LOGIN... Bab 49“Mas?!” Dara spontan memegangi lengan Ryuga lebih erat.“Nggak apa-apa.”Dara menatap wajah suaminya lebih seksama. Pria itu terdiam dengan napas berembus berat. Dara hendak menarik tangannya kembali, tapi sesuatu membuat gerakannya membeku. Ada tetesan darah segar yang jatuh ke lantai.Matanya perlahan naik mengikuti arah tangan Ryuga. Tetesan darah itu merembes dari sela jemari pria itu.“Mas, tangan kamu???” seru Dara, makin panik.Seorang perawat perempuan menyibak salah satu tirai IGD, mempersilahkan Ryuga untuk masuk. “Mari Komandan.”“Suster, tolong,” kata Dara. Ia memapah Ryuga untuk duduk di atas brankar.Dara berdiri di sebelahnya, baru ketika suster meminta izin untuk membuka baju Ryuga, Dara hampir mencegahnya. Namun, urung. Dara tahu tindakannya mungkin berlebihan.Di tengah menahan rasa nyeri yang mendera hampir di seluruh bagian tubuhnya, Ryuga mengangkat tangannya pelan. “Biar istri saya,” katanya.Dara terkesiap, tidak menyangka dengan respon Ryuga. “E
... Bab 48Lima belas menit Dara berpacu dengan kepanikan di balik kemudi mobilnya. Tangannya mencengkeram setir erat-erat sementara sepanjang jalan mulutnya tak berhenti berkomat-kamit merapalkan doa. Memohon agar apa yang ia khawatirkan tidak pernah terjadi.Begitu mendarat mulus di area parkir rumah sakit, Dara segera turun dan berlari mencari ruang ICU. Dealova memberinya pesan untuk menunggu di depan ruang ICU. Entah kenapa Dara merasa berjalan dari parkiran menuju ruang ICU terasa begitu lama. Jarak yang ditempuh sepertinya sangat jauh, sampai berlari pun Dara tak kunjung sampai.Aroma antiseptic menyambut Dara di depan resepsionis yang juga bersebelahan dengan ICU. Di sana tatapan mata Dara menangkap sesosok tubuh tegap yang amat ia kenali. Sosok pria itu tengah terduduk lemas dengan pandangan nanarnya bersama satu orang rekan prajurit lain di sampingnya.Tubuh yang biasanya terlihat sangat tegap itu kini membungkuk lemah, pakaiannya bersimbah darah dan wajahnya tampak sayu
...Bab 47“Apa isi pikiran kita sama?” tebak Vera, pelan. Tatapannya menyiratkan kecemasan yang sama saat menunjuk layar ponsel.Dara mengangguk-angguk pelan. “Iya, Ve.”Beberapa kemungkinan buruk muncul begitu jelas di kepala Dara. Hanya sesaat. Dara menghempaskan semua pikiran liar itu jauh-jauh. Ia meletakkan kembali ponsel Vera ke meja.“Oke, kata kamu yang bisa kita lakuin cuma berdoa. Dan itu, sudah pasti. Sekarang, dari pada overthinking tidak jelas gimana kalau kita belanja? Ini jadwalku belanja bulanan,” usul Dara. tersenyum meyakinkan.Dia bisa gila kalau terus-terusan di rumah dan membiarakan kepalanya penuh oleh segala dugaan-dugaan buruk yang belum tentu terjadi.“Usul kamu boleh juga.” Vera tertawa kecil.Dara ikut tertawa, hanya saja tawa itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.Satu jam kemudian kedua wanita itu berjalan beriringan di lorong super market, mulai dari bagian groceri, fashion dan food court. Semuanya di jelajahi sampai akhirnya langkah kaki mere
...Bab 46Dara menyimpan rasa khawatirnya, ia memang ingin tahu sekali tetapi Dara juga sadar sesuatu. Dara sebenarnya ingin mengejar dan bertanya sekali lagi. Namun, ia mengurungkan niatnya.Ryuga pernah mengatakan bahwa tidak semua tugas bisa ia ceritakan, terutama jika berkaitan dengan misi khusus dalam satuannya. Ada beberapa tugas yang diemban secara rahasia oleh mereka. Jadi Dara hanya perlu tahu kalau suaminya pergi bertugas, itu saja.Tidak berselang lama setelah Ryuga meninggalkan rumah, Dara mendengar suara deru dari baling-baling helikopter yang meninggalkan landasan di ujung batalyon. Pikiran Dara seketika itu juga terkoneksi ke sana.Dara mengurungkan niatnya untuk mandi, badannya sudah lengket sangat tidak nyaman usai demam semalam. Rasa penasaran dari suara deru helikopter tadi menarik kakinya melangkah keluar menuju teras.Rupanya tetangga sebelah juga sedang berdiri di terasnya.“Pagi Bu Ryuga,” sapa tetangga sebelah. Ramah, seraya tersenyum manis.Dara mengerjap,
...Bab 44Melihat Riwayat obat yang sudah pernah dikonsumsi Dara, Ryuga jadi tidak yakin kalau dia akan memberinya obat sembarangan di apotek.“Nggak, Mas …”Begitu Ryuga kembali mendekat dan Dara melihat apa yang pria itu pegang, ia buru-buru menyambar botol obat tersebut dari genggaman suaminya.“I-ini udah lama banget. Aku … aku udah nggak minum itu, kok,” terang Dara gugup dan sedikit berbohong.Tangannya dengan gemetar menyembunyikan botol obat tersebut di bawah selimut. Habis sudah! Aibnya satu persatu terus terbongkar di hadapan Ryuga.“Jangan main-main sama kesehatan kamu, Dara.”Ryuga kali ini tidak lagi menggubris omongan Dara. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.“Dara, saya nggak tahu kapan kamu terakhir kali minum obat itu? Tapi, saya nggak mau ambil resiko kalau harus kasih kamu obat sembarangan dari apotek. Jadi sebaiknya biar dokter yang periksa saja.”Dara panik setengah mati. Jantungnya yang semula sudah tenang kini kembali berdebar tak karuan.
...Bab 45Selesai makan, Ryuga menyimpan kembali mangkuk Dara ke atas nampan. Dia duduk menghadap istrinya. Memberikan tatapan lurus, menuntut kejelasan.“Kenapa nggak langsung pulang kemarin?”Dara menelan ludahnya. Mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah terkikis sejak semalam.“Oke, aku ceritain semuanya. Tapi Mas Ryu janji jangan marah, ya?”“Hm.”“Janji, Mas?”Ryuga mengangguk-angguk. “Iya, saya janji.”Dara menarik napas panjang-panjang sebelum mulai bercerita.“Jadi gini, aku memang udah niat mau tutup toko lebih awal kemarin. Aku capek banget Mas, ngerjain buket bunga sampai dua puluh empat itu. Ya, walaupun bukan buket yang besar-besar tetap aja aku ngerjain itu dua hari full sampai lembur, untung juga ada Dealova bantuin.” Dara menjeda untuk meminum teh hangatnya.“Terus, begitu urusan buket kelar udah dikirim semua aku inget ada janji mau ketemu calon pelanggan. Dia minta kita ketemu di coffeshop. Kita ngobrol cukup lama sampe akhirnya deal, hampir sejam







