Masuk"Kamu milikku, Vanya, ha-hanya kamu yang bisa buat aku seperti ini, aahh!" Demi melunasi hutang dan nyawanya, Vanya dijual tunangannya kepada Jay, seorang bos mafia yang dingin. Tanpa Vanya sadari pula, tubuhnya memancarkan feromon alami yang langka. Di tengah gairah yang membara, feromon alami Vanya bekerja secara ajaib. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Jay mencapai klimaks yang intens dan hampir mustahil—sensasi yang selama ini hanya ia anggap mitos. Vanya kini menjadi satu-satunya kelemahan Jay, yang harus dimiliki dan dilindungi sepenuhnya dari dunia mafia gelap yang terus mengancamnya. (+21)
Lihat lebih banyakTOK, TOK, TOK!
Pukul 21:00, ketukan pintu apartemen kecil Vanya terdengar keras, seperti orang marah. Vanya baru selesai mandi dan sudah mengenakan gaun tidur tipis. Gadis itu buru-buru buka pintu. “Jordan?” katanya kaget. “Van, aku butuh duit. Banyak. Sekarang juga.” Vanya mengerutkan kening mendengar tunangannya yang tiba-tiba datang dalam kondisi mabuk dan berbicara demikian. Dia pun bertanya singkat. “Berapa banyak?” Jordan langsung masuk tanpa permisi, lalu memeluk Vanya begitu kuat sampai Vanya sesak napas. Pelukannya bukan hangat seperti biasa, ini seperti orang tenggelam yang mencari pegangan. “Dua puluh miliar.” “A-apa?” Malam ini, sebenarnya Vanya baru saja pulang dari pesta perayaan kelulusannya dengan teman-teman seangkatannya di kampus. Ia hari ini sungguh bahagia, karena nilai dari hasil kelulusannya sangat memuaskan. Namun saat perayaan itu, Jordan—tunangannya—tak ikut datang untuk merayakan hari besarnya dengan alasan ‘sibuk’. Vanya tak merasa kecewa. Ia memaklumi dan berpikir bahwa Jordan tengah berusaha mengumpulkan uang banyak untuk rencana pernikahan mereka hingga rencana berbulan madu mewah bersama. Setiap Vanya memikirkan hal itu, Vanya selalu mengulas senyum manis di wajahnya. Ia pikir, Jordan sangat serius untuk mempersuntingnya. Namun, berbanding terbalik dengan fakta sekarang. Vanya harus menghadapi tunangannya yang sedang berdiri di ambang pintu. Bajunya kusut, rambut acak-acakan, mata merah dan bau alkohol menusuk hidung. “Maaf. Maaf ya Sayangku. Maaf banget.” Jordan cium puncak kepala Vanya—begitu lama. “Maaf banget.” Vanya masih membeku. “D-dua puluh miliar??” Vanya menjerit terkejut. “Kamu gila? Kamu utang apaan sampe bisa segitu Dan?!” Jordan menghindari tatapan. “Bisnisku ambruk. Semuanya kacau. Aku,” Jordan memejamkan mata, napasnya berat. “Aku janji bakal balikin.” Jordan langsung meraih tangan Vanya. Suaranya bergetar parau. “Please Van. Kamu satu-satunya yang bisa bantu aku.” Vanya geleng kepala sambil menepis genggaman tangan Jordan. “Aku nggak punya duit segitu. Tabunganku cuma cukup buat nikah sama bantu kamu nutupin biaya DP rumah! Kamu kan udah tahu itu, kok kamu malah kayak gini?” Nada Jordan berubah. “Kamu harus bantu aku, Van! Kamu kan tunanganku!” “Aku nggak bisa!” Pekik Vanya, dada naik turun. “Kamu jelasin dulu ini utang sama siapa!” Jordan berdiri tiba-tiba, suaranya naik. Mata merahnya mulai tatap Vanya tajam, hingga tubuh gadis itu bergidik ngeri. Langkah Jordan maju perlahan, hingga gadis itu otomatis mundur. “Kamu nggak percaya sama aku? Aku lagi susah Van! Kamu malah nggak mau bantu!” Pertengkaran makin panas. Vanya mulai kesal. “Kamu yang salah! Kamu gambling lagi kan? Kamu janji nggak bakal main lagi!” Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Vanya. Kepalanya terhuyung ke samping, panas menyengat. Vanya memegang pipinya, mata melebar tidak percaya. Selama dua tahun berhubungan, Jordan tak pernah menyentuhnya dengan kasar. Kini, tunangannya itu berubah menjadi sosok asing—melakukan tindakan impulsif yang terasa seperti mimpi buruk yang tak pernah ia duga akan menimpanya. “Kamu tampar aku?” bisik Vanya gemetar. Jordan napasnya memburu. “Kamu yang maksa aku Van! Kamu nggak ngerti posisi aku!” Vanya mulai menangis, marah membara. “Kamu udah gila ya?!” Vanya mulai tarik lengan Jordan untuk usir tunangannya. “Keluar dari sini!” Dia coba tarik Jordan ke pintu, tapi Jordan menepis kasar hingga Vanya terhuyung dan jatuh. “Ah!” Vanya menjerit kecil dan terkulai lemah sambil berlutut di lantai dingin. Lalu tiba-tiba, tangan besar Jordan pegang rambut Vanya kuat-kuat, tarik mendekat sampai wajah mereka berjarak beberapa senti. “Arghhh!” Vanya jerit kesakitan. Jordan tatap dia lama. Matanya turun perlahan ke lekuk tubuh Vanya yang terlihat jelas di balik gaun tipis itu. Senyumnya berubah—dingin, lapar. “Mungkin ada cara lain kamu bisa bantu aku,” gumamnya pelan, suaranya serak. Dan tanpa mengulur waktu lagi— BUK! Jordan memukul wajah Vanya hingga Vanya pingsan. Tubuhnya terkulai lemah. Telinga berdengung. Dan … pandangannya perlahan kabur. Samar-samar, Vanya mendengar gumaman rendah Jordan sebelum akhirnya gadis itu tak sadarkan diri. “Maaf, tapi aku harus lakuin ini, Van.” Katanya. *** Pagi hari, cahaya redup masuk dari jendela besar ber-gorden tebal. Vanya tersadar perlahan. Kepalanya berdenyut sakit, seperti terbentur benda keras. Vanya merasakan denyut perih di beberapa area wajahnya. Bahkan, ada darah kering di sudut bibirnya. Tangan kanan dan kirinya terikat cukup kuat ke tiang ranjang king-size—ikatannya dari kain halus, bukan tali kasar. Dia melihat sekeliling—ruangan luas, lantai marmer hitam mengkilap, furnitur kayu mahal, bau tembakau dan parfum maskulin. Di dinding, deretan senjata api terpajang rapi dalam lemari kaca. Di meja sudut, tumpukan uang cash tebal dan beberapa paket plastik berisi bubuk putih. Vanya langsung panik, coba tarik tangannya, tapi ikatannya cukup kuat. Napasnya pendek. Ia berusaha melepaskan diri bagaimanapun caranya. Dan tiba-tiba … pintu terbuka pelan. Masuk seorang pria tinggi tegap, tampan tapi dingin. Rambut hitam rapi, kemeja hitam lengan digulung memperlihatkan lengan berotot dengan tato naga melilit. Wajahnya datar, matanya tajam seperti sedang menilai barang. Dia berdiri di kaki ranjang, tangan di saku celana, tatap Vanya lama tanpa bicara. Vanya gemetar. “Kamu siapa?” Pria itu akhirnya buka suara, dalam dan tenang. “Selamat pagi Vanya Zeyne. Tunanganmu baru saja menjualmu padaku.” Vanya masih pening, tapi kata-kata itu langsung menyentaknya sadar total. “Kamu bohong kan? Jordan nggak mungkin begitu—” “Namaku Jay Russell,” potong pria itu dingin. “Dan ya, dia mengatakannya sendiri untuk jual kamu ke saya. Utangnya dua puluh miliar rupiah.” Pria bernama Jay itu tertawa datar—tak ada humor. Kedua matanya melihat ke atas, seperti tengah menceritakan hal remeh. “Dan ya, dia nggak punya apa-apa lagi untuk bayar," sorot mata tajamnya langsung fokus ke Vanya. “Kecuali dengan tubuhmu itu!”Vanya beserta Ibu dan adiknya berjalan mengitari setiap lantai di mal besar. Ia tanpa ragu membayar setiap belanjaan pakaian yang menurutnya menarik perhatiannya demi menghibur dirinya sendiri tanpa melihat harga. Semua itu berkat kartu kredit milik Jay yang masih ada di tangannya. Meski begitu, setiap gesekan kartu itu mengingatkannya—bahwa bahkan kebebasan kecil ini pun masih berasal dari pria yang mengikatnya. Perasaan yang sejak tadi berkecamuk akhirnya mereda perlahan, karena perhatiannya teralihkan pada aktivitas yang selama ini sangat jarang untuk dilakukan selama masih di bangku kuliah. Bahkan, selama ia masih bersama Jordan, ia hanya pergi kencan beberapa kali dalam sebulan. Di salah satu toko pakaian, ada sebuah gaun menarik perhatiannya hingga Vanya melirik sekilas. Gaun itu berwarna pastel lembut dengan desain sederhana, dihiasi detail brokat berlipat yang memberi kesan anggun tanpa berlebihan. Kontras dengan gaun-gaun yang selama ini memenuhi lemarinya di mansion Jay—
Vanya membeku saat ia membaca isi pesan singkat suaminya. Tanpa sadar, tangannya yang menggenggam ponselnya mengerat hingga buku-buku jari memutih. Campuran kesal sekaligus muak mengendap di dadanya. Betapa tidak, pria itu masih saja mengontrolnya dari jarak jauh meski keberadaannya sudah tidak ada. Tapi bayang-bayang pria dingin yang tak tahu cara bagaimana berekspresi masih hadir di kepalanya. “Sialan,” gumam Vanya mengumpat pelan. Varsha yang duduk di tengah di antara dirinya dan ibunya langsung menoleh cepat, sebelum menutup kedua telinganya dengan tangan kecilnya. Suaranya terdengar pelan, namun sarat protes dan kekesalan yang begitu jelas. “Kak, ngomongnya jangan kasar.” Vanya tersentak dan menoleh cepat pada adiknya sebelum akhirnya ia merengkuh tubuh kecilnya dan mencium puncak kepalanya. Tangan satunya memasukkan ponselnya ke dalam tas kecilnya. “Maafin Kakak ya. Kakak nggak sengaja ngomong kasar.” Varsha hanya mengerucut bibirnya dan menjawab. “Nanti beliin aku es kri
Violet menatap putrinya lama sekali sebelum ia tersenyum kecil sambil mengangguk pelan. “Baik. Ibu ikut.” Varsha bertepuk tangan kecil. “Jalan-jalan! Aku mau beli es krim!” Vanya tertawa kecil dan memeluk adiknya lagi. “Kalau begitu, aku pakai baju dulu.” Violet mengangguk. “Ibu akan siap-siap bareng Varsha.” Vanya berbalik menuju kamar utama dengan langkah cepat. Di dalam kamar, ia membuka lemari besar dan memilih dress sederhana berwarna krem panjang selutut, cardigan tipis, dan flat shoes yang nyaman. Rambutnya ia keringkan cepat dan diikat ponytail tinggi. Sebelum keluar, ia menatap cermin sekali lagi. Ia memandang wajahnya dengan tajam dan penuh keyakinan. Dibenaknya ia terus meyakinkan diri sendiri, bahwa ia bisa hidup tanpa suaminya yang selalu mengatur hidupnya. Lantas Vanya mengambil tas kecil dan memasukkan Black Card ke dalamnya, lalu keluar kamar. Di koridor, ia bertemu Violet dan Varsha yang sudah siap. Varsha memegang tangan ibunya dengan wajah yang cerah. “Kak
Jay menatap telapak tangan itu lama sekali. Rahangnya mengeras tipis, matanya menyipit.“Kamu mau kemana memang?” tanyanya rendah, nada suaranya datar tapi ada tekanan halus di dalamnya.Vanya mengangkat dagu sedikit. Matanya tidak berkedip.“Kamu nggak perlu tahu.”Kata-kata itu keluar pelan, tapi menusuk. Sebuah cerminan yang nyaris sempurna dari apa yang selama ini selalu Jay ucapkan setiap kali Vanya mencoba menyinggung soal ‘urusan kerjaan’-nya.Jay terdiam. Matanya semakin gelap.“Vanya.”Vanya melipat tangan di dada, bibirnya mengerucut tipis. “Kenapa? Mau marah?”Jay tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap Vanya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran antara dingin, lelah, dan sesuatu yang lebih dalam yang jarang ia tunjukkan.Vanya melanjutkan, suaranya lebih tajam tapi tetap terkendali.“Itu yang selalu kamu bilang tiap aku tanya. ‘Nggak usah tahu detailnya sekarang’. ‘Ini urusan
Mata Violet sedikit melebar dan mengangguk cepat. “Ibu ikut.” Varsha memeluk ibunya erat. “Aku juga mau ikut cari Kak Vanya.” Jay tidak melarang. Ia berjalan lebih cepat, langkahnya tetap tenang tapi ada urgensi yang tidak bisa disembunyikan lagi. Mereka bertiga sampai di pintu ruang membac
Malam sudah larut di kediaman utama Silvia Russell. Ruang kerja pribadinya terasa lebih dingin dari biasanya, hanya diterangi lampu meja kuning redup. Silvia duduk tegak di kursi kulit hitam besar, jari-jarinya bertaut di atas meja. Di depannya, layar monitor besar menampilkan panggilan video
Vanya berjalan cepat menyusuri koridor panjang mansion. Air matanya masih mengalir pelan, tapi ia tidak lagi menangis tersedu. Hanya sesak yang semakin menekan dada, napasnya pendek-pendek, dan tiba-tiba .… Tubuhnya terasa panas. Bukan panas seperti bara yang membakar seperti dulu, tapi hangat
Vanya duduk di ranjang kamar utama mansion, selimut tebal masih melorot di pinggangnya. Matanya kosong menatap lantai marmer yang dingin, tapi pikirannya melayang jauh. Pantai putih itu … ombak kecil yang menyapa kaki … angin laut yang lembut mengusap rambut … Jay yang tersenyum tipis saat ia meny
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak