Home / Rumah Tangga / Obsesi Liar Kakak Ipar / Aku Akan Membayarnya

Share

Aku Akan Membayarnya

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-05-08 20:03:56

​Sore itu, begitu Bintang menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia dipanggil untuk menghadap Ibu mertuanya dan Rendi.

Mereka duduk dengan tenang, bahkan Ibu mertuanya menyunggingkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.

​"Duduklah, Bintang," suara Ibu mertuanya terdengar lembut, sebuah nada yang justru membuat bulu kuduk Bintang meremang.

​Bintang duduk dengan kaku. Kecurigaannya memuncak saat Rendi, pria yang biasanya menatapnya dengan rasa jijik, kini menggeser secangkir teh ke arahnya.

“Bintang, minum dulu, kamu pasti haus kan setelah bersih-bersih,” ucap pria itu lembut.

Ibu mertuanya menimpali, dia juga mendekatkan camilan favoritnya untuk Bintang.

​"Bintang, kami memikirkan sesuatu yang baik untuk masa depan kita," ujar Rendi pembuka. Dia berdehem sejenak sebelum melanjutkan, "Kakek terus menekan kita soal cicit. Jadi, aku punya solusi agar kamu tidak lagi ditekan soal anak."

​Bintang mengerutkan kening. "Maksudmu apa, Mas?"

​"Pura-puralah hamil," ucap Rendi santai. "Nanti, setelah sembilan bulan, akan ada bayi yang lahir untuk kita akui sebagai anak. Kamu tidak perlu repot mengandung atau melahirkan. Kamu hanya perlu merawat anak itu dan berakting di depan Kakek dan Mas Angkasa."

​Darah Bintang seolah berhenti mengalir. "Bayi siapa?"

​Rendi menatap Bintang lekat-lekat, kejujuran yang kejam terpancar dari matanya. "Bayiku dan Monik. Kami saling mencintai, Bintang. Dia kan adikmu jadi sama saja kan? Kita akan mendapatkan warisan, kamu akan jadi ibu dan yang terpenting posisimu sebagai nyonya di rumah ini akan aman selamanya."

​Deg!

​Dada Bintang terasa seperti dihantam palu godam. Meskipun kejadian di kolam renang sudah memberinya petunjuk, namun mendengar suaminya sendiri mengakui perselingkuhannya dengan adik tirinya dengan begitu tidak tahu malu membuat hati Bintang semakin tercabik-cabik.

​"Kalian gila," bisik Bintang, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. Dia berdiri, menatap keduanya dengan tatapan muak. "Aku tidak mau. Aku tidak akan membohongi Kakek, apalagi Mas Angkasa. Aku tidak sudi mengakui anak haram kalian sebagai anakku!"

​Seketika, topeng keramahan itu retak. Wajah yang tadi seperti malaikat berubah menjadi sangat bengis.

​"Kurang ajar kamu ya!" teriak Ibu Mertuanya, suaranya kembali melengking. "Sudah untung kami beri jalan keluar supaya kamu tidak didepak dari sini!"

​Rendi bangkit dengan gerakan kilat. Dia mencengkeram lengan Bintang begitu kuat hingga wanita itu meringis kesakitan.

"Jangan sok suci, Bintang! Pilihannya hanya dua, kamu ikuti rencanaku, atau aku akan membuat hidupmu seperti di dalam neraka di rumah ini!”

“Aku tidak sudi mengikuti rencana gilamu, Mas!”

Mata Rendi melotot ke Bintang, amarahnya semakin membuncah.

​"Lepaskan, Mas! Sakit!" Bintang meronta, namun Rendi justru semakin kalap.

​Tangan Rendi berpindah, kali ini jemarinya yang kekar mencekik leher Bintang, mendorong wanita itu hingga punggungnya menghantam dinding. Bintang terbatuk, wajahnya mulai memerah karena pasokan oksigen yang menipis.

​"Rendi! Lepaskan!" Ibunya berteriak, namun bukan karena kasihan. Ia menarik tangan putranya. "Kalau dia mati atau ada bekas luka di lehernya, Kakek tidak akan tinggal diam! Kita bisa celaka!"

​Rendi melepaskan cekikannya dengan kasar, membuat Bintang jatuh terduduk di lantai sambil terengah-engah menghirup udara.

​"Dasar sampah! Enyah kau dari hadapanku!" raung Rendi frustasi. "Kalau saja kamu bukan cucu dari sahabat Kakek, sudah aku ceraikan dan aku buang kamu ke jalanan sejak dulu!"

​Bintang tidak menjawab. Dengan air mata yang mengalir deras, ia merangkak bangun dan berlari meninggalkan ruangan itu.

Suara makian Rendi masih menggema di telinganya, namun satu hal yang kini pasti di otaknya, dia tidak akan pernah aman di tangan pria itu.

Bintang lari ke dalam kamarnya, langsung mengunci pintu dengan tangan yang masih gemetar hebat. Lalu dia ambruk di balik pintu, merosot hingga terduduk di lantai yang dingin. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah, memenuhi kesunyian kamar yang terasa seperti penjara.

​Tangannya meraba lehernya sendiri, masih terasa perih akibat cengkraman Rendi yang brutal. Bekas kemerahan di sana menjadi bukti nyata bahwa pria yang seharusnya melindunginya justru hampir merenggut nyawanya.

​“Dia hampir membunuhku...” bisik Bintang di sela isaknya.

​Pikiran Bintang kacau. Penghianatan Rendi dengan Monik, rencana gila tentang bayi haram itu, hingga kekerasan yang baru saja ia alami, semuanya menumpuk menjadi satu luka yang menganga.

Dia merasa seperti tikus yang terpojok di sudut ruangan, menunggu waktu untuk dihancurkan sepenuhnya.

​Di tengah kegelapan dan rasa putus asa itu, bayangan wajah Angkasa muncul di benaknya. Suara bariton pria itu kembali terngiang, membisikkan tawaran yang semalam terasa begitu menghina, namun kini terdengar seperti satu-satunya tali penyelamat.

‘Seorang penguasa yang memiliki segalanya... apalagi yang dibutuhkan dari seorang wanita lemah sepertimu, selain tubuh yang selama ini disia-siakan oleh suamimu?’

​Bintang menghapus air matanya dengan kasar. Tatapannya yang semula rapuh perlahan berubah menjadi tajam dan penuh tekad. Ia tidak punya pilihan lain. Integritas dan kesetiaan tidak membawanya ke mana-mana selain ke dalam penderitaan. Jika ia terus bersikap ‘baik’ Rendi akan benar-benar menghancurkannya.

​"Ya aku akan menerima tawaran Mas Angkasa," gumam Bintang.

​Bintang menyadari satu hal, Angkasa bukan hanya soal perlindungan fisik. Pria itu adalah pemilik kuasa tertinggi di keluarga Pratama. Dengan bantuan Angkasa, dia bisa mendapatkan akses untuk mencari bukti perselingkuhan Rendi dan Monik.

Dia butuh bukti itu untuk lepas dari jeratan pernikahan ini tanpa harus keluar sebagai pihak yang bersalah. Dia butuh bukti itu untuk menjatuhkan Rendi ke titik terendah.

​Bintang berdiri, merapikan rambutnya yang berantakan, dan menatap pantulan dirinya di cermin. Pipinya masih bengkak, lehernya memar.

​"Jika ini harganya untuk menghancurkan kalian semua, maka aku akan membayarnya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
bagus bintang bagus mintak tolong angkasa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Malam pertama Malah dengan Kakak Ipar

    "Aku sudah siap, Mas Angkasa,” sahut Bintang pelan.​Angkasa menyeringai tipis, sebuah ekspresi kemenangan yang dingin. Tanpa kata, ia memberi isyarat agar Bintang mengikutinya. Langkah kaki Angkasa yang mantap bergema di sepanjang koridor privat, sementara Bintang mengekor di belakang dengan jantung yang berdegup liar. Ruangan ini jauh dari jangkauan anggota keluarga Pratama yang lain; sebuah wilayah terlarang yang hanya tunduk pada satu tuan.​Angkasa membuka pintu kamarnya, ruangan luas yang didominasi warna gelap dan aroma maskulin yang pekat. Begitu Bintang melangkah masuk, Angkasa langsung mengunci pintu. Bunyi klik dari kunci itu seolah menjadi tanda bahwa dunia luar, termasuk statusnya sebagai istri Rendi, telah tertinggal di balik pintu.​"Naiklah ke ranjang, Bintang," perintah Angkasa datar.​Tubuh Bintang bergetar hebat. Pikirannya kalut; apa rasanya berada di ranjang panas kakak ipar sendiri? Sementara itu, Angkasa melepaskan jam tangan mewahnya, meletakkannya di atas naka

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Ikut Ke kamar

    Malam itu ketika semua orang sudah tidur, Bintang membuka lemari, mengambil sebuah jubah tidur berbahan tipis yang selama ini tak pernah dia pakai.Itu adalah hadiah pernikahannya dulu, tapi sudah setahun berlalu baju tipis itu tak pernah dia pakai dan malam ini dia akan memakainya, bukan untuk Rendi melainkan untuk Angkasa, Kakak Iparnya sendiri. Bintang tidak lagi peduli pada dosa atau rasa malu. Malam ini, dia akan menyerahkan dirinya pada sang penguasa, bukan sebagai korban, melainkan sebagai bentuk kesepakatan maut untuk membalas dendam.​Bintang keluar dari kamar, melangkah dengan pasti menuju paviliun barat. Setiap langkahnya terasa seperti mengubur sosok Bintang yang lemah, dan melahirkan Bintang yang baru, Bintang yang siap masuk ke dalam kegelapan demi sebuah kebebasan.​Dia sampai di depan pintu ruang kerja Angkasa tanpa ragu sedikitpun, lalu Bintang mengetuk pintu itu.​Tok... Tok...​"Masuk," suara itu masih sama, dingin dan berat.​Bintang mendorong pintu, masuk ke dala

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Aku Akan Membayarnya

    ​Sore itu, begitu Bintang menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia dipanggil untuk menghadap Ibu mertuanya dan Rendi. Mereka duduk dengan tenang, bahkan Ibu mertuanya menyunggingkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.​"Duduklah, Bintang," suara Ibu mertuanya terdengar lembut, sebuah nada yang justru membuat bulu kuduk Bintang meremang.​Bintang duduk dengan kaku. Kecurigaannya memuncak saat Rendi, pria yang biasanya menatapnya dengan rasa jijik, kini menggeser secangkir teh ke arahnya.“Bintang, minum dulu, kamu pasti haus kan setelah bersih-bersih,” ucap pria itu lembut. Ibu mertuanya menimpali, dia juga mendekatkan camilan favoritnya untuk Bintang.​"Bintang, kami memikirkan sesuatu yang baik untuk masa depan kita," ujar Rendi pembuka. Dia berdehem sejenak sebelum melanjutkan, "Kakek terus menekan kita soal cicit. Jadi, aku punya solusi agar kamu tidak lagi ditekan soal anak."​Bintang mengerutkan kening. "Maksudmu apa, Mas?"​"Pura-puralah hamil," ucap Rendi santai. "Nanti, set

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Ide Yang Sangat Bagus

    Di dalam ruang kerja yang remang itu, tawa rendah Angkasa pecah. Pria itu geli sendiri mendengar pertanyaan adik iparnya. ​"Bintang, Bintang..." Angkasa melangkah maju, memangkas jarak hingga Bintang bisa merasakan hembusan nafas pria itu di keningnya. "Seorang adik ipar datang tengah malam, meminta perlindungan dari kakaknya, lalu bertanya apa imbalannya? Bukankah jawabannya sudah terlalu jelas?"​Angkasa menunduk, berbisik tepat di telinga Bintang dengan suara bariton yang menggetarkan sukma. "Seorang penguasa yang memiliki segalanya... apa lagi yang ia butuhkan dari seorang wanita lemah sepertimu, selain tubuh yang selama ini disia-siakan oleh suamimu?"​Tubuh Bintang terhuyung ke belakang. Dia menatap Angkasa dengan mata membelalak, nafasnya tertahan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Haruskah dia melakukannya? Haruskah dia mengkhianati sebuah pernikahan yang sejak awal memang sudah hancur dan penuh kebohongan?​Melihat keraguan yang begitu nyata di wa

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Apa Yang Mas Mau?

    Malam itu ​dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara di koridor yang sunyi, Bintang berjalan menuju lantai tiga, area pribadi tempat ruang kerja Angkasa berada. Setiap langkahnya terasa berat, dibayangi ketakutan akan penolakan. Namun, keputusasaan telah mengikis habis rasa takutnya.​Bintang berhenti di depan pintu ruang kerja Kakak iparnya. Cahaya kekuningan berpendar tipis dari celah bawah pintu, menandakan sang pemilik masih terjaga.Bintang menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu mengetuk pintu itu perlahan.​Tok... Tok...​"Masuk." Suara bariton yang berat dan dingin terdengar dari dalam.​Bintang mendorong pintu perlahan. Wangi maskulin Angkasa langsung menyapa indra penciumannya.Ruang kerja itu sangat luas, dengan rak-rak buku yang menjulang hingga ke langit-langit. Di balik meja kerja besar yang rapi, Angkasa duduk dengan kacamata berbingkai tipis, fokus menatap layar laptopnya.​Angkasa tidak mendongak saat pintu terbuka.

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Perlindungan Kakak Ipar

    ​Siang itu, ruang makan mansion keluarga Pratama terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Bintang. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, sementara Rendi duduk di hadapannya dengan kegelisahan yang kentara.​"Mas Angkasa," Rendi akhirnya memecah keheningan, mencoba meredakan ketegangan yang sejak tadi menggantung. "Tolong jangan salah paham soal kejadian di kolam renang tadi. Aku dan Monik tidak memiliki hubungan apa-apa. Kami hanya sebatas kakak dan adik ipar. Sungguh, aku tidak bohong."​Rendi menatap Angkasa, berharap mendapatkan secercah kepercayaan dari pria yang memegang kendali atas seluruh aset keluarga Pratama tersebut.​Angkasa tidak langsung menjawab. Dia meletakkan cangkir kopinya perlahan, menimbulkan bunyi ketukan kecil yang membuat jantung Rendi berdegup lebih kencang. Dengan tatapan dingin yang tak terbaca, Angkasa menyahut, "Bohong atau tidak, kamu sen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status