MasukSaat itu, empat tahun yang lalu, di umurnya yang baru 16 tahun, Elea menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di mansion keluarga Kartanegara.
Hal pertama yang melintas di pikiran Elea ketika melihat mansion itu untuk pertama kalinya adalah... betapa tidak adilnya dunia. Saat dirinya kehilangan rumah, saat banyak orang yang harus bertahan hidup di bawah jembatan atau tidur beralas kardus di jalanan, di sini ada sebuah keluarga yang memiliki rumah sebesar ini. Bukan sekadar rumah, tapi mansion raksasa yang berdiri anggun dan megah di atas tanah beribu-ribu hektar luasnya. Dikelilingi pohon-pohon rindang, tumbuh-tumbuhan hijau, bunga-bunga yang cantik. Sangat indah, sangat memanjakan mata, di saat yang sama ada keluarga yang harus tinggal berdesakkan di pinggiran kumuh kota. Elea pikir, mansion seperti milik keluarga Kartanegara hanya terdapat di drama-drama, film-film atau cerita-cerita fiksi saja. Cara pandang Elea mungkin terlalu sempit atau mungkin dia hanya menolak percaya saja bahwa kesenjangan sosial sangat nyata adanya. Jika bukan karena rumahnya dijual oleh kakaknya tanpa sepengetahuan, Elea tidak akan pernah menginjakkan kakinya di mansion itu. Kakaknya entah pergi ke mana, membawa kabur semua uang hasil menjual rumah. Karena ibunya bekerja di mansion keluarga itu, Elea akhirnya dibawa setelah sang tuan rumah mengizinkan. Jika tidak banyak utang yang harus dibayar, Elea mungkin lebih meminta agar tinggal di kontrakan seorang diri saja. Toh, ibunya pun jarang pulang. Namun, jika menyewa kontrakan itu artinya ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Sementara tinggal di mansion keluarga itu gratis asal dia bisa bantu-bantu pekerjaan. Elea tinggal di mansion, bukan berarti Elea tinggal di bangunan utama. Tapi, tinggal di bangunan khusus pembantu. Yang jelas luasnya pun tidak ada apa-apanya dibanding dengan kamar di bangunan utama. Hal yang menyebalkan dari tinggal di lingkungan mansion itu, tidak hanya membuat Elea merasa begitu kecil, tapi juga jarak mansion dengan sekolah sangat jauh. Jadi, Elea harus bangun pagi-pagi sekali jika tidak mau terlambat. Mansion itu memang cukup jauh dari hiruk-pikuk kota. Seolah terisolasi dari dunia luar, sementara pagar-pagarnya pun sangat tinggi. Belum lagi banyaknya pohon-pohon rindang di sekelilingnya buat mansion itu seperti berdiri di tengah hutan. Hari pertama Elea tinggal di sana, Elea langsung bantu-bantu pekerjaan ibunya. Padahal ibu melarang dan menyuruh untuk belajar saja. Ibu sudah tidak segesit dulu saat pertama kalinya bekerja di mansion. Elea tidak tega melihat ibu harus terus bekerja keras seperti itu. Keinginan paling kuatnya adalah ingin segera bekerja, mendapatkan pekerjaan yang layak sehingga ibunya bisa istirahat setelah bekerja tanpa henti karena harus menanggung kebutuhan hidup mereka seorang diri sejak ayah meninggal. Belum lagi ibu harus melunasi utang yang ayah tinggalkan yang jumlahnya sangat besar karena usaha yang ayah bangun bangkrut dan saat itu ayah mengambil pinjaman dalam jumlah besar demi merintis kembali usahanya yang sayangnya malah berujung gagal. Uang tabungan habis untuk menggaji karyawan juga untuk berobat ayah yang berubah sakit-sakitan. Hidup Elea yang semula mendapat princess treatment dari ayahnya harus berubah menjadi pelayan yang membantu ibu melakukan pekerjaannya. *** Lalu, bagaimana pertemuan pertama Elea dengan putra bungsu Kartanegara? Hari itu, di penghujung bulan Oktober, para pelayan sibuk mempersiapkan perayaan untuk menyambut kepulangan putra bungsu Kartanegara yang baru saja menuntaskan studinya di luar negeri. Dari pembicaraan para pelayan, Elea jadi tahu jika putra bungsu Kartanegara, Rendra Adiguna Kartanegara, yang akan disambut kepulangannya dengan suka cita adalah kebanggaan keluarga. Tentu bukan tanpa alasan kenapa bungsu itu menjadi kebanggaan keluarga. Nama yang disebut-sebut penuh kekaguman oleh para pelayan adalah anak emas yang selalu berhasil mengharumkan nama Kartanegara dengan segudang prestasinya yang gemilang. Meskipun dia anak bungsu, posisinya di keluarga begitu kuat. Para pelayan berbisik bahwa Rendra-lah yang digadang-gadangkan menjadi pewaris sah keluarga, bukan kakak-kakaknya. Konon, dua kakaknya dianggap terlalu problematik dan tidak kompeten. Katanya sama seperti ayah mereka yang sudah meninggal. Jauh berbeda dengan Rendra yang cemerlang dalam banyak hal. Baik dari segi akademis, bisnis, hingga kemampuan sosial yang memikat banyak pihak. Konon, sifat dan sikap Rendra cerminan dari kakeknya. Mendengar segala informasi itu, Elea jadi penasaran dengan sosok pria yang akan disambut dengan begitu banyak kebanggaan dan harapan oleh keluarga. Namun, ketika hari kepulangannya tiba, Elea tidak bisa melihat wajahnya karena kepalanya harus menunduk sama seperti pelayan lainnya. Dia hanya bisa melihat sepatunya yang mengilap seolah tidak pernah terkena sedikit debu pun dan mendengar suaranya yang terdengar begitu tenang dan dalam. Bahkan tanpa melihat wajahnya, suara itu terasa seperti representasi dari sosoknya yang gemilang dan berwibawa. Di malam penyambutan pun, Elea dilarang membantu oleh ibunya dan disuruh diam di kamar saja untuk belajar mengingat Elea sebentar lagi akan menghadapi ujian kenaikan kelas. Elea menurut. Tapi, tidak menurut sepenuhnya. Karena dia tidak belajar di kamarnya, melainkan di tempat persembunyian yang dia temukan setelah iseng berjalan-jalan di lingkungan mansion yang sangat luas itu. Elea menemukan rumah pohon yang terletak cukup jauh dari bangunan utama. Letaknya pun di antara rimbunan pepohonan, tersembunyi dari pandangan umum dan menyatu dengan alam sekitarnya. Cabang-cabang besar yang menjulang menopang bagian bawahnya. Terlihat seperti tumbuh bersama pohon besar yang menjadi tumpuannya. Jendela-jendela besar yang mengelilingi menyuguhkan pemandangan alam yang memesona, seakan membawa kesejukan dari luar masuk ke dalam. Meskipun rumah pohon itu jelas sudah lama tidak ditempati — debu yang menumpuk, daun-daun dan ranting kecil yang berserakan hingga sarang laba-laba yang menjadi saksi bisunya — struktur bangunannya tetap tampak kokoh. Kayu yang digunakan masih kuat, tanpa retakan atau tanda-tanda lapuk. Dari teksturnya yang halus dan hangat, Elea bisa menebak bahwa bahan-bahan yang dipilih untuk membangun rumah pohon ini bukan sembarangan. Papan-papan kayunya yang menopang lantai dan dindingnya terlihat seperti kayu jati atau mahoni berkualitas tinggi, yang mampu bertahan menghadapi cuaca bertahun-tahun lamanya. Atapnya yang berlapis serat alami juga masih terpasang rapi, melindungi ruang di bawahnya dari derasnya hujan dan terik matahari. Setiap tiang penopangnya berukuran besar dan kukuh, seperti menyatu sempurna dengan pohon yang menjadi fondasinya. Bahkan jendela-jendela kaca di sekelilingnya, meski tertutup debu, tetap utuh tanpa retak sedikit pun. Elea menyadari, meskipun rumah pohon ini tersembunyi dan tampaknya dibiarkan begitu saja, jelas bahwa tempat ini dulunya dibuat dengan perhatian khusus dan penuh kehati-hatian. Perabotan kayu yang ada di dalamnya, walau kusam, masih menunjukkan kualitas tinggi, dengan ukiran-ukiran sederhana yang memberi kesan elegan namun tidak berlebihan. Elea bertanya-tanya, dulunya rumah pohon ini milik siapa? Ketika membersihkan rumah pohon itu, Elea menemukan beberapa barang salah satunya adalah buku-buku klasik. Karena tempatnya jelas sekali sudah tidak terurus yang mana itu artinya sudah tidak ditempati, Elea berani untuk menempatinya. Berpikir, mungkin rumah pohon ini adalah tempat yang menjadi bagian dari kenangan masa kecil salah satu putra keluarga Kartanegara. Selama sebulan ini, Elea menjadi penghuni baru di sana. Elea memutuskan belajar di rumah pohon itu untuk beberapa jam ke depan dan akan kembali setelah dirasa pestanya akan selesai. Namun, waktu berlalu, kantuk tiba-tiba menyerangnya. Mungkin karena suasana rumah pohon yang tenang dan udara malam yang sejuk membuat Elea terbawa suasana untuk melelapkan diri. Ditambah rasa lelah setelah seharian membantu persiapan pesta perlahan-lahan menguasainya, membuat matanya semakin berat. Tanpa sadar, Elea sudah terlelap di atas meja dengan buku pelajaran masih terbuka di hadapannya. Kedamaian di sekitar rumah pohon membuainya. Cahaya bulan yang temaram menembus masuk lewat jendela, menyelimuti wajahnya yang polos dalam lelap. Elea belum benar-benar terlelap ketika terusik dengan suara langkah kaki yang berjalan menaiki tangga. Buatnya sontak menegang kaku dengan jantung mendadak berdebar kencang. Elea ingin membuka mata, tapi matanya rasanya begitu rapat tidak mau terbuka. Ketika langkah kaki itu terdengar semakin mendekat, Elea malah memejamkan matanya semakin rapat. Seakan kehadirannya tidak akan terlihat karena menutup mata. Maka jika membuka mata, dia akan ketahuan. Langkah kaki tidak terdengar lagi. Namun, Elea bisa merasakan kehadiran orang lain di dekatnya. Siapa? Siapa? Siapa? Jantungnya berdetak semakin tidak keruan. Tangannya tanpa sadar mengepal. Bahkan keringat dingin pun mulai muncul. Otaknya menyuruh untuk membuka matanya saja karena jelas tubuhnya tidak mungkin tidak terlihat. Lalu, tahu-tahu Elea refleks menahan napas saat merasakan sosok itu tepat berada di sampingnya, sepertinya sedang berjongkok karena Elea merasakan kehadirannya begitu dekat. Ketika sebuah tangan terasa ingin menyibak rambutnya, Elea sontak membuka mata, menegakkan tubuh dan langsung menarik tubuhnya mundur dengan napas terengah. Di sana, dia hadapannya, sedang berjongkok sesosok pria yang menatapnya dengan tenang, namun ada kesan dingin yang tidak terelakkan. Wajahnya tampan. Rahangnya tegas dengan lekuk yang sempurna. Alisnya yang tebal sempurna dengan sorot matanya yang tampak begitu tenang, setenang danau tanpa riak dan dalam sedalam lautan. Untuk sesaat, Elea seolah terjebak dalam tatapan itu. Sebelum kemudian suaranya yang pernah Elea dengar mirip dengan tatapannya yang tenang dan dalam terdengar. "Who are you?" Malam itu adalah untuk pertama kalinya Elea melihat wajah sang putra bungsu kebanggaan keluarga Kartanegara. Rendra Adiguna Kartanegara. Sang putra kebanggaan. Sang tuan yang dipuja-puja para pelayan dengan penuh kekaguman dan rasa hormat. Sang pria yang dianggap terlalu sempurna tanpa cela. Elea sempat menjadi bagian orang yang mengagumi. Sempat menjadi bagian yang mengira Rendra adalah sosok tak nyata saking sempurnanya. Sebelum obsesi pria itu muncul. Menghancurkan kekaguman Elea sampai hancur berkeping-keping. Kagum menjadi takut. Hormat menjadi ngeri. Suka menjadi benci. Iri menjadi jijik. Elea tidak pernah membayangkan bahwa di balik pesona itu, ada sisi gelap yang menguasai Rendra. Di balik sosoknya yang memikat, tersembunyi jiwa yang menuntut, yang bisa melakukan segala cara untuk mendapat apa yang diinginkannya. Dengan power yang pria itu punya, mudah baginya untuk melakukan itu. Elea menjadi korban penyalahgunaan kekuasaan Rendra. Sebabnya Elea nekat kabur setelah menahannya terlalu lama. Meskipun ujung-ujungnya kembali ke jeratan pria itu. Yang pada dasarnya Elea memang tidak pernah hilang dari pengawasannya. *** Baru sebulan Elea merasa bisa menghirup udara dengan benar karena berhasil bebas dari jeratan pria itu, dia mendapat kabar ibunya masuk rumah sakit. Tidak hanya lemas karena mendapat fakta ibu terkena kanker dan harus segera dioperasi, dia juga lemas ketika mendapati kehadiran Rendra di rumah sakit tempat ibunya dirawat. Yang membuatnya lebih lemas lagi adalah Rendra sudah menanggung semua biayanya. Elea jelas tidak senang dengan fakta itu. Karena jelas Rendra menginginkan balasan. Balasan yang akan kembali membuatnya terjebak bersama pria itu. Mendapati pria itu tersenyum miring saat melihatnya lagi setelah sebulan tidak bertemu, Elea tahu pada akhirnya dia akan kembali ke titik awal. "Sudah bermain petak umpetnya?" Dengan masing-masing tangannya tenggelam di saku celana, Rendra berdiri dengan angkuh di hadapan Elea yang tampak begitu rapuh. Pria itu bertanya dengan sarat sarkas dan mengejek. Bibirnya tersungging miring. Sorot matanya yang tenang tampak berbinar geli. Semua ekspresi yang ditampilkan Rendra saat itu buat darah Elea mendidih. Buat Elea merasa semakin direndahkan dan diejek atas ketidakberdayaannya. "Aku nggak minta kamu yang menanggung biayanya." "Alangkah baiknya kamu mengucapkan terima kasih terlebih dahulu, Elea." "Aku nggak minta tolong kamu." "Kalau bukan aku siapa lagi yang akan menolong kamu?" Rendra tersenyum sarat meremehkan. "Siapa pun, asal bukan kamu." Elea mendesis marah. Rendra terkekeh. "Seorang Elea yang harga dirinya tinggi itu memangnya mau mengemis pertolongan pada orang lain?" "Aku bisa melakukan apa pun demi ibu," balas Elea. Masih bicara dengan giginya yang terkatup rapat. "Kalau begitu, kamu harus menuruti semua yang aku mau. Aku yang sudah menolong ibumu." Elea mengepalkan tangan semakin erat. "Bukan aku yang minta. Kamu sendiri yang mau melakukannya," geramnya. "Jadi sekarang, Elea yang paling sungkan menerima bantuan orang lain mau berubah jadi Elea yang tidak mau balas budi?" "Jangan menolong kalau mengharapkan balasan." Rendra kembali melepaskan kekehan ringan. "Sayangnya aku tidak semurah hati itu, Lea. Aku tidak mau mengeluarkan sesuatu jika tidak akan mendapat balasan yang setimpal." "Aku nggak minta." Elea terus mengulang kalimat itu. "Keras kepala," decak Rendra, tersenyum miring terhibur. "Kalau kamu memang sangat ingin menolak bantuanku, aku akan tarik semua biaya perawatan ibumu. Silakan cari orang lain yang bisa memberi kamu uang sebanyak itu selain aku, Lea. Tapi jangan lupa... ibumu harus segera dioperasi." Setelah mengatakan itu, Rendra berlalu dengan langkah santai lengakp dengan senyum miring menghiasi bibirnya. Dia sangat yakin, mau bagaimana pun, yang bisa membantu Elea hanya dirinya. Di sisi lain, Elea pun jelas tahu hal itu. Siapa lagi orang yang bisa memberinya pinjaman uang dalam jumlah yang besar dan dalam waktu singkat selain pria gila itu? Rendra adalah satu-satunya pilihan. Elea merasakan frustrasi yang menyesakkan dada. Kepalan tangannya semakin menguat, berusaha keras menahan air matanya yang hampir tumpah. Alasan dia bersikeras menolak bantuan pria itu, karena ingin menyelamatkan harga dirinya yang tinggal secuil. Meskipun hatinya tahu dia tidak punya pilihan lain. Dan ya, ujung-ujungnya Lea kembali menjatuhkan harga dirinya, dibanding kehilangan satu-satunya keluarga yang dia punya. Elea bahkan belum sempat melihat ibunya ketika Rendra membawanya ke dalam mobilnya. Pria itu mengatakan tidak usah khawatir karena ada orang lain yang dia utus untuk menjaga ibunya. "Ibumu sudah ada yang merawat, tidak usah khawatir. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah bekerja... untuk aku." Elea terkesiap ketika Rendra menariknya untuk duduk di atas pangkuannya. Padahal di depan ada Pak Haris yang sedang menyetir. "Jangan di sini." Elea mencicit malu. Menggeliat tidak nyaman di atas pangkuan yang hal itu buat Rendra mendesis dan mencengkeram pinggangnya agar diam. "Tenanglah, Lea. Haris akan kehilangan matanya jika berani-beraninya melihat kulit telanjang kamu barang sedikit saja." []Rendra pikir, ia sudah begitu mengenal Elea. Bertahun-tahun mengenalnya sebagai perempuan penuh prinsip, keras kepala, pemberani, tapi lugu di saat bersamaan. Namun ternyata pernikahan membuat ia melihat sisi baru Elea. Sisi yang membuatnya kewalahan, namun kegemasan di saat bersamaan. Semenjak menikah, sifat-sifat yang dulu tidak begitu tampak mulai muncul ke permukaan. Elea lebih manja dari yang ia kira, sering kali menuntut perhatian dengan cara yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ada hari di mana istrinya bersikap kelewat manja, menggelayut di lengannya tidak ingin ditinggalkan kerja, merengek minta perhatiannya, atau sekadar memintanya menemani menonton film sampai larut meskipun keesokan harinya ia harus bekerja pagi. Tapi di sisi lain, Elea juga jauh lebih rewel. Tidak terima kalau janji kecil terlupakan, bisa bad mood seharian hanya karena ia tanpa sengaja tidak mengangkat teleponnya karena sedang di tengah meeting, atau kesal sendiri saat hal-hal kecil t
Elea terusik dari tidurnya ketika sensasi geli menjalar di tubuhnya. Sentuhan hangat yang begitu familiar tengah meremas-remas lembut payudaranya, lalu puncaknya dipilin dengan gerakan yang sudah terlalu ia kenal. Ia tetap memejamkan mata sejenak, membiarkan kantuknya perlahan menghilang oleh keintiman yang diciptakan sosok di belakangnya. Ini bukan pertama kalinya ia terbangun seperti ini. Bukan pertama kalinya Rendra menggrepe-grepe tubuhnya saat ia sedang tidur. Elea menunduk, hanya untuk mendapati gaun tidurnya sudah melorot sehingga tangan Rendra yang tengah memainkan payudaranya terlihat jelas tanpa terhalang apa pun. Setelahnya ia menoleh ke belakang, matanya menangkap sosok sang pria yang tengah menumpukan dagunya di pundaknya, membuat napas hangatnya menyapu kulitnya. Mata pria itu tertutup, tapi tangannya tak berhenti mengeksplorasi, seakan menyatakan kepemilikannya meski dalam keadaan setengah sadar. Elea menghela napas pelan, tubuhnya sedikit menggeliat dalam dekap
“Mas, tunggu dulu.” Elea menahan tangan Rendra yang tengah membuka kancing kemejanya dengan tergesa-gesa. Rendra dengan matanya yang jelas-jelas sudah dipenuhi oleh kabut nafsu menatap Elea linglung dan terlihat frustrasi di saat bersamaan. Seolah ia tidak ingin lagi mendengar kata “tunggu” di situasi saat ini. Ia tidak bisa lagi menunggu, sedetik pun itu. “Tunggu dulu, Mas,” ulang Elea, sebelum pria di atasnya benar-benar mengeluarkan protes. “Kenapa, Lea?” di tengah pikirannya yang sudah dikuasai oleh hasrat dan jemari yang masih bertahan di atas kancing kemeja yang setengah terbuka, Rendra masih mencoba menahan dirinya untuk tidak merobek pakaian perempuan itu sekarang juga — menahan diri dengan pertahanan diri yang sudah sekarat. Elea menelan ludah, mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal akibat cumbuan panas barusan. “Aku mau mandi dulu,” ucapnya pelan. Rendra nyaris mengeluarkan umpatan. “Nanti sekalian mandinya. Biarin Mas tuntasin ini dulu.” Ia kembali menunduk,
Elea tak lagi bisa menyangkal. Kehadiran Rendra di hidupnya telah membawa perubahan besar. Salah satu yang paling nyata adalah bagaimana ia kini bisa tidur dengan lebih nyenyak, tanpa dihantui mimpi buruk yang selama tiga tahun terakhir selalu mengusiknya. Bahkan, kini ia bisa tidur sendiri tanpa dihantui mimpi buruk yang sama lagi. Semuanya bermula ketika malam itu Elea akhirnya menceritakan segala ketakutan yang selama ini ia pendam sendiri kepada. Tentang mimpi buruk yang selama bertahun-tahun membuatnya terbangun dalam ketakutan. Tentang bayang-bayang luka yang tak pernah benar-benar hilang. Saat mendengarnya, Rendra tak mengatakan apa pun untuk waktu yang cukup lama. Namun matanya yang berkaca-kaca sudah menunjukkan bahwa pria itu menyimpan penyesalan dan rasa bersalah yang teramat sangat. Untuk kesekian kalinya lagi, Rendra meminta maaf sambil menangis. Menangis untuk semua luka yang Elea tanggung sendiri karena dirinya. Jujur saja, melupakan luka-luka yang ditorehkan pria
Keinginan itu datang tiba-tiba. Keinginan untuk membalikkan keadaan. Untuk membuat pria itu menyerah, tunduk padanya, dan memohon dengan mata penuh keputusasaan. Elea tidak tahu dari mana keberanian ini datang. Tidak tahu mengapa kini, di saat Rendra justru memilih menahan diri, ia ingin pria itu menyerah. Mungkin karena dulu, Rendra tak pernah memberinya pilihan. Pria itu selalu menuntut, selalu memaksa, seakan segalanya adalah haknya. Sekarang ia ingin melihat Rendra di posisi yang dulu selalu menjadi miliknya — takluk di bawah seseorang yang lebih berkuasa. Dan saat ini, dalam situasi sekarang ini, ia jelas lebih berkuasa dibanding pria itu. Sekarang pria itu begitu takut menyakitinya. Begitu khawatir tindakannya sekecil apa pun itu akan membuatnya kembali menghilang. Apa Elea jahat jika memanfaatkan kondisi Rendra yang seperti itu? Menurutnya tidak. Karena dulu, Rendra jauh lebih jahat kepadanya. Dulu, pria itu bahkan tidak memberi kesempatan baginya untuk menolak.
Dulu, sentuhan Rendra adalah paksaan — sebuah klaim atas sesuatu yang ia anggap sebagai miliknya. Ia tak peduli pada izin, apalagi kenyamanan. Yang ia tahu, ia menginginkan Elea, dan itu cukup baginya untuk bertindak sesuka hati. Namun, kini semuanya berbeda. Rendra bukan lagi pria yang berdiri di atas kepribadiannya yang tidak bermoral, arogan dan pemahaman tentang kepemilikan yang melenceng. Ia adalah pria yang mulai paham bagaimana caranya mencintai dan cara yang benar untuk menginginkan sesuatu. Jadi, ketika akhirnya Elea memberinya izin, ketika mata perempuan itu perlahan mengangkat dan membalas tatapannya tanpa keraguan, Rendra merasa seluruh kendali yang selama ini ia pasang pada dirinya runtuh begitu saja. Tali tak kasat mata yang menjerat gairahnya akhirnya terlepas, membebaskan setiap hasrat yang selama ini tertahan. Tapi kali ini, bukan karena paksaan, melainkan karena keinginan yang saling bersambut. Rendra perlahan bergerak, menciptakan riak kecil di permukaan air







