MasukMalam itu ketika semua orang sudah tidur, Bintang membuka lemari, mengambil sebuah jubah tidur berbahan tipis yang selama ini tak pernah dia pakai.
Itu adalah hadiah pernikahannya dulu, tapi sudah setahun berlalu baju tipis itu tak pernah dia pakai dan malam ini dia akan memakainya, bukan untuk Rendi melainkan untuk Angkasa, Kakak Iparnya sendiri. Bintang tidak lagi peduli pada dosa atau rasa malu. Malam ini, dia akan menyerahkan dirinya pada sang penguasa, bukan sebagai korban, melainkan sebagai bentuk kesepakatan maut untuk membalas dendam. Bintang keluar dari kamar, melangkah dengan pasti menuju paviliun barat. Setiap langkahnya terasa seperti mengubur sosok Bintang yang lemah, dan melahirkan Bintang yang baru, Bintang yang siap masuk ke dalam kegelapan demi sebuah kebebasan. Dia sampai di depan pintu ruang kerja Angkasa tanpa ragu sedikitpun, lalu Bintang mengetuk pintu itu. Tok... Tok... "Masuk," suara itu masih sama, dingin dan berat. Bintang mendorong pintu, masuk ke dalam, dan langsung mengunci pintu itu dari dalam. Dia berdiri disana, menatap Angkasa yang sedang menyesap cerutunya di balik meja kerja. Angkasa meletakkan cerutunya, menatap Bintang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya berhenti lama pada bekas memar di leher Bintang, dan rahang pria itu mengeras seketika. "Sepertinya adikku sudah kehilangan akal sehatnya," ucap Angkasa pelan, namun auranya sangat mengintimidasi. Bintang melangkah maju, berhenti tepat di depan meja Angkasa. "Aku menerima tawaranmu, Mas Angkasa. Apapun yang kamu minta, aku akan memberikannya. Tapi aku ingin kamu melindungiku, dan membantuku menghancurkan Rendi." Angkasa berdiri, perlahan mendekati Bintang hingga aroma maskulinnya yang dominan kembali menyesakkan nafas wanita itu. Dia memegang leher Bintang yang memar dengan ibu jarinya, gerakannya sangat lembut namun posesif. “Apa sudah kamu pikirkan matang-matang, Bintang? Karena setelah kamu sepakat dengan tawaranku, kamu tidak bisa keluar lagi,” bisik Angkasa. “Sudah Mas, dengan sangat matang,” ucapnya dengan penuh penekanan. Angkasa tertawa, "Pilihan yang cerdas, Bintang," bisik Angkasa tepat di depan bibir Bintang. "Mulai malam ini, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyentuhmu tanpa izin dariku. Termasuk suamimu sendiri.” Suasana di dalam ruang kerja itu seketika menjadi lebih pekat, seolah oksigen di sana baru saja habis terbakar oleh ketegangan yang kasat mata. Angkasa berdiri diam, matanya yang tajam mengunci setiap inci ekspresi di wajah Bintang. "Aku mengingatkanmu sekali lagi, Bintang," suara Angkasa rendah, hampir menyerupai geraman yang menuntut kepatuhan. "Aku tidak suka berbagi. Setelah malam ini, tidak boleh ada bekas pria lain di tubuhmu. Rendi tidak boleh menyentuhmu, sejengkal atau sekecil apapun itu. Kamu paham?" Bintang menelan ludah, merasakan sensasi dingin dan panas yang menjalar di kulitnya secara bersamaan. "Aku bisa memastikannya, Mas. Lagipula, bagi Rendi, aku hanyalah sampah yang membuat matanya sakit. Dia tidak akan pernah menyentuhku." "Bagus. Kalau begitu, kesepakatan kita berlaku mulai detik ini." Bintang menarik nafas panjang, sebuah nafas yang terasa berat seolah dia sedang menghirup beban seluruh dunia. Tangannya yang gemetar perlahan bergerak ke arah kancing mantelnya. Satu demi satu, ia membukanya. Mantel itu terjatuh ke lantai tanpa suara, menyisakan Bintang dalam balutan jubah tidur tipis yang memperlihatkan lekuk tubuh sekaligus keberaniannya. Dia tahu, saat ini ia sedang melangkah di tepi jurang lembah penuh dosa. Mundur adalah hal mustahil, jembatan di belakangnya sudah ia bakar habis bersama sisa-sisa harga diri yang selama ini diinjak-injak keluarga Pratama. Yang bisa dilakukan hanyalah terus maju, menembus kegelapan ini demi satu tujuan, bukti perselingkuhan, perceraian yang sah, kompensasi yang adil atas penderitaannya, dan kebebasan mutlak dari jerat Rendi maupun pria dominan yang kini berdiri di hadapannya. Bintang melangkah mendekat, hingga jarak di antara mereka hilang. Dia bisa merasakan panas dari tubuh Angkasa yang meradiasi kulitnya. "Tubuh ini milik kamu, Mas," bisik Bintang, suaranya parau namun penuh penyerahan yang terencana. Angkasa tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan tangan, jarinya yang panjang kembali menyentuh memar di leher Bintang, lalu turun perlahan ke bahunya dengan gerakan yang sangat posesif. Tatapannya bukan lagi sekadar dingin, melainkan penuh dengan rasa lapar yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng wibawanya. "Rendi cukup bodoh karena menyia-nyiakan permata sepertimu. Tapi aku... aku akan memastikan kamu mendapatkan semua yang kamu inginkan, selama kamu tetap berada di bawah kendaliku." Angkasa kemudian menarik pinggang Bintang dengan hentakan kuat, mengunci tubuh wanita itu pada tubuhnya yang tegap. "Setelah ini ikut aku ke kamar, karena tugasmu akan dimulai."Aroma kehangatan kayu cendana dan deburan halus ombak Uluwatu yang menerpa tebing malam itu menjadi saksi bisu meleburnya sisa-sisa cemburu di kamar utama vila. Senyuman kemenangan terukir jelas di bibir tegap Angkasa saat merasakan kedua lengan halus Bintang mengunci lehernya."Pikirkan sendiri?" Angkasa berbisik rendah tepat di depan bibir Bintang, mengikis jarak hingga napas mereka menyatu. "Jawabanmu barusan sudah lebih dari cukup, Nyonya Pratama.""Jangan percaya diri dulu, Mas," gumam Bintang dengan napas yang mulai tersengal. Sorot matanya berbinar jahil di bawah remang lampu kamar. "Itu cuma jaminan supaya kamu tidak macam-macam lagi.""Lalu mana tebusannya?" Angkasa terkekeh pelan. Tanpa memberi Bintang kesempatan memprotes, tangan kekarnya langsung menyambar pinggang Bintang, mengangkat tubuh ramping istrinya itu dalam satu gerakan mudah menuju tempat tidur berukuran king size di tengah ruangan.Bintang tertawa pelan saat tubuhnya mendarat di atas kasur empuk yang tertu
"Bintang, tunggu! Sayang, dengarkan aku dulu!"Suara bariton Angkasa yang biasa menggema tegas di ruang rapat kini terdengar panik setengah mati. Langkah kakinya yang lebar bergegas menyusul Bintang yang sudah melangkah keluar dari butik dengan kecepatan penuh. Beberapa pelayan dan pengawal yang berjaga di luar langsung menunduk, pura-pura tidak melihat wajah bos besar mereka yang tampak frustrasi.Bintang tidak memedulikan panggilan itu. Ia langsung membuka pintu mobil luks yang menjemput mereka, masuk ke kursi tengah, dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah sedingin es. Suster bayi yang sedang memangku Arka di kursi belakang seketika membeku, merasakan udara mobil yang mendadak drop hingga minus nol derajat.Brak!Angkasa menyusul masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan cepat, dan langsung memberi isyarat kepada sopir. "Jalan. Langsung ke vila.""Baik, Tuan."Mobil pun bergerak membelah jalanan Seminyak menuju Uluwatu. Di dalam kabin mobil yang luas itu, keh
Melihat reaksi pasrah sekaligus ledekan manis dari istrinya, pertahanan sombong Angkasa runtuh seketika. Tawa renyah dan merdu pria itu pecah, menggema hangat memenuhi ruang makan mansion mereka yang megah. Bintang pun tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa lebar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Angkasa dengan perasaan cinta.Badai kelam kemarin kini benar-benar telah digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. "Jadi, tidak perlu ke atas untuk kemas-kemas lagi, kan?" bisik Angkasa geli, mengecup pelipis Bintang yang masih bersandar nyaman di bahunya.Bintang mendongak, lalu mencubit dagu suaminya pelan. "Iya, Pak CEO. Terserah perintah Bos saja. Tapi awas ya kalau sesampainya di Bali aku tidak menemukan baju yang cocok!""Jangankan baju yang cocok, butiknya sekalian akan aku belikan untukmu kalau kamu mau," sahut Angkasa penuh percaya diri yang langsung dihadiahi tatapan malas namun penuh cinta dari Bintang.Siang harinya, persiapan keberangkatan yang serba
Suasana meja makan pagi itu terasa berkali-kali lipat lebih hidup. Aroma sup ayam ginseng buatan Angkasa memenuhi ruangan, bersanding dengan tawa kecil Bintang yang akhirnya kembali terdengar.Tak lama kemudian, suster bayi datang menggendong Arka yang sudah mandi dan beraroma harum minyak telon. Begitu melihat sang anak, Bintang langsung mengambil alih Arka ke dalam pangkuannya. Bayi mungil berusia dua bulan itu tampak mengerjap-erjap lucu, menatap lumat ke arah Angkasa seolah tahu bahwa pria di depannya adalah pahlawan yang telah menjaga tidurnya tetap aman."Sini, biar aku yang gendong Arka. Kamu habiskan dulu supnya selagi hangat," ucap Angkasa lembut. Tanpa canggung, pria itu mengambil alih Arka dari dekapan Bintang, menimangnya dengan satu tangan yang kokoh sementara tangan lainnya bergerak mengelus pipi gembul putranya.Bintang tersenyum haru menatap pemandangan di depannya. Ketakutan bahwa Angkasa akan berubah seperti Rendi benar-benar terkikis habis tak bersisa."Bagaima
Di tengah tangis Bintang yang tumpah di dadanya, Angkasa mempererat pelukan. Tubuh tegapnya bergetar, menyalurkan rasa takut yang teramat sangat—bukan takut pada ancaman musuh di luar sana, melainkan takut kehilangan kepercayaan wanita yang menjadi separuh jiwanya ini.Angkasa menangkup wajah Bintang dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari secara lembut. Sorot matanya begitu mengiba, sarat akan luka ketika menyadari dirinya disamakan dengan pria masa lalu Bintang yang bajingan itu."Aku mohon, Bintang... Jangan pernah samakan aku dengan Rendi," bisik Angkasa, suaranya parau dan bergetar hebat di depan wajah Bintang. "Rendi adalah masa lalumu yang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sepertimu. Tapi aku... aku Angkasa Pratama. Aku sangat mencintaimu, Bintang. Hidup dan matiku hanya untukmu dan Arka. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."Bintang menatap kedalaman manik mata suaminya. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang ada hanyal
Mendengar jeritan pilu Bintang dan tuduhan yang menyamakannya dengan Rendi, jantung Angkasa rasanya seperti berhenti berdetak. Pria itu tidak peduli lagi pada harga dirinya sebagai seorang CEO Pratama Grup yang ditakuti. Melihat wanita yang teramat dicintainya menangis histeris dengan tubuh gemetar hebat, pertahanan Angkasa runtuh total.Angkasa melepaskan pelukannya, lalu perlahan merosot hingga kedua lututnya menyentuh lantai dingin—berlutut tepat di hadapan Bintang yang masih terisak di tepi ranjang."Bintang... tatap aku, Sayang. Tolong tatap aku," pinta Angkasa dengan suara parau yang pecah. Air mata frustrasi mengalir melewati rahang kokohnya.Bintang memalingkan wajah, enggan melihat. Namun, Angkasa dengan lembut namun tegas menangkup kedua pipi Bintang, memaksa sepasang mata sembap itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang sarat akan kejujuran dan kerapuhan yang teramat mendalam."Aku bersumpah demi nyawaku, demi Arka yang sedang tidur di sana... tidak pernah ada wa
Siang itu, ruang makan mansion keluarga Pratama terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Bintang. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, sementara Rendi duduk di hadapannya dengan
Byur!Suara air yang pecah dengan keras itu membelah keheningan sore di kediaman mewah keluarga Pratama.Di tengah riak air itu, sesosok tubuh berjuang dengan dramatis, tangan-tangannya menggapai udara seolah sedang ditarik ke dasar neraka."Tolong! Tolong aku! Kak Bintang, kenapa... uhuk... tolo
Setelah makan malam, Kakek meminta Angkasa untuk menjaga Bintang. "Bintang sudah Kakek anggap sebagai cucu kandung Kakek Angkasa tolong jaga dia baik-baik. Rendi sangat tidak bisa diharapkan." "Pasti Angkasa akan menjaganya Kek, Kakek tenang saja." Sahut Angkasa. Tak selang lama Rendi dan Mama b
Malam itu dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara di koridor yang sunyi, Bintang berjalan menuju lantai tiga, area pribadi tempat ruang kerja Angkasa berada. Setiap langkahnya terasa berat, dibayangi ketakutan akan penolakan. Namun, keputusasaan telah mengikis habis rasa t







