Share

Bahagia

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-07-27 18:57:37

Aww... Mas," keluh Bintang pelan, menatap Angkasa dengan tatapan cemberut.

​Angkasa justru tertawa rendah, memeluk pinggang Bintang semakin erat. "Kenapa, Sayang? Pegal?"

​"Kan sudah kubilang! Jangan berlebihan!" omel Bintang gemas, menepuk dada telanjang Angkasa. "Kamu benar-benar tidak meloloskan aku sedikit pun sampai subuh!"

​"Aku hanya menepati janjiku, Nyonya Pratama," goda Angkasa, mengedipkan sebelah matanya. "Dan seperti yang kubilang, stamina suamimu ini tidak perlu diragukan."

​"Dasa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Bahagia

    Aww... Mas," keluh Bintang pelan, menatap Angkasa dengan tatapan cemberut.​Angkasa justru tertawa rendah, memeluk pinggang Bintang semakin erat. "Kenapa, Sayang? Pegal?"​"Kan sudah kubilang! Jangan berlebihan!" omel Bintang gemas, menepuk dada telanjang Angkasa. "Kamu benar-benar tidak meloloskan aku sedikit pun sampai subuh!"​"Aku hanya menepati janjiku, Nyonya Pratama," goda Angkasa, mengedipkan sebelah matanya. "Dan seperti yang kubilang, stamina suamimu ini tidak perlu diragukan."​"Dasar CEO tidak mau mengalah!" potong Bintang sambil tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher Angkasa dan menyandarkan dagunya di sana. "Tapi... terima kasih, Mas. Untuk segalanya."​Angkasa menatap mata Bintang yang kini bersih dari keraguan. "Aku yang harus berterima kasih, Bintang. Karena kamu sudah bertahan, karena kamu mau percaya padaku, dan karena kamu sudah melengkapi hidupku bersama Arka."​Oweee! Oweee!​Suara tangisan mungil dari arah pintu balkon luar memecah suasana romantis merek

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Janii Tiga Bungkus

    ​Aroma kehangatan kayu cendana dan deburan halus ombak Uluwatu yang menerpa tebing malam itu menjadi saksi bisu meleburnya sisa-sisa cemburu di kamar utama vila. Senyuman kemenangan terukir jelas di bibir tegap Angkasa saat merasakan kedua lengan halus Bintang mengunci lehernya.​"Pikirkan sendiri?" Angkasa berbisik rendah tepat di depan bibir Bintang, mengikis jarak hingga napas mereka menyatu. "Jawabanmu barusan sudah lebih dari cukup, Nyonya Pratama."​"Jangan percaya diri dulu, Mas," gumam Bintang dengan napas yang mulai tersengal. Sorot matanya berbinar jahil di bawah remang lampu kamar. "Itu cuma jaminan supaya kamu tidak macam-macam lagi."​"Lalu mana tebusannya?" Angkasa terkekeh pelan. Tanpa memberi Bintang kesempatan memprotes, tangan kekarnya langsung menyambar pinggang Bintang, mengangkat tubuh ramping istrinya itu dalam satu gerakan mudah menuju tempat tidur berukuran king size di tengah ruangan.​Bintang tertawa pelan saat tubuhnya mendarat di atas kasur empuk yang tertu

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Mengambil Hati

    ​"Bintang, tunggu! Sayang, dengarkan aku dulu!"​Suara bariton Angkasa yang biasa menggema tegas di ruang rapat kini terdengar panik setengah mati. Langkah kakinya yang lebar bergegas menyusul Bintang yang sudah melangkah keluar dari butik dengan kecepatan penuh. Beberapa pelayan dan pengawal yang berjaga di luar langsung menunduk, pura-pura tidak melihat wajah bos besar mereka yang tampak frustrasi.​Bintang tidak memedulikan panggilan itu. Ia langsung membuka pintu mobil luks yang menjemput mereka, masuk ke kursi tengah, dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah sedingin es. Suster bayi yang sedang memangku Arka di kursi belakang seketika membeku, merasakan udara mobil yang mendadak drop hingga minus nol derajat.​Brak!​Angkasa menyusul masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan cepat, dan langsung memberi isyarat kepada sopir. "Jalan. Langsung ke vila."​"Baik, Tuan."​Mobil pun bergerak membelah jalanan Seminyak menuju Uluwatu. Di dalam kabin mobil yang luas itu, keh

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Merajuk

    ​Melihat reaksi pasrah sekaligus ledekan manis dari istrinya, pertahanan sombong Angkasa runtuh seketika. Tawa renyah dan merdu pria itu pecah, menggema hangat memenuhi ruang makan mansion mereka yang megah. Bintang pun tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa lebar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Angkasa dengan perasaan cinta.Badai kelam kemarin kini benar-benar telah digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. ​"Jadi, tidak perlu ke atas untuk kemas-kemas lagi, kan?" bisik Angkasa geli, mengecup pelipis Bintang yang masih bersandar nyaman di bahunya.​Bintang mendongak, lalu mencubit dagu suaminya pelan. "Iya, Pak CEO. Terserah perintah Bos saja. Tapi awas ya kalau sesampainya di Bali aku tidak menemukan baju yang cocok!"​"Jangankan baju yang cocok, butiknya sekalian akan aku belikan untukmu kalau kamu mau," sahut Angkasa penuh percaya diri yang langsung dihadiahi tatapan malas namun penuh cinta dari Bintang.​Siang harinya, persiapan keberangkatan yang serba

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Liburan

    ​Suasana meja makan pagi itu terasa berkali-kali lipat lebih hidup. Aroma sup ayam ginseng buatan Angkasa memenuhi ruangan, bersanding dengan tawa kecil Bintang yang akhirnya kembali terdengar.​Tak lama kemudian, suster bayi datang menggendong Arka yang sudah mandi dan beraroma harum minyak telon. Begitu melihat sang anak, Bintang langsung mengambil alih Arka ke dalam pangkuannya. Bayi mungil berusia dua bulan itu tampak mengerjap-erjap lucu, menatap lumat ke arah Angkasa seolah tahu bahwa pria di depannya adalah pahlawan yang telah menjaga tidurnya tetap aman.​"Sini, biar aku yang gendong Arka. Kamu habiskan dulu supnya selagi hangat," ucap Angkasa lembut. Tanpa canggung, pria itu mengambil alih Arka dari dekapan Bintang, menimangnya dengan satu tangan yang kokoh sementara tangan lainnya bergerak mengelus pipi gembul putranya.​Bintang tersenyum haru menatap pemandangan di depannya. Ketakutan bahwa Angkasa akan berubah seperti Rendi benar-benar terkikis habis tak bersisa.​"Bagaima

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Penebusan Dosa

    ​Di tengah tangis Bintang yang tumpah di dadanya, Angkasa mempererat pelukan. Tubuh tegapnya bergetar, menyalurkan rasa takut yang teramat sangat—bukan takut pada ancaman musuh di luar sana, melainkan takut kehilangan kepercayaan wanita yang menjadi separuh jiwanya ini.​Angkasa menangkup wajah Bintang dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari secara lembut. Sorot matanya begitu mengiba, sarat akan luka ketika menyadari dirinya disamakan dengan pria masa lalu Bintang yang bajingan itu.​"Aku mohon, Bintang... Jangan pernah samakan aku dengan Rendi," bisik Angkasa, suaranya parau dan bergetar hebat di depan wajah Bintang. "Rendi adalah masa lalumu yang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sepertimu. Tapi aku... aku Angkasa Pratama. Aku sangat mencintaimu, Bintang. Hidup dan matiku hanya untukmu dan Arka. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."​Bintang menatap kedalaman manik mata suaminya. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang ada hanyal

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Sikap Angkasa

    Setelah makan malam, Kakek meminta Angkasa untuk menjaga Bintang. "Bintang sudah Kakek anggap sebagai cucu kandung Kakek Angkasa tolong jaga dia baik-baik. Rendi sangat tidak bisa diharapkan." "Pasti Angkasa akan menjaganya Kek, Kakek tenang saja." Sahut Angkasa. Tak selang lama Rendi dan Mama b

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Pernikahan Adalah Hal Sakral

    Rendi merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menunduk dan melongok ke bawah kolong meja kerja Angkasa.Di bawah sana, Bintang sudah pucat pasi. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Dalam kepanikan yang memuncak, kedua tangannya bergerak refleks memegangi celana bahan yang dikenakan Angkasa, mence

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Sandiwara Dibalas Sandiwara

    Melihat Rendi dan Monik yang membeku seperti patung, Shinta yang berdiri di samping Bintang seketika ikut panik setengah mati. Jantungnya mencelos. Di dalam otaknya, Shinta mengumpat habis-habisan kelakuan bodoh kakak kandungnya itu.​'Sialan! Ke mana otakmu, Rendi?! Bisa-bisanya kamu membawa wanit

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Obat Perangsang

    Setelah beberapa waktu Angkasa dan Rendi berangkat, Sinta dan sang Mama menyusun rencana licik mereka.Saat lampu-lampu mulai padam, mereka berdua beraksi, berjalan pelan menuju dapur. “Nyonya ingin membuat apa? Biar kami buatkan.” Kata salah satu pelayan. “Kami akan buat sendiri kamu tidur saja.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status