MasukKeesokan harinya, Ibu Rahayu langsung melancarkan siasat barunya. Tidak ingin tangannya kotor atau gerak-geriknya dicurigai, wanita paruh baya itu mencegat Maya di koridor sepi yang menghubungkan Paviliun utama dengan paviliun Angkasa. Dengan tatapan mata yang tajam dan dingin, Ibu Rahayu mencengkeram lengan Maya cukup kuat. "Maya, kalau kamu masih mau bekerja di mansion ini, kamu harus menebus kesalahanmu yang kemarin!" bisik Ibu Rahayu dengan nada mengancam."Iya Nyonya apa yang harus saya lakukan?" tanya Maya. "Foto kontrak kerja Angkasa yang kemarin dibawa pulang, lalu kirimkan padaku." Jawab wanita itu."Jika kamu berhasil, aku akan melupakan kesalahanmu dan menjamin posisimu di sini!" Maya hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah ketakutan yang dibuat-buat. "B-Baik, Nyonya... saya akan usahakan." Setelah Ibu Rahayu pergi dengan senyum angkuhnya, tubuh Maya seketika diselimuti rasa waswas yang teramat sangat. Menjadi mata-mata ganda di antara dua kubu yang saling berperan
Malam harinya, setelah memastikan Angkasa pergi keluar mansion untuk menyelesaikan beberapa urusan bisnis yang tertunda, Ibu Rahayu langsung melancarkan aksinya. Wanita paruh baya itu mengirim pesan singkat bernada ancaman, memerintahkan Maya untuk segera menghadap ke kamarnya di mansion utama. Dia benar-benar ingin memberi pelajaran pada pelayan yang dianggapnya telah membawa petaka itu. Saat menerima pesan tersebut, tubuh Maya seketika gemetar. Dia langsung berkonsultasi dengan Bintang di dalam kamar paviliun. "Non Bintang... Nyonya Rahayu menyuruh saya menghadap malam ini juga. Sepertinya beliau sangat marah soal kejadian siang tadi," ucap Maya dengan wajah cemas tapi berusaha tenang. Bintang yang mendengar hal itu langsung menggeleng tegas dan mencekal lengan Maya. "Jangan pergi, Maya. Ini sudah malam, dan Mas Angkasa sedang tidak ada di rumah. Mama pasti sengaja mencari kesempatan. Biar nanti aku yang bicara pada Mas Angkasa." Namun, Maya tampak ragu. Dia tahu persis tab
Mendengar kalimat sang anak, Ibu Rahayu langsung menepuk meja dengan gembira. Rasa kesalnya berganti menjadi ambisi yang meluap. "Benar, Rendi! Kali ini kita tidak bisa diam saja! Memanfaatkan uang perusahaan dan hak kelola saham cicit Kakek untuk membelikan berlian dan bunga raksasa demi kekasih yang tak jelas? Ini sudah keterlaluan!" seru Ibu Rahayu dengan mata berkilat-kilat. "Kakekmu harus tahu kelakuan bejat cucu kesayangannya ini sekarang juga!" Rendi langsung bersemangat. "Ayo, Ma! Kita ke rumah Kakek sekarang. Kebetulan ini hari Sabtu, Kakek pasti ada di kediamannya sedang bersantai. Kita buat posisi Angkasa hancur berantakan sebelum dia pulang dari luar negeri!" Tanpa membuang waktu, ibu dan anak yang penuh dengki itu langsung bersiap-siap. Mereka mengendarai mobil menuju kediaman utama Kakek Pratama dengan dada membusung, merasa di atas angin dan membawa bukti kuat di dalam ponsel mereka. Sementara itu, di president suite hotel luar negeri, Angkasa baru saja memberi
"Siapa, Mas, yang menelepon?" tanya Bintang begitu melihat Angkasa melangkah kembali masuk ke dalam kamar dari arah balkon."Kakek, Sayang. Beliau menelepon hanya untuk memintaku agar benar-benar menjagamu dengan baik di sini," jawab Angkasa sembari tersenyum, meletakkan ponselnya di atas nakas. Pria itu berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang. "Kakek sangat menyayangimu."Bintang tersenyum tipis, mengusap perutnya yang masih datar dengan pandangan sendu. "Kakek menyayangiku karena aku sedang mengandung cicitnya, Mas."Angkasa tidak membantah, namun kilat matanya memancarkan ketegasan yang berbeda. Dia ikut mengulurkan tangan besarnya, menangkup perut Bintang lalu menunduk untuk mengajak jabang bayinya mengobrol, sebuah ritual baru yang tidak pernah absen dia lakukan."Jagoannya Papa, jangan nakal di dalam sana, ya? Papa mau pergi kerja sebentar. Awas saja kalau sampai membuat Mama sakit atau mual lagi... nanti malam Papa sodok kamu," bisik Angkasa dengan nada mengancam yang
“Bersikaplah manis Ren saat kakakmu dan Bintang berangkat, tunjukkan kalau kamu peduli.” Kata Mama sambil menatap Rendi. “Iya iya Ma Rendy tahu.” Sahut Rendi. Bintang pergi dengan Angkasa tentunya bagus untuk dirinya dan Monik, dia bisa membawa Monik ke Mansion selama beberapa hari hingga bintang dan angkasa kembali. Tepat pukul 08.00 Bintang dan Angkasa bersiap, Rendi berjalan mendekat, pria itu membukakan pintu untuk Bintang. “Hati-hati ya Sayang jangan merepotkan Mas Angkasa.” Sambil menunjukkan senyum termanisnya. Bintang berekspresi datar, lalu memaksakan senyuman. Sementara Angkasa mengepalkan tangan, merasa marah karena ada yang memanggil istrinya sayang. Rendi mengalihkan tatapan ke Angkasa, “Titip Bintang ya mas.” Angkasa tak menjawab, dia langsung masuk ke dalam mobil. Melihat ekspresi Angkasa, Mama dan Rendi saling melempar tatapan. Mereka kira sebenarnya Angkasa enggan membawa Bintang tapi demi saham lima persen itu dia menahan segala kekesalan. “Da da…Nikmati ya…”
Setelah pembicaraan empat mata selesai, Kakek Pratama memutuskan untuk berangkat ke kantor Pratama Group bersama-sama.Angkasa mendampingi sang kakek di dalam mobil mewah tetua tersebut, sementara Rendi terpaksa mengekor dengan mobilnya sendiri dari belakang, membawa sisa-sisa kekesalan dari meja makan tadi.Setibanya di gedung pencakar langit Pratama Group, suasana mendadak tegang. Kakek Pratama ternyata telah memerintahkan sekretarisnya untuk mengumpulkan seluruh jajaran direksi dan pemegang saham utama. Kakek Pratama duduk di kursi kebesarannya di ujung meja oval, sementara Angkasa dan Rendi duduk di sisi kiri dan kanannya. Pria tua itu berdeham, membuat seluruh ruangan seketika hening. "Hari ini, saya mengumpulkan kalian semua untuk mengumumkan sebuah kabar baik bagi masa depan Pratama Group," ujar Kakek Pratama dengan suara baritonnya, meski sudah tua namun pria tua masih sangat tegas. "Cucu mantu saya, Bintang, saat ini sedang mengandung cicit pertama dari garis keturunan







