INICIAR SESIÓN"Tuan Alexander, anda tidak seharusnya menyalahkan Aira! Pada saat itu Aira ada di dalam toilet, dan akulah yang bersama Sofia! Aku sudah berusaha melindunginya, tapi kekuatanku kalah telak! Kami sudah melaporkannya ke pihak berwajib, dan mereka tengah menyelidiki kasus ini!" tekan Alex dengan suara sedikit emosi. Ia memeluk Ana meskipun tangannya masih memakai selang infus, dan tubuhnya terasa babak belur. Isak tangis gadis itu membuat hatinya bak terkoyak, akan tetapi pada saat yang sama baik kedua saudara kembarnya maupun Tiffany tidak melakukan apapun. Tidak membela Alex, apalagi Ana. Sebenci itu memang ia pada Ana, tapi Alex yang sudah jatuh hati oada gadis itu akhirnya hanya berusaha membela dan menenangkan Ana dalam dekapannya. Ana diam dalam dekapan tubuh pria yang sudah ia hajar habis-habisan, tapi ia tidak merasa bersalah samasekali, malahan tujuannya jadi semakin terang saat ada seseorang yang menjadi kambing hitamnya. "KAU KIRA SEGALA PENJELASAN DAN PELINDUNGAN KAMU SA
Langkah kaki Alexander Lemos menggema di sepanjang lorong rumah sakit lantai tiga. Setiap langkahnya berat, dipenuhi oleh amarah yang belum padam. Di belakangnya, dua orang anak buahnya mengikuti dengan jarak yang tidak terlalu jauh, wajah mereka tegang dan siaga.Tanpa bertanya lagi kepada perawat, Alexander berhenti di depan sebuah pintu ruangan dengan nomor yang telah diberitahukan sebelumnya. Dari celah kaca kecil di pintu, ia dapat melihat siluet seseorang di dalam."Di sini, Tuan," ujar salah satu anak buahnya dengan suara pelan.Alexander memberikan isyarat dengan dagunya. Anak buahnya segera maju dan membuka pintu secara paksa. Tidak ada ketukan, tidak ada permisi. Gagang pintu yang terkunci terdengar berderak keras saat didorong dengan tenaga.Suara hentakan pintu yang terbuka dengan kasar itu membuat suasana di dalam ruangan seketika berubah.Di dalam ruangan tersebut, Ana yang baru saja turun dari ranjang pasien dan hendak menuju ke kamar mandi, tubuhnya spontan menegang. L
Alex mendengus kesal saat melihat Jack ada di sana. "Kenapa kau tidak pergi?!" gumamnya dengan kesal. "Anda mengusir saya? Tapi mohon maaf saya tak bisa pergi. Karena wanita anda juga menunggui anda, maka saya akan menunggui wanita saya," ujar Jack. "Hey! Apa maksudmu wanitaku!" ujar Alex dengan emosi. "Dia, kan wanitamu." Jack menatap ke arah Tiffany yang ada di salah satu kursi di dekat ranjang Alex. Tiffany tampak tersipu malu, sedangkan Alex mengepalkan tangannya dan tulang rahangnya tampak mengeras! "Tutup mulutmu, Bangsat! Apa maksudmu dia wanitaku?! Dia samasekali bukan wanitaku!" teriak Alex. Ana menghela nafas saat mendengar ucapan Alex. "Jack, sudahlah..., jangan mulai bertengkar lagi. Aku lelah mendengarnya, begini saja..., sebaiknya kamu kembali dulu, nanti aku akan hubungi kamu kalau aku membutuhkanmu. Lagipula sudah ada Yana," ujar Ana dengan santai. Yana yang mulai mendengar namanya disebut akhirnya menunduk sedikit. Jack tampak ragu saat hendak men
Alex terkejut saat melihat siapa yang menawarkan diri untuk menjaga Ana di sana, dan orang itu hanya menatapnya dengan tatapan datar saja. "Kau yang akan menjaga Aira?! Jangan bercanda!" tekan Alex. Suara Alex meninggi, meskipun tubuhnya sendiri sedang terbaring lemah di ranjang perawatan sebelah ranjang Ana. Selang infus masih terpasang di tangannya, tubuhnya masih terasa sakit semua akibat bekas pukulan yang Ana tinggalkan. Jack hanya menghela napas. Ia tidak terpancing sama sekali. Tatapannya tetap datar, tenang. Ia sudah masuk dan tetap terlihat tenang sembari menghela nafas sejenak. "Aku tidak sedang bercanda, Tuan Alex. Anda sendiri sedang dirawat. Anda butuh istirahat," jawab Jack pelan. Rere yang duduk di antara kedua ranjang itu langsung menahan tangan Alex yang mencoba bangkit. "Alex, Nak, jangan bangun dulu. Kamu masih lemas," ucap Rere dengan suara lirih. Matanya tampak sayu dan mengantuk karena semalaman tidak tidur. Ana yang terbaring di ranjang sebelah
Ana tersenyum kecil, bulir airmata ikut mengalir. Ada rasa sesak saat ia mengingat keluarganya, dan ada rasa bahagia saat kedua orangtua angkatnya yangbkini ternyata menerimanya. Pada saat yang sama – Jack masuk ke dalam dan sedikit menunduk pada Ana. Ana tersenyum tanpa menyadari Aldo, Aldi dan Tiffany menyadari ada anggukan dan salam dari Jack. Waktu berlalu, Ana terus mengobrol ringan dengan Rere dan Edward. Suasana di dalam kamar rawat itu kembali hening setelah Edward duduk. Ana menatap ayah angkatnya itu lama. Tatapan dinginnya perlahan luntur, berganti dengan tatapan lelah yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. "Mah, Ayah," suara Ana pelan, hampir berbisik. "Aku harus cerita." Rere segera menggenggam tangan Ana. "Cerita apa, Nak?" Ana menarik napas dalam-dalam. Napasnya masih sedikit berat karena selang oksigen yang menempel di hidungnya. "Cerita tragedi yang terjadi sebelumnya, dan mungkin kalian semua ingin mendengarnya. Aku ke parkiran bawah tanah setelah urusa
"Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan?" sebuah pertanyaan lahir begitu saja tanpa sebab yang jelas. Ana menatap orang yang ada di samping ranjangnya dengan tatapan dingin dan datar. "Ada hubungan apa kau dengan dia?!" tekannya lagi dengan suara bergetar menahan amarah. "Alex! Kamu ini kenapa?! Kamu juga sedang sakit kenapa malah tiba-tiba saja turun dari ranjang dan menuju ke sini lalu bicara aneh?!" tegur sang ibu. Rere, Ana bahkan semua orang yang ada di sana sampai menahan nafas setelah melihat Alex ada di samping ranjang Ana tanpa banyak berkata-kata dan langsung meluncurkan pertanyaan yang sedikit mengganjal di benak mereka. Ana tersenyum kecil, "Kenapa? Kamu cemburu? Ah, mas begitu sih?" tanyanya dengan nada yang terdengar seperti menggoda saja. Wajah Alex seketika berubah merah padam, ia kembali ke ranjang dan kembali menidurkan tubuhnya. Suasana kembali hening, dan diluar kamar Edward menatap lelaki yang ia kenal sebagai rekan kerja putrinya dengan tatapan penuh







