Share

Ikut Ke kamar

Penulis: CitraAurora
last update Tanggal publikasi: 2026-05-08 20:05:35

Malam itu ketika semua orang sudah tidur, Bintang membuka lemari, mengambil sebuah jubah tidur berbahan tipis yang selama ini tak pernah dia pakai.

Itu adalah hadiah pernikahannya dulu, tapi sudah setahun berlalu baju tipis itu tak pernah dia pakai dan malam ini dia akan memakainya, bukan untuk Rendi melainkan untuk Angkasa, Kakak Iparnya sendiri.

Bintang tidak lagi peduli pada dosa atau rasa malu. Malam ini, dia akan menyerahkan dirinya pada sang penguasa, bukan sebagai korban, melainkan sebagai bentuk kesepakatan maut untuk membalas dendam.

​Bintang keluar dari kamar, melangkah dengan pasti menuju paviliun barat. Setiap langkahnya terasa seperti mengubur sosok Bintang yang lemah, dan melahirkan Bintang yang baru, Bintang yang siap masuk ke dalam kegelapan demi sebuah kebebasan.

​Dia sampai di depan pintu ruang kerja Angkasa tanpa ragu sedikitpun, lalu Bintang mengetuk pintu itu.

​Tok... Tok...

​"Masuk," suara itu masih sama, dingin dan berat.

​Bintang mendorong pintu, masuk ke dalam, dan langsung mengunci pintu itu dari dalam.

Dia berdiri disana, menatap Angkasa yang sedang menyesap cerutunya di balik meja kerja.

​Angkasa meletakkan cerutunya, menatap Bintang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya berhenti lama pada bekas memar di leher Bintang, dan rahang pria itu mengeras seketika.

​"Sepertinya adikku sudah kehilangan akal sehatnya," ucap Angkasa pelan, namun auranya sangat mengintimidasi.

​Bintang melangkah maju, berhenti tepat di depan meja Angkasa. "Aku menerima tawaranmu, Mas Angkasa. Apapun yang kamu minta, aku akan memberikannya. Tapi aku ingin kamu melindungiku, dan membantuku menghancurkan Rendi."

​Angkasa berdiri, perlahan mendekati Bintang hingga aroma maskulinnya yang dominan kembali menyesakkan nafas wanita itu.

Dia memegang leher Bintang yang memar dengan ibu jarinya, gerakannya sangat lembut namun posesif.

“Apa sudah kamu pikirkan matang-matang, Bintang? Karena setelah kamu sepakat dengan tawaranku, kamu tidak bisa keluar lagi,” bisik Angkasa.

“Sudah Mas, dengan sangat matang,” ucapnya dengan penuh penekanan.

Angkasa tertawa, ​"Pilihan yang cerdas, Bintang," bisik Angkasa tepat di depan bibir Bintang. "Mulai malam ini, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyentuhmu tanpa izin dariku. Termasuk suamimu sendiri.”

Suasana di dalam ruang kerja itu seketika menjadi lebih pekat, seolah oksigen di sana baru saja habis terbakar oleh ketegangan yang kasat mata. Angkasa berdiri diam, matanya yang tajam mengunci setiap inci ekspresi di wajah Bintang.

​"Aku mengingatkanmu sekali lagi, Bintang," suara Angkasa rendah, hampir menyerupai geraman yang menuntut kepatuhan. "Aku tidak suka berbagi. Setelah malam ini, tidak boleh ada bekas pria lain di tubuhmu. Rendi tidak boleh menyentuhmu, sejengkal atau sekecil apapun itu. Kamu paham?"

​Bintang menelan ludah, merasakan sensasi dingin dan panas yang menjalar di kulitnya secara bersamaan. "Aku bisa memastikannya, Mas. Lagipula, bagi Rendi, aku hanyalah sampah yang membuat matanya sakit. Dia tidak akan pernah menyentuhku."

​"Bagus. Kalau begitu, kesepakatan kita berlaku mulai detik ini."

​Bintang menarik nafas panjang, sebuah nafas yang terasa berat seolah dia sedang menghirup beban seluruh dunia.

Tangannya yang gemetar perlahan bergerak ke arah kancing mantelnya. Satu demi satu, ia membukanya. Mantel itu terjatuh ke lantai tanpa suara, menyisakan Bintang dalam balutan jubah tidur tipis yang memperlihatkan lekuk tubuh sekaligus keberaniannya.

​Dia tahu, saat ini ia sedang melangkah di tepi jurang lembah penuh dosa. Mundur adalah hal mustahil, jembatan di belakangnya sudah ia bakar habis bersama sisa-sisa harga diri yang selama ini diinjak-injak keluarga Pratama.

Yang bisa dilakukan hanyalah terus maju, menembus kegelapan ini demi satu tujuan, bukti perselingkuhan, perceraian yang sah, kompensasi yang adil atas penderitaannya, dan kebebasan mutlak dari jerat Rendi maupun pria dominan yang kini berdiri di hadapannya.

​Bintang melangkah mendekat, hingga jarak di antara mereka hilang. Dia bisa merasakan panas dari tubuh Angkasa yang meradiasi kulitnya.

​"Tubuh ini milik kamu, Mas," bisik Bintang, suaranya parau namun penuh penyerahan yang terencana.

​Angkasa tidak langsung menjawab. Ia mengulurkan tangan, jarinya yang panjang kembali menyentuh memar di leher Bintang, lalu turun perlahan ke bahunya dengan gerakan yang sangat posesif.

Tatapannya bukan lagi sekadar dingin, melainkan penuh dengan rasa lapar yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng wibawanya.

​"Rendi cukup bodoh karena menyia-nyiakan permata sepertimu. Tapi aku... aku akan memastikan kamu mendapatkan semua yang kamu inginkan, selama kamu tetap berada di bawah kendaliku."

​Angkasa kemudian menarik pinggang Bintang dengan hentakan kuat, mengunci tubuh wanita itu pada tubuhnya yang tegap.

​"Setelah ini ikut aku ke kamar, karena tugasmu akan dimulai."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
CitraAurora
pasti adegan itunya kan
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
kkk ni lah yg ku tunggu2
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Malam pertama Malah dengan Kakak Ipar

    "Aku sudah siap, Mas Angkasa,” sahut Bintang pelan.​Angkasa menyeringai tipis, sebuah ekspresi kemenangan yang dingin. Tanpa kata, ia memberi isyarat agar Bintang mengikutinya. Langkah kaki Angkasa yang mantap bergema di sepanjang koridor privat, sementara Bintang mengekor di belakang dengan jantung yang berdegup liar. Ruangan ini jauh dari jangkauan anggota keluarga Pratama yang lain; sebuah wilayah terlarang yang hanya tunduk pada satu tuan.​Angkasa membuka pintu kamarnya, ruangan luas yang didominasi warna gelap dan aroma maskulin yang pekat. Begitu Bintang melangkah masuk, Angkasa langsung mengunci pintu. Bunyi klik dari kunci itu seolah menjadi tanda bahwa dunia luar, termasuk statusnya sebagai istri Rendi, telah tertinggal di balik pintu.​"Naiklah ke ranjang, Bintang," perintah Angkasa datar.​Tubuh Bintang bergetar hebat. Pikirannya kalut; apa rasanya berada di ranjang panas kakak ipar sendiri? Sementara itu, Angkasa melepaskan jam tangan mewahnya, meletakkannya di atas naka

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Ikut Ke kamar

    Malam itu ketika semua orang sudah tidur, Bintang membuka lemari, mengambil sebuah jubah tidur berbahan tipis yang selama ini tak pernah dia pakai.Itu adalah hadiah pernikahannya dulu, tapi sudah setahun berlalu baju tipis itu tak pernah dia pakai dan malam ini dia akan memakainya, bukan untuk Rendi melainkan untuk Angkasa, Kakak Iparnya sendiri. Bintang tidak lagi peduli pada dosa atau rasa malu. Malam ini, dia akan menyerahkan dirinya pada sang penguasa, bukan sebagai korban, melainkan sebagai bentuk kesepakatan maut untuk membalas dendam.​Bintang keluar dari kamar, melangkah dengan pasti menuju paviliun barat. Setiap langkahnya terasa seperti mengubur sosok Bintang yang lemah, dan melahirkan Bintang yang baru, Bintang yang siap masuk ke dalam kegelapan demi sebuah kebebasan.​Dia sampai di depan pintu ruang kerja Angkasa tanpa ragu sedikitpun, lalu Bintang mengetuk pintu itu.​Tok... Tok...​"Masuk," suara itu masih sama, dingin dan berat.​Bintang mendorong pintu, masuk ke dala

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Aku Akan Membayarnya

    ​Sore itu, begitu Bintang menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia dipanggil untuk menghadap Ibu mertuanya dan Rendi. Mereka duduk dengan tenang, bahkan Ibu mertuanya menyunggingkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.​"Duduklah, Bintang," suara Ibu mertuanya terdengar lembut, sebuah nada yang justru membuat bulu kuduk Bintang meremang.​Bintang duduk dengan kaku. Kecurigaannya memuncak saat Rendi, pria yang biasanya menatapnya dengan rasa jijik, kini menggeser secangkir teh ke arahnya.“Bintang, minum dulu, kamu pasti haus kan setelah bersih-bersih,” ucap pria itu lembut. Ibu mertuanya menimpali, dia juga mendekatkan camilan favoritnya untuk Bintang.​"Bintang, kami memikirkan sesuatu yang baik untuk masa depan kita," ujar Rendi pembuka. Dia berdehem sejenak sebelum melanjutkan, "Kakek terus menekan kita soal cicit. Jadi, aku punya solusi agar kamu tidak lagi ditekan soal anak."​Bintang mengerutkan kening. "Maksudmu apa, Mas?"​"Pura-puralah hamil," ucap Rendi santai. "Nanti, set

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Ide Yang Sangat Bagus

    Di dalam ruang kerja yang remang itu, tawa rendah Angkasa pecah. Pria itu geli sendiri mendengar pertanyaan adik iparnya. ​"Bintang, Bintang..." Angkasa melangkah maju, memangkas jarak hingga Bintang bisa merasakan hembusan nafas pria itu di keningnya. "Seorang adik ipar datang tengah malam, meminta perlindungan dari kakaknya, lalu bertanya apa imbalannya? Bukankah jawabannya sudah terlalu jelas?"​Angkasa menunduk, berbisik tepat di telinga Bintang dengan suara bariton yang menggetarkan sukma. "Seorang penguasa yang memiliki segalanya... apa lagi yang ia butuhkan dari seorang wanita lemah sepertimu, selain tubuh yang selama ini disia-siakan oleh suamimu?"​Tubuh Bintang terhuyung ke belakang. Dia menatap Angkasa dengan mata membelalak, nafasnya tertahan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Haruskah dia melakukannya? Haruskah dia mengkhianati sebuah pernikahan yang sejak awal memang sudah hancur dan penuh kebohongan?​Melihat keraguan yang begitu nyata di wa

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Apa Yang Mas Mau?

    Malam itu ​dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara di koridor yang sunyi, Bintang berjalan menuju lantai tiga, area pribadi tempat ruang kerja Angkasa berada. Setiap langkahnya terasa berat, dibayangi ketakutan akan penolakan. Namun, keputusasaan telah mengikis habis rasa takutnya.​Bintang berhenti di depan pintu ruang kerja Kakak iparnya. Cahaya kekuningan berpendar tipis dari celah bawah pintu, menandakan sang pemilik masih terjaga.Bintang menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu mengetuk pintu itu perlahan.​Tok... Tok...​"Masuk." Suara bariton yang berat dan dingin terdengar dari dalam.​Bintang mendorong pintu perlahan. Wangi maskulin Angkasa langsung menyapa indra penciumannya.Ruang kerja itu sangat luas, dengan rak-rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit. Di balik meja kerja besar yang rapi, Angkasa duduk dengan kacamata berbingkai tipis, fokus menatap layar laptopnya.​Angkasa tidak mendongak saat pintu terbuka.

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Perlindungan Kakak Ipar

    ​Siang itu, ruang makan mansion keluarga Pratama terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Bintang. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, sementara Rendi duduk di hadapannya dengan kegelisahan yang kentara.​"Mas Angkasa," Rendi akhirnya memecah keheningan, mencoba meredakan ketegangan yang sejak tadi menggantung. "Tolong jangan salah paham soal kejadian di kolam renang tadi. Aku dan Monik tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas kakak dan adik ipar. Sungguh, aku tidak bohong."​Rendi menatap Angkasa, berharap mendapatkan secercah kepercayaan dari pria yang memegang kendali atas seluruh aset keluarga Pratama tersebut.​Angkasa tidak langsung menjawab. Dia meletakkan cangkir kopinya perlahan, menimbulkan bunyi ketukan kecil yang membuat jantung Rendi berdegup lebih kencang. Dengan tatapan dingin yang tak terbaca, Angkasa menyahut, "Bohong atau tidak, kamu sen

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status