共有

Mengajari!

作者: PwanChaa
last update 公開日: 2026-08-23 17:32:40

Plaaakk!

Bambang memukul kepala temannya dan menyeretnya menjauh dari sana. “Apa sih Mbang, emang bener kan?”

“Mending kita fokus sekolah aja dulu terus kerja yang bener!” ujar Bambang, Rosyid menepis tangan Bambang yang masih menyeretnya. Ia menggulirkan matanya, memanyunkan bibirnya ke depan.

“Kan aku pengen pacaran juga kayak anak-anak lainnya.”

“Emang ada yang suka sama kamu, Syid?”

Rosyid terdiam, ia langsung melirik Bambang, “Gak ada.”

“Terus gimana kamu mau pacaran? Pacaran sama kambing?
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Mengajari!

    Plaaakk!Bambang memukul kepala temannya dan menyeretnya menjauh dari sana. “Apa sih Mbang, emang bener kan?”“Mending kita fokus sekolah aja dulu terus kerja yang bener!” ujar Bambang, Rosyid menepis tangan Bambang yang masih menyeretnya. Ia menggulirkan matanya, memanyunkan bibirnya ke depan.“Kan aku pengen pacaran juga kayak anak-anak lainnya.”“Emang ada yang suka sama kamu, Syid?”Rosyid terdiam, ia langsung melirik Bambang, “Gak ada.”“Terus gimana kamu mau pacaran? Pacaran sama kambing?” sindir Bambang dengan memicingkan sudut bibirnya.“Enak aja!”Mereka berdua akhirnya pulang sekolah, di persimpangan mereka berdua berpisah. Bambang pulang menuju rumah Kakek Ron. Ia melihat Kakek Ron sedang menurunkan rambanan yang baru saja ia cari.“Kek,” sapa Bambang. Kakek Ron menoleh dan tersenyum, “Sudah pulang, nak.”Bambang mengangguk, ia langsung mengambil rambanannya dan memberikan kambing Kakek Ron makan. Otak Bambang masih terhenti di pojok sekolah tadi, meski ia berkata tidak tap

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Masa sekolah

    Kwekkk..Kwekk…Kweeekk…Suara bebek yang memanggil untuk diberikan makan oleh tangan-tangan Bambang yang melempar pakan ternak bebek. Bambang dengan mata yang masih bengkak dan sedikit getaran setelah menangis memberi makan bebek-bebek Kakek Ron.Ia melemparkan pakan bebek dengan sedikit kasar karena kesal tapi Kakek Ron tidak menegurnya atau memarahinya. Ia tahu anak yang berada di depannya sedang kesal. Ia malah terkekeh senang melihat Bambang emosi.“Anakku, mau sampai kapan kamu emosi seperti ini?” tanya Kakek Ron sembari menghidupkan canting rokok kreteknya. Ia menarik setiap sari-sari rokok dan menyebulkannya, membentuk awan hitam yang tiba-tiba hilang setelahnya.Bambang yang masih cemberut langsung duduk di sebelah Kakek Ron, ia mendenguskan napasnya.“Aku kesal, bukannya orang-orang bilang kalau aku cerdas, pintar, dan penurut. Kenapa tidak ada satu orang pun yang datang untuk mengadopsiku,” dengus Bambang. Ia menatap Kakek Ron yang tidak bereaksi apa-apa hanya tersenyum.“K

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Cerita Bambang

    Suara riuh terdengar di telinga seorang anak sekolah dasar yang berdiri tegak di depan papan pengumuman hasil ujian nasional sekolahnya.Bambang.Nama itu tertulis di paling atas, dengan nilai bulat 3.00. Semua anak yang berada di sebelahnya saling memuji betapa hebat dan cerdasnya Bambang yang masih berdiri tanpa ekspresi di wajahnya.“Hebat banget kamu, Mbang! Pasti nanti kamu bakal masuk SMP favorit,” celetuk anak laki-laki bertopi di sebelah Bambang.“Bener, keren banget kamu. Kalo aku pintar kayak kamu pasti orang tuaku bangga.” ujar anak perempuan dengan jepit di rambutnya.Bambang masih terdiam tidak menjawab, ia masih berdiri tegak di sana disaat semua anak berlari menuju orang tuanya masing-masing memberitahukan hasil nilai mereka. Terlihat ada yang memeluk bangga anak mereka, ada juga yang dijewer dengan orang tua mereka karena nilainya jelek.“Orang tua, huh?” gumam Bambang melihat datar ke arah mereka semua. Ia merasa sangat asing dengan kata orang tua. Nilai itu menjadi

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Pasrah!

    Bambang menoleh ke sumber suara yang ia kenali, Herman. Dia berdiri di sana tegak dengan wajahnya sebelum kecelakaan.“Tuan Herman?” gumam Bambang, Herman hanya tersenyum dan menghampiri Bambang dengan berlari-lari kecil.“Sudah berapa lama kamu di sini?” tanya Herman yang langsung merangkul Bambang dan menepuk pundaknya. Bambang hanya menatap Herman seolah tak percaya ia bisa melihat Herman bisa berjalan.“Kenapa? ada yang salah denganku?” Bambang menggeleng mendengar pertanyaan Herman, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan atau lakukan sekarang kecuali mengikuti kata-kata Herman.“Kamu ternyata sudah sedewasa ini Bambang, aku benar-benar kira kamu tidak akan bisa bertahan hidup selama ini,” ucap Herman.Wajah Bambang dingin, rambutnya mengibas karena terkena angin, tetapi hatinya gelisah, matanya yang masih melihat penampakan Herman ditambah perkataannya barusan membuat Bambang makin bingung.“Kenapa? Kenapa? Kenapa

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Sakit!

    Suara tekukuran burung perkutut yang bertengker di balkon kamar Bambang. Mata Bambang terbuka dengan beratnya. Kepalanya terasa sangat berat, sangat berat sekali. Tangannya memegang kepalanya, dahinya terasa panas. Ia ternyata terkena demam.Kepala Bambang semakin berat, bahkan terasa melayang-layang, “Aku harus minum obat,” ujarnya.Bambang berjalan dengan tangan yang dijulurkan, menyeleksi tembok-tembok di depannya. “Arghhh… Mana sih kotak obatnya!” erang Bambang. Tanpa sengaja kakinya tersandung oleh kabel yang berada di lantai kamarnya.Braaaakkk!Bambang terjatuh, suara hantamannya terdengar hingga ke dapur di mana Bianca sedang memasak untuk sarapan. Ia yang tengah terlamun disadarkan oleh suara hantaman di kamar Bambang.“Mas! Mas!” teriak Bianca, ia mendobrak kamar Bambang dan melihat Bambang sudah tersungkur kesakitan di bawah sana.“Kamu gak papa, Mas?” tanya Bianca panik, ia memapah tubuh Bambang, menidurkannya di atas

  • Obsesi Nyonya dan Nona Rumah   Dokter Tuan

    Bambang berjalan ke ruang perawatan Herman seperti biasa karena ada dokter yang hendak mengecek kesehatan Herman.“Bagaimana dokter Gilang, kondisi Tuan Herman?” tanya Bambang sembari memakaikan baju ke tubuh Herman yang tadinya dibuka setelah diperiksa.Dokter yang berperawakan seusia dengan Herman, mengecek datanya. Ia menaikkan kacamatanya, membenarkan posisinya yang sudah melorot. “Aku tidak menjamin kondisinya akan semakin baik, aku akan bicara sebagai manusia saja sekarang. Melihat kondisinya yang seperti ini. Masih bisa bernafas dengan alat bantu saja sudah mukjizat,” jawab Gilang. Matanya bergerak dari ujung kepala hingga ujung kaki Herman.Bambang mengiyakan pernyataan Gilang, tapi bukan itu masalahnya Bambang menanyakan kondisi Herman. Bambang hanya ingin memastikan kondisi Herman yang seperti ini pasti sangat menyiksa untuknya. Jiwanya pasti terjebak selama itu dalam keadaan koma membuatnya benar-benar tersiksa.“Memang pantas,” gumam Bambang dengan menangggalkan senyuman

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status