Beranda / Romansa / Obsesi Dosen Tampan / 6. Evakuasi ke Lantai 25

Share

6. Evakuasi ke Lantai 25

Penulis: Amaleo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-13 10:56:17

Tiga pria itu sontak menoleh bersamaan.

Zelda masih tak berkutik dipenuhi ketakutan yang sudah terlanjur memenuhi dirinya. Namun di bawah alam sadar, ia seperti mengenal suara berat itu. Bayangan seseorang muncul di bawah lampu jalan yang temaram—tinggi, tegap, dan berwibawa.

Zelda tertegun. Sosok itu berjalan mendekat tanpa sedikitpun keraguan.

“Aku bilang, lepaskan!” ulangnya.

Salah satu pria tertawa sinis sembari bangkit dan melepaskan tubuh Zelda, disusul oleh lainnya.

“Siapa lagi bedebah ini?!” Tanya salah satu pria itu, lalu menunjuk Zelda, “kau kenal dengan jalang ini??”

Zelda menatap bayangan pria itu yang awalnya terlihat masih samar menjadi terlihat sangat jelas, ketika pria itu terus melangkah maju. Kedua mata Zelda membulat terperangah lemah.

“Prof …?” suara Zelda nyaris pecah.

Tanpa menoleh pada gadis itu, Noah menatap para pria yang masih berdiri dengan ekspresi bingung dan takut.

“Pilih,” ucapnya datar, “kabur sekarang … atau aku pastikan kalian tak bisa berdiri lagi.”

“Jangan terlalu arogan kau!!” Pria bertubuh gempal itu menggeram, matanya melotot, lalu melontarkan pukulan liar ke arah Noah.

Noah tidak bergeming—hanya satu langkah kecil mundur, memiringkan badan, dan secara refleks menangkis pukulan itu dengan pergelangan tangan.

Pukulan balasan Noah datang. Satu dorongan pada punggung si gempal yang membuatnya kehilangan keseimbangan, lalu sebuah hantaman terukur ke sisi tubuhnya. Pria itu terjatuh tersungkur, dan mengeluh keras. Dua rekannya nampak ketakutan, apalagi melihat wajah Noah yang tenang tapi mematikan, ekspresi mereka langsung berubah pucat.

Mereka saling pandang, lalu salah satunya mengeluarkan pisau dari balik jaket—pisau lipat kecil, tapi cukup berbahaya di tangan orang mabuk.

Zelda reflek berteriak untuk memperingatkan Noah,. “Profesor, a-ada yang bawa pisau!”

Tapi Noah tak mengindahkan teriakan Zelda dan hanya berdiri di tempat, tanpa ekspresi dan sangat fokus pada lawan di depannya.

“Taruh pisaunya,” ucapnya pelan, suaranya nyaris seperti bisikan. “Sebelum aku membuatmu menyesal.”

Namun pria itu justru tertawa, suara tawanya serak bercampur alkohol. “Kau pikir siapa dirimu, hah?” serunya, lalu menerjang.

Gerakannya cepat, tapi Noah jauh lebih cepat. Dalam satu langkah miring, Noah menangkap pergelangan tangan si penyerang, dan memutar sendinya ke belakang hingga terdengar suara berderak kecil.

Pisau itu terlepas, jatuh berkilat di dekat genangan air. Pria itu berteriak kesakitan sebelum Noah menendangnya pelan ke samping, membuatnya terkapar di dinding bata.

Suasana kembali senyap. Hanya terdengar desah napas Zelda yang masih terengah.

Noah menatap ketiga pria itu yang kini tak berdaya, kemudian menendang pisau menjauh ke arah selokan.

Tatapannya dingin, tapi nadanya tetap tenang saat berkata, “Pergi. Dan jangan pernah mendekati perempuan lain seperti ini lagi.”

Tak butuh diulang dua kali. Ketiga pria itu segera berlari terbata-bata keluar dari gang, meninggalkan bau alkohol dan ketakutan yang sangat pekat di udara.

Zelda masih tak berdaya di tempat. Baru ketika Noah menoleh padanya, ia sadar betapa mirisnya penampilan Zelda kini

“P-Prof …?” suaranya gemetar.

Pria itu hanya menatapnya sebentar, lalu berjalan mendekat perlahan. Ia melepaskan long coat yang ia kenakan sebelum menurunkan posisi tubuhnya perlahan dan memakaikannya ke tubuh Zelda yang sudah tak mengenakan pakaian utuh.

Selanjutnya, dengan tenang Noah menarik tubuh Zelda yang masih gemetar dengan lembut ke pelukannya untuk menenangkan.

“Sudah aman sekarang,” katanya tenang, nyaris berbisik. “Aku di sini.”

Selama perjalanan, Zelda tidak berani bertanya pada pria itu. Mobil Mercedez yang mereka tumpangi melaju pelan menembus jalanan kota yang mulai sepi, hanya diiringi suara mesin dan hujan ringan di luar kaca.

Noah tetap diam di balik kemudi. Wajahnya tertutup bayangan lampu jalan yang silih berganti, membuat ekspresinya sulit terbaca. Sesekali, jemarinya mengetuk setir tanpa irama, seolah berusaha menenangkan pikirannya sendiri.

Zelda meliriknya diam-diam. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan—bagaimana pria itu bisa muncul tepat waktu, kenapa ia bisa tahu lokasi gang sempit tadi, atau apa yang sebenarnya dia pikirkan.

Tapi setiap kali ia membuka mulut, tenggorokannya terasa tercekat. Yang keluar hanya bisikan lirih, hampir tenggelam oleh suara hujan.

“Terima kasih … sudah menolongku, Prof.”

Noah tidak segera menjawab. Hanya ada tarikan napas panjang sebelum ia berkata pelan, “Seharusnya kau tidak berjalan sendirian malam-malam begini.”

Nada suaranya bukan marah, tapi ada kekhawatiran yang ditahan dalam-dalam. Zelda menunduk, merasa malu sekaligus lega.

“Aku tahu … aku cuma ingin cepat pulang.”

Noah mengernyit singkat, lalu mengalihkan topik seketika.

“Kita akan pergi ke suatu tempat, dimana kau bisa lebih tenang,” ucap Noah dalam.

Zelda melirik cepat, “Anda memang mau bawa aku kemana?” tanya gadis itu dengan waspada.

“Ke tempat yang lebih aman,” jawab pria itu, setiap katanya terdengar mengandung tekanan. “Hanya untuk sementara.”

Ia melirik sekilas ke arah Zelda sebelum melanjutkan, lebih pelan, “Dan selama kita berdua saja, panggil saja namaku. Tidak perlu pakai gelar seperti di kampus.”

Zelda menoleh lagi, terlihat ragu beberapa detik. “O-Oke … Noah.”

Noah tersenyum kecil. “Good girl,”

Sekujur tubuh Zelda menegang. Bulu kuduknya langsung meremang, seolah tubuhnya lebih dulu mengenali kata itu sebelum pikirannya sempat bereaksi. Kata itu lagi—kata yang dulu bisa membuatnya tunduk tanpa sadar.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen modern di tengah kota.

Zelda bahkan tidak sempat memperhatikan di mana mereka berada ketika Noah menuntunnya turun dari mobil.

Langkahnya goyah, tapi genggaman pria itu kokoh, menuntunnya melewati lobi dan masuk ke dalam lift.

Noah tidak mengindahkan tatapan heran orang-orang yang mereka lewati—tatapan yang berganti cepat antara iba dan bingung saat melihat keadaan Zelda.

Zelda menundukkan kepala dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang ia tahu sudah kacau, kotor, bahkan ada luka di sudut bibirnya.

Jemarinya tanpa sadar mencengkeram erat long coat besar yang membungkus tubuhnya. Ia menariknya lebih rapat, seolah hanya pakaian milik pria itu yang masih mampu melindunginya dari dunia luar.

Noah membuka pintu apartemen di lantai 25. Dari baliknya, terpancar ruangan luas dengan interior modern dan pencahayaan lembut. Zelda menatap ke dalam, dan terkejut bukan kepalang saat melihat isi rumahnya.

“Silakan masuk,” pintah pria itu tenang.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-173. Happy Ending. (+21)

    Suite honeymoon di lantai tertinggi hotel mewah Paris menyambut mereka dengan cahaya kota yang berkelip lembut melalui jendela kaca besar. Menara Eiffel terlihat jelas di kejauhan, menyala keemasan di malam musim semi. Zelda berdiri di depan jendela, gaun malam sutra putih tipis yang ia pakai setelah mandi menempel lembut di kulitnya. Rambutnya masih agak basah, jatuh di bahu. Noah mendekat dari belakang, tangannya melingkar di pinggang istrinya, dagunya bertumpu di bahu Zelda. “Kau cantik sekali malam ini, istriku,” bisiknya di telinga Zelda, suaranya sudah rendah dan berat. Zelda tersenyum malu, pipinya memerah. “Kau juga tampan, suamiku.” Noah membalik tubuh Zelda perlahan hingga mereka berhadapan. Matanya gelap penuh hasrat yang sudah lama ditahan. Ia menunduk, mencium bibir istrinya dengan lembut di awal, lalu semakin dalam, lidahnya menyusup pelan, mengeksplorasi dengan penuh penyembahan. “Hmm …,” desah Zelda kecil di bibirnya, tangannya naik ke dada Noah, merasakan otot y

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-172. Pernikahan dan Janji Selamanya.

    Zelda berdiri membeku di balkon penthouse, angin malam menyapu rambutnya dengan lembut. Noah masih berlutut di hadapannya, kotak cincin terbuka di tangannya, cincin sederhana dengan berlian kecil itu berkilau pelan di bawah lampu temaram. Mata Zelda berkaca-kaca. Air matanya jatuh tanpa suara, satu per satu, membasahi pipinya. Tangan kanannya menutup mulut, seolah takut suara yang keluar nanti akan pecah. “Noah …” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Noah menatapnya tanpa berkedip. Matanya penuh kepastian, penuh cinta, dan sedikit gugup yang jarang sekali terlihat pada pria seperti dirinya. “Aku tidak butuh jawaban sekarang kalau kau belum siap,” katanya pelan, suaranya rendah dan hangat. “Aku akan menunggu. Selama yang kau butuhkan. Tapi aku ingin kau tahu … aku sudah memilihmu sejak lama. Dan aku tidak akan berubah pikiran.” Zelda menggeleng pelan. Air matanya semakin deras, tapi senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya—senyum yang gemetar, tapi tulus. “Dasar … bodo

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-171. Lamaran.

    Zelda tercekat. Kedua matanya berair hingga air matanya terjatuh pelan setelah mendengar semua ungkapan yang Noelle lontarkan kepadanya. Sebuah pengakuan yang kini tak didasari oleh kebencian lagi. “Kau … benar-benar merestui hubungan Noah denganku?” tanyanya, masih tak menyangka. Noelle mendengus pelan. “Tentu saja! Kenapa kau terkejut begitu? Bukannya ini yang kalian tunggu-tunggu?” Noah menegang di sofa sebelum ia bangkit berdiri perlahan. Wajah pria itu masih terkejut sekaligus bangga pada adiknya. Noelle masih menatap Zelda lama, kali ini matanya berkaca-kaca tapi tidak lagi penuh rasa bersalah yang berat. Ada kelegaan di sana, seperti seseorang yang akhirnya melepaskan beban yang sudah bertahun-tahun ia pikul. Tanpa kata lagi, Noelle berjalan maju dan memeluk Zelda. Pelukan itu lembut, ragu di awal, tapi kemudian semakin erat. Noelle menempelkan pipinya di bahu Zelda, bahunya bergetar pelan. Zelda membeku sepersekian detik, lalu tangannya naik pelan, membalas peluka

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-170. Pengakuan dan Restu Noelle Grimm.

    Zelda menatap Noah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk kecil. Noah tersenyum tipis ke ponsel. “Kami tunggu kau besok, Noelle. Pulanglah.” Telepon ditutup. Di meja makan itu, empat orang saling pandang. Ada air mata yang hampir jatuh, ada senyum yang mulai terbentuk, ada harapan yang pelan-pelan tumbuh kembali. Zelda akhirnya membuka suara, dengan nada penuh haru. "Akhirnya, keluargamu kembali utuh, Noah.” Noah tak menjawab. Tangannya meraih tangan Zelda disampingnya, dan menggenggamnya lebih erat. Gestur kecil itu lebih penuh arti daripada hanya sekadar kata-kata malam itu. *** Pagi di akhir pekan yang cerah, namun udara di depan gerbang rumah tahanan masih terasa dingin. Michael Grimm berdiri paling depan, tangan di saku jas hitamnya. Di sampingnya, Noah berdiri tegak, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya sesekali mengepal pelan—tanda kecil bahwa ia juga gugup. Zelda berdiri di sebelah Noah, tangannya menggenggam lengan pria itu erat. Zara berdiri p

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-169. Penyerahan Kuasa kepada Zara.

    Ruangan menjadi sunyi sejenak.Zara tidak langsung bereaksi. Matanya hanya sedikit melebar, lalu menyipit, seolah sedang mencerna setiap kata.“Kau yakin?” tanyanya akhirnya, kini nada pribadi mulai menyelinap. “Ini bukan keputusan kecil, Noah.”“Aku yakin,” jawab Noah tegas. “Aku sudah bicara dengan Ayah. Beliau setuju. Yayasan ini butuh pemimpin yang stabil, yang paham dunia akademik dari dalam, dan yang tidak terikat pada konflik keluarga seperti aku.”Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah.“Dan aku ingin punya waktu lebih banyak untuk Zelda. Untuk kami. Tanpa bayangan jabatan ini yang selalu membuat kami harus berhati-hati. Bahkan, Ayahku ingin aku pegang kendali Grimm’s Corporation segera.”Zara menatap Noah lama. Ada banyak hal yang melintas di matanya. Kejutan, pertimbangan, dan akhirnya … pengertian.“Kau sudah bicara dengan Zelda tentang ini?” tanyanya.“Belum,” akui Noah. “Aku ingin bicara denganmu dulu. Karena ini juga menyangkut posisimu sebagai d

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-168. Malam yang Melepaskan (+21)

    Zelda menatap layar ponselnya lama sekali setelah membaca pesan Ariana. Layarnya sudah redup, tapi kalimat pendek itu masih terbayang jelas di benaknya. “Maaf. Aku salah. Semoga kau bahagia.” Jemarinya berhenti di atas keyboard. Ada banyak hal yang ingin ia ketik. Marah, kecewa, bahkan pertanyaan “kenapa kau lakukan itu?” Tapi semuanya terasa terlalu berat malam ini. Akhirnya ia mengetik pelan, huruf demi huruf. “Aku sudah memaafkanmu lebih dulu.” Ia berhenti. Jarinya ragu di atas layar. Lalu melanjutkan. “Setidaknya kau sudah berbuat baik padaku. Terima kasih. Aku harap kau baik-baik saja di sana.” Zelda menarik napas dalam, lalu menekan kirim. Pesan terkirim. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu bersandar kembali ke dada Noah. Dadanya terasa sedikit lebih ringan sekarang. Noah yang sejak tadi diam memperhatikannya tanpa mengganggu, akhirnya mengangkat dagu Zelda dengan lembut menggunakan dua jari. Matanya menatap dalam, penuh cinta dan kesabaran. “Aku menging

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status