LOGINIvanka Biandra Kaveri tidak pernah membayangkan hidupnya akan ditukar dengan sebuah kontrak. Dalam satu malam, ia dipindahkan ke penthouse tertinggi di Obsidian Central, sebuah benteng kaca antipeluru yang lebih menyerupai sangkar emas daripada tempat tinggal. Di sanalah ia harus hidup di bawah kendali Byakta Dinadiyaksa Bagaspati. Pengusaha muda paling berpengaruh di kota. Penguasa sistem yang tak pernah tersentuh hukum. Pria yang dunia gelapnya jauh lebih dalam dari yang terlihat. Tapi semakin Ivanka mencoba melawan, semakin ia menyadari satu hal mengerikan, bahwa Byakta tidak mengikatnya dengan ancaman. Ia mengikatnya dengan perlindungan. Ketika sindikat Arkanza mulai bergerak, ketika masa lalu eksperimen manusia mulai terungkap, ketika pengkhianatan muncul dari orang terdekat, dan ketika rahasia lama keluarga mereka terkuak, Ivanka menemukan kenyataan bahwa kontrak ini bukan sekadar kesepakatan bisnis. Ia adalah bagian dari hutang lama. Bagian dari perang yang sudah dimulai sebelum ia lahir. Disaat dia brusaha menjauh, dia justru kembali mendapat kenyataan kalau semua penderitaan Byakta berpusat dari keluarganya.
View More"Rose, kenapa nggak masak?" tanyaku begitu pulang dari sawah.
"Ngantuk, Bu. Lagian ngapain sih pagi-pagi udah masak? Kalo mau sarapan beli aja, gitu kok repot!" jawabnya ketus lalu membaringkan tubuhnya lagi.
Aku cuma menggeleng kepala melihat kelakuan menantuku yang super males dan manja itu. Bukannya aku keras, tapi tiap hari setelah aku dan suami pulang dari sawah tak pernah ada masakan terhidang di meja.
Kalo sudah begitu, aku juga yang memasak. Badan sudah pegal sehabis dari sawah, sampai rumah mesti memasak lagi. Menantuku itu kalo belum jam sepuluh belum puas tidurnya, entah kenapa anakku bisa punya istri sepertinya.
Pernah aku menasehatinya agar bangun pagi, tapi lagi-lagi dia hanya membantah. "Rose, bangun udah siang! Nggak bagus bangun siang ntar rezekinya dipatuk ayam!"
"Halah, kata siapa? Itu cuma mitos doang, ngapain percaya gituan!" ucapnya sinis sembari melengos masuk kedalam kamar.
"Sudah, Bu. Kalo dia nggak mau nggak usah dipaksa, daripada ribut ntar di dengar tetangga, malu kita," tegur suamiku.
"Iya, Pak. Cuma ya nggak bisa juga di biarkan terus nanti jadi kebiasaan," omel ku.
"Bapak tau, pelan-pelan aja dinasehati. Kalo dia merajuk mengadu sama orang tuanya, mau taruh dimana muka kita?"
"Ish, bapak cumanya membela menantu aja. Sebel!" kataku sambil berjalan menuju dapur.
Di dapur, sembari memasak tak hentinya aku berfikir bagaimana agar Rose bisa bangun pagi dan memasak. Ingin minta bantuan anakku, tapi cuma dianggap angin lalu saja.
Anakku Darma, tidak pernah sekalipun menegur istrinya. Pergi kerja mungkin dia tak pernah sarapan, tapi Darma tak mengeluh. Darma bekerja di pabrik kain, gaji tak seberapa banyak.
"Nak, nasehati istrimu! Jangan suka bangun siang, nggak bagus!" kataku suatu malam pada Darma selesai makan.
"Sudahlah, Bu! Suka hati dia aja, yang penting dia senang," jawab Darma acuh. Begitulah selalu yang dikatakannya bila aku sudah bicara mengenai istrinya.
"Sekarang kamu bisa bilang begitu, tapi nanti lihatlah! Jangan sampai kamu menyesal, nggak berkah seorang istri bangun siang apalagi nggak sholat Subuh, nggak ada rezekinya!" ucapku dengan intonasi tinggi.
Darma terdiam, cukup membuat dia berpikir ulang. Memang kalo tidak ditegur dari sekarang nanti jadi kebiasaan yang susah diubah.
Namun, Darma tidak menegur itu juga karena sudah tau watak istrinya. Selalu membantah. Pernah suatu pagi Darma membangunkan Rose, tapi susah sampai Darma sudah kehabisan akal.
Darma pun membiarkan istrinya, yang penting Rose tidak berbuat macem-macem dan selalu di rumah.
Namun, pagi itu tidak seperti biasanya. Darma yang bangun sedari Subuh sudah merasakan tidak enak badan. Darma bolak balik buang air besar, aku yang lagi di dapur memasak air panas melihat Darma berulang kali ke toilet.
"Kenapa kamu, Nak?" tanyaku saat dia keluar sekian kalinya.
"Perut Darma mules, Bu! Mungkin masuk angin," ucapnya sambil memegang perutnya dan duduk di meja makan.
"Tunggu, ibu buatkan teh manis hangat," kataku sambil menuju dapur.
Darma mengangguk, kemudian masuk ke kamar membangunkan istrinya. "Ros, bangun ...," Darma mengguncang tubuh Rose.
Rose cuma menggeliat kemudian tertidur lagi. Darma kembali mengguncang dengan sedikit kasar. "Rose, tolonglah bangun. Perut Mas sakit ini," keluh Darma merintih.
"Apa sih Mas? Ganggu orang tidur aja!" omel Rose sembari menguap.
"Mas masuk angin, tolong kamu kerokin badan Mas," pinta Darma.
"Males lah, suruh ibu aja sana! Aku nggak bisa," sahut Rose kembali akan tidur.
"Kamu kan istri, Mas! Kok semuanya nyuruh ibu, lalu kerjamu apa?" kata Darma mulai emosi.
"Kenapa kamu marah, Mas! Nggak senang? Baiklah aku pulang aja kerumah orang tuaku," ancam Rose beranjak bangun.
Aku yang mendengar keributan mereka segera menengahi dan masuk kedalam. "Sudah sini biar ibu yang kerokin," sahutku.
"Nah, gitu dong. Ibu aja yang kerjakan, udah sana, Mas. Aku mau tidur lagi, awas kalo dibanguni!" cibir Rose.
Dengan jengkel dan malu, Darma keluar dari kamar. "Huh, dasar istri tak tau diri. Bisanya cuma tidur, ntar ada geledek nyambar pun nggak tau," umpat Darma menyumpahi istrinya.
Aku yang mendengar segera menegurnya. "Husst, nggak boleh ngomong gitu. Pamali, ucapan adalah doa!"
"Abisnya Darma kesal, Bu. Sakit gini kalo bukan istri yang ngurus siapa lagi? Masa' iya terus repotin ibu," sungut Darma.
"Ya sudah, ibu nggak repot. Anak ibu cuma kamu satu-satunya, selama kalian tinggal di sini ibu akan bantu semampu ibu," kataku menenangkan Darma.
Selesai kerokan, tubuh Darma kembali hangat. Aku menyuruhnya minum teh manis yang kubuat tadi, lalu menyuruh Darma tidur kembali sembari menungguku membuat sarapan.
Hari ini Darma kuminta cuti dari kerja, awalnya dia memaksa ingin bekerja tapi aku larang. Bapak yang terbangun heran melihatku sepagi ini sudah masak.
"Loh, Bu. Tumben udah masak?" tanya Bapak begitu keluar kamar. Kamar kami berada dibelakang dekat dapur, jadi jika keluar langsung mengarah ke dapur.
"Iya Pak, ibu buat sarapan untuk Darma. Masuk angin dia, tadi aja baru ibu kerokin," jawabku yang masih mengaduk sayur bayam.
Hari ini aku masak sayur bayam bening, tempe goreng dan sambel terasi. Masakan yang disukai suamiku dan Darma. Siap masak, aku bangunkan Darma yang tertidur di sofa.
Bapak yang juga jarang makan pagi sangat lahap, bahkan tambah dua kali. Begitu juga Darma, kami makan bertiga saja. Rose jangan ditanya, jam tujuh masih di alam mimpi.
Usai sarapan, aku dan suamiku berangkat ke sawah setelah memberikan Darma obat. "Karena kamu di rumah, nanti bantu bapak berikan ayam makan dibelakang rumah, ya Le," titah bapak pada Darma yang dibalas anggukan.
Sepulang dari sawah, saat menuju dapur aku terkejut. Ceceran nasi dimana-mana, bahkan mangkuk dan piring berjatuhan dari rak. Aku memanggil Darma, namun tidak disahuti.
"Darma ... Dimana kamu, Nak? Kenapa di dapur berserak begini," kataku sembari memungut mangkuk dan piring lalu meletakkan ke atas meja.
Aku berjalan menuju kamar Darma, saat kulihat dia meringkuk dibawah ranjang dengan tatapan bengong.
"Ya Allah, Nak. Kenapa kamu? Trus mana Rose?" tanyaku celingukan.
"Dia pergi, Bu!"
Kaveri menatap Byakta beberapa detik. Tatapan itu bukan sekadar dokter pada pasien—melainkan seorang ayah yang sedang menimbang seberapa banyak kebenaran yang harus dia sampaikan.“Kita butuh ruang operasi utama. Sekarang,” ujarnya tegas. “Dan donor darah yang kompatibel. Kehilangan darahnya terlalu banyak.”Ivanka langsung menegang. Dia menatap sang ayah lebih dalam. “Golongan darahnya apa?”“O negatif,” jawab Kaveri cepat. “Dan stok kita menipis. Apa kita bawa dia ke rumah sakit—”“Tidak mungkin!” potong Byakta. “Ini terlalu beresiko. Lagi pula, peralatan di ruang operasi kita juga sudah lengkap.”Byakta langsung berdiri lebih tegak, meski tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih. “Ambil punyaku. Darahku sama dengan Rival.”Kaveri langsung menggeleng tegas. “Tidak bisa. Kondisimu tidak stabil. Tekanan darahmu turun, dan—”“Aku bilang ambil,” potong Byakta dingin. “Jangan pernah membantah di situasi seperti ini.”Nada itu membuat beberapa orang di lorong langsung diam. Namun Kaveri tida
“Kamu ingat Rendra?” tanya Byakta. Ivanka tidak menjawab. Namun tatapannya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. “Dia bahkan mencari jawaban itu. Dia terus mencari obat penawar dari mereka. Tapi apa yang dia dapatkan? Dia hanya diperbudak untuk bisa mendekatiku. Mengambil semua sistem yang ada di kepalaku. Dan mati sia-sia.” Byakta melangkah mendekat. Dia memiringkan wajahnya dengan mata yang masih tetap tajam. “Kalau kamu tidak percaya, kenapa kamu tidak tanyakan saja pada Kaveri,” ujar Byakta. “Kamu bahkan tidak mempercayai ayahmu sendiri. Dan lebih percaya pada orang baru?” “Dan kalau tidak dilepas?” tanya Ivanka. Byakta menghela napas panjang. Dia lupa kalau wanita di depannya memang selalu saja penasaran. “Aku mati,” tukasnya. “Aku akan mati, Ivanka. Itu lebih baik daripada hidup menjadi orang bodoh dan cacat mental.” Jawabannya sederhana. Terlalu sederhana untuk sesuatu yang seharusnya rumit. Ivanka menunduk. Tangannya mengepal tanpa sadar. “Jadi kamu memilih
“Sedang apa?” Ivanka tahu itu suara milik siapa. Namun dia enggan untuk menoleh. Byakta kini sudah berdiri di sampingnya. Menatap lurus ruang medis tempat Rival sedang ditangani. “Masih merasa bersalah?” tanya Byakta dingin. “Rasanya percuma kalau harus merasa bersalah sekarang.” “Aku sudah bilang, kamu tidak tahu medan apa yang kamu injak, dan siapa yang kamu hadapi,” lanjutnya. “Tapi lihat… kamu tetap egois dan merasa paling benar. Dengan alasan ingin menolongku?” Byakta terkekeh hambar. Dia menggelengkan kepala tak percaya. “Aku bingung, sampai kapan kamu akan terus egois seperti ini?” Ivanka menarik napas panjang. Dia tidak mau membantah. Karena semua yang dikatakan Byakta memang benar. Kalau saja dia Rival tidak datang dan mengorbankan dirinya, mungkin yang akan hancur adalah mereka berdua. Yang akan terparing atau bahkan mati, adalah mereka berdua. Dia memejamkan mata cukup lama. “Kalau memang aku egois, kamu apa?” tanya Ivanka membuat Byakta mengernyit samar.
“Jadi benar,” gumamnya pelan. Ivanka langsung menegang. “A-apa maksud—” “Kamu di sini karena anakku. Kamu di sini karena kamu mencintai Byakta? Kamu berbuat sejauh ini karena kamu mencintai Byakta?” Kalimat itu jatuh seperti vonis. Ivanka tidak bisa menyangkal. Tidak bisa juga mengiyakan. Karena bahkan dia sendiri belum sepenuhnya memahami perasaannya. Bagaspati menarik napas panjang. Lalu menghembuskannya pelan. “Masalahnya,” lanjutnya, “anakku bukan orang yang bisa kamu selamatkan. Dan anakku sulit untuk kamu gapai. Kamu tidak akan sanggup.” Ivanka menatapnya lebih lama. Dia tahu kalau kasta mereka mungkin berbeda. Dan mungkin itu maksud dari ucapan Bagaspati. Entah kenapa, dia tidak peduli. “Aku tidak mencoba menyelamatkan dia,” balasnya cepat. “Aku—” “Jangan boho
Ivanka menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dengan mata terpejam. Seharusnya, yang dirasakan adalah kelegaan, tapi ini justru kegelisahan. Pikirannya masih terus berpusat pada ekspresi Byakta yang jauh berbeda. Dia tidak lagi penuh obsesi. Dia seperti sudah pasrah dengan semua yang terjadi.
Byakta meletakkan ponselnya di atas meja. Dia kembali terkekeh pahit. Pria tua itu tidak benar-benar mengkhawatirkannya. Ini sudah biasa. Bahkan terlalu biasa untuk Byakta yang mendapat perlakuan seperti ini seumur hidupnya. Bagaspati selalu membuat kedo
“Kamu bisa menekan pelatuk ini nanti,” bisik Ivanka. Kedua tangannya yang hangat kini menyentuh pipi Byakta dengan jari lentiknya. “Beri aku waktu.” Setelah selesai mengatakan itu, Ivanka langsung pergi tanpa berkata lagi. Dia juga tidak mengejar ataupun menahannya. Uc
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa nyeri yang menyiksa. Ini adalah cinta pertamanya. Dan kegagalan pertamanya juga. Pintu lift terbuka. Tepat ketika kakinya hendak melangkah, Byakta langsung bertemu tatap dengan Ivanka yang memang sudah menunggu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews