Beranda / Romansa / Obsesi Dosen Tampan / 14. Permainan yang Baru Dimulai.

Share

14. Permainan yang Baru Dimulai.

Penulis: Amaleo
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-17 12:00:16
Zelda terpaku memandangi layar ponselnya, jantungnya berdegup kencang oleh firasat buruk yang muncul dari pesan anonim itu.

Ia mencoba menarik napas panjang untuk meredakan gelisahnya, namun hanya bisa tersenyum miris pada dirinya sendiri sebelum membereskan barang-barangnya dan kembali menjalani hari sebagai mahasiswa.

Jam kuliah dari pagi hingga sore terasa berjalan cepat, tapi Zelda hampir tak bisa fokus karena pikirannya terus kembali pada nomor tak dikenal yang menghubunginya. Setiap d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-159. Takut Terulang Lagi.

    Zelda menelan ludah berat, napasnya tercekat beberapa detik. Noah hanya menatap lurus pada Zara. Napasnya tersendat sepersekian detik. Zara melanjutkan dengan nada yang di tekankan perlahan. “Tidak ada lagi sentuhan kecil yang bisa disalahartikan. Kalau kalian harus bicara, lakukan lewat pesan atau telepon. Kalau harus ketemu, ketemu di luar kampus. Di tempat yang tidak ada mahasiswa.” Noah mengangguk tanpa protes. “Aku mengerti.” Zelda menatap ibunya. “Mom, aku sedang banyak ujian dan proyek riset essay. Kalau aku tiba-tiba menjauh dari Noah sepenuhnya … orang mungkin curiga juga.” Zara mengangguk. “Itu benar. Makanya kau tidak perlu menjauh sepenuhnya. Kau hanya perlu menjaga jarak fisik di lingkungan kampus. Tetap profesional. Tetap seperti mahasiswi biasa yang berinteraksi dengan Ketua Yayasan kalau memang ada urusan resmi.” Noah menambahkan pelan. “Aku akan batasi kehadiranku di area fakultas. Rapat dengan dosen atau mahasiswa bisa via online kalau memungkinkan.”

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-158. Jangan Mendekat di Kampus!

    Sore itu cahaya matahari sudah condong ke barat, menyelinap melalui jendela besar ruang Ketua Pembina Yayasan. Ruangan terasa lebih sepi dari biasanya. Noah duduk di balik meja kayu gelap saat ia membaca laporan terakhir hari itu. Pintu terbuka tanpa ketukan. Zara masuk dengan langkah mantap, blazer hitamnya masih rapi meski hari sudah panjang. Ia menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Noah mengangkat kepala. Matanya langsung bertemu dengan mata Zara. “Zara,” sapanya singkat, sudah berdiri setengah jalan dari kursi. “Ada apa?” Zara tidak langsung duduk. Ia berjalan mendekat ke meja, tangannya menyentuh tepi kayu sejenak sebelum akhirnya menarik kursi tamu dan duduk tegak. “Aku baru saja bertemu Ariana,” katanya tanpa basa-basi. Suaranya datar, tapi ada nada dingin yang Noah langsung kenali—nada yang muncul saat Zara sedang menahan amarah atau kekhawatiran besar. Noah menegang pelan. Ia kembali duduk, tangannya terlipat di atas meja. “Dia datang ke ruanganku siang

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-157. Polisi Moral.

    Siang hari di kampus terasa cukup melelahkan setelah jam mengajar selesai. Zara duduk di balik meja kerjanya, menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca baris demi baris yang terpampang.Sejak semalam, Zara merasakan firasat aneh dan tak asing yang kembali mengetuk pelan, perasaan yang dulu sering muncul sebelum sesuatu akan terjadi.Ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala.“Masuk,” ucapnya tenang.Pintu terbuka perlahan. Seorang mahasiswi berdiri di ambang, rapi, berkacamata, tegak, dengan map tipis di tangan. Zara mengenalnya. Bukan karena prestasi semata, melainkan karena cara gadis itu membawa dirinya.“Ariana,” kata Zara, bukan bertanya.Ariana tersenyum sopan. “Selamat pagi, Professor Zara. Maaf mengganggu waktu Anda.”Zara menunjuk kursi di seberangnya. “Silakan duduk.”Ariana melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Ia duduk tanpa gelisah, meletakkan map di pangkuannya. Tidak terburu-buru. Tidak gugup.Zara mengamati semuanya dalam diam.“Jadi

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-156. Hanya Sekadar Usapan Kepala.

    Zelda menarik napas pelan. Ada denyut kecil di dadanya, refleks lama yang ingin mundur satu langkah, menghindar. Tapi suara Zara tadi pagi terlintas begitu jelas di kepalanya. Jangan takut. Ia mengangkat wajahnya kembali. Bahunya yang sempat menegang kini diturunkan perlahan, seolah ia sedang mengingat cara berdiri yang benar. “Iya,” jawab Zelda akhirnya, suaranya tenang, nyaris datar. “Dari pacar.” Untuk pertama kalinya sejak duduk di hadapannya, Ariana tampak sedikit terkejut. “Oh ….” Nada itu keluar terlalu singkat, nyaris lolos begitu saja. Senyum tipis yang tadi bertahan di sudut bibirnya meredup sepersekian detik. Matanya bergerak cepat, seperti seseorang yang sedang menimbang ulang langkah berikutnya. Zelda menangkap keraguan itu. Jantungnya berdetak lebih cepat, telapak tangannya terasa dingin, tapi ia tidak mundur. Justru kali ini, ia yang bergerak lebih dulu. “Ada apa?” Ariana mendongak. Zelda menyambung, suaranya tetap terkontrol, meski ada nada ujung yang

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-155. Pedang Bermata Dua.

    Esok harinya. Diperjalanan menuju kampus, Zelda duduk di kursi penumpang belakang bersama Zara. Mereka seperti biasa diantar oleh pengawal Noah yang selalu siap siaga. Namun, Zelda tak banyak bicara sejak pembicaraannya semalam dengan Noah. Belum lagi dengan isi pesan singkat dari Sarah yang masih mengganggu pikirannya, hingga ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Ia merasakan firasat yang tak enak, tapi ia terus menahannya hingga Zara menyadari raut wajah anaknya yang tidak ada rona cahaya sama sekali. Wajah Zelda terus muram, tegang, dan kedua alis sedikit mengerut. Zara akhirnya bertanya di sampingnya. Nadanya datar, tapi ada kekhawatiran disana. “Kau kenapa, Zelda?” Zelda tersentak kecil dan menoleh ke Zara. Bibirnya dipaksakan untuk tersenyum. “Tak apa, Mom. Hanya sedikit masalah yang mungkin … sejak awal aku sadari resikonya.” Zara seketika menunduk sambil tersenyum kecil. “Resiko karena menjalin hubungan dengan Noah?” Zelda terdiam sebelum akhirnya mengangguk, denga

  • Obsesi Dosen Tampan   S2-154. Ariana Kepo.

    Sarah tidak langsung menjawab. Ponsel masih menempel di telinganya, tapi pikirannya sudah berlari terlalu jauh. Suara Ariana di seberang sana terdengar terlalu tenang untuk sekadar pertanyaan iseng. “Kenapa tiba-tiba nanya begitu?” Sarah akhirnya balik bertanya, berusaha terdengar santai. Di seberang, Ariana terkekeh kecil. “Aku cuma penasaran.” “Kampus penuh gosip,” lanjutnya ringan, seolah membicarakan cuaca. “Dan Zelda … sejak awal sering jadi pusat perhatian. Aku khawatir.” Sarah menghela napas pendek. “Dia memang dikenal karena prestasinya. Dia juga penerima beasiswa. Kalau soal keterlibatannya dengan Prof Noah—” “Kau sudah keceplosan dua kali dengan wajah sumringah itu, Sarah,” potong Ariana cepat. “Aku hanya ingin tahu hubungan mereka. Itu saja.” Sarah menelan ludah berat, jantungnya berdegup cepat dari biasanya. Dalam benaknya, ia merasa ceroboh dan bodoh pada dirinya sendiri. Di waktu bersamaan pula, ia merasa semakin tak enak hati pada Zelda. Sarah akhirnya bertanya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status