LOGINCup!
Diana mencium Bambang sekaligus menjulurkan lidahnya. Tak ayal, Bambang yang reflek, segera membalas ciuman itu, walau hanya beberapa detik. Meski nikmat bisa berciuman dengan wanita secantik dan seanggun Diana, apalagi itu Nyonya-nya sendiri, Bambang masih terikat janji pada Tuan Herman. Seketika ia melepas ciuman itu, menatap lurus ke arah Diana seraya memegang pundaknya. “Mulai sekarang, rekeningmu harus diserahkan padaku, biar aku yang mengaturnya, demi kebaikan keluarga Tuan Herman!” Diana mengangguk pelan tersipu malu, pipinya memerah dan mata coklat emasnya ber-binar. Bambang melihat semua itu hanya menambah hasrat lelaki naik. Ia menengak ludahnya sendiri. “Aku tahu aku bodoh, Mas.” Diana menutup wajahnya, ia merasa tidak berdaya dihadapan Bambang yang sudah mengetahui semuanya. “Nyonya, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Percayalah padaku! Mereka sengaja menargetkan wanita sepertimu sebagai korban mereka.” Tangan Bambang menyentuh wajah lembut Diana, menciptakan butterfly era. Diana merasakan kasih sayang yang ingin ia rasakan. “Ta-tapi..” “Apapun yang kulakukan ini adalah perlindungan mutlak untuk keluarga Tuan Herman. Berhentilah bersikap keras terhadap dirimu sendiri, aku ada disini melindungi dan anak-anak,” lanjut Bambang. Ruangan itu sangat sunyi, hanya mereka berdua yang berada disana. Membuat sekat yang ada diantara mereka semakin tidak terlihat. Mereka berdua bahkan bisa saling mendengarkan detak jantung satu sama lain, Bambang pun merasakan kecanggungan itu. Ia melepaskan belain tangannya diwajah Diana, Diana menahannya. Kini Diana tersadar, seorang pria gagah dan sangat tampan ini adalah jawaban atas tekanan yang ia hadapi “Lalu bagaimana caraku untuk membayar hutangku padamu?” “Nyonya, sudah kubilang, ini adalah bentuk pelindunganku. Aku disini hanya berniat membantumu dengan ikhlas.” Bambang tersenyum, membuat Diana semakin tidak karuan. Ia tidak mampu menahannya lagi. “Aku tetap akan membayarnya, Mas Bambang!” Sentak Diana seperti anak kecil. Ia menatap Bambang dengan tatapan haus belaian, Bambang memalingkan wajahnyanya memberi jarak. Rasa panas Diantara mereka semakin membara, Diana mendorong tubuh Bambang ke sofa. Ia naik ke atas tubuh Bambang, membelainya, dan memancing libido Bambang naik. “Nyonya, berhentilah!” Bambang menarik tangan Diana, memaksa untuk menghentikan keinginannya. Tentu saja, Diana tidak mau menyerah, ia menarik lepas dasi Bambang, mengikatnya ditangan Bambang, menarik tangan Bambang keatas kepala dan menahannya. “Mas Bambang...” bisik Diana, mengulum daun telinga Bambang, merasakan setiap inchi kulit Bambang. Bambang mencoba melawan, meski seharusnya tenaganya lebih besar tapi pria mana yang tidak tergoda jika sudah dipermaikan seperti itu. Bambang membalas ciuman Diana memasukkan lidahnya dan mengabsen satu-persatu rongga mulut Diana, tubuh Bambang kini terjamah oleh tangan-tangan nakal Diana yang sedang bermain-main dengan api. Diana melepas ciuman panas itu, bernapas sebentar. Sudah terlalu lama ia tidak pernah menahan napas selama itu. Disaat Diana lengah Bambang mmbalikkan posisi, kini kedua tangan Dianalah yang terikat-terangkat dan ia berada diposisi bawah. “E-eh!” Diana kaget, Bambang hanya tersenyum, “Berhentilah, Nyonya. Jangan menggodaku terus, kamu tahu pria tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, bukan?” Bambang menyeringai. Rupanya Bambang salah, itulah yang diinginkan Diana. Ia ingin Bambang seutuhnya. Diana tidak menyerah. Ia melanjutkan aksinya, rasa haus belaian membuatnya semakin ganas, ia menyentuh dada bidang Bambang, mencium lembut leher Bambang. Diana mengulum lembut jakun Bambang, Bambang yang mulai tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, membalas menciumi leher Diana. Kulitnya yang sangat lembut dan wangi membuat Bambang semakin tidak terkontrol. Mereka berdua kini berada di sofa, saling beradu pengalaman. Seakan-akan siapa yang lebih jago dialah pemenangnya. Tubuh Diana yang sangat ramping dan punel menambah rasa ‘spesial’ tersendiri bagi Bambang. “Mas Bambang ... Aku mau lebih..” bisik Diana sembari mengulum telinga Bambang. Bambang tercekat, ia tiba-tiba tersadar. Ia langsung bangkit dari sofa sebelum semuanya terlambat, Ia memilih menahan nafsunya sendiri, ia berbalik, Diana menarik baju Bambang, memeluknya dari belakang. Diana mengelus lembut dada Bambang yang kembang-kempis mencoba mengatur napasnya. Diana memahami bahwa Bambang benar-benar susah digoda. Diana membisikkan sesuatu, “Datanglah ke kamarku setiap malam, sebagai bayaranku untukmu.” Bambang tidak bergerak, ia membeku. Kini ia sedang dihadapkan oleh pilihan yang membuatnya bingung, mengikuti nafsu kejantanannya atau melindungi istri Tuan Herma. Bambang memegang tangan Diana berharap Diana mengerti jawaban yang akan ia berikan, Diana mendengus leher Bambang, “Ayolah, Mas.. Aku kesepian, kamu tidak kasihan dengan istri Tuanmu ini. Dia sedang koma sedangkan aku membutuhkan belaiannya. Kamu kan ‘penggantinya?” Bambang menggigit bibirnya, ia membalikkan badannya dan memegang pinggang Diana, mendekatkan jarak mereka berdua. Bambang bisa merasakan kedua ‘empuknya dada Diana. Ia berdecih. “Nyonya, aku hanyalah seorang pengganti. Aku tidak bisa melakukan hal seperti itu kepadamu.” Bambang memberi alasan, menjelaskan dia melakukan ini hanya untuk Tuan Herman. Raut wajah Diana berubah, ia mendorong Bambang mundur. “Sudahlah, jika kamu tidak mau! Aku pergi saja” hentak Diana, ia berbalik dan berjalan menuju kamar tidurnya, tetapi tatapan Diana mengibaratkan bahwa ia tidak akan melepaskan Bambang dari genggamannya, “Aku pasti akan mendapatkannya.” *** Bambang menghela napas, Diana kini tidak terlihat lagi. Ia duduk di meja kerja tepatnya di ruang tengah itu. Ia memijat dahinya, mencoba mengatur pikirannya yang carut marut karena kejadian barusan. Untuk melupakan kejadian barusan, Bambang mengalihkan pikirannya untuk membersihkan meja kerja yang berserakan. Tagihan rumah, invoice pembelanjaan, dan Surat Peringatan Pertama dari Rumah Sakit Bianca bekerja. “Surat peringatan?” Bambang membuka surat itu tanpa berpikir panjang. Bambang membacanya sekilas, tangan kekarnya tiba-tiba meremas kertas itu, membuangnya. Bambang mengeluarkan ponsel, mencoba menghubungi Direktur Utama Rumah Sakit tempat Bianca bekerja, Dokter Joko. Kebetulan, ia adalah kenalan Bambang dari kantornya sebagai kliennya. Bambang menanyakan apa yang terjadi sebenarnya dengan Bianca. Dokter Joko menjelaskan bahwa Bianca telah melakukan tindakan kesalahan dalam pemberian resep kepada pasien. Sehingga ia diberikan SP-1 atas kecerobohan itu. Bambang mencoba membela Bianca, tetapi Dokter Joko tidak bisa mengelak karena yang memberi resep saat itu adalah Bianca. Dokter Joko menambahkan, belakangan ini Bianca terlihat kebingungan dan seperti orang yang sedang penuh tekanan. Kemungkinan itulah penyebab dia melakukan kesalahan peresepan. Dokter Joko lalu menutup teleponnya. Bambang terdiam, ia memikirkan kemungkinan apa yang menyebabkan Bianca seperti itu. Ia lalu melihat sepucuk surat tepat dibawah Surat Peringatan itu. Kalau mau namamu bersih, temui aku nanti sepulang praktek. -Dokter Seniormu terkasih. “Sialan! Orang inilah yang menjebak Bianca.” Bambang menggebrak meja kerjanya, matanya memancarkan silau kemarahan. Tanpa ba-bi-bu Bambang mengambil kunci mobil, melaju dengan kecepatan tinggi.Sudah hampir 3 hari Bambang di rumah sakit, setelah mengalami demam tinggi. Setelah Bianca meninggalkannya sendirian dan Bambang menelan obatnya. Ternyata Bambang memejamkan matanya, panasnya tidak kunjung reda malah tambah tinggi.Diana yang awalnya mau menanyakan Bambang tentang kunjungan dokter selanjutnya kepada Bambang, membuka pintu kamar Bambang dan melihat Bambang yang sudah menggigil kedingin mengigau nama seseorang.“Kakek Ron… Kakek Ron..” Diana tanpa pikir panjang langsung menelpon Bianca. Itu pertama kalinya dia menelpon anak tirinya itu.Tuuut.. tuttt..“Halo, ada apa sih?” tanya Bianca dari telepon, seperti biasa ia masih sangat judes kepada Diana.Diana tidak mengambil pusing saat ini karena dia sudah amat sangat panik dengan kondisi Bambang, “Bianca, tolong mama… Mas Bambang badannya panas banget ini loh, Mama gak tahu harus apa…” Jantung Bianca seperti tersambar petir, padahal tadi ia sudah memberikan obat penurun demam kepada Bambang, kenapa masih tak kunjung reda
Setelah itu Bambang hanya mengingat dirinya dibawa ke kantor polisi dan membuat sok 1 panti. Ia juga dihajar habis-habisan oleh ayah Rusdi. Seperti kata Rosyid sebelumnya, keluarga Rusdi itu keluarga terpandang, sebaiknya tidak pernah membuat masalah dengan Rusdi.Bambang kembali dengan tubuh babak belur, penuh dengan ancaman dan hinaan. Ia menggigil, tidak menjawab dengan semua ancaman yang dilantamkan kepadanya. Sampai di panti pun ia masih dicaci maki oleh pihak panti. Ia bahkan diancam akan dibuang jika tidak menjadi anak yang penurut lagi.Bambang pun mendapatkan skorsing dari pihak sekolah selama 1 bulan full, begitu pula dengan pihak panti yang mengurungnya di asrama dan hanya diberi makan 1X sehari. Bambang hanya bisa menahan rasa lapar dan hausnya setiap hari. Ia duduk di sudut kamarnya, menunggu siapapun mengajaknya berbicara tapi tidak ada yang berani mendekat ke arah kamarnya.Bambang merasa benar-benar terjatuh. Dia hanya anak kelas 3 SMP yang masih memasuki masa puber, k
“Kamu gila, Mbang?” Rosyid membelalakkan matanya tidak percaya dengan pilihan Bambang yang segila itu. Ia menepuk pundak Bambang sekali lagi, memastikan Bambang benar-benar yakin akan melakukan hal ekstrim seperti itu. Bambang hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia memang sudah memiliki niat. Ia bahkan dengan santai lanjut makan bekalnya tidak menghiraukan Rosyid yang menggelengkan kepalanya tidak percaya.“Seriuslah Mbang, yang kamu lawan itu si Rusdi. Kakak kelas kita yang dikenal rajanya tawuran. Orang tuanya itu polisi, Mbang. Udahlah mending gak usah ya,” pinta Rosyid dengan memohon kepada Bambang agar tidak mencari keributan dengan Rusdi.Bambang menepis Rosyid, “Kenapa? Kamu di pihak Rusdi atau aku?” Rosyid menggarukkan kepalanya, ia benar-benar bingung kali ini. Ia jelas memilih Bambang tapi ia tidak bisa menjamin nasib Bambang ke depannya jika berurusan dengan Rusdi.“Mbang, plis lah pikiran sekali lagi.”Bambang tidak merespon, ia malah menutup kotak bekalnya dan me
Kakek Ron menatap Bambang yang memohon padanya, ia lalu memegang pundak Bambang dan duduk di sebuah kursi tua yang sudah hampir ambruk. “Kenapa sebenarnya? Ini masalah percintaan atau apa?” tanya Kakek Ron, Bambang duduk di sebelah kursi yang Kakek Ron duduki. “Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku bukan orang yang lemah dan mudah dimanfaatkan, Kek!” ujar Bambang, ia memainkan tangannya. “Bela diri itu baik untuk dipelajari, tapi kamu hanya bisa menggunakannya untuk membela dirimu saat kamu sedang tersudut bukan untuk melawan atau membully orang yang tidak bersalah,” jelas Kakek Ron. Bambang mendangakkan kepalanya menatap Kakek Ron. “Tentu saja aku ingin membela diriku, Kek. Aku hanya ingin membuktikan bahwa diriku ini juga pantas untuk dihargai dan tidak takut meski mereka jauh lebih tua dariku.” Penjelasan itu cukup membuat Kakek Ron menganggukkan kepalanya, ia memainkan janggutnya yang panjang itu seolah sedang mempertimbangkan pemintaan Bambang. “Aku bisa saja mengajarim
Bambang dan Rosyid sama-sama terkejut, mereka bahkan tidak bisa berkata-kata.“Gila Mbang, gilaaaak!” Rosyid memukul Bambang, begitu juga dengan Bambang yang memukul balik Rosyid.“Gilaaaaakkk Syid,” ujar Bambang, meski gemetar dan jantungnya terasa seperti ditusuk jarum berulang kali tapi perbuatan Yanti benar-benar cukup berani. “Aku harus gimana, Syid?” tanya Bambang dengan suara bergetar, Rosyid menggelengkan kepalanya dengan wajah yang benar-benar kosong, ia tidak bisa memikirkan apapun.“Mending kita balik aja Syid.” Bambang menarik tangan Rosyid, ia memilih untuk mengalah daripada berjuang mempertahankan hubungan yang hanya beberapa hari.Rosyid mengangguk, mereka berbalik badan.Kreeeekk…Kaki Rosyid menginjak ranting tanaman, memecahkan keheningan yang ada membuat mereka berdua yang sedang beraktifitas di sana langsung berhenti dan cepat-cepat memakai celana.“Siapa di sana?!” teriak laki-laki itu. Ia langsung bergegas berlari ke arah sumber suara. Yanti pun mengikuti arah l
Bambang menarik bibir Yanti, memasukkan lidahnya ke dalam sana, Yanti kaget tetapi tidak menolak. Ia membalas ciuman Bambang yang membuat Bambang semakin ganas. Meski itu pertama kalinya untuk Bambang tapi ia sudah bergerak dengan sangat liar. Yanti adalah ciuman pertamanya.Malam dingin itu tidak lagi terasa dingin di tengah cumbuan panas mereka berdua. Benar kaya Rosyid, berciuman itu memang sangat enak sekal. Bahkan bibir Yanti benar-benar terasa sangat manis.“Mnmmnn…” desah Yanti yang sudah kehabisan napasnya. Mereka berdua menyelesaikan ciuman itu dengan tawaan yang sangat manis. Karena jam malam Yanti sudah dekat, mereka akhirnya memutuskan pulang. Bambang memanggil Rosyid yang sibuk bermain catur dengan temannya.“Berarti kita resmi pacaran, Mbang?” tanya Yanti, Bambang terdiam. Dengan malu-malu, ia mengangguk pelan.Mereka berdua saling melambaikan tangan ketika Rosyid berada di depan hadapan Bambang.“Dihh.. dihh.. siapa yang kemarin katanya gak mau pacaran sekarang malah p







