Mag-log inReno tahu betul bahwa Aura akan menghadiri pesta di kapal pesiar bersama Baskara malam itu.Dengan kelicikannya, Reno berhasil menyusup ke dalam daftar pelayan pelabuhan.Ia segera menghubungi bos besar kaya raya yang sudah lama mengincar tubuh Aura, seorang pria hidung belang yang kebetulan juga menjadi salah satu tamu undangan.Pesta malam ini bukanlah acara sembarangan. Ini adalah pesta eksklusif kalangan elite yang diadakan oleh Baskara, penguasa jaringan bisnis raksasa yang mengendalikan pasar legal sekaligus jalur dunia gelap.Orang kaya biasa tidak akan pernah punya kesempatan untuk menginjakkan kaki di atas kapal pesiar mewah ini.Saat Aura melangkah naik ke atas dek kapal, matanya melebar.“Wow….” gumamnya tertahan.Meskipun dulu Aura terlahir sebagai anak orang kaya, ia belum pernah melihat kemewahan yang se-megah ini.Kapal itu berkilau bak istana terapung di atas air. Di tengah kerumunan orang-orang paling berpengaruh di kota, Baskara berjalan dengan dagu tegak, menjadi pu
“Selesaikan urusan perceraianmu dengan Reno secepatnya, Aura. Aku tidak suka barang milikku masih diklaim oleh pria lain.”Baskara melemparkan seberkas dokumen tebal ke atas meja kaca. Di sampingnya, sebuah kartu nama pengacara papan atas berkilau di bawah lampu gantung mewah.Tatapan matanya sedingin es, khas seorang pria yang terbiasa mengendalikan distrik hitam kota ini.Untuk Baskara, berbagi bukanlah pilihan. Menyentuh wanita yang secara hukum masih milik pria lain terasa begitu merendahkan harga dirinya.“Aku tidak punya waktu untuk menunggumu bertele-tele,” sambung Baskara, suaranya berat dan penuh penekanan. “Malam ini, bersiaplah! Temani aku ke pesta di kapal pesiar milik Luca. Kau tentu belum lupa dengannya, kan?”Nama itu membuat tubuh Aura membeku seketika. Ingatannya langsung terlempar ke masa lalu yang kelam.Luca adalah pria jahat yang pernah menjebaknya dalam situasi berbahaya hingga ia terdesak dan memohon bantuan kepada Baskara.Namun, Baskara yang berhati batu hany
“Hehh!!! Aku memang ingin bercerai dari bajingan itu, Tuan. Apa kau jijik karena aku istri orang?”Tantangan itu keluar begitu saja dari bibir Aura, memecah ketegangan dengan keberanian yang nekat.Rasa malu telah sepenuhnya terbakar habis. Dengan gerakan perlahan namun pasti, Aura merangkak mendekati Baskara.“Aku menginginkanmu, sungguh!” bisik Aura tepat di telinga Baskara.Selimut tebal yang sedari tadi membungkus tubuh polosnya dibiarkan merosot jatuh, mengekspos setiap jengkal kulitnya yang indah di bawah temaram lampu kamar.Aura mendongak, meraih leher Baskara, lalu mendaratkan kecupan lembut di pipi sang mafia sebelum berpindah ke bibir pria itu. Ia mengecupnya perlahan, sebuah undangan yang tak mungkin ditolak.“Eummph, setiap malam, aku selalu mengingatnya Tuan Baskara.”Mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya, Aura menelan saliva, sementara jemarinya yang lentik mulai menjelajahi dada bidang dan perut kotak-kotak Baskara yang mengeras di balik kemeja.Dengan napas memburu,
“Ahhhhh, Tuan Baskara.” Aura sudah tidak tahu lagi, begitu sampai penthouse Baskara, ia naik ke atas ranjang, mencari benda itu untuk memuaskan hasratnya sendiri. “Ouhhh.”Tangannya bergerak begitu lincah.Desahan pasrah dan penuh gairah kembali lolos dari bibir Aura saat ia terus bergerak tanpa ritme, membiarkan benda di tangannya menembus bagian terdalam dirinya demi menuntaskan dahaga yang terlanjur membakar akal sehat.Setiap sentuhan yang ia lakukan sendiri terasa seperti bentuk pemberontakan sekaligus keputusasaan, ia tidak peduli lagi pada harga dirinya yang runtuh di kamar yang dingin itu.Rasa frustasi karena terus-menerus digoda, dipancing, lalu ditinggalkan begitu saja oleh Baskara telah mengubah rasa haus ini menjadi obsesi yang tak tertahankan.Ia bergerak semakin cepat, menuntut pelepasan yang tak kunjung penuh, sementara bayangan sang penguasa mafia yang angkuh terus mendominasi isi kepalanya.Baskara yang berdiri diam di balik celah pintu yang sedikit terbuka hanya m
Permainan psikologis semalam di ruang rapat pribadi menyisakan dampak buruk bagi Aura. Pagi ini, seluruh tubuhnya menjadi sangat sensitif. Gaun sutra ungu tua yang ia kenakan terasa bagai sengatan listrik di kulitnya. Logikanya yang biasa ia banggakan kini lumpuh, sepenuhnya dikuasai bayang-bayang sentuhan Baskara yang menggantung tanpa kejelasan. Baskara tahu persis kondisi asisten pribadinya. Sebagai bos mafia sekaligus CEO yang manipulatif, ia sengaja membawa Aura ke rapat direksi tahunan Aditya Holdings. Ruangan itu penuh oleh belasan eksekutif tertinggi. “Duduk di sampingku, Aura. Catat poin anggaran dengan teliti,” perintah Baskara dingin saat memasuki ruangan. Pria itu memakai setelan jas hitam formal, tampak berwibawa dan bersih dari dosa. Aura duduk di sebelah Baskara. Ia membuka tablet kerjanya dengan jemari yang gemetar. Saat direktur keuangan mulai memaparkan grafik kuartal, AC ruangan terasa dingin bagi orang lain, namun bagi Aura terasa sangat panas. Ketegangan sesu
Pagi itu, Aura melangkah masuk ke dalam ruang rapat kerja Baskara tanpa ada lagi rasa takut yang biasa menggelitik hatinya. Ia mengenakan gaun mini ketat, pakaian khusus yang sengaja dibelikan oleh Baskara semenjak ia resmi menjadi asisten pribadinya.Gaun itu melekat sempurna, mempertegas setiap lekuk tubuhnya dan mengekspos sepasang kaki jenjangnya dengan begitu berani.Setiap ketukan high heels-nya di atas lantai marmer terdengar seperti genderang penyerahan diri.Aura berjalan mantap mendekati kursi kebesaran sang CEO.Tanpa ragu, ia menundukkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke daun telinga Baskara, lalu berbisik dengan suara rendah yang serak namun tegas.“Aku serius mengatakan kalau aku milikmu, Tuan Baskara.”Apakah aku baru saja menyerahkan seluruh hidupku pada iblis ini?Benarkah tidak ada jalan pulang lagi setelah langkah ini?Mengapa detak jantungku justru menggila oleh keberanian bodoh ini?Kata-kata pasrah yang keluar dari bibir Aura bagai pemantik yang membakar habis si







