masih terasa pekat di udara, mengawasi dan menunggu dari balik bayang-bayang. Kania masih berdiri di titik yang sama. Tangannya belum lepas dari genggaman Rivan. Justru, jemarinya semakin merapat, mencengkeram tangan pria itu lebih erat dari sebelumnya. Kali ini, ia tidak lagi bersandiwara. Ia tidak lagi berpura-pura tidak sadar akan apa yang ia lakukan. Rivan menunduk, menatap tautan tangan mereka selama beberapa detik sebelum perlahan mengangkat pandangannya ke wajah Kania. "Kau tidak melepaskanku," bisik Rivan. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman tenang. Kania tidak memalingkan wajah. Ia menatap mata itu dengan kejujuran yang menyakitkan. "Aku tahu."
Udara di dalam ruangan itu terasa semakin menyesakkan. Bukan karena sempitnya dinding yang mengepung, melainkan karena tabrakan ego dari tiga orang yang berdiri di sana. Rivan di sisi kanan, Abian di depan, dan Kania—terjepit di tengah-tengah sebagai poros badai. Tangan Kania masih berada dalam genggaman Rivan. Genggaman itu terasa sangat erat, bahkan terlalu erat, seolah pria itu tak berniat memberi ruang sekecil apa pun baginya untuk terlepas. Abian memerhatikan tautan tangan itu dengan saksama. Senyumnya perlahan melebar, penuh ejekan yang halus. "Masih seperti itu, ya..." gumamnya santai. "Selalu menggenggam seolah dunia akan runtuh kalau dia bergerak satu langkah saja." Rivan tidak menyahut. Tatapannya lurus dan dingin, menusuk tepat ke arah Abian. "Aku sarankan kau berhenti bicara dan segera pergi," ucapnya datar namun penuh ancaman. Abian tertawa kecil, suara tawany
Udara di dalam bangunan itu berubah seketika. Bukan karena suhu yang menurun, melainkan karena sebuah kehadiran yang menyesakkan. Meski Abian telah mundur dan sosoknya menghilang ke balik lorong gelap, rasanya dia belum benar-benar pergi. Kehadirannya tertinggal di sana—mengawasi, menunggu, dan menekan. Kania masih berdiri mematung. Tangannya baru tersadar masih mencengkeram lengan Rivan. Begitu kesadarannya kembali, ia buru-buru menarik tangannya, seolah baru saja menyentuh sesuatu yang terlalu nyata untuk ia hadapi. Rivan melirik sekilas, tetapi dia tidak mencoba menahannya. "Dia sengaja melakukan itu," ucap Rivan memecah keheningan. "Melakukan apa?" tanya Kania, mencoba menstabilkan suaranya. "Membuatmu ragu." Kania menelan ludah, berusaha keras untuk terlihat tegar. "Aku tidak ragu." Rivan menatapnya lama, tatapan yang seolah mampu menelanja
Mobil kembali melaju, kali ini lebih cepat dan lebih sunyi. Udara di dalam kabin terasa menekan, seolah setiap detiknya membawa mereka mendekat pada sesuatu yang tak terelakkan. Lampu jalan yang sesekali muncul menyapu wajah Kania dan Rivan secara bergantian—terang, gelap, terang lagi—mengingatkan bahwa posisi mereka saat ini jauh dari kata stabil. Kania duduk tegak, mencoba mempertahankan sisa-sisa ketenangannya. Tangannya masih menggenggam tangan Rivan. Kali ini, ia sadar sepenuhnya. Ia tidak melepaskannya, dan ia tidak berniat melakukannya. Rivan melirik sekilas, tak berucap sepatah kata pun, namun genggamannya menguat seolah memberikan persetujuan bisu atas pilihan Kania. "Kita ke mana sekarang?" tanya Kania akhirnya, memecah kesunyian. "Tempat terakhir yang akan mereka pikirkan." "Dan itu di mana?" Rivan tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang terlihat dingin di







