Share

2. Tidak Ada Jalan

Author: Nousephemeral
last update Last Updated: 2025-09-19 00:18:11

Setelah diancam akan digauli di meja makan, Elea akhirnya menyantap sarapannya juga. Setelah sebelumnya izin terlebih dahulu ke kamar mandi untuk membasuh muka dan dia menemukan banyak bekas ciuman yang pria itu tinggalkan di tubuhnya.

Tak heran. Semalam pria itu menggaulinya seperti binatang liar. Seolah menumpahkan seluruh hasratnya yang selama sebulan ini tidak bisa tersalur akibat yang menjadi tumpahan hasratnya nekat melarikan diri. Meskipun hanya sebulan saja Elea bisa menjauh dari pria itu.

Elea berusaha fokus pada hidangan di hadapannya. Meskipun begitu, dia bisa merasakan tatapan Rendra terus tertuju ke arahnya. Menatapnya yang tengah makan dengan ogah-ogahan. Yang sebelumnya merasa lapar, berubah langsung kenyang hanya dengan duduk sarapan bersama pria itu.

"Makan dengan benar, Elea," titah Rendra dingin.

Ucapan itu bagaimana angin lalu. Karena Elea tetap menunjukkan sikap yang sangat tidak sopan. Dia mengunyah sambil memasang ekpresi seolah begitu muak berada di sana.

"Makanannya tidak enak?"

Lagi-lagi, Elea tidak ada keinginan untuk menjawab. Untuk menatap Rendra sedikit pun tidak.

Dengan tidak adanya lagi suara penuh otoritas terdengar dari pria di hadapannya, Elea pikir Rendra akan membiarkannya makan sesuai kemauannya sendiri.

Namun, sesaat kemudian, Elea langsung mengangkat kepala cepat mendengar Rendra sedang berbicara di telepon dengan asisten pribadinya.

"Haris? Panggilkan koki yang membuat sarapan untuk Elea — "

"Tuan!"

" — sepertinya Nona Elea tersayang tidak menyukainya."

Napas Elea tercekat, matanya membola, melihat Rendra sudah memutuskan panggilan telepon sebelum dia meminta agar pria itu tidak usah memanggil koki yang menyiapkan sarapan untuk mereka.

"Tuan — "

"Kamu tahu betul, Elea. Aku tidak suka orang yang tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan benar. Koki yang menyiapkan sarapan ini tidak bisa membuat kamu makan dengan baik, jadi tentu aku harus memberinya sedikit arahan, kan?"

"Makanannya enak," sahut Elea cepat. Kemarahannya kali ini bercampur dengan ketakutan. Mengingat bagaimana sosok Rendra dan pengaruhnya, dia khawatir koki yang dimaksud kehilangan pekerjaannya hanya karena dirinya yang membuat pria itu kesal.

"Bagaimana bisa aku tahu kamu sungguhan menyukai makanannya atau takut koki itu kehilangan pekerjaan karena tidak bisa membuat sarapan — "

"Nggak," sela Elea cepat. "Makanannya beneran enak. Liat, aku bisa memakannya dengan baik." Dia menyantap sarapannya dengan lahap yang sebelumnya dimakan dengan ogah-ogahan.

Rendra menyilangkan tangan di dada. Menatap Elea dengan salah satu sudut bibir tertarik, jelas sekali menikmati bagaimana perempuan itu menuruti perintahnya untuk makan dengan benar.

Meskipun cara agar perempuan itu mau menurut selalu sama. Diancam. Dibuat takut.

Rendra bertanya-tanya, apa dia harus terus membuat Elea takut terlebih dahulu agar mau mendengarkan perkataannya?

"Jangan pecat koki itu," pinta Elea setelah makanan yang dilahapnya tertelan habis. "Jangan membuat orang lain menanggung akibatnya karena sikap kamu yang gila," ucapnya berani. Matanya kembali menyala-nyala oleh api kemarahan.

Seringai Rendra terbit semakin lebar. Sebelum kekehannya yang ringan meluncur keluar. Kekehan yang buat Ela sontak menggenggam garpu di tangannya erat.

"Senang bisa mendengar kamu memaki lagi, Lea." Rendra menyahut dengan santai. Alih-alih marah, dia justru terhibur dengan makian itu. "Tapi, Lea," pria itu melanjutkan ucapannya dengan lamat-lamat. Memanggil nama Lea dengan nada bicara yang janggal, "bukan salahku seandainya koki itu kehilangan pekerjaannya. Kamu yang tidak menyukai makanannya — "

"Aku suka!" sela Elea cepat. "Aku bilang aku suka."

"I'm not sure." Rendra menggeleng santai. "Reaksi pertama biasanya lebih jujur."

"Aku bukan tidak suka dengan makanannya. Tapi, aku tidak suka dengan siapa aku makan," balas Elea berani. Dia lebih baik melawan karena diam pun hanya membuat pria itu semakin gencar membuatnya tersiksa. Sementara jadi penurut... Elea tidak lagi ingin menjadi orang yang mudah untuk Rendra mainkan seenaknya.

Rendra tergelak. Seolah kebencian Lea kepadanya adalah sesuatu yang sangat lucu. "Memangnya sejak kapan kamu suka makan dengan aku, Lea? Sejak dulu pun kamu begitu. Ayolah, Lea. Jangan terus memberi aku informasi yang aku tahu betul."

Elea menggertakkan gigi geram. Matanya kembali berkilat-kilat oleh amarah. Sementara Rendra balas menatapnya dengan santai — di balik cangkir teh yang tengah disesapnya.

Dasar gila.

Batin Elea mengumpat berulang kali.

"Kalau sudah tahu, kenapa Tuan mengira aku tidak suka makanannya padahal yang tidak aku suka adalah Tuan sendiri?"

Rendra kembali menyimpan cangkir tehnya dengan ketenangan yang buat Elea geram. "Sederhana saja, Elea. Aku hanya suka melihat kamu ketakutan."

Orang gila.

Bersamaan dengan itu, pintu terdengar diketuk dari keluar.

"Tuan. Kokinya sudah ada di sini."

Elea menatap ke arah pintu dengan bola mata membulat terkejut. Sementara Rendra menyeringai tipis, lagi-lagi menikmati ekspresi Elea yang tampak cemas.

"Sepertinya ada orang yang membutuhkan arahanku."

"Tuan!" Elea berseru dengan napas tercekat. Ikut berdiri ketika pria di hadapannya bangkit dari duduknya. "Jangan pecat koki itu, aku mohon."

"Kamu akhirnya ingat caranya memohon, ya," balas Rendra menyeringai puas. "Tapi, kamu melupakan satu hal lagi."

Apa lagi?

"Aku mungkin akan mengabulkan permintaanmu seandainya kamu sudah mengingat hal yang kamu lupakan itu."

Elea menggigit bibir. Memilin ujung kemeja yang dipakainya dengan cemas, seiring dengan matanya melihat langkah Rendra menuju ke arah pintu keluar.

Di tengah rasa panik yang menjalar, otaknya justru tidak bisa diajak berpikir dengan benar.

Sebenarnya pria gila itu ingin dia mengingat hal apa sih?

Tidak bisa memikirkan hal apa pun, Elea akhirnya memutuskan menghadang langkah pria itu. "Aku minta maaf." Elea merasa mual ketika mengucapkan permintaan maaf yang tidak sudi dia lakukan. Namun, dia harus melakukannya dibanding orang yang tidak bersalah menjadi korbannya. "Tuan, aku minta maaf," mohonnya, berusaha terlihat semenyesal mungkin.

Elea semakin putus asa ketika melihat Rendra tidak menunjukkan ekspresi puas dengan permohonan maafnya. Pria itu justru menatapnya dengan dingin. Seperti... bukannya meredakan kesalahan, dia malah semakin memperburuknya.

Apa sekarang permintaan maafnya pun salah bagi pria itu?

"Tuan?"

Rendra masih bergeming. Tetap menatapnya dingin tanpa ekspresi. Perbedaan tinggi badan mereka buat aura mengintimidasi pria itu memancar begitu kuat.

Elea melipatkan bibir ke dalam. Dia sudah memikirkan satu hal yang kemungkinan Rendra maksud dia melupakannya. Namun, dia ragu apakah memang itu yang Rendra maksud?

Mungkin rasanya akan malu seandainya memang bukan hal itu yang Rendra maksud, tapi Elea akan mencobanya.

"... Mas?" Nada bicara Elea kentara sekali ragu-ragu.

"Bilang yang jelas."

"Mas."

Ketika panggilan itu keluar dari mulutnya dengan lebih jelas, Elea dapat menangkap salah satu sudut bibir Rendra tertarik tipis.

"Apa?"

Ternyata benar. Itu hal yang dia lupakan. Elea memang ingat, Rendra pernah bilang tidak suka dipanggil Tuan olehnya. Entah kenapa padahal kenyataannya pria itu memang tuannya. Entah secara harfiah atau secara orang yang menguasai hidupnya.

"Jangan pecat koki itu, aku mohon. Makanannya enak. Aku suka." Elea rela memohon berulang kali, padahal salah satu keinginannya adalah tidak pernah memohon lagi kepada pria itu.

"Call me that again."

"Mas."

"Beg."

"Aku mohon, Mas."

Rendra menyeringai puas. Pria itu tiba-tiba merunduk, meraih dagu Elea, dan mencium bibir perempuan itu.

Elea berusaha mendorong tubuh kekar Rendra ketika ciuman pria itu mulai mendesak, seolah tidak ingi menyudahinya cepat-cepat.

"Mas, Pak Haris nungguin — " Kalimat Elea belum selesai ketika Rendra sudah kembali menyambar bibirnya dengan tidak sabaran. Tubuh Elea bahkan ditarik untuk merapat. Satu tangan pria itu berada di bawah punggungnya dan satu lagi menahan tengkuknya.

Ketika ciuman Rendra berjalan semakin menuntut. Tangannya pun mulai bergerak ke mana-mana. Elea berjengit merasakan tangan pria itu masuk ke dalam kemejanya, meraba paha dalamnya di mana dekat dengan area intimnya yang tidak memakai pelindung apa pun.

Elea mencengkeram kuat pergelangan tangan pria itu bersamaan dengan ciuman teurai karena Elea hampir kehabisan napas. "Mas, sudah!" Napas Elea terengah. Menatap pria itu, kali ini berharap belas kasihnya.

Elea tidak mengerti kenapa Rendra selalu bernafsu kepadanya. Lihatlah tatapan pria itu sekarang. Menatapnya dengan matanya yang gelap dan lapar, seolah dia adalah santapan paling lezat.

"Kamu bilang aku harus makan. Aku masih lapar sekarang." Elea menggunakan kesempatan itu untuk membuat Rendra mau melepaskannya.

Berhasil.

Meskipun tampak enggan, Rendra akhirnya membiarkan Elea kembali menikmati sarapannya.

"Mas, kokinya — "

"Iya, Elea," potong Rendra terdengar jengkel. "Tidak usah terlalu mengkhawatirkan orang lain seperti itu," decaknya sinis.

Rendra menghubungi asisten pribadinya, Haris, mengatakan jika Elea menyukai sarapan yang dibuat koki itu. Tanpa perlu dijelaskan maksudnya, asistennya pasti sudah paham apa yang harus dilakukan.

Elea diam-diam menghela napas lega. Ketika kembali tersadar pada akhirnya dia kembali terjebak dengan pria yang ingin dia hindari jauh-jauh, Elea rasanya ingin berteriak sejadi-jadinya.

Saat Lea sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, mencari cara agar tidak terus hidup di bawah dominasi sang tuan gila, suara si tuan memecah hening.

"Bagaimana hidup tanpa aku, Lea?"

"Sangat baik," jawab Lea tanpa sungkan.

Rendra sontak menyeringai. Lihatlah perempuan itu. Setelah permintaannya dituruti, dia kembali bersikap sombong.

"Oh ya?" Nada bicara Rendra jelas sekali sarat mengejek. "Sangat baik sampai kamu harus kerja sana-sini."

Elea mengernyitkan kening. "Kamu menyuruh orang untuk mengawasiku?" tanyanya berang.

"Kenapa harus kaget seperti itu, Lea?" Rendra menyeringai sarat penuh kepuasan dan ejekan. "Jelas sekali aku tidak mungkin membiarkan sesuatu yang sudah jadi milikku hilang dari pengawasanku."

"Aku tidak pernah jadi milik kamu." Elea menggeram di antara giginya yang terkatup rapat.

Rendra terkekeh. Jelas sekali menganggap pemberontakan Elea adalah hiburan baginya. "Katakan itu kalau kamu sungguhan bisa pergi tanpa bisa aku temukan."

Bajingan gila.

Sejujurnya Elea memang tidak kaget Rendra menyuruh orang untuk mengawasinya. Selama mengenal Rendra dan obsesinya, pria itu sangat mungkin melakukannya.

Hanya saja dia merasa semakin miris saja pada dirinya sendiri. Itu artinya selama sebulan ini dia tidak benar-benar bebas dari pria itu.

Hanya karena pria itu belum menemukannya, bukan berarti pria itu tidak mengetahui keberadaannya.

Pria itu sungguh mengejeknya.

Sialan sekali.

Saat Elea sedang memaki-makinya dalam hati, suara pria itu kembali terdengar.

"Kamu mau tahu caranya pergi tanpa bisa aku temukan?" Rendra bertanya dengan nada main-main. Sudut bibirnya berkedut dan matanya berkilat jenaka. "Tidak ada." Pria itu tertawa, membuat Elea sontak merinding ngeri.

"Bahkan kematian sekali pun tidak akan bisa membuat kamu lepas dari aku, Lea."

"...."

"Hidup atau mati, kamu akan selalu bersamaku."

Elea sungguhan kehabisan kata-kata untuk menanggapi kegilaan pria itu. Jadi, yang bisa dia lakukan hanya mengepalkan tangan erat sampai buku-buku jarinya memutih.

Jika tahu dia akan menjadi objek dari obsesi pria itu, dia mungkin tidak akan pernah mau menginjakkan kaki di rumah pria itu. Apalagi untuk tinggal yang membuatnya harus menghadapi obsesi pria itu yang semakin parah seiring dia bertambah dewasa.

[]

a.n: fyi, umur lea sekarang 20 tahun, sementara rendra 28. lea pertama kali tinggal di rumah (mansion) keluarga rendra pas umur 16 tahun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Objek Hasrat Tuan yang Memiliki Segalanya   Extra Part 14

    Rendra pikir, ia sudah begitu mengenal Elea. Bertahun-tahun mengenalnya sebagai perempuan penuh prinsip, keras kepala, pemberani, tapi lugu di saat bersamaan. Namun ternyata pernikahan membuat ia melihat sisi baru Elea. Sisi yang membuatnya kewalahan, namun kegemasan di saat bersamaan. Semenjak menikah, sifat-sifat yang dulu tidak begitu tampak mulai muncul ke permukaan. Elea lebih manja dari yang ia kira, sering kali menuntut perhatian dengan cara yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ada hari di mana istrinya bersikap kelewat manja, menggelayut di lengannya tidak ingin ditinggalkan kerja, merengek minta perhatiannya, atau sekadar memintanya menemani menonton film sampai larut meskipun keesokan harinya ia harus bekerja pagi. Tapi di sisi lain, Elea juga jauh lebih rewel. Tidak terima kalau janji kecil terlupakan, bisa bad mood seharian hanya karena ia tanpa sengaja tidak mengangkat teleponnya karena sedang di tengah meeting, atau kesal sendiri saat hal-hal kecil t

  • Objek Hasrat Tuan yang Memiliki Segalanya   Extra Part 13 (21+)

    Elea terusik dari tidurnya ketika sensasi geli menjalar di tubuhnya. Sentuhan hangat yang begitu familiar tengah meremas-remas lembut payudaranya, lalu puncaknya dipilin dengan gerakan yang sudah terlalu ia kenal. Ia tetap memejamkan mata sejenak, membiarkan kantuknya perlahan menghilang oleh keintiman yang diciptakan sosok di belakangnya. Ini bukan pertama kalinya ia terbangun seperti ini. Bukan pertama kalinya Rendra menggrepe-grepe tubuhnya saat ia sedang tidur. Elea menunduk, hanya untuk mendapati gaun tidurnya sudah melorot sehingga tangan Rendra yang tengah memainkan payudaranya terlihat jelas tanpa terhalang apa pun. Setelahnya ia menoleh ke belakang, matanya menangkap sosok sang pria yang tengah menumpukan dagunya di pundaknya, membuat napas hangatnya menyapu kulitnya. Mata pria itu tertutup, tapi tangannya tak berhenti mengeksplorasi, seakan menyatakan kepemilikannya meski dalam keadaan setengah sadar. Elea menghela napas pelan, tubuhnya sedikit menggeliat dalam dekap

  • Objek Hasrat Tuan yang Memiliki Segalanya   Extra Part 12 (21+)

    “Mas, tunggu dulu.” Elea menahan tangan Rendra yang tengah membuka kancing kemejanya dengan tergesa-gesa. Rendra dengan matanya yang jelas-jelas sudah dipenuhi oleh kabut nafsu menatap Elea linglung dan terlihat frustrasi di saat bersamaan. Seolah ia tidak ingin lagi mendengar kata “tunggu” di situasi saat ini. Ia tidak bisa lagi menunggu, sedetik pun itu. “Tunggu dulu, Mas,” ulang Elea, sebelum pria di atasnya benar-benar mengeluarkan protes. “Kenapa, Lea?” di tengah pikirannya yang sudah dikuasai oleh hasrat dan jemari yang masih bertahan di atas kancing kemeja yang setengah terbuka, Rendra masih mencoba menahan dirinya untuk tidak merobek pakaian perempuan itu sekarang juga — menahan diri dengan pertahanan diri yang sudah sekarat. Elea menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal akibat cumbuan panas barusan. “Aku mau mandi dulu,” ucapnya pelan. Rendra nyaris mengeluarkan umpatan. “Nanti sekalian mandinya. Biarin Mas tuntasin ini dulu.” Ia kembali menunduk,

  • Objek Hasrat Tuan yang Memiliki Segalanya   Extra Part 11

    Elea tak lagi bisa menyangkal. Kehadiran Rendra di hidupnya telah membawa perubahan besar. Salah satu yang paling nyata adalah bagaimana ia kini bisa tidur dengan lebih nyenyak, tanpa dihantui mimpi buruk yang selama tiga tahun terakhir selalu mengusiknya. Bahkan, kini ia bisa tidur sendiri tanpa dihantui mimpi buruk yang sama lagi. Semuanya bermula ketika malam itu Elea akhirnya menceritakan segala ketakutan yang selama ini ia pendam sendiri kepada. Tentang mimpi buruk yang selama bertahun-tahun membuatnya terbangun dalam ketakutan. Tentang bayang-bayang luka yang tak pernah benar-benar hilang. Saat mendengarnya, Rendra tak mengatakan apa pun untuk waktu yang cukup lama. Namun matanya yang berkaca-kaca sudah menunjukkan bahwa pria itu menyimpan penyesalan dan rasa bersalah yang teramat sangat. Untuk kesekian kalinya lagi, Rendra meminta maaf sambil menangis. Menangis untuk semua luka yang Elea tanggung sendiri karena dirinya. Jujur saja, melupakan luka-luka yang ditorehkan pria

  • Objek Hasrat Tuan yang Memiliki Segalanya   Extra Part 10 (21+)

    Keinginan itu datang tiba-tiba. Keinginan untuk membalikkan keadaan. Untuk membuat pria itu menyerah, tunduk padanya, dan memohon dengan mata penuh keputusasaan. Elea tidak tahu dari mana keberanian ini datang. Tidak tahu mengapa kini, di saat Rendra justru memilih menahan diri, ia ingin pria itu menyerah. Mungkin karena dulu, Rendra tak pernah memberinya pilihan. Pria itu selalu menuntut, selalu memaksa, seakan segalanya adalah haknya. Sekarang ia ingin melihat Rendra di posisi yang dulu selalu menjadi miliknya — takluk di bawah seseorang yang lebih berkuasa. Dan saat ini, dalam situasi sekarang ini, ia jelas lebih berkuasa dibanding pria itu. Sekarang pria itu begitu takut menyakitinya. Begitu khawatir tindakannya sekecil apa pun itu akan membuatnya kembali menghilang. Apa Elea jahat jika memanfaatkan kondisi Rendra yang seperti itu? Menurutnya tidak. Karena dulu, Rendra jauh lebih jahat kepadanya. Dulu, pria itu bahkan tidak memberi kesempatan baginya untuk menolak.

  • Objek Hasrat Tuan yang Memiliki Segalanya   Extra Part 9 (21+)

    Dulu, sentuhan Rendra adalah paksaan — sebuah klaim atas sesuatu yang ia anggap sebagai miliknya. Ia tak peduli pada izin, apalagi kenyamanan. Yang ia tahu, ia menginginkan Elea, dan itu cukup baginya untuk bertindak sesuka hati. Namun, kini semuanya berbeda. Rendra bukan lagi pria yang berdiri di atas kepribadiannya yang tidak bermoral, arogan dan pemahaman tentang kepemilikan yang melenceng. Ia adalah pria yang mulai paham bagaimana caranya mencintai dan cara yang benar untuk menginginkan sesuatu. Jadi, ketika akhirnya Elea memberinya izin, ketika mata perempuan itu perlahan mengangkat dan membalas tatapannya tanpa keraguan, Rendra merasa seluruh kendali yang selama ini ia pasang pada dirinya runtuh begitu saja. Tali tak kasat mata yang menjerat gairahnya akhirnya terlepas, membebaskan setiap hasrat yang selama ini tertahan. Tapi kali ini, bukan karena paksaan, melainkan karena keinginan yang saling bersambut. Rendra perlahan bergerak, menciptakan riak kecil di permukaan air

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status