Home / Romansa / Obsesi Gila Suamiku / Bab 121. Cemburu yang Meledak

Share

Bab 121. Cemburu yang Meledak

Author: Elsa Mahesa
last update publish date: 2026-09-11 17:46:30

Malhera melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka.

“Justru karena kamu udah beristri, aku malah makin penasaran.” Tatapannya terkunci pada Mahesa, tajam dan menuntut. “Cara kamu ngebela Ellena waktu itu... jujur, susah banget dibuang dari ingatan aku. Kamu bener-bener bikin aku gila, Mas.”

Mahesa tak bergeming. Dari balik matanya yang dingin, ia mencoba membaca ke mana arah permainan wanita di hadapannya ini.

“Kalau itu mau kamu...” suara Mahesa terdengar berat, hampir berupa bisikan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 152. Ketika Semuanya Terbongkar

    Mahesa baru beberapa langkah memasuki lobi rumah sakit ketika kepalanya mendadak berputar balik.Kenzo.Pria itu masih di atas. Dan Mahesa tidak mungkin membiarkannya lolos begitu saja.Ia berbalik cepat, melangkah lebar menuju barisan lift. Begitu pintunya terbuka, Mahesa masuk dan menekan tombol lantai atas tanpa ragu.Jari-jarinya mengetuk paha dengan gelisah. Ucapan Kenzo terus terngiang-ngiang dan membakar kepalanya.Ellena sempat transfusi darah.Salah satu bayinya kritis.Dan pria itu tahu soal hubungannya dengan Malhera.Pintu lift berdenting dan terbuka.Mahesa langsung melesat keluar. Matanya menyapu lorong sampai akhirnya menemukan Kenzo yang masih berdiri santai di sana, bersandar pada pagar pembatas.Tatapan mereka bertabrakan. Kenzo cuma menyunggingkan senyum tipis.Napas Mahesa memburu saat ia mengikis jarak. Tanpa aba-aba, ia menyambar kerah baju Kenzo dan mendorongnya kasar sampai punggung pria itu menabrak dinding.“Brengsek. Berani-beraninya kamu kurang ajar sama sa

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 151. Di Balik Panggilan

    Mahesa tidak sanggup hanya duduk menunggu.Setelah memerintahkan orang-orangnya bergerak untuk mencari Ellena, ia sendiri ikut turun ke jalan. Satu demi satu rumah sakit di Milan ia datangi langsung.Namun hasilnya nihil. Nama Ellena tidak pernah terdaftar di bagian penerimaan pasien.Mahesa melangkah cepat keluar dari rumah sakit kesekian. Wajahnya makin tegang saat melirik layar ponsel yang tetap sepi.Tidak ada kabar. Sama sekali.Ia menekan nomor orang kepercayaannya.“Gimana?”“Belum ada perkembangan, Pak. Tim masih menyisir.”“Terus cari. Jangan ada yang terlewat.”Mahesa memutus sambungan. Ia masuk kembali ke mobil dan langsung menyebutkan nama rumah sakit berikutnya pada sang sopir.Di sepanjang jalan, kepalanya terus berputar.Kenapa Ellena nekat terbang ke Milan tanpa bilang apa-apa? Kenapa istrinya tidak menghubunginya? Dan yang paling membikin kalut, kenapa ponselnya mendadak mati total?Beberapa saat kemudian, Mahesa kembali keluar dari rumah sakit yang berbeda dengan tan

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 150. Mencari Ellena

    Bi Minah memejamkan mata rapat-rapat sebelum akhirnya menyerah pada desakan Mahesa.“I-Ibu Ellena... dia ke luar negeri, Pak. Menyusul Pak Mahesa.”“Apa?” Suara Mahesa pelan, nyaris tak terdengar. “Sejak kapan?” tanyanya lagi. Kali ini, nadanya naik satu oktav. “Cepat jawab, Bi.”“Sejak tiga hari yang lalu, Pak. Ibu bilang mau menyusul Pak Mahesa ke Milan.”“Tiga hari yang lalu...”Mahesa terdiam. Napasnya berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha mencerna maksud dari ucapan Bi Minah.“Kenapa dia nggak ada kasih kabar? Terus dia berangkat sama siapa?”“Bibi beneran nggak tahu, Pak. Ibu cuma bilang mau nyusul ke Milan. Cuma itu.”Mahesa tidak membalas lagi.Telepon langsung ia matikan begitu saja.Ia menurunkan ponsel dari telinganya perlahan. Ekpresinya berubah total—ada campuran bingung, cemas, dan frustrasi yang memuncak. Perubahan raut wajah itu tidak luput dari perhatian Malhera yang sejak tadi duduk memenanginya.“Mas, ada apa?” tanya Malhera, menyadari aura yang mendad

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 149. Di Balik Diam Bi Minah

    Rasa tidak enak itu masih mengganggu Mahesa.Bahkan setelah urusan bisnisnya beres, kepalanya tetap riuh. Ada yang mengganjal.Ia meraih ponsel di meja, lalu memeriksa layarnya lagi.Nihil. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada satu pun panggilan dari Ellena sejak kemarin.Keningnya berkerut. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menekan nama istrinya dan menelepon.Nada sambung berdering... terus berdering. Sampai akhirnya terputus sendiri tanpa ada jawaban.“Kenapa nggak diangkat, sih?” gumamnya heran. Ia melirik jam tangan. "Bukannya di Jakarta sekarang jam kerja? Harusnya Ellena sudah bangun dan pegang ponsel."Perasaan gelisahnya malah makin menjadi-jadi. Mahesa memijit pangkal hidungnya, lalu mengetik pesan singkat. Ia menanyakan kabar Ellena, menyisipkan rasa khawatirnya, dan bertanya kenapa seharian kemarin istrinya menghilang tanpa kabar.Setelah pesan terkirim, ia mengembuskan napas berat. Matanya terpejam sejenak, mencoba menata pikiran yang mulai membayangkan hal yang tidak-tidak

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 148. Tekad di Koridor Sunyi

    Beberapa waktu kemudian, Ellena dipindahkan ke ruang pemulihan.Tubuhnya masih begitu lemas, tapi kepalanya terus diisi satu hal.“Bayiku...”Seorang perawat melangkah mendekati bangsalnya. “Bu Ellena, bayi perempuan Ibu saat ini masih di ruang perawatan intensif ya. Dokter masih harus memantau pernapasannya dulu.”Ellena mendongak, menatap perawat itu lekat-lekat. “Saya boleh melihatnya?”“Boleh, Bu. Tapi jangan terlalu lama berdiri dulu ya.”Perawat itu dengan sigap membantu Ellena berpindah duduk ke kursi roda.“Saya antar, Bu,” sahut Kenzo pelan.Tanpa banyak canggung, Kenzo mengambil alih pegangan kursi roda dan mendorongnya perlahan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawatan bayi.Sepanjang jalan, Ellena hanya membisu.Jemarinya meremas erat ujung selimut di pangkuan, sementara fokusnya tak pernah beralih dari bayangan bayi perempuan yang baru saja dibawanya ke dunia.Begitu sampai di depan ruangan, Kenzo memperlambat dorongannya.Mata Ellena langsung tertancap pada se

  • Obsesi Gila Suamiku   Bab 147. Firasat yang Tak Terjelaskan

    Tangisan bayi itu masih enggan terdengar.Dokter dan tim perawat bergerak cepat mengerumuni meja resusitasi. Jemari mereka cekatan melakukan penanganan awal, menepuk-nepuk telapak kaki dan mengusap punggung mungil itu untuk memicu respons pertama kehidupan.Namun, ruangan itu masih diselimuti sunyi yang mencekam.Ellena yang masih bersandar lemas dengan napas patah-patah mulai menangkap kejanggalan di sekitarnya.Matanya yang berat perlahan terbuka penuh. Ia mengoper pandangan—dari raut tegang para medis, lalu tertuju pada tubuh kecil yang tak bergerak di sudut ruangan.“Kenapa...?” bisiknya parau, nyaris tak terdengar.Tak ada satu pun tenaga medis yang menyahut; fokus mereka sepenuhnya terkunci pada bayi itu.Ellena beralih menatap Kenzo, mencari pegangan.“Ken...”Kenzo menunduk rapat.“Kenapa anakku nggak nangis?”Pertanyaan itu menghantam dada Kenzo hingga tenggorokannya terasa tersumbat. Ia menelan ludah payah. Jujur, dadanya sendiri bergemuruh hebat dihinggapi ketakutan yang sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status