INICIAR SESIÓN"Sedang apa kalian di sini?!" tanya Alex dengan suara yang lumayan dingin setelah ia melihat ketiga adiknya di sana. Alex berubah, ia seolah kehilangan dirinya. Dan ketiga adiknya sampai membelalakkan mata mereka setelah melihatnya. "Pergi!" ujar Alex tiba-tiba. "Tidak! Kami tidak akan pergi! Kami akan membantu kamu, dan membawa Aira bersama kita!" Tekan Aldo dan Aldi dengan hampir bersamaan. Alex menahan nafas, bukan karena takut, tapi di bagian dadanya seakan ada hal yang sedikit menusuk jantungnya. Sesak, rasnya nafasnya terasa sesak, bukan karena terharu, tapi ia kesal saat kedua adiknya memilih bertahan di sana untuk mempertaruhkan diri mereka. "Baik, tapi aku tak ingin kalian mati terbunuh di sini!" Alex meninggalkan mereka begitu saja. Aldo dan Aldi saling menoleh satu sama lain, menatap satu sama lain sebelum akhirnya mengekor di belakang kakak mereka. Mereka bertiga bahkan sampai melupakan Tiffany yang ada di belakang mereka. Tiffany berdecak kesal. Ia berjalan d
Tubuh Alex membeku, "A–aira." gumamnya dengan bibir bergetar saat melihat sosok gadis pendiam yang selama ini ia kagumi tampak membabat habis lawannya hanya menggunakan belati kecil namun tajam. Ana tidak memperhatikan sampai terlalu jauh, nafsunya membunuh sudah berada di puncaknya. Ia menusuk korban dan darah keluar sangat banyak. Sekilas ia melihat bayangan seseorang yang ia kenali. "Sedang apa kau di situ? Sebaiknya pergi kalau tak ingin mati terbunuh di sini!" ujar Ana sebelum akhirnya ia benar-benar pergi dan kembali mengintai ke segala arah yang ia rasa masih banyak kelompok mereka. Ana terus menuju ke luar, mencari tempat yang dipenuhi udara yang cukup segar. Nafasnya lumayan sesak bila ia tetap bertarung di dalam sana yang cukup gelap dan ia sulit mencari lawannya. Kondisi tubuhnya membuatnya menghemat tenaga termasuk menyisir satu persatu ruangan dengan pendengaran dan mata tajamnya! Hingga... Bugh! Satu serangan mendadak membuatnya harus terpelanting cukup kuat!
Ana, Ia menatap lurus ke depan. Rambutnya yang berantakan berkibar, wanita itu masih memakai pakaian pasien pada saat itu. Nafasnya masih belum teratur, tapi sorot matanya tajam! Senyuman kecil tampak hadir di bibirnya, ia mengambil sebuah batang kayu dan melemparkannya pada mereka sebelum ia berlari masuk ke dalam. Bukan karena ia tidak ingin menghadapi mereka, hanya saja ia harus mencari sesuatu agar mudah menghadapi mereka. Pada saat yang sama, di berbagai tempat sudah banyak orang yang menyisir lokasi sepi atau terbengkalai demi mencari Ana. Baik anak buahnya, Alex maupun Edward, mereka semua mencari Ana. Bahkan Edward dan Alex sampai menggunakan masinh-masing mobil mereka sendiri demi mencari Ana. *** Mobil milik Alex terus membelah jalanan sepi. Matanya menatap ke kiri kanan jalan yang sunyi. Sekarang ia berada di sebuah jalan yang sangat sunyi, tidak ada kendaraan yang lewat selain kendaraannya, sampai akhirnya ia melihat seorang wanita berlari menuju ke sebuah bang
Ana, ia bukanlah wanita lemah yam mereka kira. Sebuah sambungan telepon yang membuat ana yakin dengan dugaannya membuatnya tak bisa berpura-pura lagi. Terlebih orang yang ada di sekitarnya sudah memendam nafsu padanya saat melihat betapa moleknya tubuh Ana. Mata indahnya terbuka dengan cepat, orang di sekitar tubuhnya bahkan sangat terkejut melihatnya. "Hey, kau mau menyentuhku? Atau bahkan menikmati tubuh indahlu ini? Jangan harap bisa melakukannya dasar lelaki jelek!" Ana memuntir dua tangan di kanan dan kiri tubuhnya yang siap menjamahnya. Memutarkannya dan... Kraak! "Aaggh!" teriak orang yang tangannya dibuat patah oleh Ana. Setelah Ana mematahkan tangan orang, ia duduk dengan benar dan mulai menendang burung salah satu pria yang hendak mendekat ke arahnya. Laju mobil tak terkendali, pada saat yang sama akhirnya mobil itu masuk ke sebuah kawasan yang sudah tidak asing lagi bagi Ana. Di dalam mobil hitam yang melaju kencang, Ana duduk di kursi tengah tanpa di ikat, dan tanpa
Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo
Di rumah sakit.. Alex ditemukan tak sadarkan diri di ruangan rawat inap yang sebelumnya di huni Ana. Cairan darah berceceran di lantai, ibunya sampai histeris saat melihat kondisi Alex. Setelah ada pasien yang ikut menangani, setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia sadar. Alex membuka matanya perlahan, saat ia melihat ke atas ia melihat semua anggota keluarganya kecuali Ana. "Aira mana?" tanya Alex. Siang itu ruang rawat inap Ana sebelumnya akhirnya tampak ramai. ."Di mana Ana?" Itu adalah kalimat pertama yang keluar dari bibir Alex. Suaranya serak.Aldo saling pandang dengan Aldi, ragu untuk menjawab. Aldi menelan ludah, lalu melangkah maju setengah langkah."Kak, kami melihatnya," ujar Aldi dengan suara pelan namun jelas. "Tadi saat kami ada di luar, kami melihat Aira dibawa beberapa orang. Ada sebuah mobil hitam. Beberapa orang turun. Mereka membawa Aira pergi."Aldo mengangguk cepat, membenarkan ucapan kembarannya. "Aira sempat melawan Kak. Kami mencoba mengejar, tapi mo







