بيت / Rumah Tangga / Obsesi Liar Kakak Ipar / Ide Yang Sangat Bagus

مشاركة

Ide Yang Sangat Bagus

مؤلف: CitraAurora
last update تاريخ النشر: 2026-05-08 20:03:05

Di dalam ruang kerja yang remang itu, tawa rendah Angkasa pecah. Pria itu geli sendiri mendengar pertanyaan adik iparnya.

​"Bintang, Bintang..." Angkasa melangkah maju, memangkas jarak hingga Bintang bisa merasakan hembusan nafas pria itu di keningnya. "Seorang adik ipar datang tengah malam, meminta perlindungan dari kakaknya, lalu bertanya apa imbalannya? Bukankah jawabannya sudah terlalu jelas?"

​Angkasa menunduk, berbisik tepat di telinga Bintang dengan suara bariton yang menggetarkan sukma. "Seorang penguasa yang memiliki segalanya... apa lagi yang ia butuhkan dari seorang wanita lemah sepertimu, selain tubuh yang selama ini disia-siakan oleh suamimu?"

​Tubuh Bintang terhuyung ke belakang. Dia menatap Angkasa dengan mata membelalak, nafasnya tertahan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Haruskah dia melakukannya? Haruskah dia mengkhianati sebuah pernikahan yang sejak awal memang sudah hancur dan penuh kebohongan?

​Melihat keraguan yang begitu nyata di wajah Bintang, Angkasa menarik diri. Ia kembali ke kursi kebesarannya dengan gerakan yang tenang dan elegan.

​"Keputusan ada di tanganmu, Bintang. Aku tidak suka memaksa wanita," ucap Angkasa dingin sambil kembali membuka berkas di depannya, seolah kehadiran Bintang tak lagi penting. "Keluar jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Aku sibuk."

​Bintang mengangguk lemah, lidahnya kelu untuk membalas. Ia berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, membawa beban dilema yang menghimpit dada.

Malam itu, di kamarnya yang dingin, ucapan Angkasa berputar layaknya kaset rusak di otaknya. Menyerahkan diri pada Angkasa, atau terus menjadi keset kaki di rumah ini?

​Keesokan harinya, matahari sudah meninggi saat Bintang terbangun. Matanya sembab dan tubuhnya terasa remuk karena baru bisa terlelap menjelang subuh.

Dengan terburu-buru, dia merapikan diri dan berlari menuju ruang makan.

​Namun, suasana di sana sudah mendidih. Keluarga besar Pratama sudah berkumpul, dan kursi Bintang adalah satu-satunya yang kosong.

​"Bagus ya! Jam segini baru menampakkan batang hidung, seperti ratu saja!" Suara melengking Mama Rendi langsung menyambar begitu Bintang masuk.

"Cepat layani kami. Kamu ini menantu bukan patung! Bukannya disiplin malah makin ngelunjak!"

​"Maaf, Ma... Bintang semalam kurang enak badan," lirih Bintang.

​"Alasan!" sahut Shinta sambil meletakkan garpunya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi denting yang nyaring. "Baru telat bangun saja sudah akting sakit. Kak Rendi saja yang baru sembuh sudah bangun pagi, kamu yang sehat malah malas-malasan!"

​Rendi hanya diam, menatap Bintang dengan pandangan menghina sambil mengepalkan tangannya, seolah istrinya itu tak lebih dari udara kosong.

Setahun penuh Bintang selalu bangun paling awal, menyiapkan segala kebutuhan mereka tanpa cela, namun satu kesalahan kecil hari ini membuat mereka seolah lupa akan semua pengabdiannya.

​Di ujung meja, Angkasa yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya meletakkan cangkir kopinya. Dia menatap Bintang yang menunduk dengan bahu bergetar, hampir menangis karena rentetan omelan yang dia terima.

​"Di mansion ini ada banyak pelayan dan pembantu," suara Angkasa memotong kebisingan, tenang namun berwibawa. "Kenapa kalian begitu heboh memarahi Bintang hanya gara-gara dia telat bangun pagi ini?"

​Angkasa menatap ibu tirinya dengan tajam. "Sebenarnya Bintang ini menantu di rumah ini, atau pembantu yang digaji untuk menyiapkan sarapan kalian?"

​"Angkasa, kamu tidak mengerti," bantah Ibunya dengan nada membela diri. "Bintang itu wanita, dia istri. Sudah sewajarnya dia bangun pagi dan mengurus rumah tangga!"

​Sudut bibir Angkasa terangkat, membentuk senyum tipis yang penuh sindiran. Ia melirik Shinta dan Ibu Rahayu bergantian.

​"Kalau alasannya karena dia seorang wanita, bukankah Shinta dan Mama juga wanita?" tanya Angkasa telak. "Kenapa hanya Bintang yang kalian tuntut untuk bekerja di dapur, sementara kalian berdua hanya duduk menunggu makanan datang? Berkacalah sedikit sebelum menuntut orang lain untuk sempurna."

​Suasana meja makan seketika senyap. Shinta mematung dengan wajah memerah, sementara Ibunya kehilangan kata-kata.

Rendi menatap kakaknya dengan penuh tanda tanya, merasa ada yang aneh dengan pembelaan Angkasa yang begitu terang-terangan terhadap Bintang pagi ini.

​Bintang mendongak, menatap Angkasa yang kini sedang menatapnya balik dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapan yang seolah mengingatkan Bintang akan tawaran semalam. Bahwa di bawah perlindungannya, Bintang tidak akan pernah lagi dipandang rendah oleh siapa pun.

“Panggil pelayan suruh melayani, biarkan Bintang duduk dan sarapan juga,” titah Angkasa.

Tak ada yang berani memarahi Bintang, tak ada yang berani protes. Pekerjaan yang biasanya dilakukan Bintang pagi ini dilakukan pelayan.

​Setelah deru mobil Angkasa menjauh dari pelataran mansion, suasana yang semula tegang di meja makan berubah menjadi sunyi yang licik.

Bintang, dengan bahu yang masih tegang, segera membereskan sisa piring di meja, pekerjaan yang seharusnya dilakukan pelayan, namun tetap ia lakukan demi menghindari keributan lebih lanjut.

​Mama Rendi segera menarik lengan Rendi, membawanya ke sudut ruang keluarga yang lebih tertutup. Wajah wanita paruh baya itu tampak cemas sekaligus berapi-api.

​"Rendi, kita harus bicara!" bisik Ibunya sambil memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Kamu lihat tadi? Angkasa mulai terang-terangan membela wanita itu. Mama tidak suka ini."

​"Aku juga tidak tahu kenapa Mas Angkasa jadi ikut campur, Ma," sahut Rendi kesal.

​"Dengarkan Mama. Kita tidak bisa terus-terusan memarahi Bintang secara terbuka. Mama takut kalau Angkasa sampai mengecap kita sebagai keluarga kejam, dia bisa mencabut semua fasilitas kita di rumah ini. Kamu tahu sendiri kan, kakakmu itu kepala keluarga Pratama."

​Mama Rendi mencengkeram lengan Rendi lebih kuat. "Kamu harus segera membuat Bintang hamil. Kita butuh anak sebagai sandera. Begitu ada cucu dari garis keturunanmu, posisi kita akan kuat di keluarga ini. Angkasa tidak akan bisa mendepak kita sembarangan."

​Wajah Rendi langsung berubah masai. Ia melepaskan tangan ibunya dengan kasar. "Tidak mungkin, Ma! Aku tidak sudi. Jangankan menyentuhnya, melihat wajah Bintang saja aku sudah jijik. Dia itu hambar, tidak ada menarik-menariknya!"

​"Rendi! Apa kamu mau kehilangan semuanya? Jabatanmu, mobilmu, kemewahan ini?!" seru ibunya tertahan.

​Rendi menggeleng kuat. "Hanya Monik yang aku cintai, Ma. Mama tahu itu. Aku hanya ingin bersama Monik."

​Mendengar nama Monik, Ibu Rahayu terdiam sejenak. Otaknya yang licik mulai berputar mencari celah. Sebuah senyuman jahat perlahan terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah mahal.

​"Rendi... Mama punya ide bagus," gumam Ibunya dengan mata berbinar licik. "Kalau kamu begitu menginginkan Monik, kenapa kita tidak memanfaatkan saja situasi ini?"

​Rendi mengernyit. "Maksud Mama?"

​"Biarkan Monik yang hamil. Kamu dan Monik tetap bersama, dan di sini kita suruh Bintang pura-pura hamil untuk mengelabui Angkasa, dan nanti setelah anak kamu lahir biar Bintang yang merawatnya.”

​Ibunya tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin. "Bintang tidak usah repot-repot hamil. Biar dia yang bertugas merawat anak Monik nanti. Dia akan menjadi pengasuh gratis seumur hidup di rumah ini, sementara posisimu sebagai ayah dari ahli waris tetap aman. Monik senang, kamu senang, dan posisi kita di depan Angkasa tetap terjaga."

​Rendi tertegun, lalu senyum puas mulai mengembang di wajahnya. "Ide Mama luar biasa. Monik pasti akan setuju!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Malam pertama Malah dengan Kakak Ipar

    "Aku sudah siap, Mas Angkasa,” sahut Bintang pelan.​Angkasa menyeringai tipis, sebuah ekspresi kemenangan yang dingin. Tanpa kata, ia memberi isyarat agar Bintang mengikutinya. Langkah kaki Angkasa yang mantap bergema di sepanjang koridor privat, sementara Bintang mengekor di belakang dengan jantung yang berdegup liar. Ruangan ini jauh dari jangkauan anggota keluarga Pratama yang lain; sebuah wilayah terlarang yang hanya tunduk pada satu tuan.​Angkasa membuka pintu kamarnya, ruangan luas yang didominasi warna gelap dan aroma maskulin yang pekat. Begitu Bintang melangkah masuk, Angkasa langsung mengunci pintu. Bunyi klik dari kunci itu seolah menjadi tanda bahwa dunia luar, termasuk statusnya sebagai istri Rendi, telah tertinggal di balik pintu.​"Naiklah ke ranjang, Bintang," perintah Angkasa datar.​Tubuh Bintang bergetar hebat. Pikirannya kalut; apa rasanya berada di ranjang panas kakak ipar sendiri? Sementara itu, Angkasa melepaskan jam tangan mewahnya, meletakkannya di atas naka

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Ikut Ke kamar

    Malam itu ketika semua orang sudah tidur, Bintang membuka lemari, mengambil sebuah jubah tidur berbahan tipis yang selama ini tak pernah dia pakai.Itu adalah hadiah pernikahannya dulu, tapi sudah setahun berlalu baju tipis itu tak pernah dia pakai dan malam ini dia akan memakainya, bukan untuk Rendi melainkan untuk Angkasa, Kakak Iparnya sendiri. Bintang tidak lagi peduli pada dosa atau rasa malu. Malam ini, dia akan menyerahkan dirinya pada sang penguasa, bukan sebagai korban, melainkan sebagai bentuk kesepakatan maut untuk membalas dendam.​Bintang keluar dari kamar, melangkah dengan pasti menuju paviliun barat. Setiap langkahnya terasa seperti mengubur sosok Bintang yang lemah, dan melahirkan Bintang yang baru, Bintang yang siap masuk ke dalam kegelapan demi sebuah kebebasan.​Dia sampai di depan pintu ruang kerja Angkasa tanpa ragu sedikitpun, lalu Bintang mengetuk pintu itu.​Tok... Tok...​"Masuk," suara itu masih sama, dingin dan berat.​Bintang mendorong pintu, masuk ke dala

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Aku Akan Membayarnya

    ​Sore itu, begitu Bintang menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia dipanggil untuk menghadap Ibu mertuanya dan Rendi. Mereka duduk dengan tenang, bahkan Ibu mertuanya menyunggingkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.​"Duduklah, Bintang," suara Ibu mertuanya terdengar lembut, sebuah nada yang justru membuat bulu kuduk Bintang meremang.​Bintang duduk dengan kaku. Kecurigaannya memuncak saat Rendi, pria yang biasanya menatapnya dengan rasa jijik, kini menggeser secangkir teh ke arahnya.“Bintang, minum dulu, kamu pasti haus kan setelah bersih-bersih,” ucap pria itu lembut. Ibu mertuanya menimpali, dia juga mendekatkan camilan favoritnya untuk Bintang.​"Bintang, kami memikirkan sesuatu yang baik untuk masa depan kita," ujar Rendi pembuka. Dia berdehem sejenak sebelum melanjutkan, "Kakek terus menekan kita soal cicit. Jadi, aku punya solusi agar kamu tidak lagi ditekan soal anak."​Bintang mengerutkan kening. "Maksudmu apa, Mas?"​"Pura-puralah hamil," ucap Rendi santai. "Nanti, set

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Ide Yang Sangat Bagus

    Di dalam ruang kerja yang remang itu, tawa rendah Angkasa pecah. Pria itu geli sendiri mendengar pertanyaan adik iparnya. ​"Bintang, Bintang..." Angkasa melangkah maju, memangkas jarak hingga Bintang bisa merasakan hembusan nafas pria itu di keningnya. "Seorang adik ipar datang tengah malam, meminta perlindungan dari kakaknya, lalu bertanya apa imbalannya? Bukankah jawabannya sudah terlalu jelas?"​Angkasa menunduk, berbisik tepat di telinga Bintang dengan suara bariton yang menggetarkan sukma. "Seorang penguasa yang memiliki segalanya... apa lagi yang ia butuhkan dari seorang wanita lemah sepertimu, selain tubuh yang selama ini disia-siakan oleh suamimu?"​Tubuh Bintang terhuyung ke belakang. Dia menatap Angkasa dengan mata membelalak, nafasnya tertahan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Haruskah dia melakukannya? Haruskah dia mengkhianati sebuah pernikahan yang sejak awal memang sudah hancur dan penuh kebohongan?​Melihat keraguan yang begitu nyata di wa

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Apa Yang Mas Mau?

    Malam itu ​dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara di koridor yang sunyi, Bintang berjalan menuju lantai tiga, area pribadi tempat ruang kerja Angkasa berada. Setiap langkahnya terasa berat, dibayangi ketakutan akan penolakan. Namun, keputusasaan telah mengikis habis rasa takutnya.​Bintang berhenti di depan pintu ruang kerja Kakak iparnya. Cahaya kekuningan berpendar tipis dari celah bawah pintu, menandakan sang pemilik masih terjaga.Bintang menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu mengetuk pintu itu perlahan.​Tok... Tok...​"Masuk." Suara bariton yang berat dan dingin terdengar dari dalam.​Bintang mendorong pintu perlahan. Wangi maskulin Angkasa langsung menyapa indra penciumannya.Ruang kerja itu sangat luas, dengan rak-rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit. Di balik meja kerja besar yang rapi, Angkasa duduk dengan kacamata berbingkai tipis, fokus menatap layar laptopnya.​Angkasa tidak mendongak saat pintu terbuka.

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Perlindungan Kakak Ipar

    ​Siang itu, ruang makan mansion keluarga Pratama terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Bintang. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, sementara Rendi duduk di hadapannya dengan kegelisahan yang kentara.​"Mas Angkasa," Rendi akhirnya memecah keheningan, mencoba meredakan ketegangan yang sejak tadi menggantung. "Tolong jangan salah paham soal kejadian di kolam renang tadi. Aku dan Monik tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas kakak dan adik ipar. Sungguh, aku tidak bohong."​Rendi menatap Angkasa, berharap mendapatkan secercah kepercayaan dari pria yang memegang kendali atas seluruh aset keluarga Pratama tersebut.​Angkasa tidak langsung menjawab. Dia meletakkan cangkir kopinya perlahan, menimbulkan bunyi ketukan kecil yang membuat jantung Rendi berdegup lebih kencang. Dengan tatapan dingin yang tak terbaca, Angkasa menyahut, "Bohong atau tidak, kamu sen

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status