MasukLutut Ellena terasa lolos seketika. Tubuhnya berguncang hebat, bertumpu sepenuhnya pada sisa tenaga yang membeku oleh rasa takut.“Non! Non, tenang dulu...” Bi Minah setengah memeluk, menahan bobot tubuh Ellena agar tak langsung ambruk ke lantai. “Jangan panik, Non. Kita ke rumah sakit sekarang.”Bi Minah berlari kecil ke arah pintu depan, berteriak memanggil Pak Mamat, satpam rumah, agar segera menyalakan mobil.Dengan langkah terseret dan napas yang memburu, Ellena dipapah menembus dinginnya malam. Wajahnya pias tanpa warna. Di kepala Ellena, bayangan-bayangan buruk berputar liar, menghantam kesadarannya hingga dadanya terasa makin sesak.Mobil melesat menembus lengangnya jalanan kota, membelah malam menuju rumah sakit terdekat.Tak sampai satu jam, roda mobil mencicit berhenti tepat di depan IGD.Pintu dibuka paksa dari luar. Dua petugas medis sigap mendorong kursi roda mendekat, memindahkan Ellena yang sudah hampir tak sanggup menopang dirinya sendiri.“Suster, tolong! Ini tiba-ti
Mahesa masih bertahan di depan meja bar.Gelas di genggamannya tinggal menyisakan setitik cairan, berbanding lurus dengan keseimbangan tubuhnya yang mulai rapuh. Pandangannya merabun, wajahnya menghangat, tetapi kesadarannya belum sepenuhnya habis.Bartender yang mengawasinya sejak tadi akhirnya memiringkan badan, mencoba meraih perhatiannya.“Sir, masih aman?”Mahesa menegakkan kepala dengan gerakan patah-patah.“Aman...” sahutnya berat, lidahnya terasa agak kufur diajak berkompromi.Si bartender mengangguk ragu, menyapu pandang ke deretan gelas kosong di dekat siku Mahesa.“Kayaknya udah lumayan banyak minumannya, Sir.”Mahesa terkehut pelan, tawa hambar yang langsung menguap di udara bar.“Masa, sih?”Matanya menerawang ke dasar gelas yang kering.“Perasaan... baru mulai.”Sebelum bartender sempat menanggapi—atau menuang sisa botol—jas Mahesa bergetar di bagian saku dalam.Ia merogohnya lambat-lambat. Begitu mengeluarkan benda persegi itu, sapuan cahaya dari layarnya yang berpijar
“Mas, tenang dulu. Kamu kenapa jadi emosi gini? Kenzo tuh cuma nganterin berkas. Setelah itu dia langsung pulang.”“Cukup.”Suara Mahesa menusuk udara tajam, memotong kalimat Ellena tanpa sisa.“Jangan sebut nama itu lagi. Aku nggak suka.”Napas Mahesa masih berburu cepat. Tanpa menunggu balasan apa pun, ia berbalik dan melangkah meninggalkan ruang keluarga.Ellena menolak tinggal diam. Ia bergegas menyusul langkah suaminya.“Mas! Kamu mau ke mana? Ini udah malam!”Mahesa terus berjalan tanpa menoleh. Namun tepat di depan pintu utama, langkahnya mendadak terkunci.Ia berbalik perlahan. Tatapannya menancap lurus pada Ellena yang berdiri terpaku beberapa langkah di belakangnya.“Denger baik-baik,” suaranya merendah, namun sarat ancaman yang nyata. “Sekali lagi dia berani ngesetir kakinya di rumah ini, aku nggak bakal tinggal diam. Dan kamu bakal nyesal.”Ellena membeku.“Mas, please... jangan kayak gini,” suaranya melunak, ada nada memohon di sana. “Aku bener-bener nggak ngapa-ngapain.”
Malhera melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka.“Justru karena kamu udah beristri, aku malah makin penasaran.” Tatapannya terkunci pada Mahesa, tajam dan menuntut. “Cara kamu ngebela Ellena waktu itu... jujur, susah banget dibuang dari ingatan aku. Kamu bener-bener bikin aku gila, Mas.”Mahesa tak bergeming. Dari balik matanya yang dingin, ia mencoba membaca ke mana arah permainan wanita di hadapannya ini.“Kalau itu mau kamu...” suara Mahesa terdengar berat, hampir berupa bisikan. “Ayo kita bermain api.”Binar di mata Malhera seketika berubah. “Kamu serius, Mas?”“Ya.” Mahesa mengangguk perlahan. “Kita sama-sama paham bisnis. Mungkin itu alasan kenapa kita bisa terasa cocok.”Senyum Malhera mengembang tipis. “Apapun alasannya, aku seneng kamu menyambut ini, Mas.”Tanpa ragu, Malhera maju selangkah lagi, mendaratkan kecupan singkat namun lembut di bibir pria itu.“Aku balik dulu. Jangan lupa, agenda kita ke Milan.”Ia berbalik, membiarkan bunyi tumit sepatunya bergema pe
“Gimana?”Mahesa menatap Malhera lurus-lurus, seolah memberi ruang bagi wanita itu untuk meluruskan kalimatnya.Kedipan mata Malhera memburu sejenak. Dengan cepat, ia menarik kembali kendali atas raut wajahnya, memoles kegugupan yang sempat mencolok menjadi senyum profesional yang rapi.“Maksudku, di sana bakal banyak mitra bisnis dari luar negeri,” potongnya halus. “Kapan lagi kamu punya kesempatan buat melebarkan jaringan sebesar ini? Sayang banget kalau dilewatkan begitu saja.”“Ah...” Mahesa mengangguk-angguk kecil. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. “Benar juga. Kalau skalanya internasional, ini memang peluang bagus.”“Nah, itu yang maksudku, Mas.”Malhera mengulas senyum lega, meski ada riak kepuasan yang tertahan rapat di balik binar matanya.Namun, Mahesa bukan pria yang lugu. Ada getaran halus dari gesture Malhera yang terasa janggal—terlalu personal untuk sekadar obrolan bisnis di ruang kerja.Ia menelan ludah pelan sebelum akhirnya melempar umpan, “Memangnya tidak mas
"Saya harus berangkat sekarang. Ada janji temu dengan Malhera," pukas Mahesa seraya merapikan kelim jasnya, bersiap meninggalkan ruangan.Dito menyunggingkan senyum hangat yang terkontrol, mengangguk halus."Tentu, Pak Mahesa. Semoga diskusinya membuahkan hasil," kekeh Dito pelan. "Melihat intensitasnya, sepertinya chemistry Anda dan Malhera makin padu.""Nggak usah ikut campur. Itu ranah pribadi saya."Sahutan Mahesa meluncur begitu dingin dan lugas.Tanpa mengulur waktu, ia berbalik arah dan mengayunkan langkah lebar keluar ruangan.Dito memaku pandangannya, menatap punggung bos sekaligus sahabatnya itu hingga menghilang menyapa selasar.Begitu presensi Mahesa menguap, simpul senyum hangat di paras Dito meluruh, berganti riak sinis yang tajam."Siapa juga yang sudi mengindahkan gertakan murahan begitu?"Dito melempar punggungnya ke sandaran sofa, menyilangkan kaki dengan gestur jumawa."Batasan cuma buat mereka yang pengecut," gumamnya seraya meraih kembali gelas kristalnya. "Ujung-







