Beranda / Romansa / Obsesi Dingin Sang Komandan / Bab 44 Terjaga Semalaman

Share

Bab 44 Terjaga Semalaman

Penulis: Edelweis Jingga
last update Tanggal publikasi: 2026-08-18 15:01:24

.

.

.

Bab 44

Melihat Riwayat obat yang sudah pernah dikonsumsi Dara, Ryuga jadi tidak yakin kalau dia akan memberinya obat sembarangan di apotek.

“Nggak, Mas …”

Begitu Ryuga kembali mendekat dan Dara melihat apa yang pria itu pegang, ia buru-buru menyambar botol obat tersebut dari genggaman suaminya.

“I-ini udah lama banget. Aku … aku udah nggak minum itu, kok,” terang Dara gugup dan sedikit berbohong.

Tangannya dengan gemetar menyembunyikan botol obat tersebut di bawah selimut. Habis sudah! Ai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 114 Dara Yang Sebenarnya

    ...Bab 114Daara menoleh kembali.“Ini istri kamu, Ryu? Gimana bisa kamu nikah sama dia, sih?” Diana melempar tatapan sinis, seraya memindai tubuh Dara dari ujung kepala hingga ujung kaki.Diana sempat takjub. Dia hanya membual ketika bilang istri Ryuga tidak cantik hanya dengan menilai fotonya saja. Namun, tidak ingin mengakuinya tentu saja.Apalagi sekarang, Dara tampak sangat manis sekali sekarang meski hanya dalam balutan dress santai dan riasan tipis di wajahnya. Tidak ada kesan berlebihan pada penampilannya, tetapi ada sesuatu dalam ketenangan dan pembawaannya yang membuat Diana enggan mengalihkan pandangan.Dara memberikan tatapan yang sulit diartikan untuk kedua orang tua Diandra, khususnya wanita dengan puluhan perhiasan emas yang bergemerincing di tangannya tiap kali bergerak itu.Ryuga mengulurkan tangan pada istrinya. “Sini, duduk sama saya.”Ia merapatkan

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 113 Tamu Tak Diundang

    ...Dara-Ryuga Bab 113Terbangun tanpa Ryuga di sampingnya itu sudah biasa bagi Dara. Karena memang suaminya selalu bangun lebih awal untuk lari pagi. Sementara hati Dara belum tergerak untuk mengikuti pola hidup sehat suaminya.Keluar dari kamarnya, Dara tersenyum melihat putranya begitu telaten dalam menyusun balok-balok mainan menjadi sebuah bangunan yang hampir menyerupai sebuah rumah.Dara mendekat setelah membuatkan susu rasa vanilla kesukaannya.“Zio, minum susunya dulu.”“Iya, Nda. Makasih,” sahut Zio, seraya tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang rapi.Dara saja iri melihat betapa bersih dan rapinya gigi anak sekecil itu. Entah setelaten apa Ryuga merawatnya dulu.Di tengah-tengah interaksi mereka, Dara mendengar sayup-sayup orang mengobrol di ruang tamu. Dan, ketika menoleh ia mendapati Mbak Fitri berjalan tergesa menuju dapur dengan wajah yang terlihat panik.“Zio, sayang.” Dara menoleh pada Zio. “Sebentar, ya? Bunda mau ke dapur dulu.”“Oke, Nda.”Diusapnya kep

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 112 Horny

    ...Bab 112Udara di kamar mereka serasa terkuras, berganti dengan hawa panas. Ciuman Dara yang sejak tadi terasa tak terkendali dalam melampiaskan gejolak dalam dadanya mulai melembut setelah Ryuga mengambil alih.Ketika Dara mulai stabil emosinya, Ryuga melepas tautan bibir mereka pelan. Mengadukan kedua kening mereka selagi berebut udara untuk mengisi paru-paru.Dara meremang saat merasakan tangan suaminya bergerak pada punggung bawahnya, ditekan lalu diremas, desah perempuan itu lolos. Ryuga beralih pada leher, memberi jejak kemerahan di sana.“A-aku belum mandi, Mas,” ujar Dara, seraya menjauhkan badannya.Angin berembus kencang masuk ke dalam kamar melalui jendela yang belum Dara tutup. Dara menelan ludah menatap dada telanjang suaminya, lalu pandangan matanya naik ke atas.Astaga! Siapa yang melakukannya?Tentu saja, Dara.Apa Dara seliar itu tadi sampai tidak sadar membuat tanda merah bertebaran di leher suaminya?Dara nyengir canggung, sementara tangannya masih mendarat pad

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 111 Ciuman Mendadak

    ...Bab 111Dara tidak tahu siapa nenek Diana yang dimaksud Zio, tapi melihat Zio yang tampak lesu membuatnya urung mencari informasi darinya.“Zio, dengerin bunda.”Dara menggeser duduknya, berlutut tepat di hadapan Zio. Kedua tangannya terangkat lembut menangkup pipi tembam Zio.“Zio nggak mau punya adik, ya?”Zio menundukan kepalanya, hal itu mrmbuat mata Dara mulai berkaca-kaca.“Kalau Zio nggak mau, nggak apa-apa. Zio akan jadi satu-satunya anak bunda?”Diusapnya kepala Zio. “Jangan sedih lagi, ya? Sayangnya bunda ke Zio nggak ada batasnya jadi, Zio jangan pernah percaya lagi kalau ada yang bilang seperti tadi, oke?”Kepala Zio terangkat, menatap paras cantik bundanya yang selalu tersenyum hangat padanya.“Iya, Nda.” Pertanyaan Dara langsung disambut anggukan yakin oleh Zio, meski sambil terisak.“Zio pengin punya adik cewek, tapi Zio takut…”“Takut kenapa, sayang?”Zio kembali mendongak. “Tapi, kata nenek…”“Kamu hanya boleh percaya sama ayah sama bunda.” Seruan tegas itu bera

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 110 Penguntit Mesum

    ...Bab 110Panggilan Dara terus berdering tanpa mendapat jawaban. Ia beralih mencari nama Yudha dalam kontaknya.“Yud, Mas Ryu lagi sibuk?”Semenit kemudian, balasan masuk.“Baru aja mandi, tuh. Belum pake baju malahan.”Membaca balasan pesan dari Yudha, mata Dara terbuka lebar. Jemarinya bergerak cepat mengetikkan balasan.“Heh! Kalian ngapain mandi di situ segala?”“Abis ada kerjaan dari luar, Kak. Kotor, jadi Komandan mandi dulu. Mau aku fotoin nggak, mumpung belum pake baju.”Sebagai wanita normal, Dara tentu saja sangat berminat dengan tawaran Yudha yang menggoda. Sambil menahan senyum nakal di bibirnya, ia membalsa singkat.“Boleh, Yud.”Ryuga memang tidak memiliki tubuh yang putih mulus selayaknya Song Joong ki atau Ji chang wook, tetapi justru Dara melihat sisi maskulinnya.Wajahnya manis dan tidak membosankan untuk Dara pelototi tiap hari, apalagi kalau sedang dalam pose candid bertelanjang dada seperti sekarang.Dara memperbesar layar ponselnya.“Ya ampun, seksi banget k

  • Obsesi Dingin Sang Komandan   Bab 109 Cincin itu Masih Ada

    ...Bab 109Dirga berdehem. “Kamu ada waktu sebentar, kan?”“Maaf, aku nggak bisa.” Dara menjawab cepat, tak ingin mendengar Dirga melanjutkan kalimatnya. “Aku udah bilang kita udah selesai. Nggak ada yang perlu dibicarain lagi,” imbuhnya.Dirga menarik sudut bibirnya, melihat Dara yang tampak panik dan gugup membuatnya justru tak ingin menjauh. Wajah Dara yang memerah karena marah itu tampak menggemaskan baginya.Perlahan, tetapi pasti Dirga mendekati Dara. Hingga Dara terperanjat ketika lengannya ditarik, membuatnya masuk kembali ke dalam toko dan pintu kembali tertutup.“Dirga?!”“Dara, sayang.”Dara terkesiap mendengar panggilan itu terus meluncur ringan dari mulut Dirga.“Apa kamu bener-bener nggak mau dengerin penjelasan aku?”Dara memejam erat, posisinya saat ini terlalu berbahaya. Terlebih, sebagaian besar dinding toko adalah kaca. Sudah pasti kalau ada orang yang melihat akan tampak seperti Dara tengah sengaja berduaan dengan Dirga.“Nggak perlu.”“Dara, please.”“Semua it

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status