LOGINSore itu, begitu Bintang menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia dipanggil untuk menghadap Ibu mertuanya dan Rendi.
Mereka duduk dengan tenang, bahkan Ibu mertuanya menyunggingkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan. "Duduklah, Bintang," suara Ibu mertuanya terdengar lembut, sebuah nada yang justru membuat bulu kuduk Bintang meremang. Bintang duduk dengan kaku. Kecurigaannya memuncak saat Rendi, pria yang biasanya menatapnya dengan rasa jijik, kini menggeser secangkir teh ke arahnya. “Bintang, minum dulu, kamu pasti haus kan setelah bersih-bersih,” ucap pria itu lembut. Ibu mertuanya menimpali, dia juga mendekatkan camilan favoritnya untuk Bintang. "Bintang, kami memikirkan sesuatu yang baik untuk masa depan kita," ujar Rendi pembuka. Dia berdehem sejenak sebelum melanjutkan, "Kakek terus menekan kita soal cicit. Jadi, aku punya solusi agar kamu tidak lagi ditekan soal anak." Bintang mengerutkan kening. "Maksudmu apa, Mas?" "Pura-puralah hamil," ucap Rendi santai. "Nanti, setelah sembilan bulan, akan ada bayi yang lahir untuk kita akui sebagai anak. Kamu tidak perlu repot mengandung atau melahirkan. Kamu hanya perlu merawat anak itu dan berakting di depan Kakek dan Mas Angkasa." Darah Bintang seolah berhenti mengalir. "Bayi siapa?" Rendi menatap Bintang lekat-lekat, kejujuran yang kejam terpancar dari matanya. "Bayiku dan Monik. Kami saling mencintai, Bintang. Dia kan adikmu jadi sama saja kan? Kita akan mendapatkan warisan, kamu akan jadi ibu dan yang terpenting posisimu sebagai nyonya di rumah ini akan aman selamanya." Deg! Dada Bintang terasa seperti dihantam palu godam. Meskipun kejadian di kolam renang sudah memberinya petunjuk, namun mendengar suaminya sendiri mengakui perselingkuhannya dengan adik tirinya dengan begitu tidak tahu malu membuat hati Bintang semakin tercabik-cabik. "Kalian gila," bisik Bintang, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. Dia berdiri, menatap keduanya dengan tatapan muak. "Aku tidak mau. Aku tidak akan membohongi Kakek, apalagi Mas Angkasa. Aku tidak sudi mengakui anak haram kalian sebagai anakku!" Seketika, topeng keramahan itu retak. Wajah yang tadi seperti malaikat berubah menjadi sangat bengis. "Kurang ajar kamu ya!" teriak Ibu Mertuanya, suaranya kembali melengking. "Sudah untung kami beri jalan keluar supaya kamu tidak didepak dari sini!" Rendi bangkit dengan gerakan kilat. Dia mencengkeram lengan Bintang begitu kuat hingga wanita itu meringis kesakitan. "Jangan sok suci, Bintang! Pilihannya hanya dua, kamu ikuti rencanaku, atau aku akan membuat hidupmu seperti di dalam neraka di rumah ini!” “Aku tidak sudi mengikuti rencana gilamu, Mas!” Mata Rendi melotot ke Bintang, amarahnya semakin membuncah. "Lepaskan, Mas! Sakit!" Bintang meronta, namun Rendi justru semakin kalap. Tangan Rendi berpindah, kali ini jemarinya yang kekar mencekik leher Bintang, mendorong wanita itu hingga punggungnya menghantam dinding. Bintang terbatuk, wajahnya mulai memerah karena pasokan oksigen yang menipis. "Rendi! Lepaskan!" Ibunya berteriak, namun bukan karena kasihan. Ia menarik tangan putranya. "Kalau dia mati atau ada bekas luka di lehernya, Kakek tidak akan tinggal diam! Kita bisa celaka!" Rendi melepaskan cekikannya dengan kasar, membuat Bintang jatuh terduduk di lantai sambil terengah-engah menghirup udara. "Dasar sampah! Enyah kau dari hadapanku!" raung Rendi frustasi. "Kalau saja kamu bukan cucu dari sahabat Kakek, sudah aku ceraikan dan aku buang kamu ke jalanan sejak dulu!" Bintang tidak menjawab. Dengan air mata yang mengalir deras, ia merangkak bangun dan berlari meninggalkan ruangan itu. Suara makian Rendi masih menggema di telinganya, namun satu hal yang kini pasti di otaknya, dia tidak akan pernah aman di tangan pria itu. Bintang lari ke dalam kamarnya, langsung mengunci pintu dengan tangan yang masih gemetar hebat. Lalu dia ambruk di balik pintu, merosot hingga terduduk di lantai yang dingin. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah, memenuhi kesunyian kamar yang terasa seperti penjara. Tangannya meraba lehernya sendiri, masih terasa perih akibat cengkraman Rendi yang brutal. Bekas kemerahan di sana menjadi bukti nyata bahwa pria yang seharusnya melindunginya justru hampir merenggut nyawanya. “Dia hampir membunuhku...” bisik Bintang di sela isaknya. Pikiran Bintang kacau. Penghianatan Rendi dengan Monik, rencana gila tentang bayi haram itu, hingga kekerasan yang baru saja ia alami, semuanya menumpuk menjadi satu luka yang menganga. Dia merasa seperti tikus yang terpojok di sudut ruangan, menunggu waktu untuk dihancurkan sepenuhnya. Di tengah kegelapan dan rasa putus asa itu, bayangan wajah Angkasa muncul di benaknya. Suara bariton pria itu kembali terngiang, membisikkan tawaran yang semalam terasa begitu menghina, namun kini terdengar seperti satu-satunya tali penyelamat. ‘Seorang penguasa yang memiliki segalanya... apalagi yang dibutuhkan dari seorang wanita lemah sepertimu, selain tubuh yang selama ini disia-siakan oleh suamimu?’ Bintang menghapus air matanya dengan kasar. Tatapannya yang semula rapuh perlahan berubah menjadi tajam dan penuh tekad. Ia tidak punya pilihan lain. Integritas dan kesetiaan tidak membawanya ke mana-mana selain ke dalam penderitaan. Jika ia terus bersikap ‘baik’ Rendi akan benar-benar menghancurkannya. "Ya aku akan menerima tawaran Mas Angkasa," gumam Bintang. Bintang menyadari satu hal, Angkasa bukan hanya soal perlindungan fisik. Pria itu adalah pemilik kuasa tertinggi di keluarga Pratama. Dengan bantuan Angkasa, dia bisa mendapatkan akses untuk mencari bukti perselingkuhan Rendi dan Monik. Dia butuh bukti itu untuk lepas dari jeratan pernikahan ini tanpa harus keluar sebagai pihak yang bersalah. Dia butuh bukti itu untuk menjatuhkan Rendi ke titik terendah. Bintang berdiri, merapikan rambutnya yang berantakan, dan menatap pantulan dirinya di cermin. Pipinya masih bengkak, lehernya memar. "Jika ini harganya untuk menghancurkan kalian semua, maka aku akan membayarnya.""Bintang, tunggu! Sayang, dengarkan aku dulu!"Suara bariton Angkasa yang biasa menggema tegas di ruang rapat kini terdengar panik setengah mati. Langkah kakinya yang lebar bergegas menyusul Bintang yang sudah melangkah keluar dari butik dengan kecepatan penuh. Beberapa pelayan dan pengawal yang berjaga di luar langsung menunduk, pura-pura tidak melihat wajah bos besar mereka yang tampak frustrasi.Bintang tidak memedulikan panggilan itu. Ia langsung membuka pintu mobil luks yang menjemput mereka, masuk ke kursi tengah, dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah sedingin es. Suster bayi yang sedang memangku Arka di kursi belakang seketika membeku, merasakan udara mobil yang mendadak drop hingga minus nol derajat.Brak!Angkasa menyusul masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan cepat, dan langsung memberi isyarat kepada sopir. "Jalan. Langsung ke vila.""Baik, Tuan."Mobil pun bergerak membelah jalanan Seminyak menuju Uluwatu. Di dalam kabin mobil yang luas itu, keh
Melihat reaksi pasrah sekaligus ledekan manis dari istrinya, pertahanan sombong Angkasa runtuh seketika. Tawa renyah dan merdu pria itu pecah, menggema hangat memenuhi ruang makan mansion mereka yang megah. Bintang pun tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa lebar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Angkasa dengan perasaan cinta.Badai kelam kemarin kini benar-benar telah digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. "Jadi, tidak perlu ke atas untuk kemas-kemas lagi, kan?" bisik Angkasa geli, mengecup pelipis Bintang yang masih bersandar nyaman di bahunya.Bintang mendongak, lalu mencubit dagu suaminya pelan. "Iya, Pak CEO. Terserah perintah Bos saja. Tapi awas ya kalau sesampainya di Bali aku tidak menemukan baju yang cocok!""Jangankan baju yang cocok, butiknya sekalian akan aku belikan untukmu kalau kamu mau," sahut Angkasa penuh percaya diri yang langsung dihadiahi tatapan malas namun penuh cinta dari Bintang.Siang harinya, persiapan keberangkatan yang serba
Suasana meja makan pagi itu terasa berkali-kali lipat lebih hidup. Aroma sup ayam ginseng buatan Angkasa memenuhi ruangan, bersanding dengan tawa kecil Bintang yang akhirnya kembali terdengar.Tak lama kemudian, suster bayi datang menggendong Arka yang sudah mandi dan beraroma harum minyak telon. Begitu melihat sang anak, Bintang langsung mengambil alih Arka ke dalam pangkuannya. Bayi mungil berusia dua bulan itu tampak mengerjap-erjap lucu, menatap lumat ke arah Angkasa seolah tahu bahwa pria di depannya adalah pahlawan yang telah menjaga tidurnya tetap aman."Sini, biar aku yang gendong Arka. Kamu habiskan dulu supnya selagi hangat," ucap Angkasa lembut. Tanpa canggung, pria itu mengambil alih Arka dari dekapan Bintang, menimangnya dengan satu tangan yang kokoh sementara tangan lainnya bergerak mengelus pipi gembul putranya.Bintang tersenyum haru menatap pemandangan di depannya. Ketakutan bahwa Angkasa akan berubah seperti Rendi benar-benar terkikis habis tak bersisa."Bagaima
Di tengah tangis Bintang yang tumpah di dadanya, Angkasa mempererat pelukan. Tubuh tegapnya bergetar, menyalurkan rasa takut yang teramat sangat—bukan takut pada ancaman musuh di luar sana, melainkan takut kehilangan kepercayaan wanita yang menjadi separuh jiwanya ini.Angkasa menangkup wajah Bintang dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari secara lembut. Sorot matanya begitu mengiba, sarat akan luka ketika menyadari dirinya disamakan dengan pria masa lalu Bintang yang bajingan itu."Aku mohon, Bintang... Jangan pernah samakan aku dengan Rendi," bisik Angkasa, suaranya parau dan bergetar hebat di depan wajah Bintang. "Rendi adalah masa lalumu yang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sepertimu. Tapi aku... aku Angkasa Pratama. Aku sangat mencintaimu, Bintang. Hidup dan matiku hanya untukmu dan Arka. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."Bintang menatap kedalaman manik mata suaminya. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang ada hanyal
Mendengar jeritan pilu Bintang dan tuduhan yang menyamakannya dengan Rendi, jantung Angkasa rasanya seperti berhenti berdetak. Pria itu tidak peduli lagi pada harga dirinya sebagai seorang CEO Pratama Grup yang ditakuti. Melihat wanita yang teramat dicintainya menangis histeris dengan tubuh gemetar hebat, pertahanan Angkasa runtuh total.Angkasa melepaskan pelukannya, lalu perlahan merosot hingga kedua lututnya menyentuh lantai dingin—berlutut tepat di hadapan Bintang yang masih terisak di tepi ranjang."Bintang... tatap aku, Sayang. Tolong tatap aku," pinta Angkasa dengan suara parau yang pecah. Air mata frustrasi mengalir melewati rahang kokohnya.Bintang memalingkan wajah, enggan melihat. Namun, Angkasa dengan lembut namun tegas menangkup kedua pipi Bintang, memaksa sepasang mata sembap itu menatap langsung ke dalam manik matanya yang sarat akan kejujuran dan kerapuhan yang teramat mendalam."Aku bersumpah demi nyawaku, demi Arka yang sedang tidur di sana... tidak pernah ada wa
Angkasa mematung di tempatnya berdiri. Kalimat tenang yang keluar dari bibir Bintang terasa bagai tamparan keras yang tak kasat mata. Pesan singkat yang ia kirimkan empat hari lalu—yang niat awalnya demi melindungi psikologis Bintang agar tidak ikut terbeban dengan ancaman sabotase—kini justru berbalik menjadi senjata yang memotong kedekatan mereka."Bintang, soal pesan itu..." Suara Angkasa tercekat di tenggorokan. Rencana untuk menjelaskan semuanya malam ini mendadak buyar melihat betapa kokohnya dinding pertahanan yang dibangun istrinya."Sudahlah, Mas. Tidak perlu dibahas lagi. Kamu lelah, sebaiknya langsung istirahat. Aku harus menyusui Arka dulu," potong Bintang halus, menyudahi pembicaraan bahkan sebelum Angkasa sempat membela diri.Dengan gerakan anggun, Bintang berjalan membawa Arka menuju sofa menyusui di sudut yang agak remang, memunggungi Angkasa sepenuhnya. Sikap itu begitu rapi, begitu sopan, namun sekaligus menegaskan penolakan mutlak atas kehadiran Angkasa di dalam
Setelah beberapa waktu Angkasa dan Rendi berangkat, Sinta dan sang Mama menyusun rencana licik mereka.Saat lampu-lampu mulai padam, mereka berdua beraksi, berjalan pelan menuju dapur. “Nyonya ingin membuat apa? Biar kami buatkan.” Kata salah satu pelayan. “Kami akan buat sendiri kamu tidur saja.
Malam itu ketika semua orang sudah tidur, Bintang membuka lemari, mengambil sebuah jubah tidur berbahan tipis yang selama ini tak pernah dia pakai.Itu adalah hadiah pernikahannya dulu, tapi sudah setahun berlalu baju tipis itu tak pernah dia pakai dan malam ini dia akan memakainya, bukan untuk Ren
Di dalam ruang kerja yang remang itu, tawa rendah Angkasa pecah. Pria itu geli sendiri mendengar pertanyaan adik iparnya. "Bintang, Bintang..." Angkasa melangkah maju, memangkas jarak hingga Bintang bisa merasakan hembusan nafas pria itu di keningnya. "Seorang adik ipar datang tengah malam, memin
Malam itu dengan langkah pelan dan hati-hati agar tidak menimbulkan suara di koridor yang sunyi, Bintang berjalan menuju lantai tiga, area pribadi tempat ruang kerja Angkasa berada. Setiap langkahnya terasa berat, dibayangi ketakutan akan penolakan. Namun, keputusasaan telah mengikis habis rasa t







