Beranda / Romansa / Obsesi Kakak Tiri Mafia / Bab 3 . Batas Harga Diri

Share

Bab 3 . Batas Harga Diri

Penulis: Dewandaru
last update Tanggal publikasi: 2026-07-01 14:47:01

BAB 3: Batas Harga Diri

"Ingat satu hal, Lyra. Di rumah ini, kamu dan ibumu hanyalah tawanan dari dendamku. Jangan pernah berharap bisa tidur nyenyak setelah apa yang ayahmu lakukan,” ucap Kael. Pria itu mendorong sebab kasar rahang Lyra hingga ia terjerembab ke belakang dan hampir terjatuh ke lantai. 

Kalimat terakhir Kael yang diucapkan dengan penuh penekanan malam itu di perpustakaan, tepat sebelum pria itu berbalik dan membanting pintu ganda hingga berdentum keras, masih menyisakan rasa sakit yang samar di rahang Lyra. Tuduhan kejam bahwa almarhum ayahnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin terus terngiang di kepalanya, merenggut seluruh waktu tidurnya semalam.

Namun pagi ini, setelah kakinya menginjak selasar marmer Rumah Sakit Universitas–rumah sakit pendidikan megah berlantai belasan yang berafiliasi dengan kampusnya–Lyra memaksa dirinya mengunci rapat semua drama itu dalam kepala. Di sini, mengenakan jas putih koasnya, dia adalah Lyra Hart yang rasional. Seorang calon dokter, bukan seorang anak tertuduh.

"Lyra! Astaga, untung kamu sudah datang," cetus Emma, teman sesama koasnya, yang tiba-tiba menghadang di depan lift dengan napas terengah-engah.

Lyra mengernyit, lalu menimpali. "Ada apa? Jadwal visit dr. Steve masih satu jam lagi, kan?" tanya Lyra. 

"Bukan dr. Steve! Dekan dan jajaran direksi rumah sakit sedang turun ke lobi utama," bisik Emma panik, matanya melirik ke sekeliling selasar yang mendadak steril dari hilir mudik perawat.

"Ada kunjungan mendadak dari investor utama yayasan yang baru saja menyumbang dana miliaran untuk gedung paviliun baru. Dan tebak siapa dia? Pihak manajemen secara spesifik meminta kamu ikut mendampingi karena ... yah, kamu tahu, status barumu,” imbuh Emma lebih jelas. 

Jantung Lyra mencelos. Firasat buruk langsung menghantam dadanya ketika Emma menyebut status barunya. Apakah itu Kael?

Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, rombongan pria berjas rapi tampak keluar dari lorong VIP. Di tengah-tengah jajaran direksi yang membungkuk hormat, sosok tinggi dengan tuksedo abu-abu gelap potongan Italia berjalan dengan langkah penuh otoritas. Kael Voss.

Pria itu melangkah tegap. Ketampanannya yang bak malaikat kontras dengan aura dominan yang mengintimidasi. Ketika sepasang mata abu-abu tajam itu bergeser dan mengunci tepat pada sosok Lyra yang berdiri kaku di tepi koridor, sudut bibir Kael terangkat tipis. Terlihat sangat dingin dan sinis. 

"Ah, ini dia salah satu mahasiswi berprestasi kita, Tuan Voss," ujar Dekan dengan nada menjilat yang kentara, memberi isyarat agar Lyra mendekat atau setidaknya memberi salam. "Lyra Hart. Dia semester akhir dan salah satu yang terbaik di angkatannya,” imbuh sang Dekan bangga. 

Kael berhenti tepat di depan Lyra. Aroma maskulinnya yang pekat seketika melenyapkan bau antiseptik khas rumah sakit yang tajam. 

"Lyra Hart." Kael menyebut namanya dengan intonasi rendah yang sengaja dibuat terdengar asing. "Senang bertemu denganmu. Sebagai investor baru, aku ingin memastikan bahwa tenaga medis di sini benar-benar cekatan. Termasuk dari hal yang paling mendasar,” lanjut Kael seperti sedang menguji. 

Kael kemudian melepas jas abu-abunya dengan gerakan santai. Menyisakan kemeja hitam yang membungkus ketat tubuh atletisnya. Tanpa diduga, ia mengulurkan jas mahal tersebut tepat ke arah dada Lyra.

"Pegang ini," perintah Kael datar. "Dan ambilkan saya kopi hitam tanpa gula di kafetaria lantai bawah. Sekarang,” titahnya seperti tak terbantah. Semua orang jelas terkejut.

Suasana di koridor VIP seketika hening. Beberapa dokter spesialis dan teman-teman koas yang berada di sana mulai saling lempar pandang. Bisik-bisik miring langsung merayap cepat. Kael sengaja melakukan ini untuk mempermalukannya di depan publik, memperlakukan Lyra tak lebih dari seorang pelayan personal di tempat di mana Lyra seharusnya dihormati karena otaknya.

"Maaf, Tuan Voss," sahut Lyra memecah keheningan. Ia menatap Kael tajam penuh aura perlawanan. "Tugas saya di rumah sakit universitas ini adalah mempelajari cara menyelamatkan nyawa pasien, bukan menjadi pelayan pribadi Anda. Jika Anda membutuhkan kopi atau tempat menitipkan jas, Anda bisa meminta bantuan sekretaris Anda,” lanjutnya. 

Dekan rumah sakit seketika memucat mendengarnya. Pria itu menggeleng lemah, lalu menegur sang mahasiswi yang terdengar lancang "Lyra! Jaga bicaramu! Tuan Voss ini–"

"Tidak apa-apa, Dok," potong Kael. Suaranya tenang tapi matanya berkilat murka. Ia melangkah satu jengkal lebih dekat, memangkas jarak hingga bayangan tubuhnya menelan tubuh Lyra. "Sebagai calon dokter, jemarimu harus terbiasa dengan hal-hal kotor dan perintah mutlak, Lyra. Anggap saja ini latihan dasar agar kamu tahu diri di mana tempatmu berdiri."

Kata-kata Kael telak merujuk pada konfrontasi mereka semalam di perpustakaan. Pria itu sedang menegaskan dominasinya, mencoba menginjak harga diri Lyra di tempat seharusnya ia dihormati. 

Mata hazel Lyra menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu Kael yang kelam. Batas kesabarannya telah habis. Ia tidak akan membiarkan monster mafia ini menginjak-injak profesi yang ia bangun dengan darah dan air mata.

Dengan gerakan tegas, Lyra menarik tangannya, menolak menyentuh jas milik Kael. Lalu memasukkan tangannya ke saku snelli yang ia kenakan. 

"Uang Anda mungkin bisa membeli seluruh gedung rumah sakit universitas ini, Tuan Voss," ucap Lyra. Suaranya naik satu oktav, menggema dengan tegas di sepanjang lorong hingga membuat semua orang terpaku. "Tapi status Anda sebagai pewaris Voss Group tidak akan pernah bisa membeli kehormatan saya, apalagi membuat saya tunduk,” imbuhnya penuh penekanan. 

Kael menyipitkan matanya, rahangnya mengeras hebat karena tidak menyangka jika gadis di depannya ini akan menjawab dengan begitu lugas di depan semua orang. 

"Jika Anda mencari tempat di mana ego dan sifat monster Anda ingin disembah, silakan cari tempat lain," lanjut Lyra tanpa berkedip, jarinya menunjuk ke arah pintu keluar. "Bukan di sini. Di sini adalah tempat di mana orang-orang berjuang menyelamatkan nyawa, bukan mencabutnya seperti yang biasa lingkaran Anda lakukan."

Kalimat terakhir Lyra seolah-olah menampar wajah Kael di depan umum. Menyebut seorang Voss sebagai pencabut nyawa di depan jajaran direksi rumah sakit adalah bentuk pembangkangan paling fatal yang pernah Kael terima seumur hidupnya.

Atmosfer di lorong itu mendadak drop ke titik beku. Seluruh dokter dan dekan menahan napas. Mereka ketakutan setengah mati melihat bagaimana urat-urat di pelipis Kael menegang menahan amarah yang siap meledak.

Kael melemparkan jasnya begitu saja ke sembarang arah hingga ditangkap panik oleh seorang Dekan. Setelah itu, tangan kekar Kael maju mencengkeram lengan Lyra dengan sangat erat, lalu menarik tubuh gadis itu hingga nyaris menempel pada dadanya. Tatapan matanya menggila dengan desisan kesal dari napasnya. 

"Kamu baru saja membuka pintu nerakamu sendiri, Lyra Hart," bisik Kael tepat di depan wajah Lyra. Suaranya serak dan sarat akan ancaman mematikan yang membuat bulu kuduk semua orang yang mendengar meremang sempurna. Namun, tampaknya Lyra sama sekali tak gentar. Gadis itu membalas tatapan Kael, lalu berbisik lirih. 

"Silakan bawa neraka itu ke hadapanku, Tuan Voss," bisik Lyra.

Gesturnya tenang, tapi sarat akan keteguhan yang mutlak. "Karena sebagai calon dokter, aku sudah terbiasa berurusan dengan kematian. Dan aku tidak akan pernah bertekuk lutut pada monster yang bahkan takut menghadapi kebenaran."

Lyra menyentak lengannya dengan sekali gerakan bertenaga. Memaksa cengkeraman tangan Kael terlepas di depan semua mata yang terbelalak. Tanpa menunggu balasan, ia membalikkan tubuh. Melangkah pergi dengan dagu terangkat tinggi membelah keheningan koridor rumah sakit yang mencekam. Sementara Kael mencengkeram tangannya erat-erat. 

“Sialan. Dia meremehkanku. Kita lihat saja nanti, Lyra Hart,” desisnya kesal. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 11 Pria Yang Datang Malam Malam

    "Aku hanya ingin memastikan kua baik-baik saja, Lyra."Suara pria paruh baya yang tenang itu seketika meremukkan seluruh dugaan Lyra. Bukannya sosok Kael berseragam rasa bersalah yang berdiri di ambang pintu, melainkan Hans—adik tiri Adrian sekaligus paman Kael. Pria paruh baya itu berdiri tegap di koridor yang remang-remang, mengenakan gaun kamar sutra gelap dengan senyuman tipis yang sangat tidak cocok dipasang pada pukul dua pagi.Lyra mencengkeram gagang pintu lebih erat, refleks menahan daun pintu agar tidak terbuka lebih lebar. "Paman Hans ... Ada apa malam-malam begini?""Ah, maaf kalau Paman mengagetkanmu," jawab Hans dengan nada suara yang sengaja dipelankan, seolah-olah penuh empati. Tanpa diundang, pria itu mengambil setengah langkah maju, memangkas jarak hingga Lyra secara insting melangkah mundur satu pijakan ke dalam kamarnya. "Paman melihat lampu kamarmu masih menyala dari bawah. Setelah kejadian mengerikan di pinggiran kota tadi, Paman takut kamu mengalami syok berat."

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 10 Bayang Sentuhanmu

    Gumpalan uap tipis mengepul dari cangkir porselen yang diletakkan Diana di atas meja nakas. Di tepi ranjang, Lyra duduk terdiam dengan rambut yang masih setengah basah setelah mandi. Gaun tidurnya yang longgar tidak mampu menghalau rasa dingin yang entah mengapa menjalar dari dalam dadanya."Minum dulu, Sayang. Biar tubuhmu lebih hangat," ucap Diana lembut, mendudukkan diri di samping putrinya dengan raut wajah yang masih menyisakan sisa kecemasan dari sisa malam tadi.Lyra hanya mengangguk kecil, meraih cangkir itu dan menyesapnya perlahan. Namun, kehangatan teh herbal itu sama sekali tidak mampu mengusir kekacauan yang sedang berhuru-hara di dalam kepalanya."Sebenarnya ... apa yang terjadi di luar sana, Lyra?" tanya Diana lirih, tatapan matanya menuntut penjelasan yang jujur. "Ibu tahu Kael bukan tipe pria yang suka membawa orang lain jalan-jalan tanpa alasan jelas. Kenapa baju kalian bisa bersimbah darah?"Lyra termenung, membiarkan cangkirnya kembali mendarat di atas meja. Alih-a

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 9 Gairah yang Tiba-tiba Tiba Lewat

    "Sayang, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka? Ini sudah hampir fajar dan ponsel Kael sama sekali tidak bisa dihubungi," ucap Diana. Suaranya bergetar hebat, jemarinya meremas cemas ujung pakaian rajutnya di sudut ruang tengah mansion Voss yang megah.Adrian Voss mengembuskan napas berat, melangkah mendekat lalu meletakkan kedua belah tangan kekarnya di bahu sang istri demi memberikan ketenangan. "Tenang, Diana. Anak buahku sudah bergerak ke lokasi sinyal terakhir. Kael bukan pria amatir yang mudah ditumbangkan. Dia pasti membawa Lyra pulang dengan selamat."Belum sempat Diana menyahut, suara deru mesin mobil yang berat terdengar membelah kesunyian halaman depan mansion. Sepasang lampu sorot dari SUV hitam legam menyapu kaca jendela besar ruang tengah. Pintu depan mansion terbuka lebar, menampilkan sosok Lyra dan Kael yang melangkah masuk dalam kondisi basah kuyup akibat guyuran hujan subuh."Lyra!" Diana memekik lega, langsung berlari menerjang dan memeluk erat tubuh

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 8 Menekan Sisa Gairah

    "Lepaskan aku, Kael. Mereka sudah pergi." Lyra berbisik parau.Suaranya bergetar hebat di sela napasnya yang masih memburu. Kael tidak langsung menjawab. Sepasang mata abu-abunya yang menggelap mengunci tatapan Lyra selama beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya ia menjauhkan tubuhnya dengan sentakan kasar. Pria itu bangkit dari ranjang seolah-olah baru saja menyentuh racun yang paling mematikan."Jangan geer," desis Kael dingin.Ia memunggungi Lyra sambil memegangi lengan kanannya yang kembali mengeluarkan darah segar. "Sentuhan tadi hanya bagian dari sandiwara agar kita tidak mati konyol di tempat kotor ini."Lyra tertegun di atas ranjang yang berantakan, menatap punggung tegap Kael dengan rasa terhina yang perlahan membakar dadanya. Kehangatan protektif yang sempat ia rasakan beberapa menit lalu menguap tanpa bekas, digantikan oleh realitas kejam bahwa pria di depannya tetaplah seorang monster yang membencinya."Aku tahu tugas dan batasan profesiku, Tuan Voss," balas Lyra ta

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 7 Mendesahlah, Lyra!

    "Argh! Sialan."Kael menggeram rendah, rahangnya mengetat hebat saat mobil sedan mereka yang ringsek terpaksa ditinggalkan. Langkah kakinya goyah, membuat tubuh jangkungnya nyaris limbung di atas aspal jika sebuah tangan mungil tidak dengan cepat menahan pinggangnya."Kael, bertahanlah! Mereka datang lagi," bisik Lyra panik. Sepasang mata hazelnya menatap cemas ke arah ujung jalan, di mana sorot lampu dari SUV cadangan musuh mulai membelah kegelapan gang pinggiran kota. "Kita harus sembunyi. Sekarang!""Jangan perintah aku, Lyra," desis Kael serak, napasnya memburu menahan perih di lengannya yang terus mengucurkan darah segar. Namun, pria itu tidak menolak ketika Lyra menyusupkan tubuh di bawah lengan kirinya yang sehat, memapah langkahnya membelah kegelapan gang yang berliku.Langkah kaki mereka yang tergesa membawa keduanya terpojok di sebuah area remang-remang di ujung jalan buntu. Satu-satunya bangunan yang masih terbuka adalah sebuah motel kelas bawah dengan papan neon bertarif p

  • Obsesi Kakak Tiri Mafia   Bab 6 Jangan Sentuh Aku!

    Setelah membuat Lyra dinonaktifkan dari Rumah Sakit Universitas, Kael memerintahkan adik tirinya itu untuk ikut bersamanya ke sebuah rumah sakit tua di pinggiran kota yang sudah tidak beroperasi, aset lama Voss Group tempat dokumen rekam medis belasan tahun lalu disimpan. Kael sengaja ingin menyiksa mental Lyra, memaksanya ikut mencari berkas malapraktik masa lalu yang dituduhkan kepada Nikolai Hart. Suasana di dalam sedan hitam yang melaju membelah jalanan sepi pinggiran kota itu terasa begitu mencekam. Kael menyetir dengan rahang mengeras. Sementara Lyra hanya menatap lurus ke luar jendela, meremas tali tasnya demi menghalau rasa cemas yang terus menggerogoti dada. "Jika kamu berpikir bisa melarikan diri atau mencari pembelaan dari ibumu lagi, lupakan saja," ucap Kael memecah keheningan dengan suara baritonnya yang dingin. Lyra menoleh, menatap profil samping Kael yang tajam. "Aku tidak pernah berniat lari, Kael. Aku ikut denganmu karena aku juga ingin melihat bukti apa yang ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status