MasukDi dalam ruang kerja yang remang itu, tawa rendah Angkasa pecah. Pria itu geli sendiri mendengar pertanyaan adik iparnya.
"Bintang, Bintang..." Angkasa melangkah maju, memangkas jarak hingga Bintang bisa merasakan hembusan nafas pria itu di keningnya. "Seorang adik ipar datang tengah malam, meminta perlindungan dari kakaknya, lalu bertanya apa imbalannya? Bukankah jawabannya sudah terlalu jelas?" Angkasa menunduk, berbisik tepat di telinga Bintang dengan suara bariton yang menggetarkan sukma. "Seorang penguasa yang memiliki segalanya... apa lagi yang ia butuhkan dari seorang wanita lemah sepertimu, selain tubuh yang selama ini disia-siakan oleh suamimu?" Tubuh Bintang terhuyung ke belakang. Dia menatap Angkasa dengan mata membelalak, nafasnya tertahan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Haruskah dia melakukannya? Haruskah dia mengkhianati sebuah pernikahan yang sejak awal memang sudah hancur dan penuh kebohongan? Melihat keraguan yang begitu nyata di wajah Bintang, Angkasa menarik diri. Ia kembali ke kursi kebesarannya dengan gerakan yang tenang dan elegan. "Keputusan ada di tanganmu, Bintang. Aku tidak suka memaksa wanita," ucap Angkasa dingin sambil kembali membuka berkas di depannya, seolah kehadiran Bintang tak lagi penting. "Keluar jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Aku sibuk." Bintang mengangguk lemah, lidahnya kelu untuk membalas. Ia berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, membawa beban dilema yang menghimpit dada. Malam itu, di kamarnya yang dingin, ucapan Angkasa berputar layaknya kaset rusak di otaknya. Menyerahkan diri pada Angkasa, atau terus menjadi keset kaki di rumah ini? Keesokan harinya, matahari sudah meninggi saat Bintang terbangun. Matanya sembab dan tubuhnya terasa remuk karena baru bisa terlelap menjelang subuh. Dengan terburu-buru, dia merapikan diri dan berlari menuju ruang makan. Namun, suasana di sana sudah mendidih. Keluarga besar Pratama sudah berkumpul, dan kursi Bintang adalah satu-satunya yang kosong. "Bagus ya! Jam segini baru menampakkan batang hidung, seperti ratu saja!" Suara melengking Mama Rendi langsung menyambar begitu Bintang masuk. "Cepat layani kami. Kamu ini menantu bukan patung! Bukannya disiplin malah makin ngelunjak!" "Maaf, Ma... Bintang semalam kurang enak badan," lirih Bintang. "Alasan!" sahut Shinta sambil meletakkan garpunya dengan kasar hingga menimbulkan bunyi denting yang nyaring. "Baru telat bangun saja sudah akting sakit. Kak Rendi saja yang baru sembuh sudah bangun pagi, kamu yang sehat malah malas-malasan!" Rendi hanya diam, menatap Bintang dengan pandangan menghina sambil mengepalkan tangannya, seolah istrinya itu tak lebih dari udara kosong. Setahun penuh Bintang selalu bangun paling awal, menyiapkan segala kebutuhan mereka tanpa cela, namun satu kesalahan kecil hari ini membuat mereka seolah lupa akan semua pengabdiannya. Di ujung meja, Angkasa yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, akhirnya meletakkan cangkir kopinya. Dia menatap Bintang yang menunduk dengan bahu bergetar, hampir menangis karena rentetan omelan yang dia terima. "Di mansion ini ada banyak pelayan dan pembantu," suara Angkasa memotong kebisingan, tenang namun berwibawa. "Kenapa kalian begitu heboh memarahi Bintang hanya gara-gara dia telat bangun pagi ini?" Angkasa menatap ibu tirinya dengan tajam. "Sebenarnya Bintang ini menantu di rumah ini, atau pembantu yang digaji untuk menyiapkan sarapan kalian?" "Angkasa, kamu tidak mengerti," bantah Ibunya dengan nada membela diri. "Bintang itu wanita, dia istri. Sudah sewajarnya dia bangun pagi dan mengurus rumah tangga!" Sudut bibir Angkasa terangkat, membentuk senyum tipis yang penuh sindiran. Ia melirik Shinta dan Ibu Rahayu bergantian. "Kalau alasannya karena dia seorang wanita, bukankah Shinta dan Mama juga wanita?" tanya Angkasa telak. "Kenapa hanya Bintang yang kalian tuntut untuk bekerja di dapur, sementara kalian berdua hanya duduk menunggu makanan datang? Berkacalah sedikit sebelum menuntut orang lain untuk sempurna." Suasana meja makan seketika senyap. Shinta mematung dengan wajah memerah, sementara Ibunya kehilangan kata-kata. Rendi menatap kakaknya dengan penuh tanda tanya, merasa ada yang aneh dengan pembelaan Angkasa yang begitu terang-terangan terhadap Bintang pagi ini. Bintang mendongak, menatap Angkasa yang kini sedang menatapnya balik dengan tatapan yang sulit diartikan, tatapan yang seolah mengingatkan Bintang akan tawaran semalam. Bahwa di bawah perlindungannya, Bintang tidak akan pernah lagi dipandang rendah oleh siapa pun. “Panggil pelayan suruh melayani, biarkan Bintang duduk dan sarapan juga,” titah Angkasa. Tak ada yang berani memarahi Bintang, tak ada yang berani protes. Pekerjaan yang biasanya dilakukan Bintang pagi ini dilakukan pelayan. Setelah deru mobil Angkasa menjauh dari pelataran mansion, suasana yang semula tegang di meja makan berubah menjadi sunyi yang licik. Bintang, dengan bahu yang masih tegang, segera membereskan sisa piring di meja, pekerjaan yang seharusnya dilakukan pelayan, namun tetap ia lakukan demi menghindari keributan lebih lanjut. Mama Rendi segera menarik lengan Rendi, membawanya ke sudut ruang keluarga yang lebih tertutup. Wajah wanita paruh baya itu tampak cemas sekaligus berapi-api. "Rendi, kita harus bicara!" bisik Ibunya sambil memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Kamu lihat tadi? Angkasa mulai terang-terangan membela wanita itu. Mama tidak suka ini." "Aku juga tidak tahu kenapa Mas Angkasa jadi ikut campur, Ma," sahut Rendi kesal. "Dengarkan Mama. Kita tidak bisa terus-terusan memarahi Bintang secara terbuka. Mama takut kalau Angkasa sampai mengecap kita sebagai keluarga kejam, dia bisa mencabut semua fasilitas kita di rumah ini. Kamu tahu sendiri kan, kakakmu itu kepala keluarga Pratama." Mama Rendi mencengkeram lengan Rendi lebih kuat. "Kamu harus segera membuat Bintang hamil. Kita butuh anak sebagai sandera. Begitu ada cucu dari garis keturunanmu, posisi kita akan kuat di keluarga ini. Angkasa tidak akan bisa mendepak kita sembarangan." Wajah Rendi langsung berubah masai. Ia melepaskan tangan ibunya dengan kasar. "Tidak mungkin, Ma! Aku tidak sudi. Jangankan menyentuhnya, melihat wajah Bintang saja aku sudah jijik. Dia itu hambar, tidak ada menarik-menariknya!" "Rendi! Apa kamu mau kehilangan semuanya? Jabatanmu, mobilmu, kemewahan ini?!" seru ibunya tertahan. Rendi menggeleng kuat. "Hanya Monik yang aku cintai, Ma. Mama tahu itu. Aku hanya ingin bersama Monik." Mendengar nama Monik, Ibu Rahayu terdiam sejenak. Otaknya yang licik mulai berputar mencari celah. Sebuah senyuman jahat perlahan terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah mahal. "Rendi... Mama punya ide bagus," gumam Ibunya dengan mata berbinar licik. "Kalau kamu begitu menginginkan Monik, kenapa kita tidak memanfaatkan saja situasi ini?" Rendi mengernyit. "Maksud Mama?" "Biarkan Monik yang hamil. Kamu dan Monik tetap bersama, dan di sini kita suruh Bintang pura-pura hamil untuk mengelabui Angkasa, dan nanti setelah anak kamu lahir biar Bintang yang merawatnya.” Ibunya tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat dingin. "Bintang tidak usah repot-repot hamil. Biar dia yang bertugas merawat anak Monik nanti. Dia akan menjadi pengasuh gratis seumur hidup di rumah ini, sementara posisimu sebagai ayah dari ahli waris tetap aman. Monik senang, kamu senang, dan posisi kita di depan Angkasa tetap terjaga." Rendi tertegun, lalu senyum puas mulai mengembang di wajahnya. "Ide Mama luar biasa. Monik pasti akan setuju!"Aww... Mas," keluh Bintang pelan, menatap Angkasa dengan tatapan cemberut.Angkasa justru tertawa rendah, memeluk pinggang Bintang semakin erat. "Kenapa, Sayang? Pegal?""Kan sudah kubilang! Jangan berlebihan!" omel Bintang gemas, menepuk dada telanjang Angkasa. "Kamu benar-benar tidak meloloskan aku sedikit pun sampai subuh!""Aku hanya menepati janjiku, Nyonya Pratama," goda Angkasa, mengedipkan sebelah matanya. "Dan seperti yang kubilang, stamina suamimu ini tidak perlu diragukan.""Dasar CEO tidak mau mengalah!" potong Bintang sambil tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher Angkasa dan menyandarkan dagunya di sana. "Tapi... terima kasih, Mas. Untuk segalanya."Angkasa menatap mata Bintang yang kini bersih dari keraguan. "Aku yang harus berterima kasih, Bintang. Karena kamu sudah bertahan, karena kamu mau percaya padaku, dan karena kamu sudah melengkapi hidupku bersama Arka."Oweee! Oweee!Suara tangisan mungil dari arah pintu balkon luar memecah suasana romantis merek
Aroma kehangatan kayu cendana dan deburan halus ombak Uluwatu yang menerpa tebing malam itu menjadi saksi bisu meleburnya sisa-sisa cemburu di kamar utama vila. Senyuman kemenangan terukir jelas di bibir tegap Angkasa saat merasakan kedua lengan halus Bintang mengunci lehernya."Pikirkan sendiri?" Angkasa berbisik rendah tepat di depan bibir Bintang, mengikis jarak hingga napas mereka menyatu. "Jawabanmu barusan sudah lebih dari cukup, Nyonya Pratama.""Jangan percaya diri dulu, Mas," gumam Bintang dengan napas yang mulai tersengal. Sorot matanya berbinar jahil di bawah remang lampu kamar. "Itu cuma jaminan supaya kamu tidak macam-macam lagi.""Lalu mana tebusannya?" Angkasa terkekeh pelan. Tanpa memberi Bintang kesempatan memprotes, tangan kekarnya langsung menyambar pinggang Bintang, mengangkat tubuh ramping istrinya itu dalam satu gerakan mudah menuju tempat tidur berukuran king size di tengah ruangan.Bintang tertawa pelan saat tubuhnya mendarat di atas kasur empuk yang tertu
"Bintang, tunggu! Sayang, dengarkan aku dulu!"Suara bariton Angkasa yang biasa menggema tegas di ruang rapat kini terdengar panik setengah mati. Langkah kakinya yang lebar bergegas menyusul Bintang yang sudah melangkah keluar dari butik dengan kecepatan penuh. Beberapa pelayan dan pengawal yang berjaga di luar langsung menunduk, pura-pura tidak melihat wajah bos besar mereka yang tampak frustrasi.Bintang tidak memedulikan panggilan itu. Ia langsung membuka pintu mobil luks yang menjemput mereka, masuk ke kursi tengah, dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah sedingin es. Suster bayi yang sedang memangku Arka di kursi belakang seketika membeku, merasakan udara mobil yang mendadak drop hingga minus nol derajat.Brak!Angkasa menyusul masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan cepat, dan langsung memberi isyarat kepada sopir. "Jalan. Langsung ke vila.""Baik, Tuan."Mobil pun bergerak membelah jalanan Seminyak menuju Uluwatu. Di dalam kabin mobil yang luas itu, keh
Melihat reaksi pasrah sekaligus ledekan manis dari istrinya, pertahanan sombong Angkasa runtuh seketika. Tawa renyah dan merdu pria itu pecah, menggema hangat memenuhi ruang makan mansion mereka yang megah. Bintang pun tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa lebar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Angkasa dengan perasaan cinta.Badai kelam kemarin kini benar-benar telah digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. "Jadi, tidak perlu ke atas untuk kemas-kemas lagi, kan?" bisik Angkasa geli, mengecup pelipis Bintang yang masih bersandar nyaman di bahunya.Bintang mendongak, lalu mencubit dagu suaminya pelan. "Iya, Pak CEO. Terserah perintah Bos saja. Tapi awas ya kalau sesampainya di Bali aku tidak menemukan baju yang cocok!""Jangankan baju yang cocok, butiknya sekalian akan aku belikan untukmu kalau kamu mau," sahut Angkasa penuh percaya diri yang langsung dihadiahi tatapan malas namun penuh cinta dari Bintang.Siang harinya, persiapan keberangkatan yang serba
Suasana meja makan pagi itu terasa berkali-kali lipat lebih hidup. Aroma sup ayam ginseng buatan Angkasa memenuhi ruangan, bersanding dengan tawa kecil Bintang yang akhirnya kembali terdengar.Tak lama kemudian, suster bayi datang menggendong Arka yang sudah mandi dan beraroma harum minyak telon. Begitu melihat sang anak, Bintang langsung mengambil alih Arka ke dalam pangkuannya. Bayi mungil berusia dua bulan itu tampak mengerjap-erjap lucu, menatap lumat ke arah Angkasa seolah tahu bahwa pria di depannya adalah pahlawan yang telah menjaga tidurnya tetap aman."Sini, biar aku yang gendong Arka. Kamu habiskan dulu supnya selagi hangat," ucap Angkasa lembut. Tanpa canggung, pria itu mengambil alih Arka dari dekapan Bintang, menimangnya dengan satu tangan yang kokoh sementara tangan lainnya bergerak mengelus pipi gembul putranya.Bintang tersenyum haru menatap pemandangan di depannya. Ketakutan bahwa Angkasa akan berubah seperti Rendi benar-benar terkikis habis tak bersisa."Bagaima
Di tengah tangis Bintang yang tumpah di dadanya, Angkasa mempererat pelukan. Tubuh tegapnya bergetar, menyalurkan rasa takut yang teramat sangat—bukan takut pada ancaman musuh di luar sana, melainkan takut kehilangan kepercayaan wanita yang menjadi separuh jiwanya ini.Angkasa menangkup wajah Bintang dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari secara lembut. Sorot matanya begitu mengiba, sarat akan luka ketika menyadari dirinya disamakan dengan pria masa lalu Bintang yang bajingan itu."Aku mohon, Bintang... Jangan pernah samakan aku dengan Rendi," bisik Angkasa, suaranya parau dan bergetar hebat di depan wajah Bintang. "Rendi adalah masa lalumu yang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sepertimu. Tapi aku... aku Angkasa Pratama. Aku sangat mencintaimu, Bintang. Hidup dan matiku hanya untukmu dan Arka. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."Bintang menatap kedalaman manik mata suaminya. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang ada hanyal
Malam itu dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara di koridor yang sunyi, Bintang berjalan menuju lantai tiga, area pribadi tempat ruang kerja Angkasa berada. Setiap langkahnya terasa berat, dibayangi ketakutan akan penolakan. Namun, keputusasaan telah mengikis habis rasa t
Siang itu, ruang makan mansion keluarga Pratama terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Bintang. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, sementara Rendi duduk di hadapannya dengan
Byur!Suara air yang pecah dengan keras itu membelah keheningan sore di kediaman mewah keluarga Pratama.Di tengah riak air itu, sesosok tubuh berjuang dengan dramatis, tangan-tangannya menggapai udara seolah sedang ditarik ke dasar neraka."Tolong! Tolong aku! Kak Bintang, kenapa... uhuk... tolo
Setelah makan malam, Kakek meminta Angkasa untuk menjaga Bintang. "Bintang sudah Kakek anggap sebagai cucu kandung Kakek Angkasa tolong jaga dia baik-baik. Rendi sangat tidak bisa diharapkan." "Pasti Angkasa akan menjaganya Kek, Kakek tenang saja." Sahut Angkasa. Tak selang lama Rendi dan Mama b







