Masuk...Bab 109Dirga berdehem. “Kamu ada waktu sebentar, kan?”“Maaf, aku nggak bisa.” Dara menjawab cepat, tak ingin mendengar Dirga melanjutkan kalimatnya. “Aku udah bilang kita udah selesai. Nggak ada yang perlu dibicarain lagi,” imbuhnya.Dirga menarik sudut bibirnya, melihat Dara yang tampak panik dan gugup membuatnya justru tak ingin menjauh. Wajah Dara yang memerah karena marah itu tampak menggemaskan baginya.Perlahan, tetapi pasti Dirga mendekati Dara. Hingga Dara terperanjat ketika lengannya ditarik, membuatnya masuk kembali ke dalam toko dan pintu kembali tertutup.“Dirga?!”“Dara, sayang.”Dara terkesiap mendengar panggilan itu terus meluncur ringan dari mulut Dirga.“Apa kamu bener-bener nggak mau dengerin penjelasan aku?”Dara memejam erat, posisinya saat ini terlalu berbahaya. Terlebih, sebagaian besar dinding toko adalah kaca. Sudah pasti kalau ada orang yang melihat akan tampak seperti Dara tengah sengaja berduaan dengan Dirga.“Nggak perlu.”“Dara, please.”“Semua it
...Bab 108Sayang, kebersamaan itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Mendadak angin berembus pelan membawa hawa dingin dari langit, bersamaan dengan rintik hujan yang mulai berjatuhan pelan sampai ke balkon tempat mereka berdiri.Ryuga refleks melepas pelukan mereka dan menarik pergelangan tangan Dara untuk meneduh.“Ayo!”Dara menahan tangannya. “Tunggu sebentar.”“Hujan, Dara. Kita nggak bawa baju tebal buat kamu.”“Aku suka gerimis, Mas. Tenang aja ini nggak bakal bikin alergi aku kambuh, kok.”Ryuga menatapnya ragu. Biarpun cuma gerimis tetap saja Dara bisa kedinginan nantinya.Belum sempat mengatakan apa-apa, detik berikutnya, sebuah ide gila terlintas di kepala Dara. Ia menarik kuat pergelangan tangan Ryuga, membawanya untuk kembali ke balkon. Hingga keduanya berada dibawah tetesan air hujan langsung.“Dara!” suara Ryuga meninggi, berusaha untuk membawa Dara kembali menepi.“Sebentar aja, ini asyik.” Dara memekik gembira, dan memeluk pinggang Ryuga erat-erat.Ryuga mende
...Bab 107Menurut hasil pemeriksaan terakhir Zio di laboratorium, anemia yang diidap oleh Zio belum sampai di tahap berbahaya karena langsung mendapat penanganan yang tepat. Namun untuk dua bulan ke depan, Zio harus melakukan transfusi darah rutin tiap dua minggu sekali.Mendengar kabar tersebut, Ryuga membisu dengan pandangan menerawang. Apakah selama itu Ryuga bisa menjamin Dirga tidak mengusik Dara dengan mengungkap masa lalunya?Mereka melanjutkan langkahnya menyusuri koridor. Namun, kembali terhenti. Dara menatap tubuh tegap Ryuga dari samping.“Ada apa lagi, Mas?”Ryuga sama sekali tak menoleh, tatapannya lurus dan tajam ke depan. Tertuju pada seseorang yang selalu berhasil mengusik akal sehatnya. Dara pun turut mengikuti arah pandang suaminya.Betapa terkejutnya ia saat mengenali sosok tersebut.“Dirga?” sebut Dara setengah berbisik.Ryuga mengepalkan kedua tangannya di sisi badan, rahangnya mengetat kuat menampakkan urat-urat di sekitar bagian wajahnya.Di ujung lorong, Di
...Bab 106Suami Dara menggeleng lalu memeluknya erat. “Nggak segitunya juga. Lebih dekat sama kamu.”“Serius, Mas!”Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Kemudian lelaki itu mengembuskan napas pelan, sebelum akhirnya bersuara.“Seperti yang udah-udah, kedekatan saya sama perempuan hanya karena Mama yang mengatur. Saya tidak pernah menjanjikan apapun, kalau memang mereka berharap lebih itu jelas bukan dalam kendali saya, kan?”Dara lega mendengarnya.“Kenapa kamu nggak nikah sama dia aja dulu?”“Lebih baik saya nggak nikah sama sekali.”Dara menarik tubuhnya, menatap tak percaya pada ucapan suaminya yang cukup sadis itu. Ya, memang keahlian Ryuga salah satunya adalah berbicara sadis, tetapi yang Dara dengar kali ini seperti ungkapan penolakan yang begitu tegas.“Kok kamu gitu banget jawabnya, sih?”Ryuga mengangkat bahunya, acuh.“Mau gimana lagi? Saya dari awal memang nggak suka sama perempuan-perempuan ayng Mama jodohin. Yang jelas, kamu nggak salah di sini. Nggak ada yang rebut
...Bab 105Dara mulai menceritakan pertengkaran di mal siang tadi. Yang membuatnya terheran-heran adalah sepanjang mendnegarkan cerita Ryuga hanya mendengus panjang dan memijat pelipisnya.“Mas, kamu kenapa? Pusing?” tanya Dara, khawatir.Ia pun mendekatkan wajahnya untuk memperhatikan raut wajah suaminya lebih dekat.Pria itu justru tersenyum manis, sangat manis sampai Dara tidak yakin kalau pria itu sedang menahan sakit.“Saya nggak apa-apa.” Ryuga menyandarkan punggungnya ke kursi. “Cuma lebih capek aja hari ini.”“Oh, kalau capek kenapa malah nyiramin bunga?”Dara bangun dari duduknya.“Ayok masuk! Aku masakin sesuatu yang enak pokoknya.”Rasa tak nyaman dalam diri Ryuga, perlahan berkurang mendapat perhatian penuh dari istrinya. “Iya, ayam goreng sama sambal ijo yang biasa, ya?”“Siap, Bos!” Dara berseru bangga seraya mengangkat tangannya memberi hormat.Selagi Dara menyiapkan makan malam, ia meminta Ryuga bebersih badan dan menunggunya.Baru saja Ryuga masuk kamar mandi, ses
...Bab 104“Aku sama Mas Ryuga itu cuma berteman.”Dara tersenyum tipis, menyukai jawaban Dira barusan. Setidaknya Dira tidak seperti ibunya yang terobsesi ingin menjadikan Ryuga sebagai menantunya.Dara kembali menajamkan telinganya untuk mendengar kelanjutan obrolan mereka.“Tapi, kita semua juga tahu kalau kamu suka sama dia. Bahkan gosip kalian mau tunangan udah kesebar di mana-mana,” ujar salah satu teman Dira.“Keren banget, tau! Bisa bersanding dengan seorang Komandan Ryuga yang mempunyai jutaan pemuja itu. Nggak apa-apa deh, duda. Tapi, duda hot!”Telinga Dara mulai memanas. Selanjutnya terdengar mereka cekikian bersama sebelum kembali Dira menyahut.“Sebenarnya aku ngikut aja, gimana Mas Ryuga-nya.”Eh? Apa, nih maksudnya?!Tanpa bisa dicegah lagi, Vera memutar badannya.“Maksudnya apa, ya?” tanya Vera, sinis.Dira dan ketiga temannya tersentak mundur.“Oh, Vera. Kenapa?” tanya Dira balik.Yang membuat Vera makin tersulut emosinya adalah Dira dengan anggunnya bersedekap ta







